
"Biy...." Marry menangis dalam hati melihat suaminya yang terlihat kacau. Wanita itu bukannya tidak tahu jika David kecewa padanya. Bisa dipastikan suaminya itu mengetahui Jika Dia telah berbohong.
Tapi bagaimana lagi, keadaannya tidak memungkinkan untuk bicara yang sebenarnya. Apalagi saat James mengatakan bahwa David sangat membenci Marry juga James.
Jadi, bagaimana bisa dia mengatakan yang sebenarnya? cari mati itu namanya.
"Biy... Maafin Aku ya"
"Hmmm.." David bergumam kemudahan menoleh ke arah Lily yang menatapnya dengan tatapan sendu.
Laki-laki itu menautkan kedua alisnya, kemudian terlihat sudah payah menegakkan punggungnya, Namun Lily yang peka dengan sigap membantu suaminya itu untuk bersandar di bahu sofa.
"Honey, maaf.. Aku... mmm sedikit.. minum, gkk" Ucap lelaki itu terbata diiringi cegukan seperti balita kurang minum air.
"Kenapa Biy? Aku minta maaf atas kesalahanku hari ini sungguh aku tidak..."
"Sssttt...Jangan teruskan. Aku mengerti. Kamu tidak mempercayaiku, makanya... kamu.... berbohong padaku. Tidak apa-apa, hm? Aku bisa mengerti"
Ucap lelaki itu seraya mengangguk-anggukkan kepalanya.
"Tidak Biy, sungguh. Aku akan mengatakan semuanya, tapi....tidak sekarang"
"Hmm, kenapa? apa Aku tidak cukup pantas untuk mengetahuinya?"
"Tidak, bukan begitu, Aku... Aku hanya tidak bisa mengatakannya sekarang Biy, tapi percayalah, ini demi kebaikanmu"
"Apa yang harus dipercaya? Aku bahkan mencium Aroma laki-laki dari pakaianmu, Honey? Jadi... katakan, apa yang harus dipercaya? Kalau kamu saja... membohongiku"
"Tidak Biy, Aku bersumpah. Ini tidak seperti yang kamu bayangkan"
"Lalu apa? Kamu merahasiakan sesuatu dan Aku menemukan aroma lain di tubuhmu, Lalu apa yang harus aku bayangkan?"
Lily menggigit bibirnya kuat-kuat, Ingin rasanya Dia melontarkan semua kejahatan Nyonya Charlotte yang telah Ia ketahui.
Tapi semua kata-kata itu seolah tersangkut di tenggorokannya, Lily tak bisa mengeluarkan sepatah katapun.
Melihat istrinya tidak mengatakan apapun, Hati pria itu semakin sakit.
Kemudian tanpa sengaja, Lily dan David saling menatap, mengunci pandangan satu sama lain. David dengan sorot kekecewaan yang dalam, sementara Lily dengan kebingungannya. Hingga sang Pria memutuskan untuk membuang pandangannya ke arah lain. Semakin lama melihat istrinya, dadanya semakim terasa sesak.
Kenapa? kenapa Dia harus menyembunyikan sesuatu dariku? batin David mengeluh dengan sedih.
David bangkit berdiri dengan sempoyongan, kemudian melangkah pergi, meninggalkan Lily yang terduduk di ruangan itu.
"Biy..."
Meskipun Lirih, David masih mendengar panggilan istrinya itu. Namun kekecewaannya terlalu besar pada Lily.
Kebohongan adalah hal yang sangat dia benci. Itu sebabnya sampai detik ini David sangat membenci Marry. Karena Marry telah berbohong dengan cara menjebaknya dulu.
#
Lily mengedarkan pandangannya ke seluruh sudut ruangan kerja David, Lelah menangis, membuat wanita yang tengah hamil itu tertidur di ruang itu.
Wanita itu pun melangkah ke arah pintu, ingin mencari keberadaan suaminya.
Namun saat berada di ruang tengah, rumah tampak sepi. Lily kemudian melihat jam dinding, Jam 06.00 am HK Time. Apa David masih tidur? batin Lily seraya mengayunkan kedua kakinya menuju kamar.
Kamarnya kosong, dan sepertinya tidak ada tanda-tanda jika David memasuki Kamar ini, melihat keadaan kamar yang masih sama saat ia tinggalkan semalam. Sepertinya David meninggalkan rumah pagi-pagi sekali.
'Suamiku benar-benar marah sama aku..." Tanpa sadar Lily menarik nafas berat. Dia harus menyelesaikan masalah ini secepatnya.
Lily kemudian mencari ponselnya. Dia berniat menghubungi James.
Tidak bisa. Lily tidak bisa menyembunyikan ini lebih lama lagi. David harus tahu yang sebenarnya. Lagipula, James memiliki bukti bukan?
Lily pun segera menghubungi James setelah berhasil menemukan ponselnya di ranjang tempat tidur.
"Halo, Tuan James. bi-bisakah kita bertemu hari ini, Aku mohon"
"......."
"Terima kasih banyak, Aku akan segera kesana"
Lily pun mengakhiri panggilannya.
Klik..
