
Ceklek
Lily memasuki ruang rawat David, matanya yang sudah berkaca-kaca Ia tahan agar tidak menangis.
Lily berusaha tersenyum kemudian menghampiri David dan duduk di sampingnya.
"Hai" Lily menyapa dengan suara yang dibuat seceria mungkin.
Sunyi. Tak ada jawaban. Tapi Lily tidak menyerah, Wanita berhijab putih tulang itu kemudian berkata,
"Istirahatlah, mungkin Allah membuatmu tertidur lelap karena terlalu lelah. Tidak apa-apa, tapi berjanjilah untuk segera bangun, Aku menunggumu"
Masih Sunyi. Lily menatap kelopak mata David yang terpejam, mengingatkan kekagumannya pada netra sebiru lautan milik mantan suaminya itu.
Lily tersenyum, mengingat kembali saat pertama kali menginjakkan kakinya di Apartemen David,
"Kamu tahu, saat pertama kali Aku menginjakkan kakiku dirumahmu, Aku sungguh terkejut karena ternyata suamiku bukan warga lokal melainkan seorang warga negara asing. Tapi kemudian Aku seperti orang bodoh yang terus memperhatikan Kamu"
Lily kembali tersenyum.
"Saat itu mungkin mataku hampir copot karena terus memelototimu dari belakang dan... hatiku berkata... Oh my God, bosku tampan sekali"
Lily kemudian menundukkan kepalanya, ternyata tidak mudah, hatinya tetap sakit melihat keadaan David yang diam saja seperti itu.
"Bangunlah... Aku menunggumu"
Tak tahan, Lily kemudian berlari ke arah toilet, menumpahkan air matanya yang sejak tadi Ia tahan. Lily menangis tersedu-sedu seraya menggigit bibirnya kuat-kuat agar tidak bersuara.
Setelah tenang, Lily mengusap seluruh wajahnya kemudian kembali menemani David. Seperti kata suster, David harus di stimulasi dengan hal-hal yang positif dan menyenangkan, agar tubuhnya bisa menerima hal positif itu dan diharapkan bisa segera terangsang dan memberi respon.
Saat membuka pintu toilet ternyata sudah ada suster disana,
"Nyonya, ada yang menitipkan ini untuk Anda?"
Suster itu berkata dengan ramah, Lily pun tersenyum kemudian bertanya dengan sopan,
"Siapa?"
"Kurang tahu, Dia hanya mengatakan ini adalah baju ganti untuk Anda"
"Oh, ya baiklah, terima kasih"
Lily menganggukkan kepalanya kemudian meraih tas jinjing hitam yang cukup besar itu.
"Sama-sama, sebaiknya Anda juga beristirahat Nyonya, Anda terlihat sangat pucat"
Suster itu berucap dengan sorot prihatin yang nampak jelas.
"Benarkah? terima kasih atas perhatiannya suster, Saya pasti akan beristirahat"
"Baiklah kalau begitu saya permisi"
"Suster"
Lily memanggil karena penasaran ingin bertanya sesuatu.
"Ya, Nyonya? Ada lagi yang bisa Saya bantu?"
"Aku.... ingin menanyakan... Apakah kondisi David bisa segera membaik"
Lily bertanya dengan ragu-ragu, namun suster itu mengerti kemudian menjawab seraya tersenyum lembut.
"Kita berdoa saja Nyonya, umumnya pasien mengalami koma selama 1-4 minggu, semoga saja tuan Davidson tidak mengalami persistensi vegetatif yang terjadi pada pasien sehingga mengalami kondisi ini sampai bertahun-tahun"
Lily memejamkan matanya yang terasa memanas,
"Tapi Saya yakin dengan adanya Anda disini, Tuan Davidson akan segera sadar"
Suster itu mengertikah kekhawatiran Lily sehingga segera menghiburnya dengan mengatakan hal yang positif dan berharap Lily bisa kembali bersemangat.
"Aamiin"
Lily berucap pelan. Suster itu tersenyum dan berkata,
"Saya permisi, Istirahatlah"
Lily hanya mengangguk sebagai jawaban, tenaga kesehatan itu pun berlalu meninggalkan Lily hingga menghilang di balik pintu.
Dia benar Aku harus semangat, agar David juga semamgat untuk berjuang agar bisa sadar.
Lily pun melihat penampilannya yang cukup lusuh karena belum mengganti bajunya. Wanita itu kemudian meraih tas hitam yang di bawakan oleh perawat tadi kemudian memasuki toilet untuk berganti pakaian.
"Huuuft, Alhamdulillah Aku merasa lebih baik sekarang"
Lily kemudian melihat jam di dinding yang sudah menunjukkan waktu pukul sembilan malam, tidak terasa sejak pesta kemarin, waktu berjalan sangat cepat.
