My Hot Boss, I Love You

My Hot Boss, I Love You
Aku Selalu Ada Untuk Mendukungmu



Martin menjatuhkan pistolnya dengan tangan gemetar. Pria itu menatap nanar wanita yang kini terkulai dengan mata terpejam di hadapannya.


"Leon siapkan Mobil!!"


"Baik Tuan"


Leon yang masih shock berlari secepat kilat untuk mempersiapkan mobil, sementara David dengan susah payah mengangkat tubuh Charlotte dan segera berlalu menuju mobil. Semua orang sibuk dan panik, termasuk Lily.


Wanita itu memeluk erat Alicia yang masih histeris kemudian menyusul David meskipun otaknya sepertinya tertinggal di TKP hingga Ia tak mampu berfikir.


Semua orang melupakan Martin dan fokus pada Charlotte yang sedang kritis. Namun tidak dengan Aston. Pria itu mengkode beberapa anak buah David untuk menyeret lelaki yang kini tertunduk lesu itu.


Aston kemudian segera menyusul Lily dan David. Menuju rumah sakit.


Perjalanan ke Rumah sakit cukup lama karena posisi mereka saat ini adalah di tengah hutan.


David terus menggenggam jemari ibu sambungnya dengan erat, Tak terasa kedua matanya kini sudah basah. Pria itu tenggelam dalam rasa bersalahnya karena mencurigai Charlotte hingga melupakan luka di kakinya yang kembali basah.


"Bertahanlah Mom"


David berucap dengan suara serak dan bergetar.


"David.. Semua akan baik-baik saja, Insya Allah. Nyonya Charlotte orang yang kuat"


Lily menyentuh pundak Pria yang masih berstatus suaminya itu dengan Alice yang masih gemetar di saat ini di pelukannya.


David tak menjawab, tatapannya kosong melihat ke wajah Charlotte yang sudah pias. Lily bisa memahami, bagaimanapun wanita itu adalah ibunya meski bukan ibu kandung. Sejahat apapun dia dahulu David pasti menyimpan kasih sayang yang besar untuknya.


#


#


Nyonya Charlotte sudah masuk ruang operasi sejak 30 menit yang lalu. Semua orang menunggu dengan cemas. David, Leon, Lily dan Aston menunggu di depan ruang operasi dengan berbagai ekspresi.


Ekspresi khawatir dan cemas jelas terlihat dari wajah David, begitu juga dengan Lily, dan Leon. Berbeda halnya dengan Aston, Pria itu lebih cenderung berekspresi datar. Mungkin karena tidak memiliki hubungan apapun dengan Charlotte juga tidak mengenalnya.


Sementara Alice, gadis berusia 11 tahun itu sengaja di berikan obat penenang dan tengah tertidur. Alice terlihat sangat shock dan depresi melihat Granny-nya tertembak di depan matanya.


"Tuan, sebaiknya tuan juga diobati, kalau tidak luka di kaki tuan akan Infeksi"


"Hmn, nantu setelah Mommy keluar dari ruang operasi"


"Tapi Tuan..."


Ucapan Leon menggantung di udara melihat tatapan tajam David yang menusuk ke arahnya. Leon tahu, percuma saja membujuk David saat ini. Pria itu sedang dalam keadaan sangat frustasi.


Melihat reaksi David terhadap Leon, Lily pun mengurungkan niatnya membujuk David juga. Meskipun mereka pernah menjadi sepasang suami istri yang sangat saling mencintai, tapi Lily tahu, Diapun tidak akan berhasil membujuk jika David sudah membuat keputusannya sendiri.


Tiba-tiba, Lily teringat dengan Aston. Ya Allah, karena ikut merasakan tegang Lily sampai melupakan Aston yang kini berdiri di sudut ruang tunggu seraya bersandar di dinding.


Lily pun menghampiri Aston yang kini tersenyum kearahnya. David sedikit melirik kearah dua pasang 'calon pengantin' itu dengan kesal. Namun rasa khawatirnya terhadap Charlotte jauh lebih dominan saat ini.


"El, pulanglah. Kamu pasti sangat lelah"


"Kamu sendiri?"


Aston balik bertanya membuat Lily mengehela nafas panjang.


"Aku masih harus disini. Alice belum siuman, sementara David dan Leon masih harus menunggu Nyonya Charlotte selesai operasi. Gadis kecil. itu akan sangat membutuhkanku El"


Aston menganggukkan kepalanya dan menyahuti,


"Hmn, Kamu benar Lira. Kalau begitu Aku akan menemanimu"


Lily menyampaikan alasan yang sangat masuk akal, bagaimanapun Aston adalah seorang Presdir, tanggung jawabnya terhadap perusahaan tetap yang utama, apalagi David sepertinya memang tidak mungkin untuk kembali fokus terhadap proses produksi dalam keadaan seperti ini.


