
"Minumlah, agar Kau lebih tenang"
James memberikan botol kecil berisi air mineral untuk Fany. Gadis itu terlihat sangat mengenaskan, rambutnya berantakan, eyeliner yang berceceran karena luntur, serta wajah yang pucat dan berantakan.
Padahal seingat James, Fany cukup cantik saat Ia mereka bertemu untuk pertama kalinya di Apartemen Marry.
"Aku dan Lily saling mengenal sejak di asrama saat kami melakukan proses perekrutan di Indonesia"
Tiba-tiba Fany memulai pembicaraan, James yang sedari tadi memperhatikan Fany, sedikit terkejut, namun sejurus kemudian pria itu menanggapi.
"Lanjutkan... Aku akan mendengarkannya"
Fany mengusap air matanya yang sejak tadi terus mengalir seperti air curug, kemudian melanjutkan kisahnya bersama Lily.
"Kami mulai Akrab karena kebetulan umur kami tidak terpaut jauh, Lily hanya lebih tua dariku 1 tahun, sementara teman kami yang lain kebanyakan adalah ibu-ibu"
Fany kembali memutar memorinya saat masih berada di penampungan.
"Aku dan Fany sama-sama yatim, kami berdua tidak punya Ayah. Kami merasa senasib dan juga Lily adalah teman bicara yang baik, makanya Aku sangat suka bercerita apapun masalahku padanya, begitu juga sebaliknya"
James menyimak dengan seksama, sesekali ikut tersenyum saat Fany menceritakan hal yang lucu diantara mereka.
"Bahkan Lily pernah rela meminjamkan uang jajannya saat ibuku sakit dan tidak punya uang untuk berobat, Kami sering membeli makanan satu porsi kemudian dibagi dua, Dia bukan hanya temanku tapi sudah seperti saudara kandung. Bahkan saudara-saudara ku sendiri lebih seperti orang asing. sementara Lily, Dia orang asing tapi sudah seperti saudara kandung bagiku, selalu ada saat Aku susah maupun senang"
Lagi, gadis itu menangis pilu saat teringat perjuangan mereka berdua yang kini berakhir menyedihkan bagi Lily.
"Tapi, sekarang... Dia meninggalkan Aku.... sendirian"
Jame menatap prihatin gadis belia di hadapannya itu,
"Sekarang Aku mengerti, kenapa Kau sangat kehilangan Dia"
"Tentu saja Tuan, Aku punya banyak teman, tapi dialah satu-satunya sahabatku, yang tidak pernah meninggalkan Aku saat aku dalam keadaan sulit"
"Mmmm, Aku boleh mengatakan sesuatu?"
James kira tidak ada salahnya gadis ini tahu kan? lagipula James sedikit punya rencana lain untuk membalas perbuatan pasangan nenek dan kakek sihir itu.
"Silahkan"
Fany mempersilahkan dengan suara serak khas orang habis menangis.
"Sebenarnya...."
James pun membisikkan sesuatu ke telinga Fany. Awalnya gadis itu tersentak dan menghindar tapi jame segera menariknya mendekat.
Dan benar saja, selesai mendengar sesuatu yang dibisikkan oleh James, Fany langsung menoleh ke arah James dengan tatapan penuh tanya, Benarkah?
"Meskipun kemungkinannya kecil, tapi kalau dilihat di lokasi itu sama sekali tidak ada sungai, Jadi berdoa saja semoga dia selamat"
#
#
"Mommy..." bibir gadis kecil yang tampak kering dan pucat itu bergumam pelan.
"Alice.." Charlotte yang mendengar gumaman Alice pun menghampiri cucunya. Syukurlah,obat bius dosis tinggi itu tidak benar-benar membahayakan nyawa Alice. Charlotte bersyukur dalam hati.
"Granny... Dimana ini?"
"Oh... Sweetie, Kamu di rumah sakit sayang"
"Rumah sakit? memangnya Ada apa denganku?"
"Kamu mengalami kecelakaan sweetie, jadi harus di rawat disini"
"Benarkah? seingat ku, Aku hanya jatuh dari perosotan yang tidak terlalu tinggi Granny"
"Ehemm.. Ya sayang, tapi... tetap saja kamu terluka sayang. Oh ya, jangan katakan pada Daddy-mu apa yang membuatmu terluka yah, Nanti Daddy-mu bertambah sedih"
Bujuk Charlotte seraya kembali bersyukur. Untungnya, Pria itu masih berada di Rumah Sakit tempat wanita kampungan itu disemayamkan. Jadilah Ia yang pertama kali melihat Alice siuman.
"Granny, Dimana Mommy?"
Ucap Alice seraya mengedarkan pandangannya dan berkedip-kedip lucu Mencari keberadaan Lily.
