
5 Tahun berlalu dengan cepat, seperti derasnya air mengalir, berjalan begitu saja, dan tanpa terasa banyak hal yang telah terlewati.
Tapi tidak begitu dengan hidup David, hanya perusahaannya yang terus berkembang pesat bahkan menguasai hingga pangsa pasar Eropa. Sementara kehidupan pribadinya seolah berjalan di tempat. David yang masih sendiri dan kini cenderung tertutup.
Bahkan David yang sekarang jauh lebih dingin dibandingkan David 5 tahun yang lalu. Wajahnya selalu kaku dan muram, hampir tidak pernah tersenyum dan sangat irit bicara. Hanya pada putrinya, Alicia, pria itu bisa sedikit berekspresi. Itupun karena Alice yang memang sangat aktif dan ceria khas anak remaja 11 tahun yang baru akan memasuki fase terbaru dalam tingkatan hidupnya.
Yah, Alicia masih di bawah asuhan David. Alice dengan tegas menolak untuk ikut dengan Granny nya ke Amerika Serikat. Hingga akhirnya Charlotte pun menyerah dan kembali ke negaranya seorang diri, tanpa Alicia. Cinta anak itu terhadap David sangatlah besar.
Oh iya, ngomong-ngomong soal Charlotte, wanita itu kini tak lagi berada di Hongkong, dia kembali ke negaranya dan hanya sesekali datang ke Hongkong untuk menjenguk Alice. Sementara David selalu membuat alasan agar tidak lagi bersinggungan atau bahkan sekedar bertatap muka dengan ibu tirinya itu saat datang mengunjungi Alicia.
David tidak membenci Charlotte, tapi dia selalu ingat akan kekejaman wanita itu terhadap istrinya yang membuat penyesalan pria itu semakin dalam.
Dan disinilah pria tampan itu sekarang. Duduk di tepi ranjang kamarnya dan Lily di Apartemen lama mereka.
David memutuskan untuk menghuni Apartemen baru karena semua kenangan di Apartemen ini membuatnya terpuruk. Tidak punya semangat untuk melanjutkan hidup. Bayangan kenangannya bersama Lily begitu menyiksanya. Ia merindukan tapi tak lagi bisa menyentuh.
Apartemen lamanya ini masih sangat terawat karena ada petugas kebersihan yang David bayar untuk membersihkan tempat ini setiap hari.
Hanya sesekali, seperti sekarang ini, Pria itu datang kemari saat rindunya terhadap Lily tak bisa lagi Ia tahan.
Entah kenapa setiap merasa gundah dan tertekan David akan selalu datang kesini, meski tidak membantu banyak, tapi tempat ini mampu menyuntikkan semangat hidupnya kembali dengan mengingat kenangan indah bersama Lily.
"Maafkan Aku, Honey"
Tes. Dua bulir bening mengalir dari sudut matanya. Lima tahun, Lima tahun merubahnya menjadi lelaki cengeng yang mudah menangis, tapi hanya saat ia sedang sendirian seperti ini dan di selimuti oleh kenangan masa lalu bersama istri tercintanya.
Biy.... ini kopinya
Terima kasih My hot Hubby
Hahaha, jangan Biy... gelii..
I love you my hot boss
Bayangan wanita ayu itu menari-nari di hadapannya seolah sedang meledeknya, membuat David diam-diam tersenyum..
'Bayi itu mungkin saja bukan milikku'
'wanita rendahan....'
'Bisa melemparkan tubuhnya pada laki-laki manapun'
"Aaaaarrggggggh!!!!!!" David terduduk di lantai dan menangis tergugu, Tangannya mencengkeram rambutnya sendiri dengan kuat, batinnya tersiksa setiap mengingat perkataan kejamnya terhadap Lily. Penghinaanya, bahkan terhadap calon bayi mereka yang tidak tahu apa-apa, sungguh membuat David menderita dan rasanya ingin mengakhiri hidupnya sendiri.
Suara dering Handphone membuat David tersadar dari kepedihannya. Pria itu kemudian meraih benda pipih itu dari dalam saku jasnya.
"Hmn, bicaralah"
"......"
"Baiklah, Aku kesana"
David pun mematikan panggilannya, Ia bangkit berdiri dan beranjak meninggalkan kamar itu. Namun saat mencapai pintu pria itu kembali menoleh seakan tak rela untuk pergi dari sana.
"Aku akan kembali lagi, Honey"
Ucap David kemudian menutup pintu kamar itu dan menghilang dari sana.
#
#
David berjalan dengan gagah menuju Private Jet miliknya, auranya benar-benar dingin dan sulit di dekati. 5 tahun merubahnya menjadi pribadi yang sangat berbeda dari sebelumnya. Di belakang David, Leon asisten abadinya ya g masih setia menjomblo, mengekori langkah atasannya seraya membacakan agenda bosnya hari itu.
"Hari ini kita akan bertemu langsung dengan pimpinan Robinson Corporation untuk membahas kerjasama yang sudah kita sepakati bulan lalu Tuan"
"Hmn, lanjutkan"
"Agenda hari ini adalah membahas tentang peluncuran awal produk terbaru Kita di Uni Emirat dan juga Eropa. Selain itu pihak Robinson juga ingin bernegosiasi mengenai pembagian loyalti"
"Bukankah hal itu sudah di sepakati juga pada pertemuan sebelumnya?"
"Ya Tuan, tapi sepertinya pimpinan Robinson itu kurang puas dengan hasil pembagiannya"
"Hmn, baiklah. Yang jelas kita harus tetap mempertahankan kerjasama ini. Masalah Loyalti kita bisa merubahnya seusai keinginan Robinson asal tidak merugikan kita"
"Baik Tuan"
Meraka berdua pun memasuki Private Jet itu untuk terbang ke Macau, tempat pertemuan itu diadakan.
