My Hot Boss, I Love You

My Hot Boss, I Love You
Aku Akan Menjadi Penjagamu Biy!



"Terima kasih Nona Marry, Aku akan berusaha sebaik mungkin menjaga David dan Alicia" Ucap Lily tulus di ujung pertemuan mereka.


"Tentu, Kabari aku jika ada sesuatu. Semoga Aku dan James bisa membantumu"


"Hmmm, baiklah Aku harus pulang"


"Ya, hati-hati di perjalanan, jangan lupa hubungi Aku"


Lily pun menganggukinya, kemudian mereka berpisah.


Sepanjang perjalanan pulangnya, Lily terus termenung memikirkan semua yang di ceritakan oleh Marry. Memori itu terus berputar di otaknya seperti kaset rusak.


Fany yang melihat sahabatnya terus murung hanya bisa mengelus lembut punggung sahabatnya itu sebagai bentuk supportnya, karena Fany sendiri tidak tahu apa yang bisa ia lakukan untuk Lily.


"Mmm... Li, terus sekarang rencana kamu apa? Apa mau ngasih tahu suami kamu tentang ... semuanya?"


"Hhmmm ngga mungkin Fan, meskipun ada Nona marry yang punya bukti tapi aku ngga mungkin menceritakannya begitu saja, David pasti ngga akan percaya"


"Iya sih, jadi..."


"Sementara ini, Aku akan ngawasin keadaan aja dulu sambil mencari cara buat ngasih tahu David" Sela Lily sebelum Fany menyelesaikan kalimatnya.


"Iya, lagian aku yakin mertua kamu udah curiga sama kamu, buktinya tadi ngirim orang buat ngikutin Kamu"


"He'embh, kamu benar Fan"


Mereka pun berpisah di stasiun daerah Lily tinggal, sementara Fany melanjutkan perjalanannya pulang ke rumah majikannya.


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


Lily memasuki Apartemen suaminya dengan linglung, sesekali menghela nafas berat. Bagaimanapun Ia antara siap dan tidak siap menerima kenyataan dan kebenaran tentang Ibu mertuanya.


Tiba-tiba...


"Honey!" Suara bariton itu mengejutkan Lily, David? tumben sekali jam segini sudah di rumah.


"Biy? Kamu.... Udah pulang?" Tanya Lily dengan wajah bingung.


Tanpa menjawab pertanyaan istrinya, David segera meraih Lily kedalam pelukannya dengan erat.


"Kamu dari mana hm? Aku hubungi dari tadi, kenapa tidak aktif?" Ucap David setelah melerai pelukannya.


Jelas pria di hadapan Lily itu tampak sangat khawatir, tapi kenapa?


"Handphone ku Lowbat Biy, trus aku lupa bawa power bank, Fany juga ngga bawa , jadinya ngga bisa nge charge"


"Tapi kamu tidak apa-apa kan? Baik-baik saja kan?"Tanya nya beruntun.


"Iya Biy, aku ngga apa-apa kok, memangnya kenapa sih?"


"Fiuuh... syukurlah, Mommy bilang kamu dibawa orang tidak dikenal" Ujar David yang sudah mulai tenang


"Mommy? Dari mana Mommy tahu?"


"Jadi itu benar?"


Kali ini pertanyaan itu bukan dari David, melainkan Nyonya Charlotte. Lily pun mengalihkan atensinya pada ibu mertuanya itu.


'Secara tidak langsung anda mengakui bahwa anda mengirim orang untuk mengikutiku' batin Lily, kemudian tersenyum sinis.


"Maksud Mommy apa? Siapa yang dibawa orang asing?" tanya Lily dengan tatapan penuh intimidasi. kalau nyonya Charlotte berfikir Lily adalah gadis lemah yang cengeng, maka Beliau salah besar. Nyonya Charlotte belum mengenal kebarbaran ras terkuat di bumi. Emak-emak original Indonesia.


"Ehem, maafkan Mommy sweetie, tanpa seizinmu Mommy mengirim orang untuk mengawasimu. Kamu adalah istri David, ada banyak bahaya diluar sana yang mengincarmu.


Nyonya Charlotte menekankan kalimat terakhirnya 'mengincarmu' kemudian tersenyum lembut seolah sangat menyayangi menantunya itu.


"Mommy benar Honey, Aku harus berterima kasih pada mommy karena telah menjagamu"


"Ya Biy, kau benar. Tapi, penjaga yang dikirim Mommy terlalu menakutkan, mereka bahkan mengejar-ngejar Aku dan Fany sampai aku merasakan kontraksi " Adu Lily sedikit merengek lengkap dengan wajah memelas.


"Apa?" Ucap David dan Charlotte secara bersamaan, namun dengan pikiran yang berbeda.


David khawatir akan istrinya sementara Charlotte terkejut dengan kelakuan menantunya.


"Iya Biy, kalau kamu tidak percaya, kamu boleh bertanya pada Fany, untung saja pacar Fany datang tepat waktu, jadi aku bisa segera di periksa dokter, ini resepnya"


Lily kemudian mengambil resep yang diberikan oleh dokter pribadi James. Untung saja kedua manusia bule itu benar-benar memiliki otak yang encer, sampai bisa memprediksi kemungkinan yang akan terjadi. Wah benar-benar hebat. Lily harus banyak belajar dari mereka berdua.


