
"Biarkan saja, Eldrick. Aku yakin saya ini penjahat itu tidak akan melakukan apapun, bagaimanapun Dia pasti juga terpukul telah menembak kekasihnya sendiri"
"......"
"Bagus, berikan laporan tentang kelompok mucikari Gween Kwok Yang itu padaku segera"
"......"
"Tidak untuk saat ini, nanti saja kita bereskan mereka. Mereka hanya kelompok belatung yang tidak ada secuilpun mampu melawan kelompok kita"
"....."
"Hmn, tetap laporkan segala hal jika ada sesuatu yang terjadi dan terus awasi Martin dengan kelompok itu"
"....."
"Hmn, terima kasih"
Panggilan itu berakhir. Leon memejamkan matanya lelah, jika saat ini dia bisa meninggalkan David dan keluarganya, Ingin rasanya pria itu menghabisi Martin dengan tangannya sendiri.
Kelompok Gween itu menyerang mobil yang membawa Martin ke markas miliknya. Leon bersumpah akan membuat perhitungan dengan mucikari gila itu.
Leon benar-benar heran dengan Martin. Pria itu seperti memiliki nyawa seribu. Sama sekali tidak pernah Ia sangka jika Martin berhasil hidup setelah dengan sangat parah Ia dan anak buahnya melukainya bahkan juga meracuninya saat itu.
Tapi, saat ini Leon harus tetap mendampingi David, terlebih Nyonya Charlotte juga masih belum melewati masa kritisnya. Jadi, Leon merasa masih sangat perlu untuk tetap disini sambil membantu David mengurus perusahaan juga. Biarlah urusan Martin akan Ia selesaikan nanti bersama David jika kondisi Nyonya Charlotte minimal sudah stabil.
"Leon" Leon yang tengah melamun, berjengkit kaget saat mendengar suara seseorang memanggilnya, Ia adalah Lily.
"Nyonya"
"Mmm, Leon maaf, apa Aku mengganggumu?"
Lily bertanya dengan tidak enak hati.
"Tidak Nyonya, ada apa? apa ada masalah?"
Lily dengan cepat membantah, "Tidak, tidak ada masalah, Aku hanya ingin menanyakan...... keadaan David"
Leon mengerti jika wanita muda di hadapannya itu tengah mengkhawatirkan tuannya, Diapun menjawab, "Tuan baik-baik saja Nyonya, Dia lebih tenang sekarang dan lukanya yang terbuka sudah dijahit kembali"
Lily pun bernafas lega, wanita itu kemudian tersenyum lembut dan berkata, "Sykurlah, Aku lega mendengarnya. Kalau begitu Kau kembali ke kamar Alice dan Nyonya Charlotte, kebetulan mereka mengabulkan permohonanku agar mereka di rawat diruang yang berdampingan agar Aku bisa menjaga keduanya"
"Tentu, terima kasih Nyonya"
Ucap Leon tulus.
"Tidak perlu berterimakasih Leon"
Lily pun hendak berlalu meninggalkan Leon, namun, entah keberanian dari mana Leon menghentikan langkah Lily,
"Nyonya...."
"Hmn?"
"Kalau tidak keberatan, Saya ingin bertanya sesuatu"
"Silahkan"
"Nyonya, apa Anda benar-benar sudah tidak mencintai Tuan Davidson?"
Lily terperangah mendengar pertanyaan mendadak itu. Sama sekali tidak terbesit di benaknya jika Leon akan menanyakan hal seperti itu, sama sekali bukan stylenya yang biasa cuek dan dingin.
"Aku...."
"Tidak perlu menjawab jika keberatan Nyonya, Saya hanya ingin mengatakan jika Tuan Dave masih sangat mencintaimu, Saya tahu Anda sangat kecewa dan terluka, tapi.. Dia juga terluka sangat besar.. kecewa dan menyesali diri sendiri, Saya pikir jika Nyonya memberinya kesempatan maka..."
