My Hot Boss, I Love You

My Hot Boss, I Love You
Restu



Hari pernikahan telah di tentukan, tepatnya 5 hari lagi sepasang mantan suami istri itu akan rujuk kembali. Membangun lagi dari awal bangunan cinta mereka yang pernah runtuh.


David sama sekali tak mengizinkan Lily untuk ikut berpartisipasi dalam pengerjaan acara sakral mereka berdua. David hanya menanyakan tentang pernikahan impian Lily seperti seperti apa. Tema pernikahannya, gaun yang diinginkannya serta undangan pernikahan.


Selebihnya David mengatakan bahwa Lily tidak perlu mengkhawatirkan apapun karena Dia sudah menyewa Wedding Organizer terbaik untuk acara indah mereka berdua.


Lily tidak tahu bahwa di balik santainya Lily ada makhluk-makhluk yang nyaris gila karena keinginan bosnya yang mendadak.


Sudah mendadak dan tiba-tiba, Maunya yang perfect pula. Leon dan kawan-kawannya (Marry, James, Alice, Elena dan Fany) hampir meledak kepalanya karena permintaan David yang terlalu banyak dengan waktu yang singkat.


Bahkan, Aston yang tadinya ikut membantu bersama dengan Rossie sampai angkat tangan karena pria itu mungkin saja bisa menghajar David sampai babak belur karena dibuat kesal dengan tingkah pria itu.


Bagaimana tidak, Laki-laki yang menurut Aston sangat lucknut itu memberitahukan hari pernikahannya seminggu sebelum hari-H.


Yang benar saja, bahkan Wedding Organizer yang anggotanya adalah dedemit sekalipun akan kalang kabut jika diberi proyek pernikahan semendadak itu.


"Aku rasa bosmu memiliki dendam pribadi padamu Leon, makanya dia ingin membuatmu mati mendadak dengan acara pernikahan ini"


Aston berucap di tengah pertemuan mereka yang sangat kilat untuk membahas kelanjutan produksi mobil yang sempat terhambat beberapa waktu.


Leon hanya terkekeh kecil kemudian menjawab,


"Sayangnya Saya sudah mengenal baik Tuan David, jadi sikapnya yang seperti ini tidak terlalu membuatku terkejut"


"Lalu bagaimana dengan persiapannya? sudah sampai tahap mana?"


"80% sudah beres, untungnya Anda juga mengizinkan Elena untuk ikut membantuku jika tidak ucapan Anda akan menjadi kenyataan, Aku pasti mati mendadak karena panik hehehehe"


"Ya, ya, Aku mengerti jangankan pernikahan, Acara ulang tahun saja seharusnya memakan waktu kurang lebih 2 Minggu untuk mempersiapkan, David memang tidak waras, sayangnya Dia memiliki keberuntungan yang tidak Aku miliki"


"Jangan bilang Anda masih mengharapkan Nyonya Lily?"


"Oh Tidak Leon, Aku sudah merelakannya, makanya Aku tidak muncul dihadapannya bahkan saat Lira pulang dari RS, itu adalah bagian dari usahaku untuk melepaskannya pada Bos mu itu. Lagipula pelan-pelan Aku sudah bisa menerima Rosie"


Aston menjelaskan dengan tenang. Ini pertanda kalinya Dia berbicara panjang lebar mengenai hal yang bersifat pribadi kepada orang lain, selain Elena dan Ibunya.


"Syukurlah, Saya lihat calon istri Anda juga wanita yang baik dan sangat mencintai Anda. Saya yakin Anda juga akan bahagia nantinya"


"Semoga saja... Bagaimana denganmu? Apa Kau sudah menemukan jodoh?"


"Uhukkk...." Leon yang sedang menyesap teh nya seketika tersedak mendengar pertanyaan Aston.


"Jangan-jangan Kau... Kaum pelangi?


'Bajingan' Leon memaksakan tersenyum dan menjawab dengan tenang, "Saya masih normal tuan, masih bisa 'berdiri' jika melihat wanita telanjang bulat dihadapan Saya"


"Baguslah Kalau begitu. Oh ya, kebetulan sepupuku juga memiliki masalah dengan jodoh, bagaimana jika kau menikahi Elena saja?Aku lihat kalian berdua cocok, Elena juga seumuran denganmu kan?"


Wajah Leon yang sudah muram bertambah suram seperti kamar jenazah. Pria itu tidak menanggapi dan tetap menyesap tehnya dengan tenang meski emosinya sudah mendidih karena ucapan Aston.


Leon belum menikah bukan karena tidak laku, jadi Aston tidak perlu menjodohkannya dengan siapapun termasuk adik sepupunya itu.


