
Malam harinya...
Lily sengaja menunggu David diruang tamu. sudah pukul 11.30 tapi suaminya itu tak kunjung pulang.
Beberapa kali Lily mencoba menghubungi ponsel David, tapi panggilannya selalu dialihkan.
Lily memejamkan matanya, bulir bening yang sedari tadi ditahannya akhirnya merangsek keluar dengan deras.
Lily menjatuhkan tubuhnya di sofa dengan putus asa. Sungguh Ia tak menyangka hubungannya dengan David akan merenggang secepat ini, padahal beberapa hari yang lalu mereka masih baik-baik saja, bahkan sangat harmonis.
Netra hazle wanita itu menatap nanar pintu apartemennya yang masih setia menutup. Hatinya masih berharap jika pria yang kini ia tunggu akan muncul dari sana.
#
Sementara itu David yang kini dalam perjalanan dari pertemuan memutuskan untuk tidak kembali ke apartemennya. Pria itu masih ingin menenangkan diri. Pikirannya masih bertarung antara ingin mempercayai istrinya atau mempercayai prasangkanya.
David menengadahkan kepalanya di sandaran jok mobil, memejamkan matanya dengan sesekali menghela nafas berat, tangannya perlahan memijit pangkal hidunya, berharap itu bisa sedikit meringankan beban pikirannya.
Dalam hati kecilnya yang terdalam Ia sangat merindukan Lily, ingin sekali memeluk wanita itu sebagai bantalnya saat menyambut mimpi, seperti yang biasa Ia lakukan. Namun egonya yang tinggi membuatnya menghindari Lily dengan cara tidak pulang ke Apartemennya.
"Kita akan kemana Tuan?" Tanya supir David.
"Kantor" Jawab David singkat. Yah, malam ini DNA mungkin beberapa malam berikutnya mungkin David akan bermalam di kantor saja.
"Baik Tuan" Tanpa banyak bertanya, sang sopir menuruti perintah David dan melajukan Maybach nya menuju ke Kantor bosnya itu.
Sesampainya di kantor, ternyata Leon ada disana.
'Leon?' batin Dave. Pria itu mengernyit heran.
David memang sengaja melakukan pertemuan tanpa Leon. Karena kebetulan hari ini Asistennya itu Ia tugaskan untuk melakukan ekspansi di Cabang perusahaan mereka yang ada di Macau.
Tapi, David sedikit di buat terkejut melihat Leon sudah berdiri di depan gedung kantornya seperti seorang satpam.
"Leon? kamu sudah kembali dari Macau?"
Tanya David ketika sudah berhadapan dengan asistennya itu.
"Sudah tuan, kebetulan tidak ada masalah di cabang perusahaan kita di Macau, jadi kunjungan saya selesai lebih cepat"
"Hmn, pulanglah, istirahat. Besok kita akan sibuk"
"Baik Tuan, Tuan sendiri... tidak pulang?"
Tanya Leon dengan hati-hati.
"Tidak, Saya mungkin akan bermalam disini"
Jawaban David seketika membuat Leon sedikit tersentak kaget. Namum pemuda itu dengan cepat menormalkan ekspresinya.
'Tumben sekali, biasanya Tuan Dave bahkan membubarkan meeting seenaknya jika sudah pukul 5 sore agar bisa segera pulang ke rumah" batin Leon bertanya - tanya. Mungkin Bosnya sedang bertengkar dengan istrinya.
"Kenapa masih berdiri? pulanglah." David mengulangi perintahnya melihat Leon masih terbengong di hadapannya.
"Baik Tuan, Saya permisi. Jika butuh sesuatu, Anda bisa..."
"Tidak, malam ini saya hanya ingin menenangkan diri" potong David cepat sebelum Leon menyelesaikan tawarannya.
Leon pun hanya mengangguk paham dan berlalu dari sana setelah membungkuk hormat pada atasannya itu.
Sementara David kembali melangkahkan kakinya masuk kedalam gedung perkantoran miliknya itu.
Krietttt...
Suara pintu terbuka diiringi langkah kaki yang lesu tanpa semangat. David mengedarkan pandangannya melihat ruangannya yang sunyi, sesunyi hatinya saat ini. Pria itu kemudian berjalan menuju sebuah lemari klasik yang unik, membuka panelnya kemudian mengeluarkan botol berwarna gelap bertuliskan Henry Jayer Cross.Wine, salah satu Minuman memabukkan termahal di dunia.
David kembali ke masa sebelumnya, melarikan diri dengan minuman keras agar setidaknya bisa melupakan masalah yang dihadapinya saat ini, melupan Lily-nya beserta...... Kebohongannya.
#
"Kau terkejut, menantu?"
Nafas Lily tercekat, tangannya dengan gemetar meraih lembar demi lembar foto yang ditunjukan oleh Nyonya Charlotte kepadanya.
"Ini.... tidak benar" Ucap Lily dengan suara bergetar. foto-fotonya dan James yang terlihat sangat.... intim? Ya Tuhan....
"Tapi, Putraku pasti akan lebih mempercayai foto ini daripada ucapanmu. Dia adalah Pria yang sangat logis"
"Kenapa Anda melakukan ini?"
"Kenapa? Kau lupa menantu.. Kau yang menantangku, Jadi.. Aku hanya.... membalasnya" Jawab Charlotte dengan suar yang dibuat menggoda, diiringi senyum penuh kemenangan.
