
David masih terpaku menatap wanita yang ada di samping Aston Robinson. Wanita itu berdiri dengan anggun. Sangat cantik dan menawan.
Tidak hanya David yang terperangah, Leon pun sama dengan David. Pria itu terkejut dengan keberadaan Lily. Tapi, benarkah itu Nyonya Davidson yang hilang bertahun-tahun Lalu.
Leon diam-diam melirik David yang kini tak berkedip melihat Lily. Leon sudah menceritakan segalanya kepada David, bahwa dialah yang mengganti jasad Lily dengan wanita lain, semata-mata untuk meyakinkan Charlotte dan juga Martin jika memang Lily berhasil mereka bunuh.
Awalnya David juga kecewa dan marah pada Leon, hingga untuk beberapa lama pria itu tidak mau bertemu dengan Leon. Tapi seiring berjalannya waktu Leon berhasil meyakinkan David jika tujuannya hanya untuk melindungi Lily jika memang wanita itu masih hidup.
Semenjak itu David selalu mencari keberadaan Lily, tanpa henti. Bahkan pria itu ikut turun tangan mencari istrinya bersama tim SAR dan pihak kepolisian. Tapi selama bertahun-tahun hasilnya nihil. Hingga David sedikit putus asa dan berusaha merelakan jika memang Lily pada akhirnya tak bisa selamat. Sejak itu pula David mengatakan pada Leon dan juga Alicia bahwa Dia tidak akan menikah lagi dan akan melajang seumur hidup.
Tapi kini, Lily dengan sendirinya muncul di hadapan David. Meskipun dengan penampilan yang berbeda tapi mereka benar-benar sama. Wajahnya, postur tubuhnya dan juga cara bicaranya.
Yah, saat ini wanita itu sedang memperkenalkan dirinya dan juga atasannya tanpa mengindahkan tatapan kaget dari Leon maupun tatapan penuh kerinduan dari David.
Wanita itu sangat cuek. Benar-benar seperti orang asing yang sama sekali tidak mengenal David ataupun Leon.
Apakah dia benar-benar Lily, atau orang lain? Leon sendiri masih belum bisa move on dari keterkejutannya.
#
Lily baru saja selesai memperkenalkan dirinya dan juga rombongannya, termasuk atasan sekaligus calon tunangannya, Aston Robinson.
Lily bukannya tidak melihat David. Yah, dia melihatnya, bahkan tak kalah terkejut darinya, Lily sama sekali tidak menyangka mereka akan kembali bertemu, mengingat bahwa pertemuan mereka bukanlah di Hongkong, melainkan Macau, jadi Lily berfikir tidak mungkin Dia akan bertemu dengan David. Tapi takdir memang selucu itu.
Lily berusaha bersikap biasa saja, dan seolah tidak mengenal pria yang kini ada dihadapannya. Karena Ia sudah berjanji pada dirinya sendiri bahwa dia yang sekarang berbeda dengan Lily yang dulu.
Lily yang bucin dan naif itu sudah mati. Sekarang dia adalah Lily yang terlahir kembali. Lily yang baru.
Lagipula, beberapa hari yang lalu, Lily akhirnya memutuskan untuk menerima lamaran Aston. Pria berkebangsaan Inggris yang sudah sangat berjasa dalam hidupnya. Jika bukan karena Aston, Lily mungkin sudah tidak hidup lagi seperti sekarang ini.
Laki-laki itu yang pertama kali menemukannya dan menyelamatkannya saat terlempar dari mobil yang ditumpanginya bersama Max.
Lily memejamkan matanya saat mengingat kembali pria itu, pria yang di detik terakhir hidupnya berhasil membuat Lily terlempar dari mobil untuk menyelamatkan wanita itu dari maut. Meskipun pada akhirnya Max sendiri yang akhirnya gugur dan meninggal dunia.
Kembali lagi ke pertemuan antar perusahaan milik Aston dan juga David.