Leon hanya belum siap, lagipula umurnya baru 33 tahun, banyak teman-temannya yang bahkan sudah kepala 4 masih sendiri dan mereka santai-santai saja.


"Sepertinya pembahasan kita sudah selesai Tuan, Sebaiknya Saya permisi karena masih banyak pekerjaan yang harus saya selesaikan"


"Ya, tentu, terima kasih sudah menemaniku berbincang Leon, jangan lupa untuk memikirkan tawaranku tadi.... tentang Elena"


Leon hanya tersenyum kecut, kemudian membungkuk hormat dan berlalu dari sana. Sepertinya Dia harus ke basecamp, Dia butuh samsak tinju untuk melampiaskan emosinya.


"Haah, pantas saja dia masih melajang. Dia sangat kaku seperti papan tulis"


Aston terkekeh geli mengingat betapa lucunya wajah Leon menahan marah, tapi Dia sengaja terus menggoda pria itu. Siapa tahu Leon akan tertarik sungguhan pada Adik sepupunya yang menyebalkan itu.


Padahal Aston sendiri terhitung masih lajang. Usianya sudah 41 tahun dan baru akan menikah, itu juga karena di paksa oleh Mommy Jean. Manusia memang jarang berkaca pemirsah... Harap maklum kalau banyak manusia yang tidak sadar diri sebelum menasihati 😁


*****


"Aku punya kejutan untukmu"


David yang sedang makan malam bersama Lily berkata dengan senyum manis yang terus menghiasi wajah tampannya.


Pria yang masih duduk di kursi roda itu menatap Lily dengan wajah berseri-seri. Membuat Lily ikut bahagia melihatnya dan kemudian bertanya,


"Kejutan apa?"


"Kita lihat saja besok"


"Hemmm, menyebalkan. Kamu selalu membuatku penasaran. Kamu tidak membiarkan Aku tahu tentang persiapan pernikahan kita, sekarang Kamu bilang punya kejutan lagi untukku..."


Lily mengerucutkan bibirnya membuat David gemas ingin melahap pipi yang merona itu.


Sabar Dave...5 hari lagi kamu bisa menerkam Lily sampai puas.David membatin.


"Aku ingin mempersembahkan pernikahan yang paling indah untukmu, untuk kita, sampai suatu saat nanti kita bisa menceritakannya dengan bangga pada anak-anak kita. Aku benar-benar ingin memperbaiki segalanya".


Lily tersenyum.


"Tidak perlu berlebihan Dave, Kita bisa bersama kembali setelah semua kesulitan yang telah kita lalui adalah hadiah terindah dari Allah SWT untukku. Lagipula Restu Ibuku juga sudah kita dapatkan, apalagi yang perlu aku keluhkan Dave?"


"Aku memang sangat beruntung. Karena Tuhan mengirimkan wanita seperti dirimu untuk menjadi pendamping hidupku"


"Tidak, Aku yang sangat beruntung"


"Kalau begitu kita sama-sama beruntung, cheers"


David mengangkat gelas yang berisi orange juice, Lily pun tertawa kecil dan membalas Dave.


"Cheers"


"Aku ingin menciummu"


"Tidak bisa. Kita belum sah menikah"


"Itu masih lama sekali"


"Oh My... Tinggal 5 hari lagi Dave"


Lily menggeleng pelan, sementara David memonyongkan bibirnya seperti anak kecil.


"Percayalah, bagiku itu terasa seperti 5 abad"


"Oh My Godness.... Cobalah sekali-kali Kamu ingat umur David. Kita bukan anak remaja lagi. Jangan bertingkah memalukan seperti itu, Ya Tuhan..."


Keesokan Harinya,


Semua orang tengah sibuk. Leon dan James tengah berbagi tugas mengawasi Ballroom Hotel mewah yang sedang di design sedemikian rupa sesuai dengan perintah David . Sementara Marry dan Fany bertugas memilih segala hidangan dan juga Cake pernikahan nanti.


Berbeda lagi dengan Elena yang sibuk memilih gaun pengantin sekaligus design undangan yang sesuai dengan keinginan Lily, Wanita itu tahu betul selera Lily yang sederhana namun elegan dan menawan.


"Halo.."


Leon yang tengah sibuk memperhatikan pekerja menerima sebuah panggilan dari anak buahnya.


"......"


"Oh Beliau sudah tiba? Baiklah Aku akan menjemputnya"


Leon pun segera menutup panggilannya dan berpamitan pada James.


"Aku pergi sebentar James"


"Baiklah, memangnya Kau mau kemana?"


"Menjemput adik dan Ibu dari Nyonya Davidson"


"Waw... really?"