Leon sesekali melirik atasannya DNA menghela nafas. 5 tahun sudah David menjelma menjadi manusia yang gila kerja, pagi, siang sore bahkan hingga larut malam terkadang pria itu masih berada di Kantor.
Untungnya, Alicia yang sudah beranjak remaja tidak lagi menuntut ayahnya untuk meluangkan waktu dengannya. mungkin secara tidak langsung Alice mengerti bahwa David butuh kesibukan untuk menjaga kewarasannnya. Bagaimanapun kehilangan istri dan calon anaknya telah menorehkan luka yang dalam di hati pria itu karena penyesalan.
"Tuan, Apa anda menginginkan sesuatu? Minuman atau makanan ringan mungkin?"
Leon coba menawarkan sesuatu karena dia yakin David belum mengkonsumsi apapun hari ini.
"Tidak, Leon. Jika ingin sesuatu Aku akan mengatakannya padamu"
Jawab David seraya menoleh singkat pada asisten yang sudah ia anggap seperti adiknya sendiri.
"Baiklah"
Perjalanan menggunakan private jet memang selalu memuaskan, sangat efisien dalam menyingkat waktu. Hanya dalam waktu 1 jam mereka sudah sampai di tempat pertemuan itu.
David dan Leon disambut oleh pihak Robinson dengan sangat baik. Dapat bekerja sama dengan salah satu perusahaan terbesar di Eropa itu merupakan kesempatan emas bagi perusahaan David dalam memperluas pangsa pasarnya di bidang otomotif.
Selama ini Perusahaan David terfokus hanya pada sektor pembangunan dan juga penanaman modal. Kali ini David ingin mencoba Out of the Box dengan mencoba peruntungannya di bidang produksi produk otomotif.
Walaupun David tidak dalam keadaan baik dari segi mental tapi bukan berarti intuisi bisnisnya juga ikut menurut. Pria itu selalu cerdas dan kompeten jika berurusan soal bisnis.
"Selamat Datang Tuan Davidson, perkenalkan Saya Elena, saya guide yang di utus oleh Tuan Robinson untuk mendampingi Anda selama pertemuan ini"
Elena tersenyum ramah seraya menatap David penuh minat. Pengusaha sukses ya g terkenal dingin itu sedikit menarik minatnya.
"Thanks" Jawab David dingin tanpa melihat wanita di hadapannya itu sontak membuat elena sedikit mencelos.
Sombong sekali, Elena membatin.
Wanita itu kemudian memberi isyarat untuk mengikutinya menuju ruang pertemuan.
David beserta Leon dan beberapa perwakilan dari perusahaannya memasuki ruan pertemuan yang bisa dibilang sangat elite dan tampak begitu mewah.
Designnya sungguh menawan dengan hampir seluruh furniture dan juga warnanya di dominasi dengan warna gold yaang sangat memanjakan mata.
David dengan tenang menempati kursi besar yang terletak di ujung meja.
"Sebentar lagi tuan Robinson dan rombongannya akan datang Tuan"
"Terima kasih. Tapi sejujurnya aku paling tidak suka dibuat menunggu"
Jawab David Angkuh, bukannya tersinggung Elena malah tampak terkagum-kagum dengan sikap David.
"Baliau sudah ada di lobby Tuan Davidson"
Balas Elena kembali tersenyum ramah lengkap dengan Tatapannya yang mendamba.
David lebih memilih diam dan kembali fokus pada notebooknya. Sejujurnya, wanita sejenis Elena ini selalu sukses membuatnya... muak!
Dan benar saja, 5 menit kemudian tampak rombongan yang sepertinya adalah orang-orang dari perusahaan Robinson sedang berjalan mendekati ruang pertemuan, bisa di lihat dari dalam ruangan yang hanya dibatasi dengan kaca bening.
Ada sosok pria yang terlihat menonjol diantara mereka, Perawakan tinggi dan gagah, mata hitam legam yang tajam seperti David. Aura kepemimpinan yang menguar kuat membuat siapa saja bisa menebak, dialah Pemimpin Robinson yang disegani itu, Aston Robinson.
David hanya menatapnya sekilas hingga tiba-tiba, matanya terpaku pada sebuah bayangan di belakang Aston. Seorang wanita dengan pakaian formal berwarna putih tulang, tubuhnya yang langsing sangat familiar di penglihatan David.
David terus memperhatikan wanita itu hingga Ia mulai memasuki ruangan dan...
Deg!!!!
Wanita itu, yang selama ini membayanginya, menari-nari di setiap Ia memejamkan mata. Menyayat hati setiap mengingat kesalahannya. Membunuhnya setiap detik dengan rasa rindu yang menggebu.
Lily!
Istrinya, Jantungnya, Jiwanya yang menghilang bertahun-tahun lalu. Benarkah kini ada di hadapannya?
David menatap lekat wanita itu dengan mata memerah, namun wanita itu bahkan sama sekali tidak meliriknya. Padahal jarak mereka sangat dekat bahkan saling berhadapan. Hampir tidak mungkin jika wanita itu tidak melihat keberadaannya.
Pria itu terpesona, Lily yang dulu cantik alami tanpa polesan make up kini tampil lebih dewasa dan elegan dengan makeup yang terlihat sangat cocok dengan wajahnya yang memang ayu dan manis.
Apakah dia benar Lily istrinya? Atau wanita lain yang terlahir kembali dengan wajah yang sama??
Bersambung