My Hot Boss, I Love You

My Hot Boss, I Love You
Ini Adalah Putri Kami



Omni Palace Noodle house and Grill, Causewaybay Hongkong



Lily tengah asyik memilih menu dan matanya yang penuh dengan binar lapar, sementara David terus menatap Lily tanpa berkedip, nampak jelas sorot kekaguman dan cinta dari matanya. Lily yang sejak tadi merasa di perhatikan terus-menerus pun merasa risih dan akhirnya berkata,


"Jangan melihatku seperti itu Tuan Davidson, Kamu membuatku takut, ck"


Lily mencebik sebal, membuat David mau tidak mau ikut tertawa kecil.


"Sungguh, Aku tadi sama sekali tidak mengenalimu, Aku masih terkejut dengan penampilan barumu ini Hon.. Emmm maksudku Lily"


David hampir saja keceplosan memanggil Lily dengan panggilan kesayangannya dulu, untung saja segera Ia ralat, kalau tidak, Lily mungkin akan marah atau tersinggung. Bagaimanapun mereka sudah berpisah dan Lily sudah bersama Aston.


"Eemmm, Aku hanya merasa sudah tua dan sudah seharusnya Aku berubah menjadi muslimah yang lebih baik dengan memenuhi kewajibanku menutup aurat wanita, Awalnya memang tidak mudah tapi syukurlah lama-lama Aku terbiasa"


David mengangguk paham, Dia sendiri tidak lupa bahwa dirinya sudah menjadi mualaf namun sama sekali tidak menjalankan kewajibannya sama sekali, hanya sesekali sholat dan itupun saat masih menjadi suami Lily.


"Serius Kamu merasa tua? bagaimana denganku? Hahah tapi apa yang kamu lakukan sudah benar, Aku sendiri belum sama sekali menjalankan kewajiban sebagai ummat Islam, Ya, Kamu tahu karena tidak ada yang mengajariku, juga Aku yang terlalu sibuk dengan pekerjaan"


Lily pun ikut termenung, Wanita itu juga sedikit lupa bahwa David telah memeluk Islam sebelum menikah dengannya. Dia sedikit merasa tidak enak karena sampai melupakan tentang fakta itu.


Semenjak kecelakaan itu yang ada di pikiran Lily tentang David hanyalah kekecewaan dan kebencian, Sekarang semuanya sudah berubah, Lily sudah berdamai dengan masa lalunya dan memutuskan untuk melupakan semuanya agar bisa menjalani hidup yang baru dengan tenang.


Dengan tidak enak hati Lily pun menyampaikan permintaan maafnya,


"Maaf, Aku sampai lupa kalau Kamu telah mualaf..."


"Tidak masalah, Aku akan belajar pelan-pelan nanti, Emmm ngomong-ngomong apa Aku boleh tahu bisnis apa yang Kamu jalankan saat ini?"


David dengan cepat menjawab dan kemudian mengalihkan pembicaraan, agar topik tentang agama yang sensitif ini segera berlalu.


Dan ternyata usaha David berbuah manis, Lily yang tadinya sedikit murung seketika berbinar mendengar pertanyaan David dan dengan penuh semangat menjelaskan,


"Aku membuka toko Online di beberapa marketplace, menjual produk fashion dari beberapa brand ternama dan juga cosmetics yang sedang booming"


"Waw, menarik. Apa untuk itu juga Kamu datang ke Hongkong?"


"Yups, Aku mendapatkan tawaran kerjasama untuk menjual produk dari Mannings dan juga brand tas ternama disini, yaitu Paprika"


"Benarkah, Itu kesempatan yang bagus. Aku juga sedikit banyak pernah mendengar tentang paprika"


"Yah, para wanita tentu menyukainya hehehe"


"Hehe ya tentu saja, tidak mungkin para pria menyukai tas seperti itu kan hahahaha"


Lily pun ikut tertawa mendengar pernyataan David, hingga tiba-tiba Lily teringat Alicia.


"Apa Alice tidak ikut kesini?"


"Tidak, Dia sedang menikmati liburan musim panas dengan teman-teman di sekolah barunya"


David berkata sambil menyeruput kuah mie yang baru saja disajikan di hadapannya.


"Heumm, sayang sekali padahal Aku sangat merindukannya?"


"Kamu tidak merindukanku?"


Tanya David spontan membuat Lily terkejut dan tersedak kuah mie yang pedas hingga terbatuk-batuk


"Uhukkk uhukk"


Dengan cepat David meraih air minum di hadapannya dan memberikannya kepada Lily.


"Oh My God, I'm sorry... Aku hanya bercanda sungguh"


"Ehm, ehm... Tidak apa-apa David, Aku lah yang salah"


"Aku benar-benar minta maaf, Aku seharusnya ingat bahwa kamu tunangan Aston, hehehe maafkan Aku yang bodoh ini"


David tertawa sumbang seraya menyerahkan beberapa tissue yang kebetulan selalu Ia bawa di sakunya pada Lily.


