My Hot Boss, I Love You

My Hot Boss, I Love You
Mommy Adalah Kekuatan Daddy-ku



Sore harinya,


Alice ditemani oleh Marry berjalan cepat menyusuri koridor rumah sakit menuju ruangan David.


Alice sangat terkejut saat mendengar berita tentang Daddy-nya yang tertembak, Dia yang saat itu sedang mengikuti summer camp memaksa pulang untuk bisa terbang ke Macau, untungnya Marry datang untuk membantunya, James yang memberitahunya.


Berita tentang tragedi peluncuran mobil perusahaan Aston dan David itu dengan cepat menyebar bahkan menjadi topik utama Surat Kabar yang memuat berita itu menjadi Headline terdepan.


Awalnya James senang karena yang pertama dia baca adalah soal Martin yang tewas di tempat. Namun Pria itu langsung terkejut saat di akhir berita itu mengatakan bahwa Presdir D.L Company juga tertembak dan dilarikan ke rumah sakit.


Awalnya, James berharap bahwa David tertembak tidak terlalu parah, sampai Leon si manusia kutub itu mengabarinya bahwa David tengah koma dan meminta bantuannya agar menghubungi Marry untuk menemani Alicia terbang ke Macau.


Akhirnya dengan cepat James menghubungi Marry, Syukurnya wanita itu cepat tanggap dan segera menyusul Alicia yang tengah mengikuti summer camp.


"Tenanglah, Alice.... Daddy-mu pasti akan sembuh"


Alice tidak menjawab, gadis kecil yang beranjak remaja itu tetap menangis tersedu-sedu sambil terus berjalan menuju ke ruangan dimana Ayahnya di rawat.


Ceklek


"Dad..."


Alicia langsung menghambur memeluk erat pinggang Daddy-nya yang terbaring lemah.


Lily yang baru saja keluar dari kamar kecil setelah membasuh wajahnya pun terkejut melihat Alicia sudah berada di ranjang memeluk David.


"Alice..."


Lily memanggil dengan penuh kelembutan dan kesedihan, Lily tahu Alicia pasti sangat syock.


"Mommy?" Alice yang tengah memeluk David seketika menegakkan tubuhnya dan berganti memeluk Lily.


Dua wanita beda generasi itu saling berpelukan, saling menyalurkan kekuatan dan ketabahan.


Lily kemudian melerai pelukannya, menangkup wajah kecil Alicia kemudian berkata.


"Jangan menangis, Jika Daddy-mu mendengar, Dia akan sangat sedih sayang"


"Apa yang terjadi? kenapa Daddy bisa seperti ini?"


Lily tersenyum kemudian kembali memeluk Alicia dan berkata,


"Ceritanya panjang, sekarang sebaiknya kita keluar dan menenangkan diri, Kata dokter kita tidak boleh bersedih di hadapan Daddy-mu, agar Daddy cepat sadar"


Alice kemudian mengangguk paham. Lily pun membimbing Alice keluar dari ruangan itu bersamanya.


Lily cukup terkejut saat melihat Marry yang duduk di kursi tunggu.


"Marry?"


"Oh Hai..."


Marry yang sepertinya tengah melamun itu terkejut mendengar panggilan Lily yang sebenarnya tidak terlalu keras.


"Bagaimana keadaannya?" Marry bertanya dengan cemas. Dia sudah tahu jika David saati ini tengah koma, tapi Dia ingin secara langsung mendengarnya dari Lily, siapa tahu saja sudah ada perkembangan.


"Sudah lebih baik" Lily sengaja menutupi karena ada Alice disana, namun Marry cukup pandai untuk segera memahaminya lewat sorot mata Lily, Dia tahu keadaan David tidak baik-baik saja.


"Istirahatlah, Kamu sangat pucat Lily, biar Aku dan Alice yang menjaganya. Lagipula James dan Leon juga akan kesini nanti. Kau juga harus menjaga kesehatanmu"


Alice yang sedari tadi tidak lepas dari pelukan Lily pun segera menatap wajah Lily setelah mendengar ucapan Marry.


"Iya Mom, Aunty Marry benar, Mommy tampak tidak sehat, istirahatlah"


"Tidak Marry, sayang, Aku baik-baik saja"


"Jangan keras kepala Lily, Kalau kau sakit Aku yakin David juga akan merasakannya, dan bisa saja keadaannya malah memburuk"


"Benar Mom, Mommy adalah kekuatan Daddy-ku, Mommy harus tetap sehat, istirahatlah Aku Mohon"


"Baiklah, tapi izinkan Aku untuk istirahat di sofa saja"


"Ya, tak apa, yang terpenting Kamu beristirahat"


"Baiklah, Jika ada apa-apa tolong bangunkan Aku"


"Tentu"


Lily pun masuk kembali kedalam ruangan, di temani Olih Alice. Lily merebahkan tubuhnya menyamping di atas sofa. Kepalanya memang sedikit berdenyut sakit. Tubuhnya juga terasa lemas. Mungkin kurang tidur dan tertekan membuat kesehatannya sedikit Drop.


