My Hot Boss, I Love You

My Hot Boss, I Love You
Pria Yang Mencurigakan



Hari ini Lily ditugaskan oleh Aston untuk melakukan pengawasan di bagian gudang penyedian barang yang merupakan komponen yang diperlukan untuk produksi mobil rancangan perusahaan mereka.


Komponen-komponen itu di import langsung dari luar negeri seperti Amerika Serikat dan juga Germany.


Sementara Aston sendiri sedang dalam perjalanan bisnis ke Dubai dan beberapa negara yang masuk dalam Uni Emirat Arab. Jadilah Pria itu tidak bisa mendampingi Lily melakukan pengawasan.


Jangan tanyakan Elena, wanita itu hanya mau terjun ke lapangan jika ada targetnya disana, yaitu pria-pria tampan. hehehe


Beberapa staf bagian gudang mendampingi Lily yang tengah mencatat dengan detail setiap bagian dari komponen yang baru datang itu.


Disisi lain...


"Baiklah, Siapa nama Anda tadi?"


"Martin Guardiola"


"Baiklah Martin, hari ini Anda mulai bekerja, sebagai bagian dari Perusahaan Robinson. Karena yang kami butuhkan adalah bagian gudang, untuk itu Anda kami tempatkan disana"


"Tidak masalah"


"Baiklah, bekerjalah dengan baik"


"Tentu"


Pria yang sepertinya adalah Asisten HRD itu pun mengenalkan Martin pada beberapa staff lain disana yang akan menjadi partnernya nanti. Beberapa dari mereka melihat dengan ngeri penampilan dan kondisi fisik Martin, tapi Pria yang merupakan paman David itu sama sekali tidak perduli. 5 tahun dia melewati semua pandangan jijik orang-orang saat melihatnya, membuatnya kebal dari rasa minder dan rendah diri.


Martin, meskipun jalannya pincang dan wajahnya cacat, tapi Pria itu sangat percaya diri, sebenarnya Martin cerdas seperti kakaknya Arthur, hanya saja pria itu culas dan jahat. Jadilah dia manusia yang serakah dan hanya mengejar harta keluarga saja.


Pria itu kini memulai pekerjaannya di bagian gudang itu dengan mengikuti cara karyawan lain bekerja. Sambil menyelam minum air, sambil bekerja pria itu mengawasi keadaan di sekitar perusahaan itu.


Jam sudah mendekati waktu istirahat siang, Lily mempercepat pekerjaannya agar setelah jam makan siang nanti Dia bisa segera membuat laporan tentang hasil pengamatannya hari ini.


Lily dengan tergesa mengikuti kepala gudang itu dengan tidak fokus karena tangannya tidak berhenti mencatat, kemudian...


Brukk


"Oh, maafkan Aku, maafkan Aku"


Lily segera meminta maaf saat tubuhnya menabrak seseorang yang tengah membawa sekotak barang hingga terjatuh. Lily pun berjongkok dan membantu orang itu berdiri. Saat mata mereka berserobok, Lily sedikit tersentak kaget melihat wajah pria itu yang rusak sebagian, Namun Lily berusaha menetralkan ekspresinya agar orang itu tidak tersinggung.


Martin pun sama, Dia sedikit terkejut saat melihat wanita cantik di depannya.


'Sepertinya Aku mengenalnya, tapi dimana?'


Martin bertanya dalam hati saat melihat wajah Lily yang tampak familiar.


Pria itu hanya mengangguk menanggapi permintaan maaf dari Lily, Iapun segera berlalu tapi pikirannya tidak berhenti bertanya, siapakah wanita itu?


Sementara Lily sendiri bernafas lega, jujur saja, melihat pria itu Lily tiba-tiba diserang rasa takut. Pria itu terlihat sangat mencurigakan. Entah kenapa Lily merasakan sesuatu yang negatif dari Pria itu.


Tapi lagi-lagi Lily membuang pikiran negatifnya. Mereka tidak saling mengenal dan tidak pernah bertemu sebelumnya, untuk apa berprasangka yang tidak-tidak?


Lily pun melanjutkan kembali pekerjaannya.


#


Seharian ini David terus uring-uringan, hampir semua staf kena semprot, bahkan perkara debu di atas AC saja sengaja dipermasalahkannya. Pria itu benar-benar sedang mengalami pubertas kedua. Patah hati membuat otaknya menggila. Leon sejak tadi sudah sangat sabar menghadapi emosi David yang menggebu-gebu. Dia hanya menanggapinya dengan mengangguk dan mengangguk lagi, persis pajangan kucing yang ada di toko-toko perhiasan.


"Tuan, semalam Nona Alice memberikan sebuah masukan tentang..."


