
Leon menegakkan punggungnya, kemudian bertanya
"Berapa lama lagi Ambulance sampai?"
"Orang-orangku sudah menghubungi ambulance sejak tadi. Mungkin 5 sampai 10 menit lagi sampai"
Jawab Aston dengan cepat. Pria itu kini sudah duduk di samping Leon.
"Tuan mengeluarkan banyak darah, sebelum ambulance sampai kita harus menghentikan pendarahannya sementara"
"Yah kau benar"
"Kalian! cari kain atau apapun itu!"
"Baik Tuan!!"
Leon kemudian melepas jas putih David kemudian membuka kemejanya cepat, Lily memejamkan matanya erat saat melihat luka tembakan yang menyembul di bawah tulang selangka itu, tampak sangat mengerikan.
"Pelurunya tembus sampai ke dada, Ini akan sangat sangat berbahaya"
"Tidak, semoga saja tidak mengenai organ vital Tuan David"
Ucap Leon yang dengan cepat melilitkan lain yang sudah di berikan oleh anak buahnya.
Lily menatap pria di pangkuannya yang bibirnya sudah hampir membiru.
'Dave, bertahanlah. Aku akan memberi jawabannya padamu, bangunlah'
Lily berkata dalam hati dengan pedih.
Tiba-tiba Anak buah Aston berlari ke arah mereka dan berkata dengan tergesa,
"Tuan Ambulance sudah datang"
"Ayo cepat bantu Aku membawa Tuan"
"Baik!"
Dengan sigap David di angkat menuju mobil ambulance dan dengan cepat melesat ke arah Rumah Sakit.
Sepanjang perjalanan Lily terus menggenggam tangan pria yang kini berbaring dengan lemah di hadapannya, bibirnya tak lepas dari do'a dan dzikir, berharap keselamatan dan keajaiban akan Allah berikan untuk mantan suaminya itu.
20 menit berlalu, akhirnya mereka sampai di Rumah Sakit MACAU YINKUI HOSPITAL. Leon dengan cepat berlari ke dalam rumah sakit untuk memanggil perawat.
Dengan sigap dan telaten, para tenaga kesehatan itu memindahkan tubuh David dari ambulan menuju berangkat dorong dan segera di bawa ke ruang tindakan.
"Dokter dengan cepat memeriksa keadaan David yang terluka parah. Dengan menggelengkan kepalanya dokter itu berkata.
"Pasien sudah sangat kritis, Kita harus segera melakukan tindakan operasi"
Lily dengan cepat menjawab, "Lakukan apapun yang bisa menyelamatkannya Dokter"
Leon ikut mengangguk dengan tatapan penuh harap pada sang Dokter. Sementara Aston hanya diam membisu karena tidak tahu harus berbuat apa.
"Baiklah, cepatlah panggil keluarga nya untuk menandatangani persetujuan pelaksanaan operasi ini"
Leon dan Lily saling pandang, karena pada kenyataannya David tidak memiliki keluarga.
"Saya yang akan menandatangani Dokter"
Lily kemudian mengambil keputusan, membuat Leon tersenyum lega.
"Anda keluarga dari Pasien?"
"Saya istrinya"
Jawab Lily mantap, kemudian Leon pun dengan cepat meminta dokter itu untuk segera melakukan tindakan operasi.
"Dokter cepat segera lakukan tindakan untuk Tuan Saya, Dia adalah Emiliano Davidson Presdir dari D.L Company"
Ucap Leon dengan suara rendah syarat akan ancaman. Dokter yang mendengar nama Presdir D.L pun seketika mengangguk cepat.
"B-baik Tuan, Saya akan berusaha semaksimal mungkin"
Sementara itu Lily segera menuju ruang administrasi untuk menyelesaikan prosedur yang dibutuhkan sebelum operasi.
Dia sama sekali tidak mengingat keberadaan Aston yang berdiri di sana seperti orang bodoh. Wajahnya tertunduk lesu mendengar ucapan Lily, 'Saya istrinya'.
Pria itu pun melangkah lebar, meninggalkan rumah sakit. Biarlah, David sudah ada yang menjaga, lagipula diantara mereka tidak ada hubungan apapun selain bisnis, bukan?
Tapi bukan berarti Aston akan melepaskan orang-orang yang membuat kekacauan ini. Dia akan menyelidikinya sampai tuntas dan menghancurkan orang-orang itu, bukan hanya karena mencelakai David dan juga Lily tapi juga merusak pesta peluncuran produk perusahaan Robinson.
#
#
Leon berjalan mondar-mandir dengan ketegangan yang kentara di wajah pucatnya, Dia juga tidak memiliki siapapun saat ini.
Hanya David yang menjadi satu-satunya keluarganya, karena Ayahnya sendiri yang menitipkan David padanya. Sekarang orang yang Dia sayangi seperti kakaknya itu tengah berjuang melawan maut. Jika David tidak selamat apa yang akan terjadi padanya??
