
Keesokan paginya, Lily disibukkan dengan kedua bayi kesayangannya, bayi kecil Alicia dan bayi Besar David.
Setelah menyiapkan segala kebutuhan mereka berdua, Lily kemudian menyiapkan sarapan di meja makan.
Secara kebetulan, Nyonya Charlotte ada di sana, Tapi, Lily bukanlah orang yang mudah terpengaruh oleh suasana. Ia tetap bersikap biasa saja seolah tidak terjadi apa-apa kemarin.
Sementara reaksi berbeda ditunjukkan oleh Nyonya Charlotte. Ibu mertua Lily itu sepertinya tidak bisa menutupi ketidaksukaannya pada menantunya.
Ia bahkan tidak mau sekedar berbasa-basi mengucapkan selamat pagi seperti yang biasanya Ia lakukan.
Saat melihat Lily beranjak ke dapur, Nyonya Charlotte segera menyusulnya.
"Apa yang sebenarnya kau rencanakan menantu?" Suara lembut setengah berbisik itu sama sekali tidak mengejutkan Lily. wanita hamil.itu tetap sibuk meracik kopi untuk suaminya.
"Rencana apa? Aku tidak mengerti Mom" Jawab Lily pura-pura tidak paham.
"Sudahlah Lily, Aku tahu kemarin kau bertemu dengan siapa, jadi aku pikir kau..."
"Memangnya dengan siapa Aku bertemu Mom? apa masalahnya denganmu?"
"Kau! Hem... dengarkan aku baik-baik menantu, Jangan pernah ikut campur, karena itu bukan urusanmu. Jadi jaga saja dirimu baik-baik"
"Maaf Nyonya Crambhell, Aku adalah Nyonya Davidson kalau anda lupa. Apapun yang menyangkut suamiku adalah urusanku. Jadi, jangan pernah berfikir bahwa aku akan diam saja jika kamu menyakitinya" Desis Lily lembut tapi dengan tatapan yang sangat tajam.
"Waw, aku sangat terkejut hehehe. aku sudah memperingatkanmu wanita kampung. jangan main-main atau kau akan menyesalinya"
"Ouuh aku sangat takut... tapi bohong hihihi, Maafkan Aku nyonya tapi aku hanya akan menyesal kalau aku tidak bisa berbuat apa-apa untuk suamiku. jadi mari kita lakukan perang secara terbuka"
"Kau menantangku?"
"Jika itu menurutmu, Aku akan menerimanya"
"Berani sekali"
"Tentu saja, Aku adalah Lily Rahmawati binti Suroso, bukan menantu Anda Sarah yang lembut dan lemah"
Mata Charlotte sekali lagi membola mendengar nama mendiang menantunya disebut. Bagaimana Wanita ini bisa mengetahui tentang Sarah?
"Anda kaget Nyonya? tenanglah, jangan tegang, Aku khawatir anda terkena serangan jantung mendadak dan tiba-tiba... mati"
"Kau!"
"Sssst... jangan berteriak, nanti David mendengar, akting Anda selama berpuluh-puluh tahun akan sia-sia, Lagipula jangan terlalu terkejut sekarang, karena Aku masih punya banyak kejutan lainnya, mertuaku sayang"
Pungkas Lily dengan senyum bangga yang tampak sangat menjengkelkan di mata Charlotte. Wanita tuanitu tidak habis Fikir bagaimana mungkin menantunya bisa mengetahui tentang Sarah.
Pasti dari putri Johnson itu, kurang ajar!
'Aku harus menghubungi Martin' batin Charlotte bermonolog.
"Granny! apa yang Granny lakukan di sana, ayo kita sarapan!" seru Alice yang tiba-tiba muncul di belakang tubuh Charlotte yang tengah menegang.
"Oouh.. O-oke Sweetie, ayo kita sarapan"
Alice pun menggandeng tangan neneknya dengan riang, menuju meja makan.
Tatapan Nyonya Charlotte kembali berserobok dengan tatapan Lily, namun melihat Lily yang begitu pandai berakting membuat Charlotte memutuskan pandangan mereka berdua.
"Honey, Aku ingin mengajakmu ke Perusahaan hari ini"
Ucap David kemudian menyesap kopinya.
"Aku?" Tanya Lily terkejut. Dia ikut ke kantor suaminya?
"Yups. Aku ingin memperkenalkan kamu pada staff-staffku disana" Jawab David mantap.
"Apa itu perlu Biy?"
"Iya Dave, Mommy rasa itu bukan keputusan yang tepat"
"Kenapa? Lily adalah istriku. jika aku ingin memperkenalkan dirinya pada semua karyawan, apa salahnya?"
"Yah, Kau benar, tapi sekarang bukan saat yang tepat, Dave"
"Kenapa?"
