My Hot Boss, I Love You

My Hot Boss, I Love You
Pertemuan Marry dan Lily



"Aduh..." Lily mengasuh seraya meremas perutnya yang kram.


"Ya Allah, Kamu kenapa Li? perutnya sakit?" Tanya Fany panik melihat wajah Lily yang memucat.


"Tenanglah. sebentar lagi kita sampai, aku akan memanggil dokter untukmu Nyonya Davidson" Ucap seorang pria yang kini tengah mengemudikan mobil.


"Anda siapa??" tanya Fany yang sedikit ketakutan karena dibawa oleh orang asing entah kemana.


"Oh.. perkenalkan nama Saya James Crawford" Ucap James dengan percaya diri.


"James siapa? kami tidak kenal dengan Anda, dan kenapa anda menculik kami"


"Hei aku bukan menculik! Aku menyelamatkan kalian dari kejaran dua makhluk bodoh itu"


"Bagaimana Kamu tahu kami sedang dikejar?"


"Ah sudahlah jangan banyak bertanya! Ikut saja denganku, bukankah kalian ingin bertemu dengan seseorang?" Tanya James yang sontak membuat dua orang yang duduk di kursi penumpang itu terkejut.


"Aku adalah pengirim surat itu" Lanjut James yang seolah bisa membaca pertanyaan yang ingin dilontarkan oleh Lily dan Fany.


"Anda?" Tanya Lily yang masih meringis merasakan kram di perutnya.


"Ya, Nyonya Davidson, tenang saja, Aku tidak akan menyakiti kalian. Percayalah" Ucap James berusaha meyakinkan dua wanita cantik itu.


Sementara Lily dan Fany saling pandang kemudian mengangguk paham. Merekapun terdiam, menuruti perkataan James.


Sementara itu!


Plakkkk! suara tamparan keras menggema di seluruh ruangan kosong itu.


"Dasar bodoh!!" mengikuti dua wanita kecil saja kalian tidak becus!!!" Hardik seorang wanita, yang ternyata adalah Nyonya Charlotte.


"Maaf Nyonya, ada seseorang yang membawa mereka kabur" ucap salah satu diantara kedua suruhan itu.


"Omong kosong!" Seru Nyonya Charlotte dengan nafas memburu. Emosinya membumbung tinggi karena buruannya lepas begitu saja.


Kita sudah sampai, Mari masuk...


Ucap James kemudian mempersilahkan dua wanita itu masuk ke apartemennya. Lily dan Fany hanya menurut saja. Toh mereka sudah sampai kesini, apapun yang akan terjadi, mereka sudah pasrah.


"Sebentar lagi temanku Marry akan datang, tunggulah" Ucap James kemudian berlalu menuju Dapur minimalisnya


"Marry? Siapa Dia?" Tanya Lily bingung.


"Dia yang ingin bertemu denganmu, Aku.. hanya perantara saja" Ucap David kemudian membawa dua buah cangkir berisi teh hangat kepada dua orang wanita didepannya itu.


"Teh canolla, ibuku bilang itu bagus untuk menghilangkan efek mabuk"


"Tapi kamu tidak sedang mabuk tuan" sahut Fany ketus.


"Ya, terserahlah. aku hanya punya itu untuk kalian minum"


"Terima kasih" Ucap Lily tulus. Lily yakin James bukanlah orang jahat, Nalurinya mengatakan itu.


"Sama-sama"


Ting tong suara bel mencuri Atensi ketiga orang itu.


James kemudian melangkah menuju pintu.


"Itu pasti Marry" Ucapnya sambil melenggang keluar dari ruang tamu minimalis dengan hanya ada satu sofa besar yang melengkapinya.


Fany melirik kearah sahabatnya, kemudian Lily menggenggam tangan Fany, mencoba meyakinkan bahwa semuanya akan baik-baik saja. Fany pun mengangguk pasrah. Semoga saja, batinnya.


Sesaat kemudian seorang wanita cantik berambut cokelat terang masuk kedalam, Tatapan wanita itu langsung menjurus ke arah Lily. Lily pun membalas tatapannya. Cantik banget. begitu pujian yang otomatis muncul di benak Lily.


"Hai" sahut Lily kemudian. Marry pun menyalami Fany dan disambut dengan sedikit cuek.oleh gadis tomboy itu.


Marry tak terlalu memikirkan sikap Fany, karena keperluannya adalah dengan Lily.


"Maafkan Aku jika aku sudah membahayakanmu dengan mengajakmu bertemu. tapi Aku sungguh tidak punya cara lain" Marry memulai pembicaraannya, memang dia sedikit menyesal saat menerima informasi bahwa dua wanita di depannya di kejar-kejar oleh orang suruhan Charlotte.


"Tidak apa-apa.. mmmh" Jawab Lily yang kemudian kembali meringis merasakan keram diperutnya muncul lagi.