Alice duduk di sofa kecil di samping Lily menatap Daddy-nya dan Mommy-nya secara bergantian, hatinya sakit melihat kisah cinta keduanya yang tak pernah lepas dari ujian.


Percayalah, Alice sudah mengetahui semuanya, termasuk kenyataan bahwa dia bukanlah putri kandung David. Tapi baginya, status itu tidak mengubah apapun di hatinya. Rasa cintanya, sayangnya, kasihnya dan hormatnya kepada kedua orang itu masih sama besarnya.


Alice berdoa dalam hati semoga Tuhan memberikan Kebahagiaan yang manis di akhir untuk keduanya. Aamiin.


Hari demi hari, Minggu demi Minggu telah berlalu hingga tak terasa sudah 3 bulan lamanya David masih tidak mengalami kemajuan apapun. Tetap diam dan tidak merespon apapun.


Lily tidak ingin berputus asa, setiap malam wanita itu akan membacakan ayat-ayat cinta Allah SWT, menjalankan sholat hajat di setiap malamnya untuk memohon kesembuhan bagi David.


Alice pun sama, Dia ikut beribadah seperti Lily. Alice tidak mengerti namun gadis itu sangat terharu setiap malam Mommy-nya akan bangun setelah terlelap beberapa saat karena kelelahan, kemudian memakai peralatan sholatnya dan setelahnya membaca sebuah buku yang Alice tidak mengerti artinya.


Namun gadis itu seolah ikut merasakan kesejukan dan ketenangan ketika mendengar setiap lantunan yang dibacakan oleh Mommy-nya dengan merdu, meski seringkali Lily tetap terisak sampai wajahnya basah dengan air mata.


Alice tahu sesungguhnya cinta Mommy-nya untuk Daddy-nya sangat besar. Begitu juga sebaliknya, dari sini Alice belajar banyak, bahwa mungkin mereka berdua harus saling merasakan sakitnya kehilangan sampai tahu indahnya kembali dipersatukan.


"Mom..."


Ucap Alice setelah Lily selesai membaca Al-Qur'an namun masih mengenakan mukenahnya.


"Hmn?"


"Apa Mommy masih mencintai Daddy?"


Lily terdiam kemudian tersenyum menatap Alicia lekat.


"Daddy-mu adalah cinta pertama untukku, Mommy tidak pernah memiliki kekasih, Mommy setiap hari hanya sibuk bersekolah, kemudian mambantu ibu berjualan dan kadang bekerja di kebun orang lain.


Saat menikah dengan Daddy-mu, itu adalah hal yang tidak pernah Mommy duga. Mommy jatuh cinta padanya, hingga di saat-saat yang paling menyakitkan pun Mommy tetap mengingat Daddy-mu"


"Mom..."


Alice menatap haru Ibu sambungnya itu kemudian memeluknya dengan erat.


"Aku sangat mencintainya Alice, bahkan saat kami berjarak sangat jauh pun cintaku tidak pernah redup, hanya Dia, hanya Dia yang selalu menempati singgasana paling istimewa di hatiku"


Lily kembali menangis, hatinya kini teramat perih. harus dipaksa tegar saat belahan jiwanya terbaring seperti tak bernyawa didepan matanya.


Dia tahu Cinta haruslah karena Allah, Dan Lily pun mencoba menerima keadaan ini dengan ikhlas, tapi jika boleh jujur, Lily memohon kepada Rabb semesta alam untuk menyelamatkan David, Dia sesungguhnya belum siap untuk kehilangan Pria itu.


Tidak ada yang tahu jika berpura-pura bahagia itu sebenarnya mudah, yang paling sulit adalah berusaha untuk tidak menangis saat batin sebenarnya tidak kuat menahan kesedihan agar tidak membuat orang tercintanya ikut merasa sedih.


Diantara dua wanita yang berpelukan itu, Ada seseorang yang meneteskan air matanya, meski tidak dalam keadaan tapi dia masih hidup, masih mendengar, masih merasakan kepedihan, David menangis, mengasihani diri sendiri karena tidak dapat memeluk dan memberi kekuatan pada dua orang yang sangat berarti dalam hidupnya itu.


'Maafkan Aku... Honey'


Bersambung