Lily hanya tersenyum canggung, David sepertinya belum tahu bahwa dia dan Aston belum bertunangan, tapi Lily juga merasa tidak perlu untuk mengatakannya.


Makan malam merekapun berakhir cukup menyenangkan, banyak hal ya g akhirnya dibahas terutama soal bisnis, David banyak memberikan tips dan juga pengetahuan dalam berbisnis kepada Lily, tentu saja Lily sangat senang mendengarkannya. secara, kapan lagi dapat ilmu bisnis langsung dari pengusaha sesukses David kan?


"Terima kasih sudah mengantarku"


Lily tersenyum lembut kepada David yang sudah repot-repot mengantarnya sampai di depan Hotel.


"Tidak masalah, sepertinya mengganggu tunangan orang akan menjadi hobby baruku"


Lily menggelengkan kepalanya mendengar ucapan ngawur David, tapi entah kenapa hatinya sangat berbunga-bunga saat ini.


"Pulanglah, sudah malam. Kamu juga harus beristirahat"


"Kamu mengusirku? Oh... tega sekali!"


"Oh, Ya Ampun, hentikan David, Kamu sudah tua tidak cocok bertingkah seperti itu..."


"Ya baiklah, kenapa Kamu sangat suka mengungkit tentang umur, menyebalkan"


David menggerutu sebal sementara Lily malah terkikik geli.


"Aku hanya mengatakan kenyataannya padamu Tuan Davidson"


"Ya ya, baiklah, Aku pulang sekarang. Masuklah"


"Hem, baiklah, selamat malam... Kamu tidak pulang?"


"Aku menunggumu masuk terlebih dahulu"


"Dasar... Baiklah, Selamat malam, hati-hati di jalam, Bye!"


Lily melambaikan tangannya dan mulai melenggang masuk meninggalkan David yang berdiri di luar hotel itu.


"Tentu, Bye"


David membalas lambaian tangan Lily hingga gadis itu menghilang dari pandangan matanya.


David seketika memegang dadanya, merasakan degup jantungnya yang berdetak dengan cepat.


"Oh, My... Kamu benar-benar membuatku gila, Lily"


Pri itu pun beranjak dari sana kemudian masuk ke dalam mobil yang terparkir tidak jauh dari hotel itu.


#


#


"Surprise!!!!" Suara Aston dari seberang sana membuat Lily sedikit menjauhkan handphone dari telinganya, kemudian menjawab,


"Kamu sudah sampai?"


"Yups... Ayo kita bertemu, Aku sangat merindukanmu sayang"


"Ya Tuhan, kebiasaanmu menggoda wanita masih belum hilang Tuan Robinson"


"O' come on, hanya Kamu wanita yang aku goda"


"Pembohong"


"Aku bersumpah!"


"Sudahlah, sekarang katakan, Kamu dimana? Aku akan menjemputmu"


"Tidak perlu Lira, sudah ada sopir yang menjemput, Biar Aku yang menemuimu"


"Baiklah, Kita bertemu di Central, Okey?"


"Baiklah, Aku akan tiba disana setengah jam lagi"


"Okey. Aku akan bersiap terlebih dahulu"


Lily pun mengakhiri panggilannya. Aston sudah sangat berbaik hati dengannya, jadi Lily merasa wajib untuk memperlakukan pria itu dengan baik juga, terkadang masih terbersit dalam benak Lily, apakah Dia harus menerima Aston?


Tadinya Ia sudah sedikit memantapkan hati untuk menerima pria itu untuk menikahinya.


Tapi, pertemuannya dengan David membuatnya tiba-tiba diserang rasa ragu.


Lily terkadang merasa bodoh, Aston jelas lebih baik, juga lebih kaya bahkan lebih banyak berkorban untuknya, tapi kenapa Ia sama sekali tidak tersentuh?


Seperti ada sesuatu yang menghalangi perasaannya untuk tumbuh lebih besar. Apakah itu David? Lily rasa pengaruh perasaannya terhadap David tidak terlalu besar. Lily merasa ragu untuk melangkah bersama Aston karena sesuatu yang lain, entah apa itu... Lily sendiri tidak... memahaminya.


30 menit kemudian.


Lily tengah duduk di sebuah Cafe yang cukup terkenal di wilayah Central yaitu Lan Fong Yuen namanya, terkenal oleh milk tea-nya. Minuman milk tea yang ada di kedai ini merupakan bukti bahwa adanya pengaruh British culture di Hongkong. Kedai Lan Fong Yuen berlokasi di 2 Gage St, Central, Hongkong.


Lily menyesap milk tea yang sangat enak disini, sambil sesekali melongok ke arah pintu, barang kali Aston sudah muncul dari sana.


tiba-tiba...


Grebbb... ada yang menutup matanya


"Siapa???"


"It's me..."


"Hiih... El lepaskan, jangan membuatku malu, ada banyak orang disini, Ya Tuhan"


"Hahaha, Oke Sorry"


Aston pun duduk dihadapan Lily dengan memasang wajah tak berdosa lengkap dengan cengiran kudanya saat melihat Lily mendelik sebal kearahnya.


