My Hot Boss, I Love You

My Hot Boss, I Love You
Hasutan Charlotte



James mengetukkan Jemarinya diatas meja. Baru saja Lily memberinya kabar untuk bertemu. James sendiri tidak tahu, mengapa Ia melibatkan Istri Davidson itu. Tapi pikirannya saat ini sedang kalut. Tidak ada yang bisa ia mintai pertolongan kecuali, Lily.


Tak lama kemudian James melihat wanita dengan perut buncit itu berjalan tergesa ke arahnya. Wanita itu melambai-lambaikan tangannya seraya tersenyum.


"Maafkan, Aku sedikit terlambat"


Ucap Lily sesaat setelah berhasil mendaratkan bokongnya di hadapan pria yang merupakan sahabat Marry itu.


"Tak masalah, Nyonya. Aku juga belum lama sampai"


"Jangan panggil Aku seperti itu. Panggil saja Lily. Mmmm.... jadi bagaimana ceritanya Marry bisa menghilang?"


"Aku tidak tahu pasti penyebabnya. Yang jelas pagi tadi dia masih menghubungiku, dia memintaku membeli bubur dan soup ginseng karena merasa tidak enak badan "


"Lalu?"


"Yah, aku menurutinya dan tidak sampai satu jam aku sampai di apartemen barunya. Tapi, Marry sudah tidak ada disana"


James pun kemudian menceritakan keadaan apartemen juga sudah meminta pihak pengelola untuk memeriksa CCTV, sayangnya itu adalah Apartemen murah di kawasan terpencil dan hanya ada CCTV di dalam Lift.


"Ya Tuhan, semoga tidak terjadi apapun padanya"


"Semoga saja, Mmm Nyonya Davidson, sepertinya aku membutuhkan bantuanmu. semoga kau bersedia"


Ucap James kemudian menatap lekat netra Hazle Lily dengan sungguh-sungguh.


"Tentu saja, Aku akan membantu sebisaku"


"Sebenarnya aku ingin meminta bantuan pada Asisten Pribadi suamimu, Leon. Tapi hubungan kami tidak seakrab itu jadi, aku pikir... kau bisa membantuku menyampaikan padanya?"


"Leon? emmm baiklah akan aku usahakan. Ngomong -ngomong apa kau mencurigai seseorang?"


"Tentu saja. Dan Aku rasa Kau tahu siapa orangnya"


Ucap James dengan senyuman penuh arti. Dan Lily pun mengangguk paham. Nyonya Charlotte kah?


Cekrek!


Seseorang yang tak jauh dari Lily dan James terlihat mengambil gambar tanpa sepengetahuan mereka. Kemudian tersenyum lebar melihat hasil jepretannya yang... memuaskan.


#


"Dave"


Ucap Charlotte yang baru saja memasuki ruangan David tersenyum lembut kemudian menghampiri Putra tirinya yang tengah sibuk memeriksa beberapa berkas.


"Hai, Mom" Sahut David yang hanya menoleh sesaat dan kembali menggeluti kesibukannya itu.


"Jangan terlalu keras pada dirimu sendiri nak, istirahatlah. Kau bekerja seolah kau bukanlah Bos nya, hehehe"


David ikut tersenyum mendengar ucapan Ibunya, Tapi juga tidak menyangkalnya. Akhir-akhir ini pekerjaannya memang semakin menyita waktu. Perusahaannya berkembang dengan pesat, sahamnya bahkan terus melonjak. Namun karena itulah beban pekerjannya juga bertambah.


Seperti kata pepatah, semakin tinggi sebuah pohon akan semakin kencang angin yang menerpanya.


"Aku akan beristirahat sebentar lagi Mom. Ada apa Mom kemari, apa ada hal yang penting?"


"Oh My... Apakah untuk bertemu putraku harus ada sesuatu yang penting terlebih dahulu? kau sangat kejam nak"


"Hahaha, Sorry Mom. Aku tidak bermaksud seperti itu. Hanya saja, tidak biasanya Mommy kesini pada jam sibuk seperti ini"


"Yah, Mommy hanya merasa bosan di rumah. Kau tahu Mommy tidak melakukan kegiatan apapun. semua urusan perusahaan Ayahmu sudah ada yang menangani, jadi... Mommy hanya ingin mencari teman mengobrol. Maaf jika itu mengganggumu"


"It's Okay Mom, duduklah. Aku akan meminta Lucy membawakan minuman dan cemilan untuk kita"


Ucap David kemudian memberi interupsi pada sekretarisnya, Lucy, melalui sambungan intercom.


Sementara Charlotte sudah melenggang cantik menuju sofa besar di ruangan itu. Kemudian dengan anggun mendudukkan tubuhnya disana.


David meraih setumpuk dokumennya, kemudian membawanya menuju sofa, menyusul Charlotte yang sudah duduk nyaman di sana.


