My Hot Boss, I Love You

My Hot Boss, I Love You
[BONUS CHAPTER] Serangan Fajar



New York City, Amerika Serikat


Hari demi hari telah dilalui David dan Lily dengan bahagia dan perasaan tak sabar menunggu kelahiran buah hati mereka.


Meskipun pada awal trimester pertama David sangat menderita karena menggantikan morning sick dari istrinya tapi Pria itu sangat sabar dan kuat. Dia tidak pernah mengeluh meski setiap pagi rasa mualnya sangat menyiksa dan rasanya hampir mati lemas.


Lily tersenyum menatap pernak-pernik bayi yang baru saja Ia beli bersama Deborah.


Sebenarnya sudah banyak sekali perlengkapan bayi yang Ia beli sejak bulan lalu bersama suaminya. Tapi Lily sangat antusias hingga kalap membeli terlalu banyak pernik bayi.


Harap maklum, Ini adalah kehamilan kedua tapi rasa anak pertama. Karena kehamilan pertama Lily kehilangan bayinya.


Tapi sudahlah, Kita di episode dimana seharusnya hanya ada kebahagiaan. Jadi tidak perlu mengenang kesedihan di masa lalu.


Sudah pukul 5 sore. Biasanya David sudah pulang tapi sepertinya hari ini akan terlambat, Lily bersiap membersihkan diri untuk segera menjalankan sholat ashar sebelum waktunya habis.


Tak lama setelah selesai mengerjakan Sholat, terdengar suara mobil David terparkir di halaman mansion.


Lily bersiap untuk menyambut suaminya. Kehamilan terbilang lebih besar dari umumnya, membuat Lily lelih lelah dan juga susah untuk bergerak dengan leluasa. Bahkan untuk berdiri dari duduknya saja wanita itu membutuhkan waktu yang cukup lama.


Lily perlahan menuruni tangga, Saat mendengar David sepertinya masih berbincang dengan asistennya di luar pintu.


"Ya Tuhan, Honey... sudah Aku bilang tidak perlu turun. Tunggu saja Aku dikamar"


"Hemmm... kenapa? Apa Kamu malu pada asistenmu karena aku menjadi jelek?"


Lily menjadi cemberut. Sensitivitas Ibu hamil memang berbahaya. Salah bicara sedikit akan mengundang perang dunia.


"Bukan begitu. Aku tidak tega melihat kamu kesulitan menuruni tangga Honey... Aku hanya khawatir, Sungguh"


"Benarkah?"


David mengangguk cepat mendengar pertanyaan istrinya, Pria itu tersenyum kemudian tanpa aba-aba menggendong tubuh Lily yang menjadi sinyal dan berisi.


Lily terpekik kaget namun sejurus kemudian wanita itu terkikik geli. Wanita itu memukul pelan dada bidang suaminya.


"Turunin Aku Biy, Aku berat"


"No, Way... karena Kamu bandel Aku tidak akan mengampunimu, Honey"


"Maksud Kamu?"


David tersenyum misterius. kemudian berkata,


"Dokter bilang Aku harus sering-sering menjenguk si kecil terutama di usia kandunganmu sekarang ini Honey"


Pria itu mengerling nakal membuat Lily tersipu.


"Kenapa sih Kamu selalu saja mesum"


"Hahahaha, Aku hanya mesum terhadapmu Honey"


Kedua pasangan itu memasuki kamar utama mereka dengan bahagia. Sebenarnya David sudah meminta Lily untuk pindah ke kamar bawah, tapi istrinya itu menolak karena merasa sudah sangat nyaman tidur di kamar yang mereka tempati saat ini.


David menurunkan Lily dari gendongannya, dengan cekatan wanita hamil itu melepaskan dasi yang melekat di kerah baju suaminya.


"Mandilah, Aku akan siapkan baju ganti"


"Tidak, Aku ingin makan sesuatu terlebih dahulu"


Lily mengernyit, Makan?


"Makan apa? sebentar lagi kita juga akan makan malam Biy"


David tersenyum lebar, kemudian mendekat ke arah Lily. Entah kenapa David merasa istrinya semakin Sexy dan menggairahkan. Bahkan disaat bekerja pria itu selalu mengingat istrinya yang comel itu.


"Aku ingin memakanmu"


Senyum Lily seketika menghilang, belum selesai menjawab suaminya sudah mendaratkan ciuman menggebu di bibirnya.


Tak lama kemudian David melerai ciuman mereka dan setengeh berlari menghampiri pintu, Pria itu berseru dengan keras,


"Jangan ada yang mengganggu kami sampa 2 jam kedepan"


Lily hanya menggeleng pelan melihat tingkah suaminya itu. Apa David tidak malu? sudah pasti Deborah dan maid lainnya akan memikirkan hal 'itu'.


