My Hot Boss, I Love You

My Hot Boss, I Love You
Jebakan Martin



David mendapatkan beberapa luka jahitan di betisnya karena tergores cukup dalam oleh komponen besi yang terjatuh itu.


Lily memandangi wajah Pria yang kini terbaring di hadapannya. David masih terlelap, mungkin karena efek shock yang dirasakannya dan juga anestesi lokal yang di berikan oleh dokter saat proses operasi penanganan lukanya.


Lily hampir menyentuh wajah yang masih dirindukannya itu, sebelum suara pintu terbuka mengurungkan niatnya.


"Nyonya, bagaimana keadaan Tuan Dave?"


Leon bertanya dengan khawatir, mengingat luka yang dialami David cukup parah.


"Dia masih tertidur, mungkin lelah dan shock, juga efek anestesi membuatnya tertidur sangat nyenyak. Tapi semuanya baik-baik saja Leon, jangan khawatir".


"Syukurlah, Anda bisa kembali Nyonya, biar Saya yang akan menjaga Tuan disini"


"Tidak apa-apa Leon, David terluka karena Aku, jadi Aku juga harus menjaganya"


"Tidak apa-apa Nyonya, biar Saya saja. Saya tidak mau jika Presdir Robinson salah paham terhadap Tuan dan Nyonya, mengingat kalian akan segera bertunangan"


Mendengar ucapan Leon wajah Lily menjadi muram, wanita itu memejamkan matanya, kesedihan menyeruak di wajah cantiknya.


Sadar telah menyentuh batas sensitif terhadap urusan Bos dan juga wanitanya itu, Leon pun berkata,


"Maaf Nyonya, Saya tidak bermaksud untuk menggurui, Saya hanya..."


"Tidak apa-apa, Leon. Kau benar" sela Lily cepat. Leon memang benar, Dia saat ini adalah calon tunangan laki-laki lain. Akan menjadi berita buruk jika dirinya kini malah menjaga suaminya yang sebentar lagi akan menjadi 'mantan' suami.


"Eemmm, Leon, apa Alice sudah tahu?"


"Astaga, Saya lupa memberitahunya karena panik tadi"


"Tak apa, Kamu bisa memberitahunya nanti saat David sudah lebih baik, Anak itu sangat sensitif dan mudah sedih" Ucap Lily lembut.


"Anda benar, terima kasih sudah mengingatkan"


"Sama-sama, Kalau begitu Aku pergi dulu"


"Silahkan, biar Saya antar"


"Terima kasih"


Leon pun mengantar Lily hingga kedepan pintu ruang perawatan David.


"Hati-hati Nyonya, Apa Anda pulang seorang diri?"


"Tidak, Leon. Ada supir yang akan mengantarku"


"Syukurlah kalau begitu"


"Ya, Aku pergi ... Emmmm Leon jika kau tidak keberatan, tolong kabari Aku jika David sudah siuman"


"Tentu" Leon tersenyum lembut. Hatinya menjadi senang, Dia semakin yakin jika Nyonya Davidson itu masih sangat mencintai tuannya.


Lily pun berlalu dari sana dengan perasaan berkecamuk, ada rasa tidak rela dan juga menyesal. Menyesali keadaan hubungannya dengan David yang menjadi kacau seperti ini.


#


#


Disisi lain, Martin yang baru saja sampai di tempat kerja barunya terlihat sibuk, Pria itu juga melihat-lihat keberadaan wanita yang sedang dia cari, yaitu Lily.


Tapi sampai beberapa waktu disana wanita itu tak nampak batang hidungnya sama sekali.


Tidak mau penasaran, Martin pun bertanya dengan salah satu rekan kerjanya.


"Sorry dude, Aku ingin bertanya, wanita cantik yang kemarin mengawasi gudang ini apa tidak datang?"


"Maksudmu Manajer Lira?"


"Lira?"


Martin sedikit bingung, bukankah namanya Lily? apa dia berganti nama?


"Iya, dia Manager Lira, calon istri Tuan Aston Robinson" Sambung pemuda yang menjadi partner kerja Martin itu.


"Ahhh, ya benar, maksudku Dia, apa dia tidak datang?"


"Kenapa Kau bertanya tentangnya? Apa kau naksir? Jangan bermimpi bung, lihatlah dirimu, lagipula Presdir akan langsung memenggal kepalamu jika kau berani mengganggu wanitanya"


Ucap Pria muda yang tengah mengangkut kardus berisi barang-barang produksi satu persatu.


" Hahaha, jangan salah paham, Aku tidak bermaksud begitu. Tentu saja Aku tahu diri, tidak mungkin Aku menyukainya, lagipula Dia lebih cocok menjadi putriku. Aku hanya ingin meminta maaf karena kemarin Aku menabraknya hingga jatuh"


Ucap Martin mencoba menjelaskan alasan yang logis.


