My Hot Boss, I Love You

My Hot Boss, I Love You
Mommy?



"Huuft Akhirnya Granny, Kita bisa menyusul Daddy kesini"


"Iyaa Sweetie" Charlotte tersenyum lembut pada cucunya itu.


"Aku sudah mendapatkan lokasi kantor cabang Daddy di sini dari paman Leon. Ayo kita langsung ke sana Granny!" Alice mengatakannya dengan penuh semangat. Namun tidak demikian dengan Charlotte, wanita itu tersenyum canggung. Jujur saja Dia masih sangat malu bertemu dengan Anak tirinya itu. Apalagi sangat kentara jika sekarang David menjauhinya bahkan mungkin membencinya.


"Sweetie, Granny akan mengantar Kami sampai Kantor Daddy-mu, Tapi Granny akan langsung ke hotel, Kamu mengerti kan sweetie?"


"Tapi, kenapa Granny? Daddy pasti sudah tidak marah lagi pada Granny karena kecelakaanku, lagipula Aku sudah sembuh kan?"


Alice bertanya dengan penuh harap, semoga Granny nya mau menemaninya untuk bertemu dengan David .


Charlotte menghela nafas berat. Alice tidak mengerti, kesalahannya sangat banyak dan besar. Tapi, Charlotte juga tidak berani menceritakannya pada Alice. Karena dia takut Alice juga akan membencinya. Baguslah, setidaknya Charlotte benar-benar mencintai cucu semata wayangnya itu.


"Baiklah, Granny berjanji akan segera menemui Daddy-mu, tapi tidak sekarang Okay?"


"Hemmm, promise?"


"Promise, sweetie"


Charlotte dan Alice pun segera masuk kedalam mobil yang sudah datang menjemput mereka, melaju cepat menuju Kantor cabang perusahaan David yang ada di Macau ini.


Sementara itu Dilain tempat...


Lily berjalan di samping Aston dengan bingung, Pria itu tidak mengatakan apapun sejak datang menjemputnya. Lily fikir mereka akan ke kantor Robinson seperti biasanya saat mereka sedang mengurus cabang disini.


Tapi ternyata, Aston membawanya ke Kantor orang lain, entah siapa, Lily pun tak tahu. Gedung perkantoran ya g terbilang besar itu bernama D.L. Industry, Aston bilang ini perusahaan yang bekerja sama dengan mereka dalam produksi mobil sport terbaru yang saat ini sedang berlangsung.


Sesampainya di meja resepsionis,


"Tolong sampaikan kepada Tuan Davidson, Aston Robinson dari Robinson Corporation ingin bertemu"


Aston mengucapkan kalimat itu dengan entengnya seperti makan kerupuk kulit, sementara wajah disampingnya langsung membeku. Lily segera berbalik akan pergi dari sana namun Aston dengan cepat mencekal tangannya.


"Menghindar tidak akan menyelesaikan masalah"


"Lalu apa dengan datang kemari masalahnya akan selesai? Kamu tidak tahu apapun El"


"Yups. Karena kamu tidak mau memberitahuku"


Lily menarik nafas dalam-dalam.


"Aku sudah bilang bahwa Aku akan menceritakannya nanti, kenapa kamu tidak sabaran"


"Tidak. Karena aku tidak mau kehilangan dirimu. Jadi Aku datang kemari untuk memberitahunya"


"El cukup. Ini sama sekali tidak lucu"


"Well, sayang aku sedang tidak melucu"


Lily baru saja hendak melepaskan tautan tangannya dari Aston namun ternyata pria itu dengan cepat menariknya masuk kedalam, mengikuti resepsionis tadi.


"Sir, Tuan Aston Robinson datang berkunjung"


"Masuklah" Suara David menginterupsi dari dalam.


"Silahkan Tuan"


"Thanks"


Aston menarik Lily yang terpaku disana masuk kedalam ruangan itu.


"Selamat siang Tuan Davidson"


"Selamat si...ang"


David yang sejak tadi tengah sibuk memeriksa beberapa berkas terkejut saat melihat siapa yang datang bersama Aston.


Lily?


David menatap Lily yang menundukkan kepalanya. Aston yang peka langsung merangkul bahu Lily, Jadilah kini dua serigala itu saling melemparkan tatapan tajam seperti akan memangsa satu sama lain.


"Anda tidak mempersilahkan Saya duduk?" Ucap Aston tersenyum namun sorot tajam y tak menyurut. Begitu juga dengan David.


"Tentu, silahkan"


Ucap David seraya memberi isyarat tangan kepada dua orang dihadapannya untuk duduk.


"Tapi sebenarnya tidak perlu. Aku kesini hanya untuk mengatakan sesuatu"


David memicingkan matanya,


"Sesuatu? Apa itu hal yang penting?"


"Tentu saja. Aku hanya ingin mengatakan apapun hubungan Anda dengan Lira di masa lalu, itu sama sekali tidak akan berpengaruh pada masa depan hubungan kami, maksudku kami akan segera bertunangan. Jadi, Aku harap kau segera menyelesaikan urusan diantara kalian, perceraian misalnya"


Lily sontak mendelik mendengar ucapan Aston. yah, memang benar dia menerima lamaran Pria itu. Tapi.... tapi tidak begini juga menyampaikannya kepada David.


