My Hot Boss, I Love You

My Hot Boss, I Love You
Martin Tewas?



Charlotte ternganga mendengar ucapan terakhir dari pria dihadapannya itu, bagaimana bisa Dia tahu tentang Identitas Dominic?


"Omong kosong apa yang Kau bicarakan?"


Dengan suara bergetar Charlotte bertanya pada pria bertopeng itu. Tidak, tidak ada yang tahu tentang hal ini selain dirinya dan juga Martin. Oh ya, tentu saja Sarah, tapi wanita itu bukannya sudah berhasil disingkirkan oleh Martin? Atau.... Jangan-jangan???


"Katakan, Apa Marry si ****** itu yang menyuruhmu? benarkan??? katakan padanya jangan jadi pecundang. Suruh dia datang kemari kalau berani!"


Tantang Charlotte dengan suara lantang, Wajahnya kini merah padam. Jika benar orang-orang ini adalah suruhan Marry, maka dia bersumpah akan memberi perhitungan pada wanita itu.


"Sayangnya tebakan Anda salah Nyonya. Biar Aku berikan clue-nya, Dia adalah anak salah satu dari sekian banyak korban yang Anda bunuh"


"Apa? Siapa?"


"Sayang sekali sampai matipun Saya tidak akan. memberitahukannya"


"Kurang ajar!!!"


"Ssstttt, jangan memakiku Nyonya. Aku memiliki kesabaran yang minim, jangan sampai aku lepas kendali dan menebas leher Anda"


"Aku sudah mengatakan semuanya, sekarang lepaskan Aku!"


"Tentu saja, tapi Anda harus melihat keadaan kekasih Anda dulu bukan??"


"Apa... apa yang kalian lakukan padanya???"


Wanita itu kembali berteriak putus asa. Membayangkan kesadisan yang akan dialami oleh kekasihnya itu.


"Nyalakan, biarkan Nyonya ini melihatnya"


#


Bukkkk bukkk bukkk


Tubuh Martin yang bahkan sudah tidak bergerak lagi masih menjadi pelampiasan Pria muda bertopeng itu.


Gubrak!!! Tubuh Martin yang sudah bersimbah darah, bahkan wajahnya hampir keseluruhan berwarna merah dan lebam di mana-mana di banting dengan keras ke arah tumpukan kayu yang teronggok di sudut ruangan.


Hanya terdengar gumaman-gumaman Lirih dari pria yang sekarat itu.


Inilah yang dimaksud oleh Pria bertopeng itu dengan melukis kanvas barunya, yaitu membuat sekujur tubuh Martin terlukis oleh warna darahnya sendiri


"Berikan dia obat yang sudah Aku siapkan. Setelah itu buang mayatnya di tempat yang sudah Kalian ketahui.


"Baik Tuan"


Jawab mereka serentak, kemudian melaksanakan perintah Tuannya dengan sigap.


Tubuh Martin yang sudah terbungkus plastik hitam itu di seret keluar ruangan itu layaknya sampah yang tidak berguna.


Pria bertopeng itupun melepas topengnya.


"Ayah, Aku sudah melakukan tugasku, semoga Ayah tenang di Surga"


#


David berkali-kali menghubungi nomor ponsel ibunya, Charlotte. Tapi sampai berpuluh-puluh kali masih tidak ada jawaban.


"Sebenarnya dimana Mommy?"


David sedikit khawatir karena Charlotte hanya bilang akan pulang sebentar mengambil pakaian ganti, tapi nyatanya, bahkan sampai pagi ini ibunya itu belum juga datang.


Sementara Alicia kemungkinan besar sudah boleh pulang jika hasil pemeriksaannya baik-baik saja.


Tok tok


Suara ketukan pintu itu membuyarkan pikiran David.


'Mommy?' batin David menebak.


Pria itu pun kemudian menghampiri pintu dan membukanya.


"Pagi, Tuan Dave"


"Leon?"


"Saya, Tuan. Mohon maaf semalam ada hal yang tidak bisa Saya tinggalkan, jadi saya baru bisa datang pagi ini.


"Tidak apa-apa Leon. Mmm pergilah ke kantor. Aku masih harus menjaga Alice, dan... Oh ya minta tolong utus seseorang mengecek Apartemenku. Mommy tidak bisa dihubungi sejak semalam. Aku sangat khawatir"


"Baik, Tuan. Kalau begitu Saya permisi"


"Hmn, Thanks Leon"


Leon hanya tersenyum kemudian membungkuk hormat. Asisten pribadi David itu pun berlalu meninggalkan ruang rawat Alicia menuju Kantor.