Lily kemudian duduk disamping David dan memijat pelan kaki pira itu yang tertutup selimut. Hingga malam bertambah larut tanpa sadar Lily pun ikut terlelap di samping David dengan posisi kepala terbenam di atas tangan Lily sendiri.
Keesokan paginya,
Leon datang dengan membawa beberapa bungkus plastik yang berisi makanan. Dia tahu, Lily belum makan apapun sejak semalam karena Dia sendiri pun sama sekali tidak memiliki nafsu makan hingga lupa jika ada Lily yang sedang menunggui David di rumah sakit.
Leon tersenyum haru saat melihat mantan istri Bosnya itu tidur dalam posisi duduk di samping Bosnya, Wanita ini sangat kuat dan Leon bersyukur karena Lily masih mencintai David dengan segala cobaan dan ujian yang menimpa cinta Mereka.
"Nyonya, bangunlah"
Leon memanggil dengan lembut, namun Lily tidak merespon, mungkin wanita itu teramat lelah hingga tidur sangat nyenyak.
Leon kemudian menepuk-nepuk Pelang lengan wanita itu, dan benar saja, Lily mulai mengerjap-ngerjapkan matanya.
"Leon?" Lily berusaha mengumpulkan sisa-sisa kesadarannya yang tertinggal di alam mimpi untu kembali ke dunia nyata. Wanita itu tersenyum kaku melihat Leon yang sudah berdiri di hadapannya dengan banyak bungkusan itu.
"Anda pasti sangat lelah duduk dengan posisi seperti itu Nyonya, kenapa tidak tidur di sofa?"
Leon menunjuk ke arah sofa yang terletak tepat di belakang Lily duduk saat ini.
"Tidak apa-apa Leon, Aku hanya takut jika tiba-tiba David sadar tidak ada siapapun di sampingnya"
Leon tersenyum simpul, kemudian menyerahkan bungkusan yang ada di tangannya.
"Makanlah, Nyonya. Anda juga harus menjaga kesehatan"
"Terima kasih Leon, tapi aku belum lapar"
"Tidak Nyonya, Anda harus makan. Tuan akan memenggal kepalaku kalau sampai anda sakit karena kelalaianku"
Leon berusaha tersenyum lebar agar Lily tidak terlalu tertekan dan sedih dengan keadaan ini, Lily pun ikut tersenyum. Sejurus kemudian wanita itu mengingat sesuatu.
"Alice.... Apakah Alice mengetahui keadaan Daddy-nya?"
"Ya, Saya sudah memebritahu nya, Dan Nona Johnson akan menemaninya datang kesini"
"Benarkah? Alice pasti sangat sedih"
"Ya, tapi tidak apa-apa, selagi Anda disini Alice pasti akan kuat untuk menunggu Tuan sadar kembali"
"Semoga saja Leon"
"Makanlah terlebih dahulu Nyonya, Saya harus kembali ke perusahaan, Mungkin Nona Alice Dan Nona Johnson akan sampai sore nanti"
"Baiklah, terima kasih Leon"
"Sama-sama, saya permisi. Jangan lupa makan"
"Hmn, terima kasih"
Leon kemudian pergi meninggalkan Lily. sementara Lily membuka satu persatu bungkusan yang diberikan oleh Leon.
wanita itu tersenyum karena Leon masih mengingat kebiasaan sarapannya dengan David,
Roti panggang dengan keju dan telor, kemudian satu cup hot milk tea, lengkap dengan dessert nya, egg tart yang terkenal di Hongkong dan Macau.
"Lihatlah, Asistenmu membawakan sarapan favorit kita, Kamu tidak mau mencobanya Dave? ini sangat enak"
Lily kembali ingin menangis hingga bibirnya kembali bergetar, Lily sungguh tidak kuat melihat keadaan David yang seperti itu.
Pria yang akhir-akhir ini sangat cerewet dan banyak bicara itu, kini hanya terbaring lemah dengan banyak alat di tubuhnya. Bibirnya yang biasanya merah alami dan sexy kini mengering dan pucat.
Lily memakan sarapannya dengan tidak bernafsu, tapi Dia sadar apa yang dikatakan oleh Leon benar adanya. Dia juga harus tetap sehat, tetap kuat sampai tiba saatnya David kembali membuka matanya dan tersenyum kembali untuknya.
"Aku akan makan yang banyak Dave, supaya aku bisa tetap bertahan disini menunggumu membuka mata untukku dan keluargamu, Leon dan Alicia"
Meskipun lagi-lagi semua ucapan Lily berbalas sunyi. Tapi Lily tak berkecil hati. Matanya terus berharap dengan penuh permohonan dalam hati kepada Sang pemilik hidup dan mati.