"Jangan marah Lira, Kamu jadi... bertambah cantik"


Lily sontak tersenyum mendengar rayuan gombal pria dihadapannya itu. Aston sangat baik.


"Mau pesan apa? biarkan kali ini Aku yang mentraktir"


"Waw, dengan senang hati. Emmm, samakan saja denganmu"


"Yakin? tidak ingin pilih yang lain?"


"Tidak apa, samakan saja"


"Oke..."


Lily pun memanggil memanggil pelayan kemudian menyebutkan pesanannya untuk Aston.


"Bagaimana kabarmu El?"


"Seperti yang Kamu lihat, Aku tampak menyedihkan karena ditolak oleh seorang wanita"


"Berhentilah bercanda El, Aku serius"


"Aku juga serius, Aku sedang tidak baik-baik saja. ada banyak masalah dan... Yah belum bisa ku selesaikan"


Kali ini ekspresi Aston terlihat serius dan bersungguh-sungguh, mungkin teringat masalahnya dengan Rosie"


"Benarkah? Apa masalahnya berat?"


Tanya Lily dengan nada prihatin, Aston pun mengangguk sebagai jawaban.


"Baiklah, ceritakan kepadaku, siapa tahu Aku bisa membantu?"


"Tidak perlu ikut memikirkannya, dengan kamu bersamaku itu sudah lebih dari cukup"


Aston meraih jemari Lily kemudian menggenggamnya.


Pria itu menatap lekat wanita yang kini tampil beda dengan hijabnya, Aston tidak terkejut sama sekali karen saat pertama Lily memakai penutup kepala itu , Aston adalah orang jauh pertama yang Lily beritahu, baru setelahnya Fany.


Lily tersenyum sedikit canggung dengan perlakuan Aston, tapi wanita itu pun hanya menerima saja. siapa tahu Aston memang hanya butuh untuk ditemani olehnya.


"Aston"


Suara lembut seseorang mencuri atensi kedua manusia yang tengah saling beradu pandang itu, sehingga secara bersamaan menoleh ke arah sumber suara...


"Rosie??"


Aston seketika berdiri dan menatap nyalang wanita cantik yang ada di hadapannya itu.


"Maaf, Aku.... mengikutimu"


"Apa yang kau lakukan???"


Sentak Aston, membuat Lily juga ikut terkejut.


"El... Ada apa? siapa perempuan ini?"


Tanya Lily lembut, Dia sama sekali tidak marah, malah Aston yang terlihat sangat murka, membuat Lily bingung jadinya. Sebenarnya siapa perempuan itu dan ada apa?


"Aku, Rosie.. mantan kekasih Aston"


Rosie menjawab dengan cepat membuat Lily seketika membola, sementara Aston seperti ingin menguliti Rosie hidup-hidup.


"Kau..."


"Cukup Aston!"


Seru seseorang lagi, yang berjalan mendekat seraya menggandeng gadis kecil disampingnya.


"Ele?"


Aston dan Lily menyebutkan nama elena bersamaan.


Lily semakin bingung dengan kedatangan Elena.


sepertinya disini Dialah yang tidak tahu apa-apa.


"Maaf Aston, tapi Aku harus melakukan ini"


"Ele, ada apa ini?".


Lily sungguh penasaran.


"Maaf Lily, Kamu harus mengetahuinya dengan cara seperti ini"


"Ayo Lira, kita pergi dari sini, jangan dengarkan Mereka"


Aston sudah menarik pergelangan tangan Lily namun Elena segera berseru dengan penuh emosi.


"Cukup Aston! berhentilah bersikap seperti pengecut!"


"Tunggu, sebenarnya apa yang terjadi?"


"Nona, Maafkan Aku..."


Kali ini Rosie yang buka suara, Lily menganggukkan kepalanya pelan dan menatap wanita cantik berambut pirang itu lekat-lekat. Sementara Aston sedikit menahan nafas. Dia belum siap jika Lily mengetahui tentang masalahnya dengan Rosie...


"Ini... adalah putri Kami"


Rosie berucap seraya merengkuh gadis kecil yang cantik di sampingnya.


Lily terperangah melihat wajah gadis kecil itu dan juga Rosie secara bergantian.


"Putri... kami?"


"Putri Aston dan Rosie, Lira"


Lily semakin terperangah tak percaya, kemudian dengan cepat menoleh ke arah Aston yang kini mengatupkan bibirnya membentuk lingkungan ke bawah.


"El... Apa maksudnya ini? Elena? Aku... sama sekali tidak mengerti"


Lily dilanda kebingungan, perasaannya saat ini tidak menentu, antara kaget dan sedikit kecewa, kenapa Aston sama sekali tidak menceritakan apapun padanya? malah terkesan tak ada masalah apapun.


Lily kemudian melirik gadis kecil itu dan menatapnya dengan seksama... Anak itu memang... mirip sekali dengan... Aston.


Bersambung