"Bagaimana jika Aku mengatakan, Aku tidak akan menceraikannya"


"Hehehe, itu tidak akan mungkin. Kau tidak mungkin mau kehilangan proyek ini"


"Aku bahkan tidak perduli jika harus kehilangan seluruh duniaku"


David menatap bengis lawannya itu. Demikian juga Aston sementara Lily sungguh menegang diantara mereka. Bibirnya seperti diolesi lem alteco, sangat sulit walau hanya untuk berkata sepatah katapun.


Jadilah keheningan yang mencekam diantara mereka bertiga dan...


Brakkkk!


"Daddy!!!! Alice's Coming!!!"


Alice masuk begitu saja ke dalam Medang perang dingin didalam ruangan itu. Membuat tiga orang yang diselimuti ketegangan itu seketika menoleh.


Dan sejurus kemudian senyum Alice menghilang, berganti dengan matanya yang berkaca-kaca, jantung gadis remaja itu seperti berhenti berdetak kemudian di remas. Rasa sesak dan kesedihan atas kehilangannya bertahun-tahun kini bertemu dengan obatnya.


Mommy-nya


Bidadarinya


Semangatnya


Kini ada di hadapannya..


"Mom-Mommy?"


Jangan tanyakan Lily, Dia sungguh merindukan peri kecilnya ini. Mereka berdua saling menatap penuh kerinduan, Ibu dan Anak yang terikat karena cinta yang besar diantara mereka, dipisahkan oleh keadaan yang menyedihkan, kini bertemu kembali setelah bertahun-tahun di selimuti kehilangan.


"Lengloi"


Panggilan sayang itu kembali terucap dengan suara getaran yang syarat akan rasa haru.


"Mooom!!!!"


Alice menghambur kepelukan wanita yang sangat dirindukannya itu. Gadis itu memeluk Lily dengan erat begitu juga dengan Lily, mereka saling menyalurkan rasa rindu yang membunuh mereka selama bertahun-tahun. Melampiaskan rasa cinta yang tertahan selama 5 tahun.


" Kenapa kamu cepat sekali tinggi lengloi" Lily memandangi wajah cantik dihadapannya, menghadiahinya dengan ciuman bertubi-tubi.


"Mommy kenapa pergi lama sekali meninggalkan Alice, Alice sangat rindu padamu Mom! Sangat! Jangan pergi lagi, Aku mohon!"


Pemandangan mengharukan itu tak luput dari pandangan David yang kini ikut menangis pilu. Sementara Aston merasa kebingungan.


Siapa gadis remaja ini? Dan kenapa dia memanggil Lily Mommy?


"Mom dimana adikku? Baby peanuts? Apa sekarang dia sudah besar? Dimana dia? Aku ingin bertemu. Aku akan mengajaknya melihat sekolah baruku Mom!"


Lily membuang wajahnya, Dia lupa jika peri kecilnya itu sangat mengharapkan bayi itu.


Melihat Ekspresi antusias Alice hatinya seperti diremas. Sakit dan nyeri.


"Adik bayi sudah bahagia di surga, lengloi" Lily berusaha sekuat tenaga untuk tersenyum lembut di hadapan Alice. Sementara gadis remaja itu langsung berwajah muram.


"Maksud Mommy?"


"Sudah, Mommy akan ceritakan nanti. Sekarang bagaimana kalau kita pergi makan es krim?"


"Alice mengangguk meskipun ekspresi nya masih terpancar kesedihan yang nyata"


Lily kemudian menatap Aston, yang dibalas Aston dengan anggukan tanda setuju membiarkan Lily pergi dengan Gadis remaja yang dipanggil Alice itu.


Dan tinggallah David serta Aston di ruangan yang dingin yang bertambah dingin karena aura permusuhan yang muncul dari kedua laki-laki itu.


"Kau lihat Tuan Robinson? Lily sangat mencintai putriku, jadi Kau sudah tahu jawabannya. Aku tidak akan pernah melepaskannya"


"Cih... Mencintai putrimu bukan berarti dia juga masih mencintaimu. Dengarkan Aku baik-baik, Aku juga tidak akan pernah melepaskannya"


"Kalau begitu mari Kita bertarung secara terbuka. Aku sudah tidak perduli jika Kau ingin membatalkan proyek ini"


"Hehe Aku adalah pebisnis profesional. Tidak pernah mencampurkan urusan pribadi dengan pekerjaan"


"Mungkin Anda lupa, tapi Anda mengancam saya beberapa saat lalu"


"Aku hanya menggertak"


David tersenyum sinis ke arah Aston. Aston pun membalasnya tak kalah sinis kemudian berbalik hendak keluar ruangan, tapi saat mencapai pintu, pria itu kembali menatap tajam David.


"Jangan terlalu percaya diri Tuan Davidson, wanita yang terluka hatinya akan sangat sulit melupakan, bahkan untuk seumur hidupnya. Jadi sebaiknya Kau mulai mengikhlaskannya dari sekarang"


Setelah itu Aston berlalu begitu saja meninggalkan David yang sudah siap menerkamnya.


Bersambung...