My Hot Boss, I Love You

My Hot Boss, I Love You
Drama Penculikan Leon si Manusia Freezer



"Apa maksudmu Leon tidak ada di Apartemennya!"


Sentak David kepada Anak buahnya, hari ini Leon tidak ada kabar. Bahkan ponselnya yang tadinya masih aktif tiba-tiba tidak bisa di hubungi.


David sungguh cemas dibuatnya, bagaimana tidak? selama bekerja dengannya, Leon tidak pernah seperti ini. Dia selalu ada kapan saja David membutuhkan. Bahkan tengah malam sekalipun.


Tapi hari ini, pemuda itu bahkan tidak kelihatan batang hidungnya saat David sampai di kantor. Dan sialnya, David baru menyadarinya karena terlalu menikmati kebersamaannya dengan Lily.


"Cari Leon! Aku tidak mau sampai terjadi sesuatu padanya!" Perintah David ada anak buahnya yang langsung dijawab dengan Anggukan oleh anak buahnya itu.


"Baik Tuan Dave, kami permisi"


"Hmn" Gumam David sebagai jawaban.


Ada apa dengan Leon, perasannya benar-benar tidak enak. Apalagi saat ini memang persaingan bisnis sedang sangat ketat. David khawatir Jika Leon di culik oleh saingannya dan di celakai.


"****!" umpat David yang kini tengah sangat marah. Dia berjanji pada dirinya sendiri. Siapapun itu jika sampai menyakiti Leon, David sendiri yang akan menembak kepalanya.


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


"Byurrrrr" Guyuran Air dalam jumlah banyak mengenai wajah tampan nan dingin yang kini terikat di kursi kayu.


Mata yang terpejam itu membuka dengan terkejut kala merasakan siraman dingin yang menerpanya.


Seperti menyadari sesuatu, wajah tampannya kini berubah suram, bahkan lebih suram dari taman makam jeruk purut.


"Bajingan! keluar kau pecundang!" teriak Pria yang kini tampak sangat marah itu.


Ia terus mengedarkan pandangannya ke seluruh penjuru ruangan, hingga nampak siluet tubuh seseorang melangkah mendekatinya.


"Cih! Kau ternyata" ucapnya ketika melihat siapa dalang dibalik keadaannya sekarang ini. James Crawford.


"Yups. ini Aku pria freezer yang sok ganteng" Ucap James dengan cengiran kudanya.


"Tuan James Crawford, Apa Anda begitu takut denganku hingga menculikku dengan cara menggelikan seperti ini " Ucap Leon tersenyum dingin.


"Tentu saja tidak, aku cukup berotot untuk adu jotos denganmu, hanya saja kau itu seperti perangkonya David, selalu mengikutinya kemana-mana. Sedangkan aku hanya membutuhkanmu, jadi.. dengan sangat terpaksa aku melakukan ini"


Mendengar kalimat yang terdengar menjijikan di telinganya, Leon memutar bola matanya jengah.


"Apa maumu?" Ucap Leon dingin hingga tatapannya yang tajam seperti bisa menusuk hingga ke tulang.


"Bukan Aku, tapi temanku"


Ucapan James seketika membuat Pria berdarah Chinese - Amerika itu mengernyit. Hingga langkah sepasang kaki yang ramping dan mulus mendekati mereka membuat senyum mengejek di bibir Leon merekah sempurna.


"Nona Johnson? Waw! Aku akui kalian adalah sepasang kekasih yang cocok, sama-sama idiot"


"Brengsek, kau...!"


"James, hentikan!" Marry segera menahan tangan James yang baru saja akan melayangkan tinjunya.


"Pukul saja, kenapa berhenti? Kau benar-benar menjadi budak wanita, tuan Crawford?"


"Tutup mulutmu bedebah sialan!"


"Cukup. James, tinggalkan kami berdua. Aku rasa cukup aku yang akan berbicara dengannya, agar misi kita cepat selesai, kalau kau disini kalian akan terus bertengkar seperti ibu-ibu komplek"


"Ck!... Beruntung karena Marry mencegahku, kalau tidak aku pasti akan merontokkan gigimu"


"Bukan gigiku, tapi jari-jarimu yang akan patah"


Ucapan meremehkan dari mulut Leon sungguh membuat James terbakar emosi hingga giginya bergemelatuk. Namun James segera pergi dari sana setelah melihat tatapan penuh permohonan dari sahabatnya, Marry.


"Kita selesaikan setelah ini, Brengsek!"


