My Hot Boss, I Love You

My Hot Boss, I Love You
Kembali Bertemu



"Nak.... Mommy... ingin membicarakan sesuatu denganmu"


"Bicaralah Mom"


Jean menarik nafas dalam-dalam, jantungnya berdebar kencang, perasaannya sedikit takut, tapi apapun reaksi Aston nanti, yang terpenting saat ini Jean merasa harus jujur pada putranya itu.


"Ini, tentang.... Rosie"


Mendengar nama Wanita yang menggangu hidupnya lagi sejak beberapa hari lalu itupun membuat Aston seketika diserang penasa, dengan cepat Pria itu menoleh ke arah Ibunya.


"Rosie? Ada apa dengan wanita itu?"


"Aston, sebenarnya.... Mmmm... Mommy..."


"Ada apa Mom?? jangan membuatku penasaran"


"Mommy.... Mommy yang meminta Rosie untuk menjauh dari hidupmu"


Bak disambar petir di tengah sawah Aston terkejut bukan main, sementara Jean menundukkan kepalanya seraya menggigit bibirnya kuat-kuat. Aston pasti akan mengamuk padanya.


"What are you talking about? Don't confuse me, Mom"


Mata Aston melotot tajam, membuat Jean semakin menciut. Tapi wanita itu sudah bertekad bukan? dengan suara bergetar Jean mulai menceritakan kebenaran tentang kepergian Rosie di masa lalu.


"Rosie adalah putri dari Matthew dan Rebeca, Mungkin Rosie dan kau tidak mengetahuinya, tapi Antara Aku, Ayahmu dan orang tua Rosie adalah musuh. Mereka sangat licik dan jahat, mereka yang menyabotase perusahaan Ayahmu hingga membuatnya hampir bangkrut, tidak hanya itu, mereka juga yang menyebabkan Ayah mertuaku, Kakekmu Frederick Robinson, meninggal dunia melalui kebakaran di Pabrik Robinson di Irlandia Utara"


Sebenarnya luka hati itu masih belum sembuh, rasa sakit dan perih saat mengingat kembali masa lalu itu membuat Jean menderita. Tapi, jika bukan untuk kebenaran, Jean ingin selalu mengubur kenangan itu dalam-dalam.


"Ayahmu berjuang mati-matian untuk bisa mempertahankan perusahaan ini, Hingga akhir hidupnya Dia selalu mengedepankan kepentingan perusahaan. Saat itu Aku sama sekali tidak mengetahui Jika Rosie adalah putri penjahat-penjahat itu, tapi tanpa sengaja Aku bertemu dengan Rebecca dan Rosie saat membelikan kado ulang tahun untukmu bersama dengan Elena, semenjak itulah Aku tahu bahwa dia adalah putri mereka"


"Beberapa hari setelah itu, Aku sengaja menemui Rosie secara diam-diam tanpa sepengetahuanmu, dan memintanya menjauh, awalnya Dia bersikeras menolak tapi setelah Aku menceritakan semuanya dan bersumpah tidak akan pernah merestui kalian Diapun menyerah dan pergi"


"Sungguh Aston, Mommy tidak tahu jika saat itu Rosie sedang.... mengandung, hiks hiks hiks "


Jean terisak dalam, Ia merasa bersalah tapi juga merasa apa yang dilakukannya sudah benar, Ia hanya ingin melindungi keluarganya, terutama Aston dari kedua orang tua Rosie yang sangat jahat dan tidak berhati.


"Kenapa Mommy baru mengatakannya sekarang? dan lihat, semuanya kacau Mom"


"Maafkan Mommy son, Mommy benar-benar melakukan ini untuk melindungi keluarga kita"


Aston menengadahkan kepalanya keatas, kepalanya terasa akan meledak. Kenapa bisa ada masalah serumit ini, mau menyalahkan ibunya pun sudah terlambat, semuanya sudah terlanjur.


"Aku akan memikirkan masalah Rosie dan anak itu nanti, besok Aku akan tetap melakukan penerbangan ke Hongkong Mom"


"Kau masih mengejar Lira nak? Lupakanlah, Dia tidak mencintaimu nak, akan lebih baik jika kau menikahi Ros..."


"Cukup Mom, Aku tidak mau mendengarnya lagi. Aku mencintai Lira dan Aku tidak akan menyerah untuk bisa mendapatkannya, Rosie juga bersalah disini. Oke, katakanlah jika Mommy yang memintanya pergi, tapi seharusnya dia tetap memberikan kabar apapun kepadaku, terlebih jika dia sedang mengandung saat itu, bukan malah menghilang begitu saja seperti di telan bumi"


"Tapi Nak..."


"Tolong Mom, Aku berusaha mengerti atas tindakan Mommy di masa lalu, tapi untuk saat ini tolong jangan campuri urusan pribadiku lagi"


Jean menyerah untuk membujuk Aston menikah dengan Rosie, jika memang mereka tidak bisa menikah yang terpenting Jean akan berusaha untuk bisa mendapatkan hak asuh cucunya, meskipun itu mungkin akan sulit. Semoga saja, Aston bisa berubah pikiran. Batinnya berharap.


#


#


"Li, Aku keluar sebentar ya"


Fany berkata seraya memakai sweater hitam bergambar Minnie mouse di tubuhnya yang mungil


"James?"


Lily menebaknya asal, tapi sepertinya tebakannya tidak salah, melihat ekspresi Fany yang mendadak tersipu. Hadeh dasar bucin!