Sementara mata Nyonya Charlotte membola sempurna, bahkan bola matanya mungkin akan segera bersalto keluar dari kelopaknya. Wanita yang tak lagi muda itu tak menyangka ternyata menantunya yang terlihat naif dan lugu itu tidak sebodoh yang dia kira.


"Keterlaluan! Mommy akan menghukum kedua orang itu sweetie, Mommy berjanji. Berani-beraninya mereka hampir mencelakai cucu Mommy" Charlotte memasang wajah penuh penyesalan dan kesedihan.


'huekkk' batin Lily rasanya ingin muntah.


"Siapa orang yang Mommy suruh?"


"Mereka tinggi besar Biy, larinya sangat cepat bahkan aku hampir beberapa kali terjatuh, tapi mereka tetap mengejar ku"


Ucap Lily yang sengaja mendramatisir ceritanya.


"Lari? Kenapa kamu harus lari sweetie? Apa ada yang kamu sembunyikan?"


Charlotte mengajukan pertanyaan yang sengaja menjebak menantunya itu.


"Tentu saja kami berlari Mommy, mereka bahkan mengikuti kami sampai ke toilet, dan tampilan mereka sangat menyeramkan seperti preman, bagaima mungkin aku dan Fany tidak ketakutan Mommy?


Lily berucap dengan mata berkaca-kaca, Ah sungguh sangat berbakat dalam acting!


"Kamu.."


"Mom, beritahu aku siapa bodyguard yang ditugaskan Mommy untuk menjaga Lily, biar Dave yang akan memberi mereka pelajaran"


David benar-benar kesal setelah mendengar cerita dari istrinya.


"Tidak! Dave, biar Mommy yang memberi mereka hukuman, percayalah! Mereka akan dihukum dengan berat atas apa yang mereka lakukan pada Lily" Ucap Charlotte dengan tatapan penuh amarah menatap Lily.


"Baiklah, Aku percaya padamu Mom, dan jangan biarkan orang itu tetap bekerja pada kita!"


Ujar David kemudian mengalihkan pandangannya pada istrinya.


"Ayo Honey, istirahatlah, kamu pasti lelah"


"Iya Biy, terima kasih" Ucap Lily kemudian tersenyum puas menghadap mertuanya.


Yang dibalas dengan tatapan nyalang mertuanya itu


.


Hingga tengah malam, Lily tidak bisa tidur, wanita itu terus bergerak dengan gelisah.


Meskipun Lily tampak sangat percaya diri dihadapan mertuanya, tapi percayalah dia adalah wanita, perasaannya tetap sensitif apalagi saat ini dalam keadaan mengandung.


Tentu saja kegelisahan Lily tidak luput dari perhatian suaminya, David yang sebenarnya sudah sempat terlelap, terbangun karena gerakan-gerakan istrinya.


"Ada apa Honey? kenapa belum tidur?


"Hmm... maaf Biy, membuatmu terbangun. aku tidak bisa tidur Biy"


"Kemarilah"


David kemudian menarik lembut istrinya ke dalam dada bidangnya dan menepuk-nepuk pelan kepala istrinya, seperti sedang menina bobokan anaknya.


"Sekarang Ceritakan, ada masalah apa?"


"Mmm Biy, apa aku boleh bertanya sesuatu?"


"Tentu saja, Kau bebas bertanya apapun"


"Biy, kita kan sudah menikah, jadi apapun tentang kita berdua harusnya masing-masing dari kita mengetahuinya kan?"


"Yah, Lalu?"


Lily kemudian menegakkan punggungnya. mensejajarkan tatapannya dengan sang suami.


"Kamu sudah tahu semua tentangku, keluargaku bahkan teman-temanku juga, tapi... aku bahkan hanya mengenal Alice dan Mommy Charlotte sebagai keluarga mu ehm dan juga Leon. Apa... Kamu tidak punya anggota keluarga lain, Biy?"


Mendengar pertanyaan dari istrinya, riak wajah David yang tadinya lembut berubah suram, lebih tepatnya kesedihan yang terpampang jelas.


"Tapi kalau kamu keberatan aku..."


"Hanya mereka keluargaku, Honey. Ayahku sudah meninggal Beberapa tahun yang lalu"


Jawab David cepat kemudian meraih tangan istrinya, mengecupnya dengan sayang. Menatap netra cokelat kesayangannya seraya mencari tahu, kenapa tiba-tiba istrinya menanyakan perihal keluarganya?


"Ooh" Jawab Lily manggut-manggut, sebenarnya sedikit kecewa karena David masih tidak mau terbuka kepada dirinya.


Tapi Lily kembali meyakinkan diri. suatu saat David pasti akan menceritakan segalanya, hanya butuh waktu saja. Lily pun kembali tersenyum pada suaminya itu.


"Pokoknya apapun yang terjadi, Aku akan menjadi penjaga Daddy dan juga Alice, Janji" ucap Lily yang kemudian mengacungkan jari kelingkingnya kepada suaminya. mengundang kekehan hangat suaminya itu.


"Hehehe, bukan kamu Honey, Aku yang akan menjadi penjaga Mommy peanuts dan juga Alice, menjaga keluarga kecil kita"


"Hhm, kita akan saling menjaga, promise!"


"Promise!"


Merekapun saling berpelukan, menyalurkan kasih sayang.


Malam ini tidak ada nafsu, hanya ada cinta yang mengantarkan dua insan dimabuk asmara itu menjemput mimpi yang indah bersama-sama.