
David mengetuk-ngetukkan jarinya diatas meja, wajah nya suram dan dingin hingga membuat ruangan ber-AC itu bertambah dingin.
Sampai detik ini, Asisten pribadinya belum ada kabar. orang-orang suruhannya juga belum memberikan hasil apapun.
Lily yang melihat kekhwatiran suaminya itu hanya bisa menghela nafas panjang. Lily tahu bahwa Leon adalah orang yang berarti dalam hidup suaminya. Pemuda itu bukan hanya dianggap sebagai asisten pribadi, tapi juga keluarga bagi David.
"Sial!! apa Mereka tidak ada yang bisa bekerja dengan benar"
David menggeram marah. Anak buahnya benar-benar tidak berguna. Melacak keberadaan satu orang saja tidak bisa!
Lily menghampiri suaminya dan menggenggam erat lengan kekar pria itu.
"Tenanglah Daddy, Leon pasti baik-baik saja, percayalah!"
"Bagaimana Aku bisa tenang, Honey. Anak itu tidak pernah seperti ini sebelumnya"
"Aku mengerti Dad, tapi dengan kamu marah-marah juga Leon tidak serta-merta kembali kan?"
David menghela nafas panjang, Ia memejamkan matanya kemudian memijat pelipisnya pelan. Sungguh pikirannya sangat tidak tenang.
Tok-tok
Suara ketukan pintu mencuri kedua pasangan suami-istri itu. Disusul suara David menginterupsimya, mempersilahkan untuk Masuk.
"Permisi, Tuam Dave, Pak Leon sudah datang"
Ucap Lucy pada bosnya itu.
Seketika David membuang nafas lega.
"Baiklah, suruh anak itu masuk"
"Baik Tuan, Nyonya, Saya permisi"
Lucy pun menghilang meninggalkan David dan Lily yang kini tampak lebih tenang, tidak Setegang sebelumnya.
Tak lama kemudian suara ketukan pintu kembali terdengar. Itu pasti Leon. Batin keduanya.
Dan benar saja, Asisten Pribadi David yang menghilang beberapa jam yang lalu kini sudah berdiri rapi di hadapan David dan juga Lily.
"Apa kau sudah bosan hidup, Leon?"
Geram David yang masih menyisakan kekesalannya pada pemuda dihadapannya itu.
"Maafkan saya Tuan Dave, Semalam saya pergi ke club bersama teman-teman saya dan... kami mabuk"
"Astaga....Aku hampir saja menembak semua rivalku karena mencurigai mereka hilangnya kau dan kau ternyata mabuk?"
David terperangah tak percaya, Asistennya ini kenapa sangat menyebalkan? Dan lebih menyebalkan lagi melihat ekspresi wajah yang sudah ia anggap adiknya itu nampak tenang dan biasa saja, benar-benar manusia datar.
Sementara dirinya hampir seharian uring-uringan bahkan membatalkan acara pentingnya bersama anak istri nya Karena Asistennya itu tiba-tiba menghilang.
"Sekali lagi, saya mohon maaf Tuan"
"Lalu kenapa nomormu juga tidak aktif? apa Handphone-mu juga ikut mabuk?"
Pertanyaan konyol David tentu saja membuat Lily terkekeh.
"Handphone saya kehabisan baterai Tuan. Sekali lagi saya mohon maaf"
David berdecak sebal seraya menggelengkan kepalanya pelan. Tapi sungguh Ia bersyukur karena anak itu baik-baik saja. itu yang terpenting.
"Kalau begitu, jangan sampai terulang lagi Leon"
"Baik Tuan"
"Kembalilah, banyak tugas yang terbengkalai hari ini"
"Baik, saya permisi Tuan Dave dan Nyonya "
"Hmm"
David menganggukan kepalanya dan memberi isyarat tangan tanda Leon sudah boleh keluar ruangannya.
"Sudah tenang, Dad?"
"Hmm, bukankah menurutmu anak itu sangat menyebalkan?"
"Hihihi tapi kau menyayanginya, benar kan?"
"Yah, terpaksa aku mengakuinya"
Ucap David kemudian mengecup singkat bibir istriku yang membuatnya candu.
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
Nyonya Charlotte membanting setumpuk dokumen dengan kasar di atas meja kerjanya.
Ternyata, tanpa sepengetahuan David, Wanita yang dianggap ibu kandungnya itu membeli sebuah ruko di kawasan gedung perkantoran di Central Park sebagai tempat rahasianya untuk menjalankan semua rencana-rencana jahatnya bersama Martin dan anak buahnya.
"Putri Johnson itu benar-benar sangat pandai bermain kucing-kucingan, tapi Aku pastikan itu tidak akan bertahan lama. Aku pasti akan segera menemukanmu beserta rekaman itu"
Geram Charlotte dengan seringai devilnya. Wanita itu sudah sangat muak terhadap wanita yang dulu berhasil Ia perdaya untuk menjebak David.
"Permisi, Nyonya"
"Ada apa?"