Yah, beberapa jam lalu, Charlotte melihat Lily yang tertidur di sofa ruang tamu, sepertinya wanita itu tengah menunggu suaminya, yang Charlotte pastikan tidak akan pulang malam ini.
Seperti pemburu yang melihat hewan buruannya, Charlotte tidak menyia-nyiakan kesempatan untuk memangsa Lily saat itu juga.
Dengan sengaja Wanita tua yang sayangnya masih cantik itu menjatuhkan vas bunga yang ada dimeja tepat di samping Lily tertidur, sehingga suara 'prakk' yang nyaring seketika membuat menantunya yang sedikit terlelap itu memekik kaget sehingga secara spontan berdiri dan menginjak pecahan kaca yang berserakan di lantai.
"Ow... apa rasanya sakit menantu? Hem Hem Hem Hem, itu baru pemanasan" Ucap Charlotte diselingi tawa mengejek, Wanita itu membalas ucapan 'pemanasan' Lily beberapa waktu yang lalu, sementara Lily menatap wanita dihadapannya dengan mata memerah serta meringis kesakitan menahan perih di kakinya.
"Oh hampir lupa. Aku mempunyai hadiah untukmu sweetie, ini"
Charlotte mengeluarkan sebuah amplop cokelat dari saku piyamanya, kemudian menyodorkan amplop itu kepada Lily.
"Bukankah Aku sangat murah hati, bukalah..ini ke-ju-tan"
Lily menerimanya dengan berdebar, dari raut wajah mertuanya bisa dipastikan ini pasti sesuatu yang sama sekali tidak akan membuatnya senang.
Dengan pelan, Lily membuka Amplop itu dan mengeluarkan isinya.
'Apa ini? Foto?' batin Lily saat tangannya menyentuh isinya yang berupa lembaran-lembaran serupa foto.
Namun sejurus kemudian. Mata Lily membola sempurna, Jantungnya yang sedari tadi berdebar serasa merosot ke tanah.
Peluk
Semua foto-foto 'mesra' nya dengan James dengan cantik menyebar ke lantai yang 'berdarah'.
"Ini... Tidak benar"
Lily benar-benar tidak percaya, gambar ini memang bukanlah rekayasa, tapi jelas ini sengaja diambil dengan engle yang membuat mereka terlihat sangat... mesra.
"Suamiku tidak akan mempercayainya"
"Benarkah? Ooh menantuku yang pemberani, Kau ternyata belum mengenal Dave dengan baik, sayang sekali, tapi... Aku bisa memastikan kalau dia pasti mempercayainya. I know him more than you, sweetie!"
Tubuh Lily terus gemetar karena cemas. Bagaimanapun foto-foto itu terlalu nyata untuk bisa Ia sangkal.
'Aku harus meminta bantuan Leon' batin Lily bermonolog.
Keesokan harinya...
David baru saja selesai mandi di ruang pribadinya yang ada di dalam ruangan kerjanya di kantor. semalam karena terlalu mabuk, hari ini Ia bangun kesiangan. Tapi syukurlah Dia adalah bos disini, jadi tentu saja tidak akan ada yang berani menegurnya.
Pria yang kini tengah mengenakan pakaiannya di depan cermin besar itu nampak berfikir. Apa ya g dilakukannya saat ini tidak akan menyelesaikan masalahnya dengan istrinya
'Aku harus berbicara dari hati ke hati dengannya, Aku yakin Lily akan mau berbicara jujur padaku' David terus meyakinkan dirinya dalam hati.
Setelah berpakaian rapi dan segar dengan segala pesonanya. David keluar dari kamar pribadi menuju ruang meja kerjanya, kemudian mendudukkan tubuhnya di kursi kebesarannya.
Pria itu mulai terlihat sibuk membuka dan membaca tumpukan kertas yang ada di hadapannya, sampai atensinya tercuri oleh suara ketukan pintu.
"Masuklah"
Ternyata Lucy. Sekretaris itu tersenyum seraya membungkuk hormat, kemudian menghampiri atasannya itu.
"Ada apa Lucy"
"Maaf pak, ada kiriman untuk Bapak"
"Dari siapa?"
"Tidak ada nama pengirimnya pak, hanya ada sepucuk surat diatasnya"
Mendengar ucapan sekretarisnya, David seketika merasa penasaran. Kiriman tanpa nama? untuknya?
Pria itupun meraih Amplop yang tidak terlalu tebal itu.
"Kau boleh kembali bekerja Lucy"
'Baik Pak, saya permisi "
David hanya menganggukkan kepalanya sebagai jawaban.
Pria itupun memandangi amplop cokelat yang ada di hadapannya bersamaan dengan sepucuk surat kecil yang di satukan dengan amplop itu.
Dengan perlahan David membuka Surat kecil itu.
"Just Open it, if you want to know about your lovely wife"
tentang Lily?
David semakin penasaran dibuatnya..Ia pun bergegas membuka amplop itu.
David mendelik tajam pada apa yang kini dilihatnya. Dengan satu remasan lembaran itu kusut tak berbentuk. Mata pria itu memerah disertai wajah yang kini tampak sangat menakutkan.
Gemuruh amarah terpancar nyata dari sorot netra sebiru lautan miliknya.
"Bajingan!! Penghianat!" Desis Pria itu penuh dengan getaran.... kebencian.
Bersambung