Mendengar ucapan Lily, Astonpun mengangguk setuju. Bagaimanapun apa yang dikatakan pujaan hatinya itu benar adanya, Dia pun berucap dengan senyum lembut,


"Baiklah, Kamu selalu benar, walaupun Aku merasa terusir tapi apa yang kamu katakan memang tidak bisa aku bantah"


"Aku tidak bermaksud mengusirmu El..."


"Aku tahu, yang terpenting kau jaga kesehatanmu, istirahatlah jika merasa lelah. Aku selalu ada untuk mendukungmu, ingatlah itu"


Mendengar ucapan Aston, hati Lily menghangat, tapi kemudian Ia pun merasa sedih, karena sebenarnya sampai detik ini Lily tidak bisa membalas perasaan tulus Pria itu. Dan Lily merasa bersalah karenanya, seharusnya Ia tidak memberikan harapan palsu.


Diam-diam Lily melirik ke arah David yang kini tertunduk dalam duduknya, Pria itu memejamkan matanya dengan tangan yang menekan pangkal hidungnya, membuat Lily yang melihatnya ikut merasakan sakit.


"Kalau begitu Aku pergi dulu Lira"


"Y-ya, hati-hati di perjalanan. Jangan lupa kabari Aku jika sudah sampai Apartmentmu"


Aston kembali tersenyum hangat, tidak apa belum mendapatkan cintanya, sedikit perhatian semacam itupun sudah membuat perasaannya terharu. Pria itu pun menggenggam tangan Lily dengan lembut dan berkata,


"Tentu, Kamu juga. Kabari aku segera jika terjadi sesuatu. Aku akan menyusulmu kesini jika pekerjaan telah selesai"


"Hmn, baiklah"


Aston menyentuh lembut pipi Lily kemudian berlalu dari sana.


Tak lama kemudian pintu ruang operasi terbuka, membuat ketiga orang yang sudah menunggu dengan berbagai perasaan yang berkecamuk itu segera menghampiri dokter yang keluar dari ruangan itu.


"Dokter bagaimana keadaan Ibu saya?"


David dengan tak sabar bertanya pada dokter dengan name tag Lee Qiao Wei itu.


"Kamu sudah berhasil mengeluarkan pelurunya, hanya saja kondisi pasien saat ini sedang kritis, Kami tetap akan berusaha sebaik mungkin melakukan pengobatan, tapi kami juga tidak ingin memberikan harapan yang besar terhadap Anda karena kemungkinan beliau bisa selamat sangatlah kecil. Lukanya terlalu dalam hingga menembus usus besar"


Jelas Dokter Lee panjang lebar, kemudian Beliau menambahkan,


"Kami akan memindahkan pasien ke bangsal perawatan khusus, Untuk 24 jam ke depan belum boleh dikunjungi"


Dokter Lee pun mengangguk singkat kemudian berlalu meninggalkan David yang tertunduk sedih.


Disaat yang bersamaan Charlotte didorong dari ruang operasi, wajahnya putih seperti kertas, berbagai alat penunjang tertancap di tubuhnya. terlihat sangat memprihatikan.


"Mom..."


David tak kuasa menahan air matanya. Pria itu, sesungguhnya tidak pernah benar-benar membenci Charlotte. Bagiamanapun, wanita ituntelah merawatnya semasa kecil dengan kaish sayang yang layak terlepas itu tulus atau tidak, yang jelas semua memori itu tertanam kuat di benak David.


"David..."


Suara lembut itu membuyarkan lamunan David. Melihat ke arah wanita yang juga pernah mengisi hari-harinya dengan indah, sekaligus sangat menderita karenanya, David tidak tahan menghambur untuk memeluk Lily.


Pria itu seolah menumpahkan segala kepedihan dan keputusasaannya dalam dekapan tubuh mungil Lily.


Katakanlah jika Dia tidak tahu malu, tapi sekali lagi, Cinta memang seblo'on itu kawan.


"David.. Ayo, sekarang obati lukamu, biar Aku dan Leon yang menjaga Nyonya dan juga Alice"


Ucap Lily setelah melerai pelukan pria yang masih memiliki tempat spesial di hatinya itu.


David mengangguk, kemudian Leon dengan sigap memapah David yang berjalan pincang menuju ke ruang perawatan.


Lily tidak menyusul mereka berdua. Wanita itu kembali ke bangsal Alice yang kebetulan tidak jauh dari tempatnya berdiri saat ini.