Lily dengan profesional menyampaikan presentasi mengenai pembahasan pembagian loyalti yang diminta oleh pihak Aston, berikut dengan rincian dan alasannya yang menurut penilaian secara umum sangatlah logis.
Meskipun ini bukan pertama kalinya Lily melakukan presentasi, tapi karena ada sosok yang begitu lekat menatapnya seperti ingin menelannya bulat-bulat, membuat Lily sedikit gugup. Tapi itu tidak bertahan lama karena 5 tahun ini dia sudah wira-wiri bersama Aston untuk mempresentasikan perusahaan mereka.
"Sekian, terima kasih, semoga bisa di pahami" Ucap Lily tersenyum begitu manis hingga mampu menghipnotis semua yang ada di ruang itu terutama kaum adam.
"Ehem.. Tolong tuan-tuan jangan kehilangan fokus. Fokuslah pada presentasinya , jangan pada sekretaris Saya, karena Dia hanyalah milik saya"
Ucap Aston dengan suara yang terdengar sangat arogan dan juga angkuh, kemudian ruangan itupun riuh dengan suara kekehan karena banyak yang merasa tersindir. Kecuali David. Ia sama sekali tidak mendengar ocehan Aston. Dimatanya kini hanya menari-nari bayangan Lily, Lily dan Lily.
"Baiklah, Tuan Davidson, bagaimana keputusan Anda tentang penawaran perubahan loyalti yang saya ajuka"
Aston menatap tajam David yang sedari tadi tidak lepas memandang Lily.
"Ehem, Tuan?" Leon sedikit menyentuh tangan David, membuat Pria itu seketika berjengkit kaget.
"Ya?"
"Tampaknya Tuan Davidson sedang tidak enak badan, sehingga tidak fokus, hmn?"
David mendengar suara sindiran dari Aston itu. Dan egonya paling anti disindir.
"Maaf Tuan, sedari tadi saya memperhatikan. Jangan khawatir. Saya rasa tidak ada yang salah dengan pengajuan Anda, karena itu masih nominal yang wajar dan saya yakin tidak akan merugikan perusahaan Anda ataupun saya. Jadi saya fikir tidak masalah "
"Baiklah kalau begitu, terima kasih atas persetujuannya"
"Terima kasih kembali"
"Kalau begitu saya rasa pertemuan ini sudah selesai Tuan Davidson, mungkin untuk kedepannya kita akan sering bertemu. Semoga Anda tidak akan bosan"
"Tentu tidak Tuan" Sahut David yang lagi-lagi tak bisa mengalihkan pandangannya dari Lily.
Aston sungguh tidak suka dengan cara David memandang miliknya, Diapun segera undur diri.
"Baiklah Tuan Davidson, kalau begitu Saya permisi, Ayo Lira"
Ucap Aston seraya memberi isyarat Lily yang kini dipanggil Lira untuk mengikutinya keluar dari ruang pertemuan itu.
"Yes, Sir" Jawab Lily tersenyum lembut.
Lira?
"Silahkan, sampai jumpa"
Satu persatu rombongan dari perusahaan Robinson itu keluar satu persatu tak terkecuali Lily, dan seperti saat masuk ruangan, Lily pun tak sama sekali menoleh atau sekedar melirik ke arah David. Wanita itu keluar dari ruangan dengan pandangan lurus kedepan seolah disitu tidak ada siapapun. Dan sikap Lily itu sukses menusuk sanubari pria yang masih sangat mencintainya itu.
#
Lily masih di sibukkan dengan pekerjaannya sebagai sekretaris pribadi Aston Robinson. Eeiiits jangan salah menilai. Lily akhirnya menjabat sebagai sekretaris pribadi Aston setelah 2 tahun Ia berjuang dan bekerja keras di perusahaan besar itu.