"James. Kau sudah pastikan semuanya beres?"


Suara James terdengar sangat bersemangat dari seberang sana.


"Hmn, Terima kasih sudah membantuku"


"Sama-sama"


Leon pun mematikan ponselnya. Aksinya semalam bisa terbilang sangat sukses. Untung saja Dia tidak gegabah dan menuruti ide James yang cukup brilian. yaitu memakai topeng. Dengan begitu Martin ataupun Charlotte bahkan tidak akan mengetahui siapa mereka sebenarnya.


Pria itu kemudian melanjutkan perjalanannya menuju kantor David.


##


"Ya Tuhan, kapan manusia Es itu akan membawaku kembali. Aku sudah sangat jenuh disini"


Wanita yang tak lain adalah Marry itu mencebik kesal. Bagaimana tidak? hampir 3 Minggu dirinya disekap di tempat asing ini. Yaa walaupun tidak benar-benar di sekap.


Marry di amankan di sebuah villa yamg entah dimana ini , yang jelas pemandangannya sangat indah. Villa ini juga sangat mewah. semua fasilitasnua sangat canggih dan modern. intinya Villa pribadi ini sangat menakjubkan.


Marry sendiri tidak menyangka bahwa Asisten David itu ternyata kaya raya.


Tentu saja, Marry sudah mengetahui jika Leon bukan sekedar asisten biasa, melainkan seorang kepala gangster yang juga memiliki usaha diluar pekerjaan 'pura-pura' nya sebagai assisten pribadi.


Ting


suara gawainya berbunyi, membuat Marry dengan sigap meraih benda pipih itu.


"[Bersiaplah, Sore ini Aku akan menjemputmu untuk kembali bertemu dengan kekasihmu yang idiot itu]"


Cih, kenapa lelaki ini senang sekali mengatai James idiot? batin Marry mengeluh. Namun sejurus kemudian Wanita itu melompat gembira?


"Apa katanya tadi? Dia akan menjemputku kembali? hari ini?? Yeeaaaayy Akhirnyaaaa"


Marrry kembali melompat bahagia. Wanita itu kemudian teringat saat Ia diselamatkan oleh Leon dari anak buah Charlotte.


Entah bagaimana ceritanya Leon bisa mengetahui kalau dia sedang diikuti. Saat itu Marry pikir Ia berhasil tertangkap. Ternyata saat ia sadarkan diri ternyata Leon lah yang menyelematkannya.


Dan disinilah Marry sekarang. Di tempat rahasia Leon dalam menyembunyikannya. Marvelous!


#


Srakkk....


"Beres kawan.. tidak ada yang akan menemukan mayatnya di tengah hutan seperti ini"


"Yah, tentu saja. Kecuali ada orang gila yang berani masuk ke wilayah seperti ini"


"Haha, malang sekali nasibnya. Mati perlahan dengan menyakitkan"


"Kejahatannya tidak sebanding dengan yang dialaminya saat ini, Dia sudah terlalu banyak melakukan dosa"


"Hmn, sebaiknya Kita juga harus segera bertaubat"


"Memangnya Kita jahat?"


"Ya, tentu saja, Kita kan juga ikut membunuhnya"


"Heiii, ralat ucapanmu, kita mewakili dewa maut mencabut nyawanya"


"Hahaha , Ya sudah terserah Kau saja"


"Ayo segera pergi dari sini, sebelum malam. karena saat gelap kita tidak akan bisa keluar dari sini"


"Baiklah, Ayo!"


Kedua lelaki yang masih bertopeng itu dengan cepat berjalan meninggalkan bungkusan hitam panjang yang sengaja ditutup oleh tumpukan dedaunan.


Hingga hari berubah gelap tiba-tiba ada segerombolan babi hutan yang mendekati bungkusan itu, mungkin karena bau anyir yang menyengat, memanggil hewan yang tidak terlalu buas itu mendekat,


Merek secara bersamaan mengoyak bungkusan itu hingga akhirnya perlahan robek dan terbuka.


Mereka berkerumun mengelilingi seonggok manusia tanpa busana lengkap dengan darah yang mengering di seluruh tubuhnya yang sudah hampir membiru. Dia adalah Martin.


Pria itu sudah tampak tak bernyawa, mulutnya mengeluarkan busa dan sekaligus darah ya g menghitam. Seperti seekor kucing yang terkena racun tikus.


Terlihat sangat kasihan.


Tiba- tiba


Tap!!!!


Mata lelaki itu membelalak sempurna. kemudian tersenyum mengerikan.


"Haha haha hahahaha Aku tidak akan mati semudah itu"


Bersambung