
Laki-laki yang diberi kode oleh Martin kemudian terlihat berjalan ke arah dapur Ballroom itu, tak lama kemudian beberapa pelayan yang wajahnya sedikit berbeda keluar. Laki-laki itu kemudian memberi tanda jempol ke arah Martin, membuat paman dari David itu tersenyum lebar.
Sementara itu, Usai acara dansa pesta itu semakin meriah dengan hadirnya bintang-bintang lokal maupun internasional seperti Alan Walker danjuga pasangan Shawn Mendes serta Camila cabello.
Lily benar-benar tidak percaya bisa melihat langsung artis-artis itu DDI hadapannya secara langsung tanpa membayar tiket. Sungguh pengalaman yang tidak terlupakan.
David ikut tersenyum bahagia saat melihat wanita disampingnya tak pernah lepas dari senyuman.
Tapi kebahagiaan itu tidak berlaku untuk Leon. Pria itu merasakan ada gerakan mencurigakan dari beberapa orang yang terlihat dari kamera pemantau yang kebetulan dijaga oleh anak buahnya bersama pegawai Hotel itu.
"Eldrick"
"Ya Tuan"
"Sepertinya ada musuh diantara kita. Cari. sebelum mereka bertindak lebih jauh"
"Baik Tuan"
"Beritahu anak- anak untuk siap dengan senjatanya"
"Siap Tuan"
Eldrick pun segera berlalu dari hadapan Leon, sementara Leon terus mengawasi keadaan disekitar David.
"Bos"
Kali ini Ken yang berbicara.
"Ada apa?"
"Martin ada disini?"
"What??? Fvck!!! cari jangan sampai dia lepas dan mencelakai Tuan Davidson"
Leon sudah tahu pasti, bahwa target Martin hanyalah David. Entah setan apa yang ada di hati pria itu. berbagai kejadian sudah dialaminya, tapi tetap saja tidak merubah jiwa iblis dalam diri pria itu.
"Baik Tuan"
Leon bergegas menuju kearah David, namun belum sampai dua langkah tiba-tiba.
Tap,
Semua lampu padam. membuat orang-orang yang ada di dalam pesta itu seketika panik, terutama Leon.
Dia harus berjalan dalam kegelapan untuk mencari David hingga beberapa kali menabrak dan memegang orang yang salah.
Sretttt
Dorrrrrrr
Terdengar suara tembakan membuat semua orang histeris dan saling berhamburan keluar dari gedung.
"Eldrick dimana Kau!!!"
"Saya di ruang pesta Tuan"
"Cepat nyalakan center di hapemu, beritahu yang lain juga!"
"Baik Tuan!!"
Leon pun segera menyalakan center di hapenya, untungnya tindakannya kemudian di tiru dengan cepat oleh orang-orang yang tersisa disana, dan bisa dipastikan yang tersisa hanyalah orang-orang Robinson dan David, karena para tamu pesta dengan cepat berlarian keluar dari ruangan itu.
"Ken nyalakan saklar listrik sekarang!!!"
"Baik Tuan"
Sebelum Ken melangkahkan kakinya, lampu ruang pesta itu tiba-tiba menyala.
"Halo Keponakanku, apa kabar?"
"Martin??"
Desis David yang sedari tadi tak melepaskan genggamannya dari Lily.
Sementara Aston dengan cepat mengkode anak buahnya untuk membawa Mommy Jean beserta elena dan juga Rosie keluar dari sana. Aston sendiri tetap tinggal.
"Kau benar-benar tidak berubah Martin"
Ucap David dengan wajah memerah.
"Aku bukan Power Ranger, kenapa harus berubah?"
Jawab Martin dengan entengnya. Kemudian mengeluarkan rokok dari dalam sakunya, menyalakan dan menghisapnya dengan khidmat.
"Apa maumu?"
"Kau sudah tahu keinginanku, nyawamu. Aku hanya ingin nyawamu. Itu saja"
"Kalau begitu ambillah kalau Kau bisa, bedebah!"
