
"Hai Honey"
David menggenggam erat jemari Lily yang terasa panas.
Lily tersenyum.
Dia berharap ini bukan mimpi, Davidnya telah bangun dari tidur panjangnya bukan? Pria itu sudah sadar bukan?
Lily ingin membalas ucapan David namun tubuhnya sangat lelah dan lemas. Seperti tak ada lagi tenaga yang tersisa. Sayup-sayup matanya mulai terpejam.
"Honey....Honey...." David mengarahkan seluruh tenaganya untuk mengeraskan suaranya.
Alice yang seperti mendengar suara Daddy-nya menyeruak masuk ke dalam ruangan.
"Daddy???"
David melihat ke arah Alice,
"Sweetie, Mommy-mu...."
Alice yang tengah terkejut bahagia melihat Daddy-nya sadar dari komanya berganti panik melihat Lily yang terkulai lemah diatas kursi rodanya.
"Mom....
Aunty...! Aunty.....!"
Alice bergegas keluar ruangan mencari Marry yang kebetulan baru kembali dari menebus obat milik Lily.
"Hei... hei... Alice ada apa?"
"Syukurlah Aunty datang tepat waktu.... Daddy.... Daddy sudah sadar..."
"My Godness... Thank you...." Marry benar-benar bahagia dan bersyukur. Alice kemudian menambahkan,
"Tapi Mommy, Mommy pingsan lagi Aunty"
"What???" Marry pun segera berlari ke dalam ruangan. Dia terkejut melihat David yang tengah memegangi Lily yang hampir merosot jatuh.
"Dave!! biar Aku saja..."
Marry pun meraih Lily kemudian menekan tombol emergency call.
Tak menunggu lama, perawat segera datang.
"Suster tolong, Tuan Davidson sudah siuman, Aku akan membawa Lily kembali ke ruang perawatan.
"Baik Nyonya, Saya akan segera panggilkan Dokter Cheng"
Ruangan itu mendadak sibuk. Marry dan Alice secepat kilat meninggalkan ruangan dan meluncur ke ruang perawatan Lily diikuti oleh tenaga medis di belakang mereka.
Sementara dua perawat yang tinggal di ruangan David dengan sigap memeriksa kondisi David sambil menunggu Dokter Cheng datang.
30 menit kemudian...
Setelah kondisi yang tegang itu, Lily kini sudah berada di ruang operasi, radang usus buntu memang cukup berbahaya jika dibiarkan terus menerus.
Demi kesehatan Lily, Marry pun segera mengambil keputusan untuk menyetujui tindakan operasi itu.
Sementara David, Syukurlah kondisinya sudah stabil meskipun saraf motorik nya belum bekerja karena terlalu lama dalam keadaan vegetatif. Jadi diperlukan waktu yang mungkin tidak sebentar agar David bisa bergerak dan berjalan normal seperti sedia kala.
Di tengah lamunannya, Marry segera tersadar saat pintu ruang operasi terbuka dan Lily sedang di dorong keluar ruangan itu.
"Operasi nya berjalan lancar, Pasien akan di bawa ke ruang pemulihan"
Ucap sang Dokter, kemudian berlalu meninggalkan Marry yang terlihat mengangguk paham.
Marry , kemudian mendampingi Lily sampai di pindahkan ke ruang pemulihan.
Sementara itu di Ruangan David,
Pria yang baru saja sadar dari komanya itu terus ngotot dan beradu mulut dengan Leon juga James.
David memaksa untuk menemui Lily. Sementara James dan Leon sepakat untuk melarangnya.
"Oh Ayolah bapak presdir yang terhormat, Anda baru saja terbangun dari tidur yang sangat panjang. bisakah Anda duduk tenang dan menunggu dengan damai? jangan membuat keributan"
James berkata dengan emosi yang meluap-luap, namun wajahnya tidak bisa berbohong bahwa dia sangat bahagia melihat partner debatnya itu akhirnya sadar dari komanya.
Sementara Leon sedari tadi hanya terdiam, menahan air matanya agar tidak meluncur bebas, bagaimanapun itu akan menjadi hal yang memalukan, apalagi ada James Si playboy cap kaki kuda disini.
"Apa kau gila? Lily sedang berjuang di ruang operasi sekarang, bagaimana Aku bisa tenang?"
David tak mau kalah, Dia tetap bersikukuh untuk pergi menemui Lily.
"Lily hanya melakukan operasi usus buntu, itu hanya operasi kecil David"
James tetap pada pendiriannya. David baru saja pulih, lagipula Dokter tidak akan mengizinkan.
"Aku tidak mau tahu. Aku ingin kesana. titik.
Leon bawa Aku menemui Lily"
James menghela nafas panjang, Dia tahu bahwa Leon yang bernyali tempe itu pasti akan menuruti David.