"Kami baru saja menemukan apartemen yang di tempati oleh Wanita itu Nyonya, tapi sayangnya, lagi-lagi kita kehilangan jejak, Nona Maribeth baru saja pindah beberapa hari yang lalu"
"****! Apa kalian tidak bisa bergerak lebih cepat?? kenapa sangat lamban! lagi, dan lagi, kalian selalu kalah cepat dengan rubah betina itu!"
"Maafkan kami, kami akan berusaha lebih baik lagi"
"Jangan hanya bicara. Kalian benar-benar tidak berguna. Enyahlah! jangan kembali sebelum membawa wanita itu padaku, hidup-hidup!" desisnya Tajam hingga membuat pria tinggi besar itu ketakutan, dan segera berlaku dari sana.
"Halo, Martin, apa kau akan membiarkan aku disini berjuang sendiri sedangkan kau di sana enak-enakan bermain?
Sembur Nyonya Charlotte yang ternyata sedang menghubungi selingkuhan sekaligus partner kejahatannya, Martinez Crambhell.
"O' Come On Sayang, Aku disini Juga sedang menyusun rencana yang matang untuk segera menyusulmu. Ingat, untuk mangsa yang besar seperti David, jangan menggunakan intrik yang murahan, kita harus bekerja dengan licik dan cerdas"
"Yah, terserah Kau saja, yang jelas aku sudah tidak tahan menghadapi semua ini. Ditambah dengan istri David yang mulai bertingkah menjengkelkan"
"Tenanglah, Aku akan segera menyusulmu dalam beberapa hari kedepan, bersabarlah sayang"
"Hmn, Awas saja jika kau tidak juga datang aku ya g akan menyeretmu kesini"
"Hahaha, baiklah-baiklah, Aku pasti menepati janji"
"Hmn, Aku tunggu kedatanganmu"
Charlotte mengakhiri panggilannya dengan senyum lega terkembang di bibirnya. Martin adalah manusia yang sangat cerdas sekaligus licik. Charlotte Yamin jika Martin ada Disini untuk membantunya, semuanya akan menjadi mudah.
Apalagi dalam benaknya sekarang, Charlotte sudah tidak sabar ingin memberi pelajaran pada menantunya, Lily agar tidak lagi bisa bertingkah di hadapannya.
"Lihat saja wanita kampung, kau akan kehilangan kemampuan bicaramu yang lugas itu dalam waktu dekat. Aku akan menghancurkanmu"
Ucap Nyonya Charlotte dengan sorot kebencian yang nyata dari matanya.
Lily sedikit tersentak saat tiba-tiba mendapat panggilan dari Marry, Ada apa?
Lily kemudian segera melirik suaminya yang tampak sibuk dengan laptopnya.
"Biy, aku mau ke dapur sebentar yah, Aku haus"
."Oke, Honey. Buatka Aku kopi juga ya, Aku akan lembur malam ini" Ucap David seraya mengerling nakal. Dan Lily paham 'lembur' macam apa yang suaminya maksud.
Lily pun mengangguk dan berlalu dari sana. Wanita itu kemudian melakukan panggilan ulang pada Marry.
"Halo, Ya Fan ada apa? Lily sengaja menyamarkan nama Lily, karena takut jika David atau mertuanya muncul secara tiba-tiba.
"Fan? Aku Marry Lily"
"Yah, Aku tahu, Aku sengaja melakukannya, bicaralah, David ada di rumah sekarang"
"Oke, maaf"
"Tidak apa-apa, Ada apa fan? kenapa menghubungiku malam-malam begini?"
"Emm yah, Lily aku ingin memberitahumu, Bibi Charlotte berhasil menemukan tempat persembunyianku dengan James"
"Apa??" Lily terpekik dengan suara tertahan mendengar penuturan Marry.
"Tapi tenang, kamu sudah pindah ke tempat yang baru. Aku juga lupa memberitahu, Leon ada di pihak kita. Jadi, tidak perlu mengkhawatirkannya"
"Jadi, Leon....?"
"Yah, Aku yang menculik brondong ganteng itu"
ucap Marry diiringi kekehan geli di seberang sana.
"Oh My... Aku dan David panik seharian karena mencarinya"
"Ya, maafkan aku, Kau tahu James suka bertindak seenaknya, jadi aku lupa mengajarimu"
"Tidak apa-apa, yang terpenting kalian baik-baik saja"
"Yah, baik-baik saja. Aku hanya ingin mengatakan itu. Jika ada hal penting lainnya aku akan menghubungimu lagi"
"Ya, baiklah. tetap berhati-hati"
"Kamu juga, jaga keponakanku"
"Tentu, Bye"
"Bye"
"Wah menantu, sedang bertelepon ria dengan siapa? kenapa harus sembunyi-sembunyi?"
Suara menyebalkan itu sontak membuat Lily tersentak kaget. Namun sejurus kemudian ia langsung memasang wajah tak ramah pada mertuanya itu.
Bukankah mereka sudah menyatakan perang terbuka? jadi tidak perlu berpura-pura lagi kan?
Jadilah dua wanita beda generasi itu saling menatap seolah ingin menerkam satu sama lainnya..
Bersambung