Ancam James yang hanya ditanggapi dengan anggukan mengejek dari Leon. Pria itupun berlalu dengan sangat kesal.


"Jadi, bisa kita bicara, Leon?"


"Apa Aku bisa menolak dalam keadaan seperti ini?"


Pria itu melirik kearah tangan dan kakinya yang terikat seolah mengingatkan Marry bahwa dia bahkan tidak bisa bergeser sedikitpun.


Marry tersenyum tipis, kemudian meraih sebuah kursi kayu yang terdampar tak berdaya di sisi Leon. wanita itu duduk berhadapan dengan pemuda yang ia akui, ganteng dan imut.


"Aku minta maaf atas apa yang James lakukan padamu, tapi percayalah Aku dan James tidak berniat jahat"


"Tidak berniat jahat? benarkah?"


"Sungguh Leon, Aku bersumpah. Aku hanya ingin meminta bantuanmu. Tapi Aku tahu tidak akan mudah karena Kau adalah kaki tangan David"


"Hmm, jadi Kau ingin meminta bantuan pada kaki tangan musuhmu, begitu? sangat masuk akal"


"David bukanlah musuhku, Leon. Aku..."


"Kau mencintainya, benar?"


"Itu dulu. bisakah kita tidak membahas masalah pribadi?"


"Baiklah, kalau begitu apa yang ingin kau bahas?"


"Aku... ingin memberitahumu tentang... Nyonya Charlotte"


Ucap Marry sedikit ragu.


Leon yang tadinya tersenyum mengejek, kini berubah serius. Ada ekspresi terkejut yang kentara dari riak wajahnya.


"Mungkin kau tidak akan percaya tapi Aku...


"Teruskan, Aku ingin mendengarnya!"


Sela Leon cepat, hingga Marry yang tadinya ragu pun menatap Leon penuh tanya?


Namun seperti mendapat energi lain dari Leon, Marry kemudian yakin menceritakan semuanya pada Leon.


Marry pun mulai menceritakan semuanya pada Leon tanpa ada yang terlewat, dengan sedikit memperhatikan ekspresi dari pria di hadapannya itu. Kenapa nampaknya Leon tidak terkejut sama sekali? terkesan biasa saja? atau memang dia adalah jelmaan siluman muka rata yang tidak bisa berekspresi?


"Jadi, kau tahu semuanya?"


Kaget! bukan. Bukan Leon yang kaget melainkan Marry.


Dan pria itupun mengangguk. membuat Marry seketika menutup mulutnya sendiri dengan telapak tangannya.


"Bagaimana mungkin?"


"Tentu saja mungkin, karena ayahku adalah orang kepercayaan tuan Arthur yang bahkan tidak di ketahui oleh istrinya"


"What??"


"Aku adalah putra Chan Fen Yi alias... Robert Chan"


"Kauuuu??" Marry memekik kaget, saat mengetahui siapa ayah dari Leon.


Sementara pemuda itu hanya tersenyum, senyumnya sangat manis hingga membuat Marry yang sudah tua tersepona ulalala.. jangan! dia brondong! batin Marry menjerit-jerit.


Tapi sungguh Marry seketika merasa lega. tadinya Wanita itu sudah membuat rencana, jika Leon ternyata sama jahatnya dengan Charlotte, maka Dia dan James akan memasukkannya kedalam karung dan membuangnya ke tengah laut.


"Tapi, setahuku Uncle Robert bahkan tidak menikah"


"Yah, ayahku sengaja menikah diam-diam, atas perintah Tuan Arthur, agar keberadaanku dan ibuku terlindungi"


"Hemm, masuk akal" ucap Marry manggut-manggut.


"Tentu saja, Tuan Arthur dan penulis novel ini pasti sudah memiliki penilaian tersendiri"


"Aku mengerti. Lalu bagaimana kau tahu tentang semua yang kuceritakan tadi? apa Uncle Robert yang memberitahumu?"


Tanya Marry penasaran. Dia tahu bahwa Robert Chan adalah orang kepercayaan Arthur bahkan hingga akhir hidupnya, Pria yang seumuran dengan ayahnya itu tetap melindungi keluarga majikannya.


Marry bukannya tidak tahu bahwa Uncle Robert diam-diam selalu mengawasi pergerakan Charlotte dan juga... Martin.


"Jangan-jangan ayahmu juga tahu kalau Martin dan Bibi Charlotte yang meracuni paman Arthur?"


"Yah, mereka juga yang membunuh ayahku"


"Jadi, Uncle Robert???"


