
Alicia tak berhenti menatap Lily yang nampak sangat cantik dengan balutan gaun putih sederhana serta hijab yang kini menutup Surai panjangnya.
"Kau sangat cantik Cece, Upss maksudku Mommy" Ucap Alice penuh semangat. membuat Lily gemas pada gadis kecil yang akan segera menjadi putri sambungnya itu.
"Terima kasih, Lengloi" balas Lily seraya mendaratkan kecupan sayang di pipi Alice.
Yah setelah memikirkan lamaran Sir David matang-matang, ditambah melihat kesungguhan di wajah pria itu, membuat Lily akhirnya bersedia menikah dengan bos gantengnya itu.
Sebenarnya masih sulit dipercaya, bahwa David dan Ia akan menikah saat ini. karena jujur Lily masih jauh dari kata mengenal pria itu. Hanya Ibu dari pria itu dan Alice keluarga David yang Lily ketahui.
meski keraguan tak bisa ia tepis begitu saja, tapi kembali Ia teringat janji dari David yang Ia pegang, janji untuk melindungi dan tidak akan menyakiti dirinya.
Setelah Lily menyetujui untuk menikah dengannya, David pun tak mau merahasiakannya pada Alice, Saat perjalanan pulang dari Pulau Cheng Cau, David memberitahu rencana pernikahannya dengan Lily, dan tentu saja Alicia bersuka cita menanggapinya. impiannya memiliki Ayah dan Ibu akan segera terwujud, begitulah kira-kira yang terlintas dalam benaknya.
Kembali menatap cermin, Lily menarik nafas dalam, meyakinkan dirinya bahwa ini adalah awal kehidupan baru baginya, semuanya akan berakhir indah, Insya Allah.
"Nyonya David, sudah siap? Anda sangat cantik, Masya Allah" ucap wanita berparas Timur Tengah, Laila Namanya. Laila yang menjadi pendamping pengantin wanita untuk Lily, mengingat gadis itu tak memiliki sanak saudara disini, hanya kedua sahabat dekatnya Fany dan Dewi yang sudah seperti keluarganya, hanya saja mereka berdua tak bisa hadir karena mereka adalah pekerja di negara ini, tidak bisa mengambil cuti libur sesuka hati.
"Terima kasih Nona Laila" balas Lily tersenyum lembut.
"Sama-sama"
Merekapun keluar dari ruangan kecil yang telah di sulap menjadi ruang makeup pengantin menuju Masjid yang letaknya berada disamping bangun kecil itu.
The Cape Collinson Muslim Cemetery, Chai Wan, Hongkong, menjadi tempat Emiliano Davidson mengucapkan Akad suci pernikahan dengan Lily Rahmawati, dua orang yang memutuskan untuk menjalani Ibadah paling indah meski berawal dari sebuah kesalahan, namun niat baik tentu akan berbuah baik, seperti kata pepatah, apa yang kau tanam itulah yang akan kau tuai.
"Alhamdulillah kalian sudah resmi menjadi suami istri, Insya Allah Sakinah wa Rahmah untuk rumah tangga kalian, saya do'akan, Aamiin"
"Aamiin" ucap Lily dan David serempak diikuti oleh beberapa jamaah yang menjadi saksi disana.
Selesai Doa bersama dan dilanjutkan dengan acara makan-makan secara sederhana merekapun kembali ke Apartemen.
Alice yang merasa bahwa Lily sekarang adalah Mommy-nya terus saja menempel pada gadis mudah yang tengah mengandung itu. hampir tak lepas barang sedetikpun.
Ia dengan riang berceloteh tentang hari-hari yang akan mereka lewati bersama, bermain, makan, tidur dan berlibur bersama layaknya keluarga bahagia seperti yang Alice impikan.
Sementara Lily dan David hanya menyimak keriuhan Alice dengan sesekali saling melirik satu sama lain.
David tidak main-main dengan pernikahannya ini. Lily sekarang sudah menjadi miliknya dan Ia tak akan melepaskan gadis itu sampai kapanpun.
Sementara Lily memikirkan bagaimana caranya agar dirinya dan David tidak tinggal dalam satu kamar, karena Lily masih sedikit takut jika mengingat malam kelam yang merenggut kegadisannya. rasa sakitnya Mash sangat membekas di ingatannya.
"Wah, Mommy setelah acara pernikahan rumah ini terasa sangat berbeda" Ucap Alicia begitu memasuki Apartemen.
"Apanya yang berbeda sweetie?" Tanya David dengan alis mengerut. Lily pun sama dengan David, masih belum paham maksud Alice.
"Iya! terasa lebih hangat dan menyenangkan karena sekarang aku sudah punya Mommy, benar-benar punya Mommy seperti teman-temanku" Jawab Alice dengan riang.
Lily pun tersenyum dibuatnya.
"Yah, sekarang Cece adalah Mommy-nya Alice. Jadi, jangan ragu Jika ada teman Alice yang berbuat nakal, Mommy akan menghajar mereka hehehe" Ucap Lily terkekeh
"hahaha yah benar Mommy, seperti si gendut Ji Kin yang selalu menggangguku" Jawab Alice menggebu-gebu.
"Baiklah kamu bersiap mandi, Cece akan siapkan handuk dan pakaian ganti"
"Cece?"
"Ups... Sorry, maksud Mommy hehe"
"Yes, Mommy!" Alice pun menghambur ke kamar mandi dengan segera.
"Sir, Anda mandi setelah Alice. Saya akan siapkan kopi untuk Anda seperti biasa" ucap Lily yang masih saja berbicara formal kepada Bosnya yang kini sudah resmi menjadi suaminya itu.
"Aku tidak mau kopi" Jawab David misterius
"Lalu? mmm apa Anda ingin dibuatkan yang lainnya? teh atau jus misalnya?
"Tidak Lily... Aku..." Ucap David seraya mendekat kearah wanita berstatus istrinya itu. Lily pun mendadak kaku di tempat tak mampu bergerak menatap wajah tampan yang semakin dekat kearahnya, jangan tanyakan jantungnya, detaknya mungkin bisa membangunkan orang sahur, saking kerasnya ^_^
"Aku ingin memakanmu"ucap David dengan suara sensual tepat di telinga kiri Lily, membuat bulu kuduk gadis itu meremang, kemudian tanpa rasa berdosa berlalu begitu saja meninggalkan istrinya yang nyawanya hampir lepas dari raganya.
'Sir David bertambah gila' batin Lily dengan tubuh masih setia mematung.