"Yups. Ini kejutan dari Tuan untuk Nyonya"


"Wah, Aku sungguh terkesan. Baiklah Leon, pergilah jangan khawatirkan pekerjaan di sini selama ada Aku"


"Thanks"


"Don't mind it"


Leon pun berlalu dari hadapan James. James kembali mengawasi staff dari Wedding Organizer yang sedang menata ruang pesta pernikahan David dan Lily itu.


***


David membawa Lily ke Venetian Macao untuk makan siang disana. Pria itu sudah bisa berjalan meskipun dengan bantuan tongkat.


Proses pemulihan gerak motorik David memang sedikit lama karena saat koma pria itu mengalami Deep Vein thrombosis yang parah di bagian pahanya.


Untungnya pengobatan David tergolong cepat jadi tidak sampai berakibat fatal. Alhasil Pria itu harus sedikit bersabar agar bisa berjalan normal seperti biasanya.


"Kenapa Kita harus makan siang jauh-jauh sampai kesini? Kenapa tidak di restauran dekat apartemen saja?"


Lily bukannya tidak tahu terima kasih, Wanita itu hanya tidak mau melihat David kelelahan karena masih dalam proses terapi pengobatan.


"Tidak apa-apa Honey, lagipula bukankah Aku sudah bilang bahwa Aku punya kejutan untukmu?"


"Hmn... ya sudah terserah padamu. Tapi janji, jika Kamu merasa lelah dan ada yang sakit Kamu harus jujur dan mengatakannya padaku. Kamu masih dalam proses pengobatan kalau-kalau Kamu lupa"


"Ya, ya... Aku ingat My Queen..."


Kring kring.... Tiba-tiba gawai David berdering. Senyum merekah dari bibirnya saat melihat nama yang muncul dari layar gawainya.


"Yups, Leon Kau sudah sampai mana?"


"....."


"Bagus. Aku tunggu di cafe xxx, Venetian Macao"


"...."


"Thanks Leon"


David pun mematikan panggilannya dan beralih menatap Lily dengan wajah gembiranya.


"Kenapa kamu terlihat sangat bahagia hari ini Dave?"


"Lihat saja, sebentar lagi Kamu akan lebih bahagia dariku. Dan Aku akan menagih imbalan yang setimpal nanti"


"Apa sih... Jangan membuatku penasaran, Please"


"Tunggu saja, 15 menit lagi Leon akan sampai membawa hadiahmu"


Lagi-lagi Lily dibuat penasaran. Apa sih sebenarnya kejutan dari David?


15 menit kemudian...


"Nah itu mereka...." David menunjuk ke arah pintu masuk dimana Leon dan 2 orang yang sangat familier bagi Lily sedang berjalan ke arah mereka.


"Ya Allah... Mama???"


Lily menatap tak percaya pada apa yang dilihatnya. Sementara Diva (Adik Lily) sudah berjingkrak kegirangan seraya melambai-lambaikan tangannya pada kakaknya.


Lily kemudian menoleh ke arah David dengan tatapan penuh rasa terima kasih.


"You're welcome Honey, Aku tahu Kamu ingin mengucapkan terima kasih padaku"


Lily ingin memeluk pria yang duduk dihadapannya itu tapi teringat.... Belum sah!!! Jadilah wanita berhijab itu mengurungkan niatnya.


"Mbaaak" Diva menghambur ke pelukan kakaknya diiringi Isak tangis, begitu juga dengan Ibunda Lily yang juga terharu.


"Mama.... " Lily meraih tangan ibunya dan mengecup punggung tangan wanita yang telah melahirkannya itu dengan khidmat.


"Alhamdulillah, sehat Nok?"


"Alhamdulillah sehat Ma..."


David yang terbawa suasana kemudian bangkit dari duduknya dan berjalan pelan menghampiri calon ibu mertuanya, Pria itu melakukan hal yang sama dengan Lily yaitu mencium punggung tangan calon ibu mertuanya itu dan berkata dengan menggunakan bahasa Indonesia,


"Halo, Saya Emiliano Davidson, Calon menantu mama"


Lily sedikit terkejut karena David bisa berbahasa Indonesia dengan cukup fasih, begitu juga dengan Ibunda Lily yang ikut tertawa kecil kemudian menjawab dengan nada ngapak khas Tegal-Brebes,


"Saya mamanya Lily, Calon mertua Anda hehehe"


'Hahahaha' mereka semua tertawa melihat tingkah lucu David dan Ibunda Lily.


Lily dan David saling berpandangan, perasaan syukur dan bahagia menyelimuti keduanya. Semoga kebahagiaan ini akan langgeng sampai maut memisahkan mereka. Aamiin.