My Hot Boss, I Love You

My Hot Boss, I Love You
Penyelamatan Alicia



David baru saja siuman, Laki-laki itu mengernyit karena kepalanya sedikit sakit dan berdengung.


David kemudian mengedarkan pandangannya, Tidak ada siapapun disana.


"Aku Di rumah sakit?" David bertanya pada dirinya sendiri. Laki-laki itu kemudian berdesis saat merasakan sensasi nyeri dari luka jahitannya.


Ceklek, Leon yang baru saja melakukan panggilan untuk memberikan interupsi pada staff-staff perusahaannya masuk ke ruangan dan terkejut melihat David sudah duduk di ranjang rumah sakit itu.


"Tuan, kapan tuan bangun?" Tanya Leon dengan Cemas


"Baru saja" Jawab David singkat.


"Syukurlah, Anda mendapatkan 10 jahitan karena lukanya cukup dalam"


"Hmn, bagaimana... Keadaan Lily?"


"Nyonya baik-baik saja tuan. hanya shock berat. Beliau tadinya ingin menjaga Anda tapi saya melarangnya. Orang-orang akan memandangnya buruk karena Beliau adalah calon tunangan Presdir Robinson"


"Ya, Aku mengerti, Apa yang Kau lakukan sudah benar Leon, terima kasih"


"Sama-sama Tuan"


"Oh ya, Apa Alice kau beritahu?"


"Saya sudah memberitahu Nyonya Charlotte, tapi beliau belum menyampaikannya kepada Alice karena Saat ini mereka sedang jalan-jalan"


"Baguslah. Kalau bisa jangan memberitahunya atau Anak itu akan panik dan menjadi sangat cerewet"


"Baik Tuan" Leon tersenyum mendengar ucapan David. memang benar Alice akan berubah menjadi nenek gayung jika tahu keluarganya ada yang terluka. Anak gadis itu akan mengomel sepanjang hari seperti ibu-ibu. ringkasnya, Alice akan menjadi sangat menyebalkan dan over protective terhadap keluarganya.


"Leon, tolong siapkan meeting secara online dengan pihak pabrik, Aku ingin membahas sesuatu, terutama tentang pengaturan layout barang di gudang. Kejadian tadi pagi akan sangat berbahaya dan bisa merenggut nyawa seseorang, maka sistem layout yang sekarang harus segera dirubah. Dan juga, tolong minta kirimkan rekaman CCTV gudang padaku. Aku ingin kau memeriksanya"


"Baik Tuan" Leon mengangguk patuh kemudian segera melakukan tugas yang diberikan bosnya itu.


#


#


Charlotte mengedarkan pandangannya di ruangan yang sedikit gelap dihadapannya. Dia hendak menjerit namun mulutnya sudah disumpal dengan kain.


'Ya Tuhan, Martin? apa yang dia lakukan padaku? Alice??' Wanita itu sontak menoleh ke kanan dan ke kiri untuk mencari keberadaan Alice, tapi cucunya itu tidak ada disana.


Charlotte menangis, menyesali kebodohannya yang dengan mudah mempercayai Martin, Dia fikir Martin kembali padanya untuk sama-sama berubah, ternyata Charlotte salah. Pria itu benar-benar akan membalaskan dendamnya. Meski dengan menggunakan Alice, cucunya sendiri.


Flash back on


Charlotte mengernyit bingung saat Martin membawa nya beserta Alice dengan mengemudikan mobilnya sendiri. Charlotte fikir, bukankah Martin tidak punya uang? bagaimana bisa dia mendapatkan mobil yang cukup mahal ini? Begitulah batin Charlotte bertanya-tanya.


Namun lagi-lagi, Charlotte membuang pikiran negatifnya, mungkin saja Martin menyewa mobil ini untuk mengajak cucunya jalan-jalan bukan?