"Oh begitu rupanya, Pagi ini Beliau datang tapi baru saja ada kecelakaan terjadi, Beliau hampir saja tertimpa tumpukan Box besar berisi komponen body mobil dan aki, Untung saja Presdir Davidson segera menyelamatkannya. Mereka di bawa ke RS karena Presdir Davidson terluka parah"


"Oooh, Begitu rupanya, baiklah terima kasih"


Martin manggut-manggut seraya tersenyum lembut tapi lebih menyerupai seringai yang mengerikan.


'Baiklah Davidson, Kau terluka sekarang. Bagaimana jika di saat seperti ini Kau mendapatkan kejutan bahwa putrimu menghilang?'


Martin sudah sangat tidak sabar. Pria itu pergi begitu saja dari tempat kerjanya. Dia sudah tidak lagi peduli pada pekerjaan itu. Tujuannya kemari adalah untuk balas dendam. Dan kesempatan itu telah datang, Dia tidak akan menyia-nyiakan kesempatan ini begitu saja.


Martin mengambil gawainya dari saku bajunya, Pria itu menghubungi Charlotte.


"Halo, apa kamu sedang bersama Alice?"


"....."


"Baiklah, Aku akan kesana"


"....."


"Aku berhenti bekerja, karena Aku...punya pekerjaan lain yang lebih penting"


Martin mengakhiri panggilannya. Pria itu kemudian menghentikan Taxi untuk menemui Charlotte yang kini sedang bersama Alicia di The Venetian Macao.


#


#


"Baiklah Leon, terima kasih. Aku akan memberitahu Alice nanti, Aku akan langsung membawanya ke rumah sakit sekembalinya dari sini, agar dia tidak histeris disini"


Charlotte baru saja menerima panggilan dari Leon dan mendapatkan kabar bahwa David kecelakaan di perusahaannya.


Charlotte ingin sekali memberi tahu Alice saat itu juga,tapi melihat Alice yang sedang sangat bahagia naik perahu di sungai Venetian Macao membuatnya mengurungkan niatnya. Lebih baik jika Charlotte langsung membawanya ke Rumah Sakit sekembalinya dari tempat ini. Lagipula Martin juga sedang menyusul mereka.


"Baiklah Nyonya terima kasih"


Ucap Leon dari seberang sana.


"Sama-sama, kabari Aku jika David sudah sadar"


"Baik"


Tut. Panggilan pun berakhir. Charlotte kembali menatap Alice yang kini ada disampingnya, mereka tengah menikmati keindahan Venetian Macao dengan menaiki perahu khas tempat wisata ini.


Walaupun batin Charlotte sedikit khawatir, bagaimana cara memebritahu Alice saat di Rumah Sakit nanti. Alice adalah anak yang kritis dan cerdas, sekaligus sensitif dan mudah cemas, Jadi Charlotte harus mencari alasan yang tepat untuk bisa membawanya ke Rumah Sakit nanti.


"Granny, Apa Grandpa jadi datang kesini?"


" Yah, Dia sedang dalam perjalanannya kemari"


"Benarkah? Yeayyy! ini pasti menyenangkan. Grandpa orang yang baik, dia bersedia membantuku!"


Ucap Alice bersorak gembira.


"Membantu? membantu apa?


Upss, Alice baru saja kelepasan bicara. Dia lupa bahwa rencananya dan juga Martin adalah rahasia.


"Tidak Granny, Aku hanya salah bicara"


"Benarkah? Kamu tidak sedang membohongiku kan, sweetie?"


"Emmm, Tidak Granny" Ucap Alice seraya mengeluarkan cengiran kudanya.


"Baiklah. Awas saja jika Kamu berbohong. Jangan melakukan hal yang tidak baik, Okay?"


"Hemm, Okay Granny"


Setelah puas berkeliling mengunakan perahu, Alice dan Charlotte kini tengah menikmati portuguese egg tart yang sangat terkenal di Macau.


Saat tengah menikmati cemilan manis itu tiba-tiba seseorang menyentuh bahu Charlotte yang membuat Charlotte berjengkit kaget.


"Oh My... Martin? Kamu membuatku kaget?" seru Charlotte yang tengah terkejut.


"Sorry, Sweetie. Bagaimana apa kalian sudah puas bermain?"


"Tentu saja Grandpa, tempat ini sangat menyenangkan walaupun tidak ada tempat bermain yang menantang seperti Disneyland, tapi aku cukup menikmatinya"


Alice berceloteh dengan riang.


"Haha, baiklah kalau begitu ikutlah denganku, Aku juga memiliki kejutan untuk kalian"


"Kejutan? kejutan apa?


Sahut Charlotte penasaran.


"Kau akan mengetahuinya nanti, ikut saja"


Charlotte sejujurnya merasakan firasat yang buruk. Tapi dengan segera Ia mengenyahkan pikiran itu. Martin tidak mungkin mencelakai mereka berdua bukan? bagaimanapun Alice adalah cucunya sendiri.


"Baiklah, Ayo"


"Ayo, Alice". Martin meraih jemari Alice seraya mengerlingkan matanya. Alice yang paham maksud Martin pun dengan bersemangat menganggukkan kepalanya.


"Ayo Grandpa!!"


Merekapun pergi dari tempat itu menuju tempat yang hanya diketahui oleh... Martin.