My Hot Boss, I Love You

My Hot Boss, I Love You
Dengarkan ini Agar IQ mu sedikit meningkat.



Pagi itu Alicia akhirnya di perbolehkan untuk pulang setelah hasil pemeriksaannya dinyatakan normal.


David sedikit bisa merasakan kelegaan, meskipun kegundahannya masih belum hilang.


Luka hatinya tasa kepergian Istrinya, Lily maishbbekum sembuh. Sekarang ditambah Ibunya tiba-tiba menghilang.


Ya Tuhan, kenapa cobaan ini datang bertubi-tubi tanpa ampun?


Sejak kemarin Ibunya, Charlotte masih belum ada kabar. Nomornya tiba-tiba tidak aktif. David hampir kehilangan kewarasannnya.


David kemudian menghubungi Leon.


"Leon, Tolong minta seseorang untuk berjaga di Rumah Sakit tempat Alicia dirawat, Aku harus pergi mencari Mommy Charlotte"


"......"


"Apa maksudmu?"


"....."


"Baiklah, Aku akan ke Kantor sekarang"


Davidpun mengakhiri panggilannya.


Sungguh kebetulan sekali. James dan Marry datang ke Kantor untuk menemuinya?


Padahal baru kemarin David meminta Leon untuk menyelidiki mereka berdua.


"Aku ingin tahu, Untuk apa pasangan itu datang menemuiku"


David melajukan Porsche Carrera miliknya dengan sedikit kecepatan cukup tinggi. Ia ingin segera sampai ke kantornya. Rasa penasarannya membumbung tinggi jika mengingat James yang dekat dengan istrinya, Lily.


20 menit kemudian David sampai di depan gedung kantornya. Dengan tenang pria yang berpembawaan dingin itu memasuki gedung perkantorannya.


"selamat pagi,Tuan"


Soal Leon yang sudah menunggu Bosnya itu di depan lift eksekutif.


"Pagi, Leon. Dimana mereka?"


"Ada di ruang tunggu tamu, Tuan"


"Hmn, Baiklah. Biarkan Aku sendiri. Kau lanjutkan saja pekerjaanmu"


"Baik Tuan"


"Oh ya, Leon. Tolong hubungi Tah sakit untuk menyiapkan Perawat khusus agar berjaga di dalam ruangan Alicia. Aku takut putriku membutuhkan sesuatu"


"Baik"


Leon pun membungkuk hormat kemudian berlalu melanjutkan perintah dari atasannya itu.


Klek. Pintu terbuka.


"Halo, Tuan Davidson" Suara ramah laki-laki itu tak memby James tersenyum sedikitpun. Pria itu hanya melirik sekilas kemudian duduk di hadapan mereka.


"Tidak perlu berbasa-basi, katakan apa yang membuat kalian berdua datang kemari, terutama Anda, Tuan Crawford"


"Dave..."


Marry menatap prihatin pria tampan ya g terlihat lebih kurus dan pucat, terlihat sekali pria ini tidak dalam keadaan baik-baik saja. Tapi, sungguh! Marry tak lagi menyimpan rasa pada pira dihadapannya itu, perasaan prihatin ini murni karena Dave adalah sahabat baiknya dulu.


"Aku juga tidak ingin berbasa-basi dengan pria idiot seperti dirimu Tuan Davidson. Pria yang bahkan tidak memiliki kepercayaan sedikitpun pada Istrinya"


Ucap James dengan geram. Sungguh dia kesal sekali melihat David yang seketika mengingatkan dirinya akan Lily, Lily yang malang bersuamikan lelaki idiot.


David yang mendengar ucapan provokatif James pun bangkit dan segera meraih kerah pria itu hingga keduanya kini sama-sama berdiri dan saling berhadapan dengan tatapan penuh permusuhan.


"Bajingan! Kau yang menyebabkan Aku dan Lily berselisih paham dan akhirnya dia pergi!"


"Apa Kau yakin? Kau yang membuatnya pergi!!! kalau saja kau mempercayainya dia tidak akan pergi seperti itu!!!"


"Kauuu!!"


David hampir saja melayangkan tinjunya pada James namun Marry dengan cepat melerainya.


"James! David! hentikan! berhentilah bersikap kekanak-kanakan! Dave, Kami datang kesini bukan untuk mencari masalah. Dengarkan kami terlebih dahulu. setelah itu terserah apa yang akan kau lakukan, Kau mau mempercayai kami atau tidak itu adalah pilihanmu"


Mendengar Ucapan Marry, David pun menghempaskan cengkraman tangannya di kerah James dengan keras, membuat James terhuyung ke belakang.


"Aku sudah tidak ingins berbicara dengannya Marry"


James pun mengeluarkan sebuah flashdisk dari sakunya kemudian melemparkannya ke arah David. David yang tidak siap pun menangkapnya dengan wajah bingung.


"Dengarkan ini baik-baik, agar IQ mu sedikit meningkat!"


Ucap James kemudian menarik pergelangan tangan Marry dan berlalu dari sana.


David menatap Flashdisk dihadapannya ini dengan penuh tanya.


Pria itu kemudian berjalan menuju Laptopnya, dan memasukkan benda kecil itu.


"Aku akan membalas kalian semua!!! Ingat itu!!!"


Suara seorang wanita yang berteriak-teriak histeris di ruangan yang terkunci rapat di sebuah Rumah Sakit Jiwa.


Ia adalah Charlotte. Entah siapa yang membuatny berada di tempat ini. Tapi penampilannya yang kacau dengan luka sodet di wajah dan juga selalu berteriak cukup meyakinkan orang-orang yang melihatnya bahwa Ia termasuk golongan orang-orang yang otaknya gesrek.