"Well, kau tetep membawa pekerjaanmu"


"Heheheh Sorry Mom, tapi aku benar-benar harus menyelesaikannya. Tapi, percayalah ini tidak akan mengganggu acara ngobrol kita. Aku adalah pendengar yang baik"


Wanita itu kemudian memulai pembicaraan mereka dengan berpura-pura membahas Soal bisnis dan manajemen perusahaan Arthur, Ayah dari David.


lama- kelamaan wanita itu sedikit menggeser topik pembicaraan mereka ke ranah pribadi...


"Mommy lihat, istrimu sekarang ini sering sekali bepergian..Pagi ini juga dia keluar rumah kan?"


tanya Charlotte berusaha memancing topik tentang menantu yang di bencinya itu.


"Mmmh, Ya, dia sudah minta izin padaku Mom, Dia bilang ingin makan seafood di restauran favoritnya, di Central Park"


"Waw... jauh sekali..bukankah di daerah tempat tinggal kita juga banyak yang berjualan seafood segar"


"Mungkin... Lily sudah sangat cocok dengan rasa hidangan di restoran itu, makanya tidak tertarik untuk makan di tempat lain Mom"


'Sial'


Umpat Charlotte dalam hati, ternyata mempengaruhi David yang sekarang menjadi budak cinta istrinya tidaklah mudah. tapi bukan Charlotte namanya jika menyerah begitu saja.


"Tapi, Mommy rasa ada yang di sembunyikan oleh istrimu Dave. Mommy tahu tidak seharusnya Mommy ikut campur dalam urusan rumah tanggamu nak, tapi sebagai seorang ibu, aku memiliki firasat yang buruk"


"Maksud Mommy?"


Riak wajah David berubah muram. Ia tidak suka ada yang membicarakan istrinya apalagi jika itu keburukan, tapi saat ini, yang berbicara adalah ibunya. David tidak mungkin memarahinya bukan?


"Maksud Mommy, Lily adalah orang baru di negara ini, ingat, dia bahkan belum genap setahun disini, tapi melihatnya saat ini sering bepergian dengan alasan yang menurut Mommy terlalu... dibuat-buat, Mommy rasa kau harus waspada Dave"


Dave mengernyit bingung, kenapa dia harus waspada?


"Aku masih belum mengerti maksud Mommy"


Dingin. Nada bicara pria itu berubah dingin. David sedikit paham arah pembicaraan ibunya. Tapi, David tidak mau terpancing emosi.


Charlotte bisa menangkap reaksi ketidaksukaan di wajah David. Tapi, dia masih mempunyai senjata pamungkas agar David terpengaruh olehnya.


"Mommy hanya ingin menasihatimu Dave. Kau mengenal istrimu belumlah lama. Dan kau ingat beberapa kali dia keluar rumah dan pulang dalam keadaan yang tidak baik. Jangan karena cinta kau buta segalanya nak"


"Sebenarnya apa yang ingin Mommy sampaikan? Meskipun aku baru mengenalnya, tapi Istriku adalah wanita baik-baik. Aku sudah mencari tahu latar belakangnya. Lagipula, Dia tidak pernah keluar dari rumah tanpa izin dariku. Dan, dia tidak pernah genit pada laki-laki lain Mom"


Ucap David tegas. Pria itu tidak paham, mengapa Ibunya memiliki pikiran buruk seperti itu pada Istrinya, bukankah hubungan mereka terlihat sangat baik? atau ada sesuatu diantara mereka yang tidak di ketahuinya?


"Terserah Kau saja nak, Mommy hanya berusaha membuka mata hatimu. Aku adalah ibumu. Firasat seorang ibu biasanya selalu benar. Apa yang terlihat baik tidak semua kenyataannya juga baik begitu juga sebaliknya. Istrimu pergi keluar rumah, entah itu bertemu dengan siapa, Kau juga tidak mengetahuinya bukan? jadi, jangan sampai menyesalinya nanti nak"


David hanya diam tanpa merespon ucapan Charlotte yang jelas David sedikit terganggu dengan semua kalimat provokatif yang diutarakan Charlotte.


Sementara si rubah licik Charlotte hanya tersenyum miring, melihat David yang tidak merespon tapi Charlotte meyakini jika pria dihadapannya itu sudah mulai terpengaruh.


"Baiklah Nak, maaf jika Mommy mengganggumu. Mommy sebaiknya pulang saja, kebetulan sebentar lagi Alice juga pulang sekolah"


"Hmn, Hati-hati Mom"


Balas David tak seramah saat Charlotte datang ke ruangannya beberapa saat yang lalu.


Charlotte beranjak dari duduknya kemudian melenggang pergi, meninggalkan David yang termenung sendiri.


Tangan David kemudian meraih ponsel di atas meja, menghubungi Istrinya, dan...


Tut Tut Nomernya tidak aktif.


David sedikit gelisah, kemudian menghubungi sopir yang ia tugaskan untuk mengantar istrinya.


"Halo, Tuan"


"Dimana Istriku?"


"Nyonya? beliau di seven eleven tuan, sepertinya membeli cemilan. kami dalam perjalanan pulang"


"Baiklah hati-hati"


Refleks, David menarik nafas lega.


'Tidak, Lily tidak seperti itu. Aku mempercayainya' Batin David