"Tuan, apa yang dikatakan Tuan James benar, Istirahatlah dahulu. Besok saat Tuan membaik barulah kita akan menemui Nyonya Lily"
Lagipula Dokter sudah mewanti-wanti agar David selama beberapa hari ke depan akan terus d pantau 2 jam sekali untuk mengetahui perkembangan kesehatan pria itu.
"Jadi sekarang Kau menghianatiku dan mendukung playboy ini begitu?"
Ucap David bersungut-sungut seraya menunjuk ke arah James.
"Ini demi kebaikan Tuan"
Leon berbicara dengan hormat, membuat David kembali membuang nafas kasar. Disaat yang bersamaan Alice masuk ke ruangan Daddy-nya.
"Sweetie..."
"Hai Dad. Syukurlah operasi Mommy berjalan lancar, sekarang Mommy sedang tidur"
Alice menghampiri David dan memeluk Ayah angkatnya itu.
"I Miss you Dad..."
Alice kembali menangis, tapi kali ini gadis itu menangis bahagia, Akhirnya perjuangan Daddy-nya untuk kembali sadar telah dikabulkan Tuhan.
"I Miss you too, sweetie... Daddy ingin melihat Mommy-mu"
"Sebentar lagi Daddy bisa melihat Mommy, kalau Daddy cepat pulih maka Dokter pasti akan mengizinkan Daddy menemui Mommy, Aku tahu Kalian sama-sama keras kepala, maka dari itu cepatlah pulih"
David menatap sayang putri kecilnya yang sudah beranjak remaja itu. Pria itu kembali meraih Alice kedalam pelukannya. Pemandangan itu juga membuat James dan Leon ikut tersenyum.
Keesokan harinya,
"Dokter, Saya mohon.. izinkan Saya untuk turun dari ranjang ini, Saya harus menemui seseorang"
"Hmn, bersabarlah Tuan, kondisi Tuan masih belum stabil, tunggu beberapa hari lagi"
"Tidak bisa Dokter, saat ini Dia sangat membutuhkan Saya, Dia baru saja selesai operasi dan belum siuman. Saya ingin berada di sampingnya" . David berkata dengan wajah memelas tak lupa pria itu mengeluarkan puppy eyes nya membuat dokter Cheng tersenyum lucu.
"Baiklah, tapi dengan satu syarat"
"Apa syaratnya Dokter?"
"Minum obat ini dulu, dan biarkan satu orang Perawat menjagamu Tuan Emiliano"
"Baiklah, Aku akan segera meminumnya"
Dokter Cheng berlalu setelah mengatakan sesuatu kepada perawat yang merupakan asistennya itu.
Tak lama kemudian perawat yang berusia sekitar 50 tahun itu menghampiri David yang sepertinya sudah tidak sabar untuk turun dari ranjang dan menemui Lily.
"Mari Tuan, biar Saya bantu"
Perawat itu dengan telaten membantu David yang masih belum bisa berjalan untuk duduk di kursi roda auto matic kemudian beranjak menuju ruang perawatan Lily.
Ceklek....
"Biar saya sendiri Sus, tunggu saja di luar"
"Baik Tuan"
David menjalankan kursi rodanya untuk mendekat ke arah Lily, Pria itu menatap sendu wanita yang tampak lebih kurus dan pucat itu.
Hatinya berdesir nyeri mengingat perjuangan Lily yang setiap hari menemaninya, mengurus dan merawatnya dengan sabar.
Wanita itu juga yang setiap hari mendoakannya, menahan tangisnya agar Dirinya tidak ikut bersedih.
"Terima kasih... terima kasih sudah menungguku, Sekarang buka matamu, Honey... Lihatlah Aku disini...."
David meraih jemari tangan Lily dan menggenggamnya erat, membawanya untuk dihadiahi kecupan penuh sayang.
Lama menunggu dalam sunyi, tapi David tetap setia, Dia bertekad akan tetap berada di sisi pujaan hatinya sampai wanita yang tengah terlelap itu membuka matanya.
"Dave...."
Marry yang baru saja kembali dari ruang Dokter sedikit terkejut melihat David ada disana.
"Hmn, Bagaimana keadaannya? kenapa masih belum sadar?"
"Tidak masalah, efek anestesinya memang bekerja bisa lebih dari 12 jam, mungkin sebentar lagi Lily akan siuman"
"Syukurlah..."
"Kau sendiri kenapa ada disini, bukannya beristirahat?"
"Aku sudah baik-baik saja"
"Kalian ini.... kenapa sangat keras kepala. Kemarin Lily juga bersikeras, sekarang Kau... benar-benar pasangan yang serasi"
Marry mencebik pura-pura kesal, tapi sebenarnya hatinya sedikit iri melihat David yang mencintai Lily sebesar itu, bahkan dengan Sarah pun David tak seperti sekarang ini.
Marry tersenyum pedih, cintanya benar-benar bertepuk sebelah tangan.
Tak apa, asal orang yang dia cintai bahagia, Ia rela mengikhlaskannya.
Bersambung