Jadilah David menikmati istrinya sebagai apetizer sebelum makan malam sebenarnya.


****


New York City, 06.30 am


"Emmmhhh...." Lily mendesah pelan saat merasakan perutnya terasa melilit.


"Huuuft..." Wanita itu mencoba mendudukkan tubuhnya seraya membuang nafas pelan.


"Aduuuh... Biy.... bangun...."


Lily menggoyang-goyang lengan suaminya yang masih tertidur pulas sat merasakan sensasi nyeri hebat yang mendadak menyerang perut bagian bawahnya.


"Hon- Honey? kenapa kamu kenapa?"


"Sakitnya Biy... perutku sakit. Kayaknya adik bayi mau lahir"


"What?????!!!"


David kaget setengah mati. O come on ini masih sangat pagi. Pria itu seketika turun dari ranjang hanya dan mengenakan kaos oblongnya dengan asal.


"Kita ke rumah sakit sekarang"


Ucap pria itu dengan cepat. Lily hanya mengangguk pelan menikmati setiap kontraksi yang datang menghampirinya.


"Huuuuuh.... Huuuuft..."


Lily berusaha tenang dan tetap fokus, mempraktikkan semua pelajaran yang ia dapatkan dari kelas kehamilan yang sudah ia ikuti.


"Yes, Honey. Tarik nafas, buang nafas"


David kemudian menggendong Pelang tubuh Lily.


"Garry!!!! siapkan mobil!!! cepat!!!"


Seru David dengan keras seraya menuruni tangga.


Pria bernama Garry uang sedang berjaga di depan pintu ikut terkejut mendengar teriakan Bosnya.


Dengan cepat dan gemetar Garry menyiapkan mobil yang diminta oleh Bosnya itu. Selama bekerja dengan David, Garry belum pernah mendengar pri itu berteriak. Ada apa sebenarnya?


Namun pertanyaan Garry terjawab, Saat melihat bosnya sedang menggendong Nyonya besar yang sepertinya sedang kesakitan.


"Ya Tuhan, Nyonya akan melahirkan?"


Garry berkata dengan mata melotot.


"Menurutmu?!!!" Sentak David yang tengah panik, otaknya masih tertinggal di kasur jadi Dia sama sekali tidak bisa berfikir tenang dan jernih.


Pria itu bertambah murka saat melihat Garry hanya melongo.


"Buka pintu mobilnya bodoh!!!"


David berteriak dengan bengis. membuat Garry setengah sadar membuka pintu dengan cepat.


"Sabar Honey, Sabar... Kita akan sampai di Rumah sakit secepatnya"


David berkata dengan nafas tersengal-sengal seraya membantu istrinya memasang seat belt.


"Iya Biy... pelan-pelan yah, jangan terlalu ngebut, Huuuuft"


Ucap Lily yang dihadiahi anggukan oleh suaminya.


David melaju dengan cepat menuju ke rumah sakit.


Dia benar-benar ketakutan setiap kali Lily merintih kesakitan dengan wajah yang memerah.


Pria itu sesekali mengelus perut besar istrinya dan mengusap lembut wajah Lily yang berkeringat dingin.


"Aduuuh... Ya Allah..... Huuuuuh"


Sungguh David ingin menangis karena kasihanelohat Lily, jika boleh bertukar posisi, David bersedia menggantikan istrinya itu. Namun itu tidaklah mungkin.


"I'm Sorry Honey..."


David mengecup tangan istrinya dengan khidmat. Lily juga terharu tapi kontraksi yang dialaminya membuatnya semakin mengaduh.


"Sebentar lagi kita sampai Honey, Okey.... bertahanlah"


David mempercepat laju mobilnya. Hingga tak lama kemudian Mereka sudah sampai di Rumah Sakit bersalin yang tidak jauh dari mansion mereka.


David segera turun dari mobil, kemudian menggendong Lily untuk turun dari mobil.


David berlari ke dalam rumah sakit menuju meja resepsionis.


"Suster, Tolong... tolong istri Saya akan melahirkan, Cepat!!!"


Teriakan David membuat suster itu seketika berpencar, tak lama kemudian beberapa dari mereka datang membawa brangkar, David meletakkan Lily dengan pelan diatas ranjang pasien itu.


"Biy... temani Aku ya... Aku takut... Huuuft"


"Pasti. Aku pasti akan selalu menemani kamu Honey"


Semua nakes menatap mereka dengan terharu, sampai salah seorang dari mereka tiba-tiba ingin tertawa begitu sadar dengan penampilan David yang.... kacau balau.


David hanya mengenakan kaos oblong dengan model tengtop, boxer diatas lutut dan sandal warna warni yang semuanya 'kanan'



Masih ada 2 episode tambahan, sabar ya... aku agak sedikit ngelag 🤣🤣🤣