" Ya udah sana, tapi jangan pulang kemalaman, nanti ngga Aku bukain pintu lho"


"Dih jahat banget, Iyaa iyaaa.... Makasih sahabat Aku yang paling baiiiik hehehe"


"Cih, muji-muji kalo ada maunya doang"


"Hehe ya ngga apa-apa lah"


"Ya udah sana, keburu James disabet


wewe gombel"


"Di Hongkong mana ada wewe gombel, gelo!"


"Ya udah sana gih"


"Iyaaa iyaa, Aku pergi ya sayang... Byee!!!!"


"Bye! hati-hati!"


Blam....Fany pun menghilang dari pandangan Lily...


Lily kembali berbaring di ranjang king size hotel itu. Alhamdulillah duitnya sudah banyak jadi tidak masalah menyewa kamar hotel yang cukup mewah ini.


sudah satu jam berlalu, waktu menunjukkan pukul 07.30 malam, Lily merasa sangat jenuh dan sama sekali tidak mengantuk. perutnya juga sedikit lapar, Sepertinya jika membeli mie ramen atau yuitan Mienfen yang pedas akan sangat lezat.


Lily tiba-tiba bersemangat saat membayangkan makanan favoritnya semasa bekerja di negara ini. yuitan Mienfen pedas memang tidak ada duanya saat dimakan dimalam hari dengan tambahan extra minyak cabai dan juga irisan daun yimsai serta daun bawang, uwaaaahhh mantap!!!



Lily pun bergegas turun dari ranjang dan keluar Hotel untuk memburu mie kuah pedas itu di kedai Favoritnya di daerah Causewaybay ini.


Lily hanya mengenakan sweater Hoodie dengan model Crop berwarna putih, celana kain hitam dan sepatu cat putih serta hijab dengan warna hitam pula.


Simple, tapi percayalah Lily tetap cantik dan juga ikut, lebih tampak seperti gadis berusia 20 tahun, padahal saat ini usianya hampir menyentuh kepala 3.



Kring kring


Tiba-tiba gawainya berdering.


"Fany?" Lily pun segera menjawab panggilan telepon dari sahabatnya itu.


"Dimana?" suara Fany terdengar ceria dari seberang sana.


"Nyari makan, laper nih"


"Oh ya? kebetulan, Aku juga lagi makan nih, tadinya Aku mau nawarin kamu barang kali mau dibungkusin"


"Ngga usah sayang, enjoy aja sama acara nge-date kamu hari ini"


"Ooouw, manis banget sih, Ya udah Aku tutup teleponnya ya, hati-hati ya!"


"Iyaa, Kamu juga, Bye!"


Lily pun mengakhiri panggilannya dan hendak membuka pesan masuk, saat tiba-tiba...


Brukkk!!! Prakkkk!


Lily menabrak sesuatu. Bukan


,lebih tepatnya seseorang, hingga handphone orang tersebut terlempar cukup jauh"


"What the fvck, what are you doing"


Lily pun segera menghambur untuk mengambil handphone orang itu yang sudah teronggok mengenaskan di tanah.


"Sorry Sir.. I was not careful....David?"


Pria yang dipanggil Lily itu memicingkan matanya seraya memiringkan kepalanya.


"Who are You?"


"Oh My God, Kamu tidak mengenaliku? I'm Lily, My Hot Boss, hahaha"


David menganga tak percaya mendengar ucapan wanita di hadapannya itu, ekspresi bodoh David semakin membuat Lily tertawa keras.


"Lily? You?"


"Yes, It's me! I'm wearing hijab now"


"Oh My Godness, You look so different"


David menggelengkan kepalanya seperti orang bodoh, membuat Lily semakin terkikik geli.


"Sudahlah bos, jangan membahas penampilanku, Aku adalah seorang muslimah, jadi wajar jika Aku mengenakan jilbab seperti ini"


Lily sedikit mengerucutkan bibirnya membuat David seketika tersenyum lembut.


"Ya, I'm sorry, but you still look so beautiful"


"Hemmm, gombal"


Lily sedikit tersipu atas pujian mantan suaminya butuh hingga tanpa sadar Ia menggigit bibir bawahnya dengan wajah merona. Jangan tanyakan David, Pria itu sedikit salah tingkah melihat apa yang dilakukan oleh mantan istrinya itu. Rasanya ia ingin menggantikan bibir Lily untuk menggigitnya.


'Sadar Dave sadar! enyahkan pikiran kotormu itu'


David mencoba mengusir pikiran liarnya yang tiba-tiba saja mampir tanpa permisi.


"Anyway, what are you doing here?


"Ya, seperti biasa. working. How about you?"


"Sama juga, I also have a bussines here"


"Waw, You are career woman now"


"Hehehe Of course, semua berkat bantuan.... Aston"


Lily mengucapkan nama Aston dengan sedikit lirih, jujur saja perasaannya sedikit tidak enak, tapi memang benar kan? Dia menjadi seperti sekarang atas bantuan dari Aston?


David mengatupkan bibirnya seraya mengangguk paham, kemudian berkata,


"Kamu mau pergi kemana?"


"Aku lapar, Aku ingin makan mie pedas dengan bakso ikan favoritku"


"Haha selera kamu masih belum berubah, boleh Aku temani? kebetulan Aku juga belum makan malam?"


"Kamu sedang tidak sibuk?"


"Ini malam hari, tentu saja aku sedang free"


"Baiklah, Ayo..."


"Ayo..."


Davidpun mempersilahkan Lily untuk berjalan terlebih dahulu, Pria itu mengekorinya di belakang. Kemudian mengetikkan sesuatu di gawainya yang syukurnya masih baik-baik saja setelah terjatuh tadi.


"Batalkan acara makan malam dengan Tuan Albert, Aku ada urusan penting"


Sent to Leon.


David tersenyum manis kemudian mempercepat langkahnya menyusul Lily, pujaan hatinya.


Bersambung