"Tuan Martin, David adalah keluargamu kenapa Kau sangat membencinya seperti itu?"
Kali ini Lily yang berbicara, Dia sangat heran melihat manusia sejenis Martin. Padahal sudah banyak memakan korban tapi masih belum juga bertaubat, lebih heran agi karena dia masih dibiarkan hidup sampai sakarang.
"Diamlah Kau wanita. Kau sendiri kenapa belum mati menyusul anakmu itu?"
Deg. Lily seketika mengepalkan tangannya kuat-kuat hingga buku-bukunya memutih. Begitu juga dengan David. Anak itu? Dia adalah bayi yang tidak berdosa dan tidak mengerti apapun. Tapi Martin begitu kejam melibatkannya hingga meninggal.
"Kau iblis" Lily berdesis dengan dua bulir bening mengalir dari sudut matanya.
"Memang. Dan kau tahu? Aku merubah rencanaku. Bagaimana kalau Aku membunuhmu terlebih dahulu baru kemudian Laki-laki di sampingmu itu? Sepertinya akan menyenangkan"
"Kau tidak berkaca Tuan, kakimu saja pincang, dan Kau mau membunuh orang?"
Aston menyahuti ucapan Martin dengan dingin. Pria itu sangat muak melihat wajah Martin yang sangat menjengkelkan.
Dan lagi, Aston akan menghukum semua anak buahnya karena sampai bisa kecolongan seperti ini. Entah anak buahnya yang bodoh atau Martin dan anak buahnya yang terlalu licin. Hingga bisa mengecoh anak buahnya dan David.
"Tuan Robinson, Aku sama sekali tidak ada urusan denganmu, tapi tak apa jika Kau ingin melihat drama kematian ini, akan aku suguhkan dengan istimewa untukmu hehehehe"
Suuuitt suuiit...
Martin kemudian bersiul, dan muncullah orang-orangnya dari segala penjuru.
"Kau lihat keponakan, hahaha Aku juga bisa melakukan hal yang sama denganmu! Lihatlah keluar, anak buahmu sudah te-was"
"Bajingan!!!"
Leon kemudian mengeluarkan senjatanya, begitu juga dengan David dan Aston serta anak buah mereka yang tersisa.
Sementara Martin masih dengan santai menyemburkan asap rokoknya keudara dan tiba-tiba.
"Aaaakh, David!!!!"
"Lily!!!"
Lily sudah berada di dalam cengkeraman anak buah Martin dengan pistol yang mengarah ke kepala wanita berhijab itu.
David dan Aston seketika menegang, begitu juga dengan Leon. Namun Leon tidak kehabisan akal, Dia mengkode Eldrick untuk melakukan sesuatu, namun tentu saja langkahnya terbaca oleh Martin.
"Jangan Coba-coba kau anak ingusan! Satu langkah maka kepala wanita itu akan pecah"
Leon pun menghentikan langkahnya seraya mengumpat.
"Turunkan senjata kalian, Sekarang!!!"
David dan Aston saling menoleh kemudian mengangguk kecil dan meletakkan pistol mereka ke lantai.
"Angkat tangan kalian!"
Perintah Martin lagi.
David, Aston , Leon dan yang lainnya pun menurut karena takut Lily akan celaka.
Martin tertawa keras seperti orang kesurupan reog membuat David semakin tegang.
Tapi yang tidak diketahui mereka adalah ketenangan Lily. Tidak ada yang tahu jika Lily menguasai ilmu beladiri yang mumpuni. Saat SMA di menjuarai turnamen pencak silat hingga meraih sabuk hitam, sayangnya prestasinya itu tidak bisa membuatnya melanjutkan pendidikan lagi-lagi karena uang.
Setelah di Inggris, Bibi Jean telah mengajaknya untuk melanjutkan ilmu beladirinya sekaligus belajar menembak, tentu saja tanpa sepengetahuan Aston. Karena Aston sendiri melarang Lily untuk melakukan semua itu dengan alasan bahwa Dia bisa melindungi wanita itu. Tapi tentu saja pengalaman yang Lily ceritakan kepada Jean, membuat Ibunda Aston itu berpikir lain.