Yah, Lily bukanlah tipe penjilat yang ingin mendapatkan segala sesuatu dengan mudah. Wanita itu ingin mendapatkan apa yang dia impikan dengan kerja keras dan do'a. Meskipun Aston dipastikan akan menuruti semua keinginannya tapi Lily bukanlah wanita semacam itu.
Dia akan mencintai seseorang karena hatinya, bukan jabatan ataupun uangnya. Dan sampai sekarang, Lily masih belum bisa membuka hatinya untuk Aston. Meskipun Lily memutuskan untuk menerima lamaran pria itu. Tapi itu semua ia lakukan karena merasa sangat berhutang budi pada Aston.
Pria itu yang menyelamatkan hidupnya, dan yang lebih membuatnya sangat berterima kasih adalah mempertemukan Lily dengan Ibu dan Adiknya.
Yah, beberapa bulan setelah Lily sadar dari koma nya, Aston mengajak Lily untuk pindah ke negaranya, Britania raya, Inggris.
Disana, Aston memfasilitasi Lily dengan berbagai pelatihan, bahkan Lily melanjutkan kuliahnya di universitas ternama di Inggris, meskipun tentu Lily menganggapnya sebagai hutang dan berjanji akan membayarnya.
Hingga tiba-tiba, Aston memberinya kejutan dengan mendatangkan Ibu dan Adiknya untuk bertemu dengannya. Tentu Lily sangat terharu dan bahagia. Pria itu benar-benar banyak berjasa dalam hidupnya.
Dengan apa lagi Lily bisa membalas jika tidak dengan cara menerima lamarannya?
Tidak munafik, meski bekerja seumur hidup Lily tidak akan bisa melunasi semua yang sudah diberikan oleh Aston padanya.
Lily mengehela nafas berat, mengingat kembali pertemuannya dengan David. Pria yang telah sangat menyakitinya dengan kata-kata hinaannya, pria yang tidak bisa melindunginya hingga kehilangan buah cinta mereka. Pria yang bahkan meragukan darah dagingnya sendiri.
Meskipun itu bukan sepenuhnya salah David tapi Lily tetaplah sangat kecewa karena kepercayaan David padanya hanya seujung kuku.
Lily menggelengkan kepalanya dengan cepat untuk mengusir bayangan pria itu dari pikirannya. Ia kembali berkutat dengan tumpukan dokumen yang ada dihadapannya.
Suara maskulin itu membuat Lily tersenym dan kemudian mendongak ke arah sumber suara.
"Aku adalah sekretaris bos besar tentu saja aku sangat sibuk Tuan"
Jawaban Lily sontak membuat pria di hadapannya tergelak, Dialah Aston.
"Aku serius Lira, Jangan terlalu keras pada dirimu sendiri, kesehatanmu juga penting"
"Iyaa Tuan tukang perintah! Saya akan istirahat sebentar lagi"
"Tidak! ini perintah! Ayo istirahat dan makan siang bersamaku"
Lily mengerucutkan bibirnya pura-pura sebal. Aston memang otoriter. Tapi percayalah pria di hadapan Lily ini sangat baik dan perhatian (pada Lily).
"Yaa, baiklah. Kita akan makan dimana?"
"Ada restauran Chinese mie ramen pedas baru di dekat kantor kita ini, Ayo kita cicipi"
"Benarkah? Baiklah Ayo!"
Tiba-tiba Lily sangat bersemangat, Oh dia memang tidak bisa mengacuhkan mie ramen pedas ala china, uhhh itu memang sangat lezat!"
Aston terkekeh melihat tingkah Lily yang seperti anak-anak, membuatnya gemas.
Pasangan itu baru saja sampai di restauran dan... Ternyata sangat ramai.
"Wahhh... ramai sekali El, sepertinya akan lama"
El adalah panggilan Lily pada Aston, karena nama panjang pria itu adalah Aston Elnathan Robinson.