"Yah, ayahku bukan mengalami kecelakaan pesawat saat tiba-tiba ditugaskan mengawasi perusahaan Tuan Arthur di Serbia oleh Nyonya Charlotte. Bukankah menurutmu terlalu kebetulan saat Ayahku mengalami kecelakaan dan 2 hari kemudian Tuan Arthur meninggal?"


"Ya Tuhan, Mereka benar-benar sangat kejam"


"Itu sebabnya, mungkin Ayahku mendapat firasat bahwa akan terjadi sesuatu padanya. Beliau mengirimkan pesan untukku melalui email. Dan memberitahuku segalanya, termasuk tentangmu yang menyelidiki kematian Sarah"


"Tapi... bukankah kau bekerja pada David hampir 10 tahun yang lalu? Apa ayahmu juga yang memintanya?"


"Lebih tepatnya Tuan Arthur, dia ingin ada yang menjaga dan melaporkan setiap kegiatan dan apapun itu yang terjadi pada putra satu-satunya"


"Apa aku melewatkan sesuatu?"


Marry menangkap jelas kalimat terakhir Leon.


"Benar. Dominic adalah anak hasil perselingkuhan Charlotte dan Martin, dan... Tuan Dave bukanlah anak dari Nyonya Charlotte"


"Astaga! itu sebabnya, Bibi Charlotte sangat membenci Dave? lalu Dave itu anak siapa? maksudku, apa Paman Arthur punya istri lagi?"


"Tuan Arthur menikah dengan Clara Adelin, wanita yang dicintainya, tapi Nyonya Clara meninggal saat melahirkan Tuan Dave. kemudian Tuan Arthur membawa bayi Dave ke Mansion Utama, dan membuat kesepakatan dengan Nyonya Charlotte agar mau menerima bayi itu jika tidak ingin di ceraikan"


"Oh My... cerita mereka penuh ndengan drama"


"Dan jika kau Penasaran, Tuan Arthur meminta untuk dimakamkan di Green- Wood Cemetery, dimana Clara Adelin juga dimakamkan disana"


"Hmmm, David sungguh tidak mengetahuinya sama sekali"


"Tidak sama sekali. tapi namanya rahasia, suatu saat akan terbongkar, biar waktu yang menjawabnya"


"Kau benar"


"Jadi, apa rencanamu sebenarnya"


"Aku ingin memberitahu David semuanya, tapi setelah mendengar ceritamu aku jadi berfikir ulang, karena ini tidak mudah dipercaya"


"Betul, saat ini aku hanya menjalankan tugasku untuk selalu mengawasi dan melindungi Tuan Dave, dengan caraku sendiri"


"Jika kau membutuhkanku, Aku akan dengan senang hati membantu. Oh iya ini..."


"Marry menyerahkan Flashdisk yang berisi copy an rekaman yang berhasil didapatkannya dari Sarah melalui Dominic"


Leon memandangi benda kecil itu dengan kening berkerut,


"Apa ini?"


"Aku percaya padamu, makanya Aku memberikan Copy an rekaman itu, Kau dengarkan saja sendiri nanti"


Mendengar Jawaban Marry, Leon pun mengangguk paham.


sebenarnya dia sudah tahu bahwa dua orang yang selama ini dia awasi bukanlah komplotan Martin.


"Baiklah. Terima kasih sudah percaya padaku, Nona Johnson, tapi bagaimana jika aku tidak sebaik yang kamu kira? bisa saja aku berkhianat?


"Aku akan mengarungimu dan menghanyutkanmu ke tengah laut sebagai umpan Hiu megalodon"


"Hahahaa"


Leon tertawa terbahak, tanpa sadar membuat wanita didepannya terperangah,


Manusia freezer ini bisa tertawa? sungguh ajaib! batin Marry.


"Baiklah, Kalau begitu Aku bisa pergi sekarang?'


Ucap Leon yang kemudian berdiri setelah dengan mudah melepaskan ikatan di tangan dan kakinya.


Marry sontak membola tak percaya. Bagaimana bisa?


"Oh ya, katakan pada temanmu yang idiot itu. Aku adalah tawanan bukan kue ulang tahun kenapa dia mengikatku dengan pita menjijikan ini? benar-benar menjatuhkan harga diri seorang tawanan"


Setelah mengucapkan kata mutiara kepada Marry, Leon melenggang dengan tenang keluar dari ruangan pengap itu.


Sekarang dia tinggal memikirkan bagaimana mencari alasan yang tepat untuk diberikan pada bos killernya, Emiliano Davidson.