"Aku sudah mendengarnya. Dia mulai gila, sama sepertimu"


'Sial, kena lagi' batin Leon menggerutu.


Ting ting


Gawai Leon berbunyi.


'Eldrick?'


Leon terkejut melihat nama yang muncul dilayar ponselnya.


"Siapa?" David. bertanya karena Leon tak kunjung menjawab panggilan itu.


"Paman Saya, Tuan"


"Mmm, baik Tuan"


Leon pun segera menjawab telepon itu.


"Tuan, ada kabar buruk" Suara Eldrick terdengar panik diseberang sana.


"Ya paman, katakanlah, Aku sedang bekerja sekarang "


Mendengar Jawaban Leon, Eldrick sepertinya paham jika Leon sedang bersama David. Anak buah Leon itu pun melanjutkan kalimatnya.


"Martin masih hidup"


"Apaa????" Leon hampir saja terkena serangan jantung dan mati muda hingga dia berteriak seperti itu. David yang ada di meja kerja pun ikut tersentak kaget. Menyadari bahwa reaksinya berlebihan, Leon segera memberi kode kepada David sebagai permintaan maaf.


"Bagaimana bisa begitu paman? darimana paman tahu?"


"2 hari yang lalu Saya dan anak-anak yang lain berkunjung di ke markas kita di perbatasan senzhen, Kami tidak sengaja bertemu dengan Martin di Club malam disana. Awalnya Saya tidak yakin, tapi setelah melihat luka diwajahnya, Saya merasa yakin bahwa itu Dia. Kami berusaha mengejarnya namun dia berhasil lolos. Saat ini kami masih di senzhen, tapi sepertinya Martin sudah meninggalkan daerah ini"


"****" Umpat Leon pelan. kemudian berkata,


"Baiklah Paman, tunggulah Saya pulang bekerja, saya akan menghubungimu"


"Baik Tuan"


Leon mematikan panggilannya. Dia kemudian melihat David yang ternyata juga sedang memperhatikannya. seolah ada tulisan 'apa yang terjadi?' di wajah bosnya itu.


Leon terdiam sejenak, Lalu berfikir. Di masa lalu Ia selalu berusaha menyelesaikan persoalan tentang Charlotte dan Martin seorang diri tanpa sepengetahuan David. Dan nyatanya dia gagal. Buktinya saat ini Martin masih hidup. Entah Martin yang terlalu pandai atau dia dan anak buahnya yang memang bodoh? kenapa bisa manusia lucknut itu masih hidup??


Apa kali ini Leon harus jujur pada David dan terbuka padanya?


"Hei Leon, Apa kau kerasukan setan?". Sungut David yang melihat Leon berdiam diri saja seperti tiang listrik.


"Y-ya?" Tanya Leon dengan wajah polosnya.


"Lupakan.Kau membuatku bertambah kesal. cepat katakan apa yang terjadi?"


"Emm... Tuan..."


Leon sedikit ragu mengatakan yang sebenarnya.


"Ada apa?"


David mengulangi pertanyaannya dengan kesal.


"Martin masih hidup"


Pluk. David menjatuhkan bolpoin yang ada di tangannya.


"What are you talking about?" Wajah David berubah suram seperti kuburan.


"Martin Crambhell masih hidup, Tuan Dave"


Leon Mengulangi kata-katanya.


"Bukankah Kau bilang sudah..."


"Yah, tapi saya rasa dia mempunyai banyak nyawa cadangan"


"Jangan bercanda Leon"


"Saya tidak suka bercanda Tuan. Anak buah saya yang tidak sengaja bertemu dengannya"


"Oh ****!!!! Cepat kerahkan orang-orang kita, cari keberadaannya sampai ketemu. Jangan sampai dia mengetahui keberadaan kita, terutama tentang Lily dan juga Alice"


"Baik Tuan" Leon dengan patuh menjawabnya. David benar, yang paling membahayakan adalah jika Martin mengetahui keberadaan Lily dan Alicia. Pria itu adalah psikopat gila, Dia Tahu bahwa kedua orang itu adalah kelemahan David. jadi bisa dipastikan Leon akan menggunakan berbagai cara untuk membalas dendam pada David karena mengira harta kakaknya dikuasai oleh David.


Martin tidak akan perduli apa apapun, bahkan hubungan darah sekalipun. dipikirannya hanya ada uang uang dan uang!


Sayangnya mereka kalah cepat, Marti. sdush berada di sekitar mereka. Dan yang David serta Leon tidak ketahui adalah, saat ini dendam Martin lebih mengerikan dari pada soal harta. yang Dia inginkan adalah David mati ditangannya!


Bersambung