Selama kurang lebih 30 menit perjalanan, Martin terlihat sangat bahagia begitu juga dengan Alice. Charlotte pun ikut senang melihatnya, sampai tiba-tiba senyumnya menghilang saat mobil mereka berhenti di sebuah bangunan kuno yang sepertinya sangat jauh dari pusat kota. dan ini sepertinya... ditengah hutan???


Martin tersenyum kemudian turun dari mobil kemudian membukakan pintu untuk Alice DNA juga dirinya.


"M-martinz Kita ada dimana?"


Tanya Charlotte yang sedikit bingung dan juga takut.


"Ini adalah rumahku"


"What? Kamu tidak sedang bercanda kan?"


"Tentu saja tidak" Martin tersenyum lebar dan itu membuat Charlotte takut.


Tiba-tiba...


Slapp... Charlotte merasa ada yang membekap dirinya, dia memberontak dan menatap Martin tak percaya, Pria itu hanya tersenyum dan berkata,


"Aku tidak membutuhkanmu, maka tidurlah"


Perlahan tapi pasti Charlotte memejamkan matanya dan... tidak sadarkan diri.


Sementara Alice yang sedari tadi menyaksikan Granny nya di beri obat bius sedikit gemetar ketakutan. Namun Martin segera menenangkannya.


"Jangan takut sweetie, Granny hanya tertidur. ini semua demi kelancaran rencana kita, Okey?"


Alice pun mengangguk dengan takut.


Flash Back Off


Charlotte terisak dalam diamnya, wanita yang diikat pada sebuah kursi persis seperti kejadian 5 tahun lalu hanya bisa menangis dan tak berdaya.


Dia sungguh menyesal. seharusnya Dia tidak mempercayai Martin.


Tap tap tap


Charlotte menghentikan tangisnya saat mendengar langkah seseorang mendekatinya.


Martin!


"Sssst .. Sweetie kenapa kau menangis?"


"Mmmmh!!! mmmmh!!" Charlotte berusaha berteriak namun teriakannya tertahan oleh kain yang menyimpan mulutnya.


"Apa? Kau ingin mengatakan sesuatu? Baiklah Aku akan membukanya, sabar yaa"


Ucap Martin dengan lembut namun justru membuat Charlotte bertambah marah.


Pria itupun membuka kain itu yang langsung dihadiahi umpatan Charlotte.


"Bajingan! apa yang Kau lakukan! Dimana Alice???"


" Sst ssst ssstt! jangan berteriak sweetie, kau akan membangunkan cucu kita yang sedang nyenyak"


"Kau benar-benar binatang Martin! Alice adalah cucu kandungmu. Bisa-bisanya Kau melakukan ini semua padanya!!"


"Sssst... Dia yang memintaku membantunya dalam rancangan penculikan ini sayang, jadi jangan menyalahkan Aku"


"Apa sebenarnya maumu hah??"


"Kau tahu itu! kau tahu apa mauku! tapi kau tidak mau mendukungku. Kau berubah menjadi sok suci dan baik. Padahal Kau sama bejatnya denganku!"


"Setidaknya tidak ada kata terlambat untuk berubah. Aku ingin hidup lebih baik karena memelihara dendam hanya akan membuat kita semakin menderita Martin!"


"Cuih! simpan ceramahmu itu untuk beribadah nanti. Aku tidak membutuhkannya. Kau tidak mengerti betapa sengsaranya Aku 5 tahun ini, Kau lihat Aku! Aku cacat!! dan sekarang Aku diberi kesempatan untuk menghabisinya, kau pikir aku akan melepaskan kesempatan ini???"


"Martin tolong... jangan lakukan ini"


"Diamlah!!! Aku akan tetap menjalankan rencana ku. Kau diam saja dan jangan melawan. Aku masih punya hati untuk tidak menyakitimu juga!. Sekarang berikan Aku nomor telepon David"


"Tidak"


"Aku tidak akan memberikannya meski Kau membunuhku sekalipun!"