"Perusahaan kamu sedang berada di puncak klasemen, tentu pesaing-pesaing pun akan berusaha sekuat tenaga untuk menjatuhkan kamu, dan tidak menutup kemungkinan menyerang keluargamu juga, jadi Mommy fikir nanti saja saat perusahaan kamu sudah memiliki pijakan yang lebih kuat"
"Mom, sampai kapanpun persaingan itu akan terus berjalan. Tidak hanya saat ini, jadi sama saja nantinya kan"
"Iya tapi..."
"Suamiku benar Mom, saat ini atau kapanpun akan sama saja..apalagi jika penjahatnya masih berkeliaran, jadi Aku diperkenalkan sekarang atau nanti akan sama saja"
"Penjahat?"
Tanya Charlotte seraya tersenyum remeh.
Jawab Lily menatap mertuanya dengan tatapan penuh arti.
"Yah, kau benar sekali menantu, kalau begitu ikutlah"
Charlotte akhirnya mengalah. Menantunya ini benar-benar!
"Jadi, hari ini kita akan berkeliling di Kantorku, Honey. dan Kita akan menjemput Alice setelah jam makan siang. Ucap David kemudian mengalihkan perhatiannya pada Alice putrinya.
"O-ke Dad" seru Alice bersemangat, sepertinya Daddy dan Mommy akan mengajaknya jalan-jalan.
David dan Lily pun berangkat bersama-sama ke kantor David setelah sebelumnya mengantar Alice sekolah.
Sesampainya Di Kantor, David langsung membawa istrinya masuk ke ruang pribadinya.
Sepanjang perjalanan, Lily sangat takjub melihat interior perusahaan suaminya itu, Meskipun dari luar tampak biasa-biasa saja. ternyata di dalamnya ter- design dengan indah dan mewah.
Hingga tiba di ruangan ya g seluruhnya terbuat dari sekat kaca, Ruangan luas yang lebih mirip suite room mewah hotel itu langsung menyuguhkan pemandangan kota Hongkong yang indah.
"Waw" gumam Lily yang kehabisan kata-kata untuk mengungkapkan kekagumannya.
"Welcome to My world, Honey" Ucap David kemudian menghampiri istrinya yang masih terbengong-bengong.
"Jadi kamu kerja di sini, Biy?" Tanya Lily
"Tepatnya, Aku bosnya, Honey"
"Hehe, Iyah.. Pak Bos!" Seru Lily yang kemudian mengundang gelak tawa suaminya.
"Honey?"
"Hmm?"
"Kau mau berjanji sesuatu?"
"Apa?"
"Apapun yang terjadi, tetaplah bersamaku"
"heummm tentu saja Biy, Aku janji"
"Walaupun Aku jatuh miskin?"
"Tentu saja Biy, jangan khawatir kamu bisa ikut aku Ke Indonesia, kita akan jadi petani bawang disana"
"Petani? kelihatannya tidak buruk"
"Iyalah, petani itu pekerjaan yang mulia Biy, menanam bahan pokok yang dibutuhkan oleh banyak orang"
"Kamu benar, Honey. sepertinya itu akan jadi agenda utamaku jika aku benar-benar jatuh miskin hahaha"
Merekapun tertawa bersama, kemudian David melirik Arlojinya.
Pukul 09.30 am HK Time, Pria itu kemudian berpamitan pada istrinya untuk melakukan rapat penting dengan klien dari Singapura.
"Honey, tunggulah di sini, aku ada meeting selama kurang lebih 2 jam, kalau butuh sesuatu panggil saja Lucy, sekretarisku. kamu tinggal tekan Tombol interkom itu" Pesan David pada istrinya seraya menunjuk ke arah tombol yang dimaksud.
"Oke, My Hot Boss"
"Hahaha, Love You"
"Love You too, pergilah"
"Hmm, Aku akan segera kembali. jangan merindukanku"
"Hhmm tidak akan. sana pergilah!"
Pria itu kemudian mendaratkan ciuman mendadak di bibir istrinya yang menggemaskan itu.
David keluar ruangan dengan diselingi dengan kekehan mendengar ocehan istrinya yang dibuatnya kesal itu. kemudian langsung mengubah wajahnya menjadi kembali dingin saat berpapasan dengan karyawan-karyawannya. David mencari keberadaan Leon assisten pribadinya itu.
Karena tak kunjung menemukannya, David kemudian memanggil Leon melalui ponsel pintarnya.
Beberapa kali panggilan, tapi tidak ada jawaban.
Tidak biasanya seperti ini. apalagi ini sudah masuk jam kerja.
Biasanya Leon akan datang jauh lebih awal darinya. apalagi dia tahu bahwa harinini ada pertemuan penting
Ada apa dengan Leon?
Kemana dia?
bersambung