Charlotte berfikir, sekarang bukan saatnya untuk mengatakan yang sejujurnya bahwa Lily si wanita kampung itu sudah tewas, apalagi Alicia sepertinya benar-benar mencintai istri David itu. Maka Charlotte pun berinisiatif untuk sementara membohongi Alice, sampai gadis itu terbiasa atas ketiadaan Lily beberapa waktu kedepan.
"Mommy tentu saja ada di rumah Sweetie, Bagaimanapun Mommy-mu akan mempunyai bayi, jadi tentu dia harus lebih memperhatikan bayinya, sweetie"
Mendengar ucapan provokatif dari Neneknya itu, Alice sedikit muram membuat Charlotte diam-diam tersenyum. Namun sejurus kemudian Ekspresi Alice berubah drastis, Gadis Kecil itu tampak riang kemudian berkata,
"Granny benar. Adik bayi didalam perut masih belum kuat. Jadi Mommy harus menjaganya dengan baik. Maka dari itu Aku juga akan cepat sembuh agar bisa membantu Mommy menjada adik bayi peanuts"
"Kalau begitu istirahatlah, sebentar lagi Daddy akan datang, setelah itu kamu harus makan dan minum obat, mengerti?"
"Baik, Granny"
"Anak pintar"
Charlotte pun menaikkan selimut sampai ke dada Alice. Kemudian wanita itu berjalan keluar untuk menghubungi David.
Klik
"Halo, Dave... Alice sudah siuman. Dia mencarimu Nak"
"....."
"Baiklah, hati-hati di jalan"
Charlotte pun mematikan panggilannya. Wajahnya seketika berbinar.
"Saat David sudah disini maka Aku bisa pergi menemui Martin, hehehe"
Wanita itu kemudian masuk kembali ke ruang rawat Alice.
#
#
"Tuan, biar saya mengantar Anda"
Leon menawarkan diri untuk mengantar Bosnya yang terlihat sangat lesu dan lemah itu. Sejak semalam David sama sekali tidak bersuara. Wajahnya sangat kusut dan pucat. Ketampanannya memudar hingga 70%. David sekarang lebih terlihat seperti zombie.
"Tidak Leon, Aku bisa pergi sendiri. Tetaplah disini sampai hasil Autopsi nya keluar"
"Tidak Tuan, Anda terlihat sangat lemah. lagi pula orang-orang kita ada disini untuk mengawasi, jadi tidak masalah kalau Saya menemani Anda"
"Hmn. Baiklah. Terima kasih"
Davidpun melangkah dengan gontai meninggalkan ruang jenazah itu sementara Leon mengekorinya di belakang.
"Tuan, Bagaimana kondisi Nona Alice saat ini?"
Leon mengawali pembicaraan mereka untuk sedikit memecahkan keheningan yang terjadi di dalam mobil mewah yang mereka tumpangi.
"Mommy bilang Alice baik-baik saja"
David menjawab seperlunya saja. Kemudian kembali membisu seraya menatap keluar jendela mobil, melihat kendaraan berlalu lalang dan lautan yang meluas di bawah jembatan tempat mereka melaju saat ini.
" Aku bahkan tidak yakin bayi itu milikku" Kata-kata kejam dari mulutnya sendiri terngiang - ngiang di telinganya. David memejamkan matanya yang memanas. Bagaimana bisa Dia mengatakan kata-kata sekejam itu pada Lily? padahal dia sendiri yang pertama kali merenggut kegadisan wanita itu?
'Ini semua karena Crawford itu. Aku akan membuat perhitungan dengannya' batin David menyalhkan James. Kalau saja Pria bajingan itu tidak menganggu Lily, semua ini tidak akan terjadi.
Tanpa sadar tangan pria itu mengepal kuat seolah-olah ingin meremukkan sesuatu.
"Leon, Kenapa James bisa ada di Rumah Sakit itu?"
Tanya David secara tiba-tiba pada Leon, membuat Asistennya itu terkejut karena tidak siap atas pertanyaan itu.
"Leon?"
"Ya, Tuan"
"Apa yang sedang Kau fikirkan?"
" Emm, Tidak Tuan. Saya juga tidak tahu Tuan, sepertinya beliau mengetahuinya dari sahabat Nyonya yang kemarin... menyerang Anda"
"Benarkah?"
"Sepertinya begitu Tuan"
"Selidiki kasus ini sampai tuntas Leon. Aku mendapat firasat bahwa semua ini direncanakan"
"Saya sependapat Tuan"
"Hmn, selidiki James dan juga Marry juga"
"Tuan mencurigai mereka?"
" Ya, Bagaimanapun mereka orang-orang yang pernah berbuat licik padaku"
'Ck... yang licik itu ibu tiri Anda' Leon mencebik dalam hati.