Diam-diam Lily mengamati Anak buah Martin yang kini mencekal tangannya. setelah mendapatkan celah, tiba-tiba.
Greb, srakkkk .. Kretekkk!!!!
"Arrrrrrggh!!!
Suara tulang patah itu membuat orang-orang terkejut. Lily dengan cepat mengambil senjata di tangan anak buah Martin itu kemudian mengarahkannya ke arah Martin dan.
"Lily!!!!"
Aston dan David berteriak bersamaan dengan mata melotot sempurna. Mereka hampir menganga tidak percaya dengan apa yang dilihatnya? Lily memegang senjata??
Begitu juga dengan anak buah Leon dan Martin, mereka sangat terkejut hingga terpaku disana tanpa berbuat apa-apa.
"Turunkan senjata kalian atau aku akan melepaskan peluruku kekepala pimpinan kalian itu"
Anak buah Martin pun menurunkan senjatanya, hingga tak ada lagi yang bersenjata disana kecuali Lily.
"Kau bilang kenapa Aku tidak menyusul anakku?? itu karena... Dia memintaku... membalaskan dendamnya!"
Martin menatap ngeri wanita yang kini menodongkan senjata kearahnya, matanya yang biasanya teduh dan sayu kini memerah dan menyeramkan, membuat laki-laki itu mengernyitkan keningnya.
Martin pun tak kalah cepat, Dia meraih senjatanya kemudian menodongkannya ke arah Lily.
Jadilah dua orang berbeda gender itu saling menodongkan senjatanya membuat ruangan itu menjadi sangat dingin dan mencekam.
David dan Aston seperti akan mati lemas saking tegangnya, begitu juga dengan Leon.
"Bagus, Ini akan sangat sempurna, Kau dan aku saling menembak, Jadi.... kita bisa mati bersama hahaha, betapa romantisnya"
"Tutup mulutmu Martin!!"
Hardik David yang kini berjalan mendekat ke arah Lily.
"Kau fikir Aku takut hmn? Aku sudah merasakan bagaimana sakitnya hampir menuju kematian, jika merasakannya sekali lagi Aku sama sekali tidak keberatan. Mari kita bersama-sama menuju ke Akhirat"
Lily berdesis tajam dengan tatapan mematikan ke arah Martin.
Ceklek.. Suara pelatuk di tarik bersamaan, membuat bunyi serentak yang mengerikan.
Sretttt..... Dorrrr!!!!
"Uhukkk" Martin memegangi dadanya, cairan merah keluar dari mulutnya, Pria itu kemudian jatuh terduduk.
"Baguslah, keponakan.. Kau melakukan hal yang benar hehehe"
"Emmmhhh..."
"D...David..."
David memeluk erat wanitanya, Darah segar mengucur dari balik jas putihnya hingga warna merah mendominasi jas itu.
"Tuannn!!!!"
Dor Dor dor... Leon menembaki Martin berkali-kali hingga laki-laki itu benar-benar terkulai tak bernyawa.
"Are You Okay?"
David berbisik dengan bibir bergetar. Rasa sakit di punggungnya sangat hebat hingga ia seperti mati rasa.
"Dave... Apa yang kau Lakukan???"
Lily menyentuh Dada pria itu yang sudah berwarna merah.
"Ak-Aku... Mencintaimu, Sangat... Mmmmmh"
David perlahan kehilangan tenaganya dan mulai memejamkan matanya.
"David.. David....!!!!"
"Panggil ambulance, cepat!!!!"
Aston berteriak dengan suara yang menggelar, membuat anak buahnya lari tunggang-langgang untuk memanggil ambulance.
Lily menangis tergugu, sementara Leon terduduk di samping Bosnya. Dia gagal. Gagal melindungi David.
Bersambung