My Hot Boss, I Love You

My Hot Boss, I Love You
Rencana Balas Dendam



Martin berjalan tertatih menyusuri jalan menurun yang lengang, hanya pepohonan yang nampak di depan matanya.


Untungnya, meskipun didalam hutan, lampu penerangan disini cukup memadai jadi tidak perlu ada drama jatuh tersungkur atau bahkan terjun bebas kedalam jurang.


Martin terus menoleh ke belakang, mengawasi barang kali Anak buah David mengikutinya, tapi sepertinya tidak ada orang lain selain dia tempat sepi ini.


Setelah bersusah payah menyelinap dan berhasil kabur setelah mengecoh bodyguard yang berjaga di bangunan tempat ia di sekap tadi, Akhirnya Martin. Isa melarikan diri.


Sesekali pria itu mengerang dan bersedia merasakan nyeri teramat sangat pada bagian bawah tubuhnya.


Martin berjanji akan membalas David lebih kejam dari ini. Sungguh, bagi Martin, tidak ada penderitaan yang sebesar ini, harus kehilangan kemampuannya 'berdiri' saat dia masih bisa bergairah dan meniduri wanita. Bajingan!! Martin terus mengumpat dalam hati.


Ia terus menyusuri Jalan setapak di tengah hutan itu, hingga akhirnya cahaya di depan sana di sertai deru suara kendaraan membuatnya tersenyum lebar. Jalan Raya. Laki-laki itupun mempercepat langkahnya.


#


"Biarkan dia pergi, Aku yakin saat ini tidak ada yang bisa dilakukannya. Aku sudah menahan semua miliknya" Ucap David saat menerima laporan bahwa Martin melarikan diri.


Yah, David cukup yakin jika saat ini Martin tak akan. berbuat macam-macam, semua Uang, Credit card, Debit Card bahkan ponsel pria itu ada di tangan David.


Tapi David tidak menyadari, bahwa dia hanyalah manusia biasa, tidak bisa mengontrol segala hal termasuk rencana Martin, semua kemungkinan bisa terjadi. Apalagi Martin tidak sendiri, Ada Charlotte yang menjadi pelindungnya.


"Tuan Dave, meeting akan segera dimulai"


Leon datang menghadap kemudian memberikan map berisi beberapa dokumen untuk meeting nanti.


"Baik, Ayo kita ke ruang meeting sekarang"


David pun berjalan menuju ruang meeting diikuti Leon yang membacakan susunan acara untuk meeting hari ini.


#


"Halo, Dareck, aku butuh bantuanmu"


".…..."


"Yah, David si Bajingan itu telah menjebakku dan merampas semua uang dan kartu milikku, hubungi Charlotte dan minta dia menjemputmu, Now!"


"......."


"Cepatlah, aku hampir mati saat ini"


"....."


"Hmn, catat lokasiku sekarang"


"...."


"Hmn, Aku tunggu"


Martin meletakkan kembali gagang telepon umum itu dengan sedikit membantingnya.


Jangan bertanya darimana dia mendapatkan uang koin untuk menelepon. itu sangat memalukan.


Dan karena itu, Martin semakin bertekad untuk membalas dendam pada David dengan kejam. Itu janjinya.


"Fvck!" umpatnya dengan tangan mengepal kuat hingga buku-bukunya memutih.


#


Lily baru saja selesai membantu Alice mengerjakan PR, sekarang mereka berdua tengah berjalan-jalan di taman main yang ada di bawah bangunan Apartemen David.


Lily tersenyum melihat Alice yang bersemangat menaiki sepeda kecilnya, sambil sesekali malambaikan tangan padanya.


'Jedut'


Sebuah gerakan kecil dari perutnya membuat senyum di wajah ayunya kian merekah, usia 19 Minggu, bayinya cukup aktif dan responsif saat Ia memberikan stimulasi sentuhan di perutnya yang kian membuncit.


"Mommy! Apa adik peanuts akan main sepeda denganku saat lahir nanti?"


"Tentu saja sayang, tapi tunggu sampai beberapa tahun"


"Beberapa tahun? kenapa lama sekali??"


Tanya Alice seraya mengerjap-ngerjap lucu.


"Iya, Adik bayi tidak bisa langsung berjalan saat lahir Lengloi, di usia 1 tahun mungkin baru bisa"


"Mmmm.... begitukah? tidak masalah aku akan menunggu"


"Hehehehe bagus.. Ayo lanjutkan mainnya ya"


"Okey Mommy!" Alice pun kembali menggayuh sepedanya.