"Bagus sekali.... saatnya memasukkan mangsa ke dalam perangkap ku"
Yups. Tebakan Anda-anda semua benar pemirsah, itu adalah suara Madam Charlotte!
#
James yang baru saja mendapat telepon dari Lily, langsung bergegas ke tempat janjian mereka.
Pria itu sedikit khawatir, saat mendengar suara Lily yang bergetar.
Pria itu pun melajukan Porsche Carrera GT miliknya menuju ke arah North point, Yang cukup dekat dari tempat tinggal Lily dan David.
20 menit kemudian Pria berkebangsaan Amerika Serikat itu sudah sampai di Cruise Restaurant & Bar North point.
Melihat Lily seperti belum datang, James yang sudah melakukan reservasi sebelumnya kemudian berinisiatif memesan makanan untuk Dia dan juga Lily. Dia kemudian memesan 2 mocktail dan 2 pcs baked Japanese Cheesecake Caramels, sepertinya cocok untuk sarapan pagi.
Tak lama kemudian Lily pun tiba, Wanita itu menghampiri James dengan wajah yang sayu, sedikit pucat dan kelihatan tidak bersemangat.
Pasti ada masalah tebak James lagi-lagi hanya dalam hati.
"Hai, Nyonya Davidson"
Lily pun hanya tersenyum hambar mendengar sapaan itu. Sungguh batinnya saat ini sedang tidak bernafsu bahkan untuk bernafas sekalipun. (mati dong shayyy) 😌
"Maaf Tuan James, Aku mengajakmu bertemu sepagi ini"
"Tidak masalah, Aku mengerti. pasti ada sesuatu yang penting, hm?"
"Yah, Aku... dan David bertengkar semalam" Lily menatap lekat pria di hadapannya, setelah merasa sedikit tenang, Dia pun menceritakan semua yang terjadi antara dirinya dan David semalam.
"Aku mohon Tuan James. Aku butuh bantuanmu, bisakah kita menceritakan semuanya pada Suamiku? sebelum dia berfikir semakin buruk tentangku"
Melihat Lily yang mulai menangis, James pun merasa kasihan, Secara spontan pria itu menggenggam tangan Lily. Namun Lily yang tersadar segera menarik tangannya dari genggaman James.
"Maaf, Tuan Aku..."
"No, No, Aku yang minta maaf, Aku hanya...tidak bisa melihat seorang wanita menangis"
Lily pun mengangguk paham.
"Baiklah, Lily.. boleh aku memanggilmu dengan nama?
"Tentu" Lily mengangguk mantap.
"Baiklah Lily, meskipun Aku juga masih dalam masalah karena Marry belum juga kutemukan, tapi Aku juga tidak ingin Kau mendapat masalah juga. Berikan Aku waktu sampai lusa. Aku akan meminta bantuan asisten suamimu untuk memberitahu semuanya. Masalah hasilnya nanti, kita serahkan pada Tuhan, hm?"
"Alhamdulillah.... Terima kasih Tuan James, terima kasih"
"Jangan berterima kasih. Akulah yang harus berterima kasih padamu"
Merekapun saling melemparkan senyum, senyum yang tulus layaknya seorang sahabat.
"Baiklah, Aku harus pergi sekarang. Aku tidak ingin David salah paham lagi karena keluar tanpa izinnya"
"Kau tidak sarapan dulu, aku sudah pesan sesuatu"
"Tidak Tuan James, Aku benar-benar sedang tidak bernafsu untuk menelan sesuatu"
"Tapi, Kau sedang hamil Nyonya, setidaknya makanlah untuk bayimu"
"Mmmm, Yah, Aku akan sarapan dirumah, terima kasih sudah mengingatkanku"
Lily pun bangkit dari duduknya, namun sejurus kemudian tubuh wanita itu tiba-tiba limbung, sehingga refleks James yang ada di hadapannya menangkap tubuh Lily agar tidak terjatuh. sehingga jika dilihat sekilas mereka seperti sedang berpelukan mesra.
"Are You Okay?"
"Ya, Aku baik-baik saja, hanya sedikit lelah"
Yah, Lily kemarin hanya memakan sedikit makan malamnya, kemudian kurang tidur dan pagi ini dia belum memakan apapun, tentu saja badannya menjadi lemas.
"Aku akan mengantarmu "
"Tidak Tuan, tidak perlu, aku bersama supirku, paman Max"
"Baiklah. Aku antar kedepan, Okay? jangan menolak"
"Hmm, baiklah.. terima kasih"
James pun mengekor di belakang Lily yang berjalan keluar restauran, sambil berjaga-jaga barang kali tiba-tiba Lily ambruk, sesampainya diluar, sudah ada supir yang menunggu Lily disana.
---------------
"Halo Nyonya, Saya sudah mendapatkan harta Karun yang sangat berharga untuk mengejutkan putra Anda"
"......"
"Yah, Saya memang fotografer yang handal, hahaha. Jangan lupakan Nyonya harga semua foto-foto saya mahal"
"....."
"Baiklah-baiklah nyonya besar, Saya tahu Anda adala konglomerat dunia, hahaha! senang bekerja sama dengan Anda"
Pria tua yang nampak seperti gelandangan itupun mengakhiri panggilannya dengan senyum kemenangan.
Bersambung...