"Oh begitu, wah kau sekarang sangat melindunginya ya"


Martin benar-benar kesal mengetahui Charlotte melindungi David. Dia kemudian berkata,


"Baiklah, kalau kau tidak mau maka Aku akan melakukan sesuatu pada cucu kita yang akan sangat kau sesali"


"Martin! Apa kau gila?? Alice adalah cucumu!"


"Yah, Aku memang gila, maka dari itu jangan menantangku"


"Kau..."


"Satu"


Martin mulai menghitung untuk memprovokasi Charlotte.


"Dua"


"Ti..."


"Baik Aku akan memberikannya"


"Good"


Martin pun pergi meninggalkan Charlotte yang berteriak memanggil namanya setelah mendapat nomor telepon David.


"Ya Tuhan semoga Engkau melindungi David dan Kami semua".


Setelah meninggalkan Charlotte, Martin duduk disamping Alice yang juga diikat di kursi sama seperti Charlotte, hanya saja Alice dalam keadaan sadar.


Alice gemetar ketakutan karena merasa bahwa Martin memiliki niat tidak baik.


"Grandpa, kenapa Aku diikat? bukankah... bukankah rencana kita tidak seperti ini?"


"jangan takut sweetie, Aku hanya berusaha menjalankan rencana kita dengan profesional"


"Tapi Grandpa.."


"Diam!!!" Sentak Martin yang seketika membuat Alice bungkam, gadis itu menangis dalam diam.


"Sekarang waktunya menelepon Daddy-mu"


Alice semakin menangis ketakutan. Apakah Martin mau menyakiti Daddy-nya?


#


#


Ting Ting


Gawai David sedari tadi berbunyi, Pria yang sedang beristirahat itu pun terbangun. Dengan susah payah David meraih gawainya diatas nakas ruang perawatan itu.


Nomor asing, siapa?


David ingin mengacuhkan Panggilan itu, biasanya dari marketing asuransi. Tapi hatinya seolah mengatakan bahwa Ia harus mengangkatnya.


Pria itupun dengan ragu menjawab panggilan dari nomor asing itu.


"Halo"


Hening....


"Halo, siapa? Jangan main-main denganku..."


"Haloo Tuan Davidson Crambhell" Suara berat terdengar dari seberang sana. Dan David sedikit mengenal suara itu.


"Siapa?"


Tanyanya memastikan.


"Ooh, secepat itu Kau melupakan anggota keluargamu, Hmn?"


"Martin?"


"Bravo!!! Kau memang keponakan yang berbakti"


"Bajingan!!"


"Saat, jangan mengumpatku"


"Apa maumu bangsat!"


"Tidak banyak, hanya... Nyawamu"


"Hahaha, omong kosong! Kau bahkan tidak mampu melawan Security ku dan Kau menginginkan nyawaku? Jangan bermimpi!"


"Hahaha tentu Aku sadar tuan, maka dari itu aku ingin melakukan barter. semacam pertukaran yang menguntungkan, Kau serahkan Nyawamu, dan Aku melepaskan Alice"


Wajah David memucat saat mendengar nama Alice di sebut.


"Kau pikir Kau bisa membohongiku?"


"Baiklah, jika kau tak percaya, bicaralah dengannya. Sweetie.... Bicaralah dengan Daddy-mu"


"Daddy..."


"Oh My! Alice!! Kenapa kamu bisa bersama Pria jahat itu sweetie?"


"Daddy jangan datang kesini!"


Alice berteriak dan seketika. Martin menarik telepon genggamnya dan membentak,


"Diam kau gadis kecil! Atau aku akan meledakkan kepalamu!!


"Heeiii!! jangan berani kau menyentuhnya bajingan!!"


"Tenanglah, Tenang Tuan Davidson, Aku tidak akan menyentuhnya asal Kau mau menyerahkan diri padaku"


"Katakan, Dimana kau?"


"Bagus! Aku akan mengirimkan alamatnya. Dan ingat! Datanglah sendirian"


Martin pun mematikan panggilannya dan tersenyum puas.


"Selamat datang di gerbang kematianmu Davidson!!"


Bersambung