Tetapi, Leon yakin, David adalah Pria yang kuat. Dia pasti akan baik-baik saja, tanpa sengaja ekor matanya melihat Lily yang juga tengah tertunduk dengan pandangan yang kosong, namun dljelas bibir kecil wanita itu seperti sedang merapalkan sesuatu, apakah do'a?
"Tuan pasti akan baik-baik saja Nyonya"
Lily tersenyum simpul mendengar ucapan Leon, dengan lemah dia menoleh dan mengangguk pelan.
"Ya, Insya Allah David akan baik-baik saja"
sahut Lily seraya memaksakan senyumnya.
Disaat yang bersamaan lampu ruang operasi padam.
Ceklek
Blam
pintu terbuka disusul dengan Dokter yang keluar dari ruang operasi.
Lily dan Leon dengan cepat menghampiri Dokter dengan name tag Cheng Yu Fei itu.
"Dokter bagaimana keadaan Tuan David?"
"Kami sudah berusaha semaksimal mungkin Tuan, Namun dengan menyesal saya sampaikan, bahwa tuan Emiliano saat ini dalam keadaan Vegetatif luka tembaknya sangat dalam hingga menembus tulang rusuk dan mengenai organ vital Tuan Davidson"
Lily memejamkan matanya, dua bulir bening mengalir deras dari matanya.
'Ya Allah, David koma?'
Sementara Leon terduduk lesu di kursi tunggu bercat putih, kedua tangannya terkepal dan di tempelkan di keningnya. Leon tampak sangat frustasi.
Tuannya koma, dan jika tidak salah, kondisi vegetatif seperti itu tidak bisa diperkirakan batas waktunya. bahkan sepengetahuannya seorang bisa dalam keadaan itu selama bertahun-tahun, Ya Tuhan.
Tak lama kemudian David didorong keluar dari ruang operasi menuju ruangan ICU,
Tubuhnya dipasang berbagai peralatan membuat siapapun yang melihatnya pasti merasa sangat kasihan bahkan ikut merasakan sakit.
"David..."
Lily meraih jemari pria itu dan terisak dalam. Bayang-bayang David menyelamatkan nyawanya dari serangan Martin terus berputar di kepalanya. Lily dan Leon kemudian mengikuti para perawat yang mendorong ranjang pasien David menuju ruang ICU VVIP rumah sakit itu.
Dari balik kaca Lily melihat para perawat itu membantu memasangkan alat bantu pernafasan yang besar seperti selang, beberapa alat di pasang di bagian dadanya yang terbungkus perban putih.
Tak lama kemudian perawat yang sudah sedikit berumur itu keluar dari ruangan dan menghampiri Lily.
"Pasien hanya boleh di temani oleh 1 orang, dan mohon tidak boleh membuat kebisingan agar kondisi pasien tetap stabil, tapi sangat di perbolehkan untuk mengajak berkomunikasi agar bisa memacu respon dari pasien"
Lily tersenyum kemudian mengangguk paham. Perawat itupun pamit undur diri. tinggallah Lily dan Leon disana.
"Leon, Biar Aku yang menjaga David, Kamu bantulah David menangani semua urusan perusahaan sampai Dia siuman nanti"
"Tapi Nyonya, Anda mungkin akan sangat lelah"
"Tidak apa, kita sama-sama lelah bukan? Aku tahu mengurus perusahaan tidak mudah, dan pasti hanya Kamu yang dipercaya oleh David"
Leon mengatupkan bibirnya membentuk lengkungan ke bawah seraya mengangguk-anggukkan kepalanya. Lily benar, David koma dan Dia juga tidak mungkin membiarkan perusahaan terbengkalai, David telah membangun usahanya dengan penuh kegigihan dan kerja keras, Leon akan mengambil alih urusan Perusahaan sampai bosnya itu sadar. Dia yakin David adak segera sadar.
"Baik Nyonya, Saya akan meminta seseorang untuk mengantar pakaian ganti untuk anda dan mengurus semua berkas anda agar bisa tinggal lebih lama disini"
"Terima kasih Leon, aku juga akan menghubungi keluargaku agar tidak khawatir karena tinggal disini lebih lama"
"Baiklah Nyonya"
"Pulanglah Leon, Aku yang akan bermalam disini"
"Tapi Nyonya"
"Tak apa, bukankah Kamu harus mulai mewakili David besok?"
Lagi-lagi Leon hanya bisa mengangguk.
"Oh ya, Kamu bisa meminta bantuan Aston atas namaku jika Kamu membutuhkannya"
"Tidak Nyonya, Saya yakin bisa mengatasinya sendiri"
"Baiklah, Selamat beristirahat, Aku masuk dulu"
"Ya Nyonya, selamat malam"
Lily mengangguk kemudian masuk ke dalam ruangan David, menemui Pria yang tengah berjuang melawan maut untuknya. 🥲
Bersambung
Promosi.... Next Novel Aku... masih on progres mudah-mudahan Senin depan sudah bisa.mukai di upload hehe
Judulnya: Azizah, Istri Rasa Simpanan ❤️🙏🙏