"Leon" Potong Lily cepatm. Kemudian melanjutkan,
"Terima kasih atas informasi yang Kau sampaikan, tapi Kau tahu jika semua sudah terlalu terlambat, Aku sudah memutuskan untuk bersama Aston, itu berarti Aku mencintainya. Aku disini hanya sebagai.... kawan"
Lily berkata dengan menunduk, Ia tak berani menatap mata Leon secara langsung, Karena Ia sendiri sedang berada dalam keraguan atas keputusannya sendiri.
"Tidak apa-apa Nyonya Saya bisa mengerti.Saya hanya ingin memberi sedikit masukan. Tidak ada kata terlambat untuk mengambil keputusan yang tepat, dan tidak baik membohongi hati kita sendiri"
Lily menatap manik tajam Leon, namun segera membuang pandangannya kembali, Lily memilih pergi dari hadapan Leon, ucapan pria itu terasa sangat tepat sasaran. Benarkah Lily sedang membohongi dirinya sendiri?
#
#
Lily duduk termenung di kursi tunggu rawat Alice. Kebetulan ruangan Alice cukup luas dan ada sofa didalamnya, jadi Lily bisa mengistirahatkan tubuh lelahnya sementara Alice masih terlelap.
Lily juga tidak lupa berpesan pada suster agar memberitahunya jika sesuatu terjadi pada Nyonya Charlotte.
'Tidak baik membohongi hati kita sendiri'
Kata-kata mutiara Leon masih terngiang-ngiang di telinganya. Lily sebenarnya merasa tercubit hatinya atas ucapan sederhana itu.
Lily menatap kosong langit-langit bayangan masa lalunya bersama David kembali berputar. Lily kemudian teringat bahwa waktu yang dilaluinya bersama Aston jauh lebih lam daripada saat bersama David.
Tapi kenapa hatinya tidak kunjung merasakan apapun pada Aston meskipun Pria itu sudah banyak berkorban untuknya?
Tok-tok
Ditengah-tengah lamunannya, suara pintu di ketuk dan membuat Lily seketika tersadar kembali.
Lily pun bangkit dari duduknya kemudian menghampiri pintu itu.
"Suster?"
"Maaf Nyonya, Pasien atas nama Nyonya Charlotte Crambhell baru saja sadarkan diri. Beliau mencari Tuan Davidson"
"Baik Nyonya, mohon secepatnya"
setelah mengangguk singkat pada suster itu, Lily secepat kilat melesat kearah ruangan David.. kebetulan Leon sedang melakukan panggilan telepon di depan ruangan itu.
"Leonhh" Lily memanggil pria itu dengan nafas tersengal-sengal akibat setengah berlari-lari, membuat Leon sedikit terkejut kemudian berkata,
"Nyonya? Ada apa?"
Lily mengambil nafas sebentar, kemudian menjawab,
"Nyonya Charlotte siuman, Beliau mencari David"
"Benarkah?? Baik Saya akan memberitahu Tuan"
Leon pun segera masuk kedalam, Tak sampai 5 menit Leon keluar ruangan bersama David yang duduk di kursi roda.
"Mommy? Dia sudah sadar?"
David bertanya dengan cemas, Lily pun mengangguk cepat, kemudian mereka bertiga menuju ke ruang Charlotte dirawat.
#
#
"Silahkan, Tuan"
David mengangguk kemudian masuk ke ruangan didampingi oleh Lily. Yah, Leon merasa bahwa Charlotte mungkin ingin mengatakan sesuatu yang pribadi dengan tuannya, jadi Leon meminta Lily untuk mendampingi David masuk kedalam, sementara Ia menunggu diluar ruangan.
"Mom..."
David berbicara dengan lirih, tangannya meraih jemari pucat Charlotte.
Sementara Charlotte yang memang menunggu anak sambungnya itu tersenyum samar saat mendengar suara David kemudian perlahan membuka mata,
"Son..."
"Ada apa? Hmn? kenapa malah mencariku bukannya beristirahat?"
"Aku sudah beristirahat lama, Aku ingin mengatakan sesuatu sebelum terlambat nak"
"Tidak. Jangan bicara seperti itu. Mommy tidak akan terlambat mengenai apapun itu"
"Tidak son, Aku pernah menyadari sesuatu namun sudah terlambat, kali ini Aku tidak akan mengulanginya" Wanita yang rambutnya sudah sedikit memutih itu berucap dengan sesekali meringis, mungkin menahan luka operasinya yang mulai terasa nyeri.