Lelah karena terus duduk Lily pun bangkit berdiri untuk sedikit berjalan-jalan mengendurkan otot-otot kakinya yang terasa kaku. sambil tetap mengawasi Alice yang sedang memutari lapangan rumput yang tidak terlalu luas.


Tiba-tiba....


Bukkk


"Oh, I'm Sorry" Suara berat Khas pria itu membuat Lily terkejut. Dia baru saja menabrak tubuh seseorang.


"It's Oke" Ucap pria yang ternyata bule juga, seperti suaminya.


Lily pun mengangguk kemudian berniat membantu mengambil beberapa barang pria itu yang tidak sengaja terjatuh.


"No, Miss, tidak perlu. Aku lakukan sendiri saja. Lagipula Anda sedang hamil"


"Oh, Iya, terima kasih Sir, sekali lagi saya mohon maaf "


"Ya, It's O-ke. Don't mind it"


Pria itupun tersenyum kemudian berlalu meninggalkan Lily yang sedikit merasa bersalah.


"Keliatannya baik orangnya"


Gumam Lily pelan kemudian menghampiri Alice ya g sepertinya sudah lelah bermain.


"Capek yah? Ayok kita pulang... nanti Mommy bikinkan Cake untuk Alice"


"Cake?? Chocolate or another?"


"Mmmm, Chocolate"


"Oh Yesss! Oke Mommy, let's go home!" seru Alice bersemangat kemudian menggayuh kembali sepedanya menuju apartemen mereka.


#


"Apa yang terjadi padamu Sayang??"


Tanya Charlotte saat melihat Martin yang pucat pasi.


"Ini semua ulah anak sialan itu"


"Siapa? Dave?"


Martin tidak menjawab, tapi dari sorot matanya cukup menjelaskan bahwa tebakan Charlotte enar adanya.


"Apa yang dia lakukan padamu?"


Martin yang tadinya duduk kini berdiri, melangkah tertatih menuju jendela ruangan kecil yang sepertinya apartemen murah itu, menggenggam erat tirai yang terbuka disana dengan tatapan tajam menuju ke arah luar.


"Dia membuatku.... Impoten"


Ucap matur dengan suara bergetar. Terpukul dan putus asa jelas tergambat di wajahnya yang kini tampak lebih tua.


Sementara Charlotte, bak disambar petir di siang bolong, wanita itu terperangah, menatap tak percaya pada pria di hadapannya kini, Impoten??? layu???


"Jangan bercanda Martin"


"Apa kau fikir Aku masih bernafsu untuk bercanda dalam keadaan seperti ini!??"


Hardik Martin dengan wajah penuh amarah. yang benar saja. Apa keadaannya saat ini bisa menggambarkan sebuah guyonan?


"Sorry, Darling. sorry!"


Charlotte memohon maaf dengan wajah menyesal. Tapi perkataan Martin barusan membuatnua benar-benar Syock.


"Ck! Ah sudahlah, Aku sudah seperti ini. tapi bukan berarti tidak bisa diobati. Yang terpenting sekarang Kita jalankan rencana Balas dendam ini sesegera mungkin. Aku benar-benar tidak sabar untuk menghancurkan Bajingan Itu, Emiliano Davidson!"


Mata laki-laki itu memancarkan api kebencian yang mendalam. Terlihat sangat menakutkan hingga bisa membuat siapa saja yang melihatnya bergidik ngeri.


"Jangan khawatir sayang, Aku sudah membuat rencana yang hebat untuk membalas dendam padanya. Aku pastikan kita tidak akan gagal"


"Bagus. Karena Aku tidak akan menerima kegagalan dalam bentuk apapun"


Balas Martin dengan seringai devilnya.


"Tentu saja, dan kau tahu aku membawa kabar baik yang akan sangat kita syukuri"


Ucap Charlotte seraya mengalungkan tangannya di leher sang pria. Martin menatapnya penuh tanda tanya.


"Aku menemukan Marry"


Ucap Charlotte dengan wajah berbinar-binar.


"Good Girl! Kau memang cerdik sayang!"


"Tentu saja, Aku belajar banyak darimu"


"Hahaha"


Martin tertawa keras, melampiaskan kebahagiaan dan nafsunya yang kembali bangkit untuk menghabisi nyawa seseorang.


"Jadi, kapan kita mulai menjalankan rencana Balas dendam kita, sayang?"


"Secepatnya"


Martin menatap Charlotte penuh arti kemudian wajah angkuhnya memancarkan senyum jahat khas peran antagonis...


Bersambung...