"Are You Okay?" Tanya Marry cemas, Melihat wajah Lily yang pucat. Begitupun Fany. Dia lebih cemas saat mengingat bagaimana mereka berdua berlarian dengan sangat cepat sampai lupa bahwa ada bayi didalam rahim sahabatnya itu.


"Ya, I'm good. ini biasa terjadi pada kehamilan muda kan? It's Okay" Jawab Lily seraya tersenyum lembut ke arah Marry yang terlihat khawatir.


"What?? Are you pregnant?" Tanya Marry yang tak bisa menyembunyikan ekspresi syock-nya.


Sementara Lily hanya mengangguk pelan.


James pun tak kalah syock. Dia berdiri di belakang Marry dengan mulut ternganga.


'Ini akan sangat sulit' batin James melihat Marry juga kini menunduk putus asa. Mereka akan membahayakan nyawa Lily yang sedang mengandung jika tetap meneruskan tujuannya membongkar rahasia Nyonya Charlotte.


"Maafkan Aku, aku tidak tahu kalau kau sedang... hamil" ucap Marry dengan raut penyesalan yang dalam.


"Tidak apa-apa, sungguh. Tolong beritahu aku semuanya. Jangan buat usahaku hari ini sia-sia" pinta Lily dengan penuh permohonan. Dia sungguh ingin tahu kebenarannya, Ingin melindungi suaminya dan keluarga kecil mereka.


"Aku sangat mencintai suamiku dan keluarga kecil kami. Aku mohon biarkan aku tahu semuanya, dan Aku bisa melakukan sesuatu untuk melindungi keluargaku" Lanjut Lily yang kini sudah berkaca-kaca. Perasaannya memang sensitif, apalagi jika sudah menyangkut orang-orang yang disayanginya.


"Apa kau yakin? ini akan sangat beresiko karena yang akan aku ceritakan adalah rahasia terbesar Ibu mertuamu, yang sayangnya sama sekali tidak di ketahui oleh suamimu" Tanya marry kembali memastikan.


Agar Lily tidak menyesal di kemudian hari. Karena terkadang berpura-pura bodoh dan tidak tahu apa-apa akan jauh lebih baik daripadanya mengetahui segalanya tapi membahayakan keselamatannya sendiri.


"Aku yakin" Jawab Lily mantap.


Kemudian James dan Marry saling melempar tatapan. James pun mengangguk paham. Pria itupun memasuki sebuah ruangan yang sepertinya sangat tertutup.


Beberapa saat kemudian pria itu muncul dengan sebuah Notebook di tangan kanannya, dan sebuah Tap recorder kecil di tangan kirinya.


James menyerahkan kedua benda itu pada Marry. Marry menarik nafas dalam-dalam sebelum menatap manik Lily lekat


"Didalam sini ada sebuah rahasia yang sahabatku temukan, namanya Sarah. Kakak ipar David, sekaligus.... mantan kekasihnya" Marry menjeda kalimatnya untuk mengamati Ekspresi Lily. Saat Lily memberi kode padanya untuk melanjutkan, Marry pun mengangguk paham.


"Sarah menyerahkan rekaman ini padaku sesaat sebelum dia.. meninggal. Dan isi dari rekaman ini adalah semua kejahatan yang dilakukan oleh Nyonya Charlotte yang sekarang ini juga mengincarku" Ucap Marry yang sontak membuat Lily melongo karena syock.


Ternyata dia tidak mengetahui apapun tentang Suaminya. Bahkan tentang keluarganya sekalipun.


"Apa maksudmu dengan mengincarmu?" tanya Lily


"Bibi Charlotte sudah melakukan banyak kejahatan dengan rapi, saat dia tahu bahwa ada bukti yang tertinggal, tentu saja dia akan berusaha menghilangkannya. Saat Dia tahu Sarah mendapatkan rekaman ini, Dia langsung menghabisi Sarah dengan membuat drama seolah Sarah bunuh diri karena tidak bisa melupakan David. Padahal saat itu Sarah adalah menantunya, karena menikah dengan Dominic, kakak David. Namun sayangnya Bibi Charlotte tidak beruntung karena Sarah tidak langsung meninggal dan Aku masih sempat bertemu dengannya di detik-detik terakhirnya"


"Memangnya kejahatan apa yang Mommy Charlotte lakukan? Tanya Lily penasaran


"Banyak sekali. Tapi targetnya hanya satu" Jawab Marry kemudian raut sedih menghiasi wajah cantiknya.


"Apa?"


"Menyingkirkan Suamimu, agar dia bisa menguasai harta suaminya"


"Apa???" Tidak hanya Lily yang terkejut, Fany pun ikut membelalak tak percaya. Bagaimana mungkin ada seorang Ibu yang ingin menyingkirkan anaknya sendiri hanya demi harta??


Benar-benar gila.


Marry pun mulai memasangkan recorder kecil itu kedalam Notebooknya.


Kisah masa lalu pun dimulai...