"Menantu..."
Lily yang sedari tadi menunduk pun mendongakkan kepalanya ke arah Charlotte, Apa barusan Nyonya Charlotte memanggilnya? menantu?
"Menantu, maafkan Aku nak... Aku...sudah sampai berdosa kepadamu"
Charlotte menitikkan air mata, Lily bisa melihat sorot penyesalan yang mendalam dari netra wanita itu, tidak ada lagi dusta atau tipu daya didalamnya.
Yah, mungkin waktu memang telah mengubahnya. Dan Lily merasa bukanlah Tuhan yang memiliki hal untuk tidak mengampuni seseorang, Dia juga sama bukan? memiliki kesalahan dan dosa. Lagipula Putranya mungkin memang ditakdirkan untuk tidak lahir kedunia ini dengan cara seperti itu.
Lily tersenyum lembut kemudian menghampiri Charlotte.
"Tidak Nyonya, semua sudah berlalu. Aku sudah mengikhlaskan segalanya, termasuk.... kepergian calon putraku"
Lily menjawab dengan lembut, tanpa terasa Ia pun ikut menangis. Sementara David kembali merasa bersalah jika mengingat bayi mereka, yang pernah Ia ragukan identitasnya.
"Tidak Nak, Kesalahanku sangat besar, Aku tahu Kamu pasti sangat terluka kehilangannya, karena Aku pernah mengalaminya, kehilangan putraku, tapi justru karena kesalahanku sendiri"
"Nyonya, sebagai manusia biasa Saya tidak berhak mengadili, kita semua punya kesalahan bukan? Yang perlu kita lakukan hanyalah berdamai dengan keadaan, berdamai dengan masa lalu kita"
Charlotte mengeratkan genggaman tangannya pada Lily, wanita tua itu terharu mendengar ucapan Lily, Bagaimana bisa seorang yang masih sangat muda bisa memiliki kebijaksanaan seperti itu? tidak seperti dirinya yang setua ini tapi masih terlalu egois dan mementingkan diri sendiri.
"I'm Sorry Lily, Maafkan Wanita tua yang jahat ini nak"
"Saya sudah memaafkan Nyonya"
Lily balas menggenggam jemari Charlotte dengan lembut seraya tersenyum ikhlas.
"Kembalilah pada David, Berilah Dia kesempatan kedua nak, Aku bersumpah apa yang menimpamu kalian adalah salahku dan Martin"
"Nyonya..."
"Anggap saja ini permintaan terakhir dariku"
"Mom! jangan bicara seperti itu"
David setengah berseru mendengar ucapan Charlotte yang dia anggap ngawur itu.
Charlotte hanya tersenyum, kemudian kedua tangannya menyatukan jemari David dan juga Lily menjadi satu.
"Mommy harap kalian akan berbahagia di kehidupan mendatang. Maafkan Mommy anak-anakku"
Charlotte terdiam, wanita itu seperti tersenyum, matanya terbuka namun tak ada lagi nafasnya berhembus.
Tuuuuuuuuttttttt
Suara dari elektrocardiografi itu mengejutkan Lily dan juga David.
"Tidak! Mom!! Mommy jangan bercanda, Please! Say something! Mom!!! Don't leave me, Please, Mommy!!!!"
David histeris seraya mengguncangkan tubuh yang kini tak bernyawa itu. Charlotte tetap diam dengan wajahnya yang damai. sementara Lily menutup mulutnya sendiri seraya melangkah mundur. Tidak! walaupun Lily sempat membencinya tapi Ia sama sekali tidak pernah berharap Nyonya Charlotte pergi seperti ini.
"Dokter! Help!!!" David masih berteriak seraya menekan tombol bantuan yang ada di samping ranjang. Lily menghampirinya kemudian memeluk Pria itu. Lily yakin David sangat terguncang, Bagaimanapun Charlotte meninggal karena menyelamatkan dirinya.
Bersambung