My Hot Boss, I Love You

My Hot Boss, I Love You
Alicia Bukanlah Putri David



Dominic Sangat terpukul dengan kematian istrinya, apalagi Nyonya Charlotte yang terus mencekokinya tuduhan bahwa Sarah bunuh diri karena tidak bisa melupakan David


Bahkan di hari pemakaman Istrinya, Dominic tidak bisa menyembunyikan kebenciannya pada David. Meskipun dia tahu jelas, bahwa adiknya tidak tahu-menahu tentang kematian istrinya, karena David selalu berada di luar Negeri.


Dominic masih setia mengurung diri di kamarnya, bahkan sudah sepekan ini Pria itu tak menemui putri semata wayangnya, Alicia.


Namun, keterpurukan David berbanding terbalik dengan Marry. Wanita itu masih terus menyelidiki kasus sahabatnya yang tiba-tiba saja ditutup demi menjaga nama baik keluarga Crambhell.


tapi Marry tidak menyerah. dia terus menerus mendatangi Mansion Utama keluarga Crambhell untuk bisa bertemu dengan Dominic. Sudah di usir berkali-kali namun Marry tetap tidak menyerah.


Hingga akhirnya, Kakak dari David itu terpaksa menemui Marry yang keras kepala itu.


"Apa maumu sebenarnya?" Dominic sungguh berang melihat Marry yang terus menerus membicarakan hal yang tidak masuk akal.


"Aku ingin membuktikan kebenaran. Tolonglah Dom, Aku hanya ingin keadilan untuk sahabatku!" Balas Marry dengan tatapan sendu.


"Sahabat? kau pernah menghianatinya kalau kau lupa"


"Yah. Aku ingat, dan kami sudah saling memaafkan. Hanya kau yang masih tidak bisa move on dari masa lalu itu"


"Cih" Dominic berdecih mendengar penuturan Marrry.


"Harusnya kau bersyukur kalau aku tidak melakukannya pada David. Sarah bahkan tidak akan melirikmu!" sarkas Marry tanpa ampun.


"Tutup mulutmu!"


"Makanya jangan memancingku Tuan muda Crambhell!"


"Kalau kau kemari hanya untuk mengajakku bertengkar sebaiknya pergilah, jangan membuang waktuku"


"Kau yang memulainya!"


Tidak mau berdebat lebih lama, Marry mengeluarkan handphonenya kemudian membuka aplikasi hijau dan membuka isi percakapannya yang terakhir dengan Sarah.


"Sarah yang menghubungiku dan mengajakku bertemu di apartemen pribadinya. Aku terlambat datang, dan saat sampai disana kondisinya sudah.... sekarat" Lirih. Nyatanya bayangan Sarah menghembuskan nafas terakhirnya selalu mengorek kepedihan di hati Marry, serta penyesalan yang dalam karena ia terlambat datang.


"Aku bersumpah Dom, Aku mendengarnya sendiri, Sarah mengatakan pesan terakhirnya, Email dan namamu. Aku mohon setidaknya jika kau tidak percaya padaku, percayalah pada mendiang istrimu"


Dominic tidak mengatakan apapun. Tapi jelas dari raut wajahnya, pria itu tengah berfikir.


"Aku memiliki firasat, Sarah mengirimkan informasi yang penting di emailmu. Pikirkanlah Dom, Sarah butuh keadilan. pasti bukan hal yang sepele jika Ia sampai kehilangan nyawanya, dan aku tegaskan dia bukanlah wanita berpikiran sempit mati konyol hanya karena cinta" Tegas Marry. kemudian beranjak dari sana sebelumnya Ia kembali menoleh.


"Aku memang pernah berkhianat, tapi Aku bukan orang yang akan melakukan kesalahan untuk kedua kalinya Dom, dan Kau tahu itu"


Marry pun berlalu dari sana, tapi batinnya berharap semoga Dominic mau memikirkan ucapannya.


Skip


Kota Brooklyn, New York City


Hari berlalu begitu cepat, Dominic sudah kembali ke Perusahaan, begitu juga dengan David.


Yah, Dominic memaksa David untuk membantunya menangani Perusahaan Crambhell bersama-sama, karena merekalah penerus selanjutnya, mengingat Ayah mereka, Arthur sudah sakit keras.


'Ting'


Tiba-tiba Dominic mengirim pesan kepada Marry.


"Temui aku Di Cup of Brooklyn, Jm 7 malam ini"


Marry membaca pesan itu dengan terperangah. Setelah hampir berminggu-minggu tidak ada kabar, sekarang pria itu mengajaknya bertemu?


"James, sepertinya kita akan mendapatkan informasi penting, Kau temani aku menemui tuan muda Crambhell itu"


Marry mengakhiri panggilannya pada sahabatnya itu. Tiba-tiba secercah harapan kembali menghampirinya.