"Tenang saja, Jika Robinson disini maka tidak ada kata antri, hehehe"
Ujar Aston mseraya menepuk-nepuk dadanya sendiri.
"Cih... sombong sekali"
"Baiklah, akan kubuktikan kesombonganku"
Aston pun menggandeng Lily masuk kedalam menuju meja resepsionis, dan benar saja merek bisa masuk begitu saja tanpa mengantri.
Sesampainya di dalam, Aston memilih meja paling ujung dekat jendela di lantai 2 room VVIP untuk keluarga. Lily pun hanya mengekorinya saja.
Saat sedang memilih-milih menu Lily sedikit terganggu karena merasa ada yang memperhatikannya. Penasaran, wanita itupun menoleh dan....Deg.
David?
Ya Allah kenapa harus ada dia lagi disini?
Lily seketika kehilangan nafsu makannya. Dan perubahan raut wajah Lily tak luput dari pandangan Aston.
"Ada apa Lira?"
"Tidak... tidak apa-apa El, mmm Kamu sudah pesan sesuatu?"
"Ya, Aku pesan mie ramen dengan daging sapi asap yang tidak pedas. Kamu tahu aku tidak bisa makan cabe"
"Hihihi, baiklah kalau begitu samakan saja, tapi aku harus pedas, sangat pedas"
"Jangan terlalu pedas, kau punya masalah lambung sejak kecelakaan itu"
"Hemmm aku ingat, tapi kali inii saja, Aku mohon"
"Baiklah, ratuku"
Lily tertawa lirih dengan sanjungan Aston.
Wanita itu diam-diam kembali melirik ke arah David dan pria itu sudah tidak ada di sana. Syukurlah!
"El, aku ingin ke kamar kecil sebentar"
"Baiklah"
Lily pun berlalu mencari kamar kecil. Setelah menemukannya Lily bergegas masuk. Wanita itu membasuh wajahnya untuk menenangkan pikirannya. Lily sendiri bingung. Dia berfikir, Dia sudah berhasil membuang perasaannya pada pria itu, tapi ternyata tatapan pria itu masih mampu membuat jantungnya berdegup kencang.
Saat baru menoleh kebelakang, wanita itu terpekik kaget
"A-Anda? S-sedang apa Anda di toilet khusus wanita?"
Lily berjalan mundur karena pria itu, yang tak lain adalah David terus melangkah mendekatinya.
"Long time no see, Honey"
Dua bulir bening mengalir dari sudut mata pria itu, matanya sangat merah seperti ada darah didalam bola matanya.
Lily sejenak terpaku menatap tatapan pria yang entah kenapa masih menjadi penguasa hatinya. Tapi Lily tidak mau lemah. Dia tidak mau lagi jatuh ke lubang yang sama. Maka, dengan cepat Lily merubah ekspresinya menjadi dingin dan asing.
"Maaf, Apa kita saling mengenal? Jangan-jangan Anda salah orang tuan?"
Lily hendak melangkah keluar namu dengan segera David mencekal pergelangan tangannya.
"Kenapa? kenapa Kamu lakukan ini padaku, kenapa kamu tak kembali menemuiku? Apa aku sungguh tak pantas mendapatkan maaf darimu?"
Lily terpancing dengan ucapan David, Dia pun menghempaskan cengkraman itu dengan kasar hingga terlepas.
"Tidak. Aku bukan Lily. Aku adalah Lira. Lily yang bodoh dan naif itu sudah mati dan pergi ke neraka"
Ucap Lily dengan garang kemudian pergi dari sana dengan amarah yang membumbung tinggi.
Brakkk!!!
Suara pintu dibanting dengan keras. David memejamkan matanya. Hatinya sangat sakit tapi ia sadar, Lily memang pantas membencinya. Dan David bertekad untuk bisa mendapatkan maaf dari wanita yang masih berstatus Istrinya itu, dengan segala cara.
Bersambung