"Martin, dimana Martin?? Heiii kalian katakan dimana Martin-ku, Apa yang kalian lakukan padanya bedebah!!! Kalian semua penjahat!!!!"


Sementara dari luar seseorang yang matanya kini sudah basah menatap pemandangan itu dengan hati sakit.


"Maafkan Saya Tuan, Saya menemukan Nyonya dalam keadaan seperti ini"


Ucap Leon, sesungguhnya Dia sungguh tak ingin membohongi David, bahwa di dan James lah yang melakukan itu semua pada Charlotte.


Tapi ini adalah bagian dari rencananya yang tidak akan pernah Ia beberkan pada siapapun, termasuk David. Orang yang ingin selalu dilindungi oleh Ayahnya, Robert Chan.


"Aku ingin menemuinya"


"Tuan..."


"Tenang saja, Dia tidak akan bisa lagi menyakitiku"


"Baik..."


Leon pun berlalu dari sana, dan memberitahu pihak RSJ itu bahwa David ingin berbicara dengan Charlotte. Setelah


berhasil meyakinkan pihak RSJ itu, Leon bersama seorang perawat pun menghampiri ruangan Charlotte dan membukanya. Charlotte kini tengah duduk di sudut ruangan seraya memeluk lututnya.


"Tinggalkan kami"


Meskipun ragu, Leon memberi kode kepada perawat dan merekapun berlalu meninggalkan David bersama dengan Charlotte di ruangan itu.


"Mom"


Mendengar suara familiar itu membuat Charlotte sontak mendongakkan kepalanya. Tapi, bukannya menyambut Charlotte malah berlari menyerang David.


"Kau!!! pasti Kau yang melakukan semua ini padaku! Anak sialan!"


David membiarkan Charlotte terus melayangkan pukulan di dadanya. Hingga wanita itu tiba-tiba berhenti menangis dan menatap David dengan ketakutan. Menyadari bahwa di telah kelepasan bicara.


"Dave... Dave... Aku... Aku... tidak bermaksud... Aku... tidak "


"Aku sudah mengetahui semuanya Mom"


"Apa, apa maksudmu Dave?"


"Semuanya. Aku sudah mengetahui semuanya, kejahatanmu dan..."


"Oooh.... jadi kau sudah tahu semuanya? makanya kau melakukan ini? hmn? bagus sekali. Jadi Aku tidak perlu lagi berpura-pura baik padamu lagi!!!"


"Percaya atau tidak, Aku sudah mengetahui kenyataan tentang diriku sejak dulu, jauh sebelum Sarah juga mengetahuinya. Tapi aku sama sekali tidak berniat melakukan semua ini padamu, dan memang bukan Aku"


Charlotte hanya diam menatap nyalang pria dihadapannya itu.


"Ayahku, Arthur Crambhell sudah memberitahukannya padaku saat Aku masih Sekolah Menengah"


"Tidak mungkin...Kau..."


"Ayah sungguh menyesalinya, Dia berusaha menerimamu meski Dia tahu bahwa Dominic bukanlah putranya"


David menarik nafas berat, dadanya terasa sakit. Ia menyembunyikan kenyataan bahwa Ia bukanlah putra dari wanita dihadapannya ini dan berharap Charlotte benar-benar mencintainya seperti dia mencintai Charlotte selayaknya seorang putra pada ibunya.


Tapi David salah, wanita ini ternyata sangat membencinya. Tidak apa, Dia tak akan marah jika saja Charlotte tak sampai hati membunu Lily dan calon bayinya.


"Aku tahu sampai kapanpun Kau akan membenciku. Aku tak akan memaksamu Mom"


Pria itu kemudian melanjutkan.


"Jika yang kau takutkan adalah harta Ayah akan jatuh ke tanganku seluruhnya, maka Kau tidak perlu lagi khawatir mulai saat ini"


David kemudian memberikan sebuah map yang cukup tebal dan menyodorkannya kepada Charlotte.


"Ayah sudah mewariskan seluruh hartanya untuk Dominic, imyang berarti sekarang menjadi milik Alicia. Terimalah. Aku sudah menyelesaikan tanggung jawabku. Sekarang aku serahkan kepadamu sebagai wali kandungnya"


Charlotte menerima berkas itu dengan tangan gemetar. Bulir bening berhamburan dari sudut matanya.


"Ayah berharap Kau mau memaafkannya, Dia tidak mencintaimu tapi bukan berarti tidak menganggapmu berarti Mom. Kau begitu terpengaruh oleh hasutan paman Martin yang hanya memikirkan uang, hingga tidak bisa melihat ketulusan Ayah yang ingin memperbaiki segalanya"


Charlotte semakin terisak saat teringat bagaimana dengan liciknya dia membunuh suaminya sendiri.


"Kau juga bebas membenciku, sampai kapanpun. Tapi aku tidak pernah membencimu. Aku hanya berharap kita tidak akan bertemu kembali. Karena setiap melihatmu Aku.. pasti akan melihat Lily dan bayiku yang Kau.... lenyapkan"


David tak mampu lagi menatap wanita yang sangat ia hormati sebagai ibunya tapi begitu tega menorehkan luka yang dalam di hidupnya. Pria itu berbalik dan pergi meninggalkan Charlotte yang kini terduduk. Entah ia akan menyesali semua perbuatannya atau tidak... Hanya Tuhan yang tahu.


Bersambung


Sampai ketemu dengan Lily dengan Versi baru yang lebih kuat dan cerdas!