"Kau akan dapat keadilan Sarah, Aku berjanji"


Marry menatap kosong halaman luas yang ada dihadapannya, namun mata itu menggambarkan rasa bersalah yang kentara disana. Meskipun terlambat, Marry akan menebus kesalahannya di masa lalu, untuk memperjuangkan keadilan bagi Sarah.


Malam harinya, Pria tampan dengan tubuh yang nampak lebih kuyu tengah menunggu seseorang, Ialah Dominic.


"Maaf membuatmu lama menunggu, jalanan sedikit macet"


"Ini" Pria itu menyodorkan sebuah benda kecil yang ternyata sebuah flashdisk.


"Simpan ini, dan bukalah. Kau akan sangat membutuhkannya saat melawan.. Ibuku"


"Ibumu?" Marry bertanya dengan bingung.


"Aku juga tahu bahwa kau menjebak Dave atas perintah ibuku. Tapi, kali ini jangan ikut campur. Aku akan menyelesaikannya sendiri"


"Apa maksudmu?"


"Ibuku.... bersekongkol dengan Paman Martin untuk menyingkirkan Dave, dan.."


"Dan Sarah mengetahuinya" Sela Marry cepat. Dugaannya tidak salah, Ia memang mencurigai Nyonya Charlotte tapi sama sekali tidak menduga bahwa Martin ikut terlibat.


"Lalu apa yang akan kau lakukan?" tanya Marry penasaran.


"Itu urusanku. Tugasmu hanya mengamankan bukti. jadi, jika sesuatu terjadi padaku maka kau tahu apa yang harus kau lakukan"


"Apa kau gila? Jangan jadi pahlawan kesiangan yang mati konyol Dom. Kau tidak bisa melakukannya sendirian"


"Kau meremehkanku?"


"Tentu saja. Kau pikir bisa sendirian menyelesaikan ini?"


"Tapi aku akan melakukannya, jadi Aku hanya memintamu menyimpan ini, dan gunakan saat sudah waktunya"


Pria itu kemudian pergi begitu saja. Dan Marry saat itu tidak mengetahui bahwa hari itu adalah hari terakhir dia bertemu dengan Dominic.


Marry yang linglung sejenak kemudian mendapatkan kembali kesadarannya, kemudian Wanita itu langsung menghubungi James, untuk melihat apa sebenarnya isi dari flashdisk itu.


Flash Back Off


"Tak lama setelah pertemuan itu, Dominic mengalami kecelakaan dan meninggal, Mobilnya hangus terbakar"


Marry mengusap sudut matanya yang sudah basah. mengingat semua masa lalu kelam itu merupakan hal yang sangat menyakiti hatinya. sahabatnya meninggal, disusul dengan suami sahabatnya. mereka semua meninggal dengan tidak wajar.


"Dan James berhasil menyelidiki kematian Dominic. sebenarnya mobil yang di kendarainya adalah mobil yang dipersiapkan paman Martin untuk David. Tapi, entah bagaimana ceritanya, Dominiclah yang menggunakan mobil itu"


"Bisa jadi tuan Dominic itu sudha tahu rencana pamannya" sela Fany yang ikut menyimak kisah yang di ceritakan Marry.


"Hmn, kemungkinan besar begitu"


"Jadi, Alicia bukanlah putri David?" Tanya Lily yang linglung, begitu mendengar bahwa Alice adalah putri Dominic.


"Yah, David mengangkat Alice menjadi putrinya, Percayalah, dari semua kejadian itu, suamimulah yang paling terluka. Karena hampir semua media memberitakan bahwa kematian suami istri itu ada hubungannya dengan David, Karen persaingan perebutan kekuasaan perusahaan Crambhell"


"Dan suamiku memutuskan untuk membawa Alice meninggalkan New York?"


"Yah, dan juga meninggalkan kenangan pahitnya"


"Bagaimana dengan ayahnya David?"


"Beliau meninggal 2 tahun yang lalu, karena gagal jantung"


Lily kembali menunduk, kasihan sekali suaminya. ternyata dibalik sikapnya yang dingin dan acuh, terdapat masa lalu yang mungkin Lily sendiri tidak akan mampu melewatinya.


"Lalu apa yang kau inginkan dariku? maksudku dengan menceritakan semua ini padaku? tanya Lily kemudian.


"Karena suamimu dalam bahaya. Menurutmu apa yang akan dilakukan oleh wanita serakah seperti Bibi Charlotte? Anak yang dia elu-elukan menjadi pewaris meninggal, sementara anak yang dia benci hidup bahagia?"


"Maksudmu, Mommy Charlotte akan...?"


"Menurutmu?"


"Tapi kenapa? bukankah mereka sama-sama anaknya?"


"Percayalah, Akupun tidak mengerti. tapi jujur saja aku punya kecurigaan jika David bukanlah anak Bibi Charlotte"


Lily dan Fany sama-sama terperangah. Karena mereka pun berpikiran sama. Bagaimana mungkin ada seorang ibu yang bisa berniat menyakiti anak kandungnya sendiri seperti itu?