
"Daddy"
Suara Alice disertai isakan kecilnya mencuri atensi David yang kini beradu pandang dengan Martin.
"Sweetie!" Seru David menatap Alice dengan mata memerah.
Alice dibawa dalam keadaan terikat, wajahnya pucat dan penampilannya berantakan, serta lemah.
Sepertinya bedebah Martin tidak memberi anak itu makan ataupun minum. Benar-benar bajingan.
David mengepalkan tangannya erat, dengan kuat pria itu menghantamkan kepalanya ke arah dua orang anak buah Martin yang mencekal tangannya dari belakang.
Bukkk
Arrrghhh!!!
David kemudian melayangkan tinjunya kepada dua orang itu secara bergantian hingga keduanya tumbang tanpa bisa melawan.
Anak buah Martin yang lain pun maju menyerang dari berbagai penjuru arah. David tersenyum remeh kepada orang-orang yang berlari kearahnya,
Dengan gagah Pria itu melawan mereka meski sebenarnya Ia sedang menahan sakit atas luka di kakinya. Obat penahan brasa sakit itu hanya bekerja saat dalam keadaan pasif, jika bergerak apalagi dengan kecepatan tinggi maka rasa sakitnya pasti akan muncul.
Plak
Buk
Buk
Buk
Gubrakk
Dua orang melayang bebas dan mengenai tumpukan kayu yaang teronggok disana,
Srakkk, Buk buk buk ,kretekkkk
Aaaaarrggggggh!!!
Satu orang menjerit kesakitan saat tulang lengannya di paatahkan oleh pria bernetra biru yang sedang kesetanan itu.
Sementara Martin seperti bandar togel yang hanya duduk bersilah seraya menonton adegan baku hantam di hadapannya seperti sedang menonton film Tom and Jerry. Jangan bayangkan wajahnya yang sangat menjengkelkan.
Gubrakkk.... anak buah Martin yang tersisa terjerembab dengan tragis dan menghantam kursi kosong disana.
Tiba-tiba..
Brakkkk!!!
"Daddy!!!!"
Seru Alice saat David mendapatkan pukulan dari belakang oleh anak buah Martin yang tiba-tiba muncul, David tersungkur dengan erangan tertahan, Dari kakinya mengalir darah segar. sepertinya luka jahitan itu kembali terbuka karena Pria itu bertarung terlalu keras.
"Oouhh keponakan, Maafkan anak buahku, apa rasanya sakit???"
David hendak berdiri dan menghajar Martin namun Martin bergerak lebih cepat dan,
Dekkkk!!! Martin menginjak kaki pria itu tepat di tengah-tengah lukanya.
"Eerrrghhh!!!" David mengetatkan rahangnya kuat-kuat merasakan sensasi nyeri yang hebat di bagian kakinya.
"Sudah cukup, Waktunya sudah habis! Aku sudah berbaik hati membiarkanmu beratraksi dihadapanku, sekarang giliranku" Ucap Martin tersenyum lebar sementara kakinya tetap menginjak luka David bahkan semakin keras. Pria gila itu sepertinya tahu jika David tengah terluka.
"Hehe. Hehe. Jangan senang dulu Martinez Guardiola Crambhell, Permainan ini masih panjang, Uhukkk" Ucap David dengan seringai devilnya.
Dan tiba-tiba...
Syuuuuung!!! jlepp!!!
Arrrghhh!!!! satu anak buah Martin tiba-tiba jatuh tersungkur.
Syung...
gedebug
gedebug
gedebug
menyusul tiga orang lainnya tumbang dengan mengenaskan, dara segar mengalir dari tubuh mereka, membuat genangan seperti anak sungai.
Anak-anak buah Martin yang lain tiba-tiba merasa ketakutan, mereka celingukan kesana kemari mencari siapa yang melayangkan tembakan tanpa suara itu, namun ruangan itu seperti kosong!
David dengan cepat membalikkan badannya dan menendang burung perkutut Martin, membuat laki-laki itu mengerang keras, namun dengan cepat Martin menodongkan senjata apinya ke arah David yang ternyata juga menodongkan pistol kearahnya.
"Kau! beraninya kau menipuku bajingan!!!"
"Aku tidak menipumu, bukankah Aku datang kesini sendirian? mereka hanya menyusulku Martin"
"Fvck!!! Bajingan!!! Kau akan menyesalinya, bawa Alicia!"
"Coba saja jika Kau bisa membawanya barang sejengkal pun Martin"
Ucap David dengan senyum manis menghiasi bibirnya. Dan benar saja, dengan cepat orang-orang David muncul di belakang anak buah Martin seperti kilat. Masing-masing mengarahkan pistol mereka ke arah kepala anak buah Martin, membuat musuh David itu seketika menelan ludahnya dengan kasar.
David berjalan dengan tertatih namun wajahnya begitu mengerikan, kemarahan yang tak tersalurkan selama 5 tahun akibat kejahatan iblis dihadapannya itu membuat David seperti tidak sabar untuk menghabisi Martin. Menghabisi pria yang menyebabkan Dia kehilangan Lily dan calon bayinya!
"Jangan macam-macam Davidson, Alice masih ada di tangan anak buahku"
"Lakukan, lakukan apa yang Kau mau jika kau bisa brengsek!"
"Hei Kau, kenapa diam saja! cepat lakukan sesuatu pada gadis itu! beritahu Tuan Davidson ini bahwa kita tidak main-main. hehe hehe hehehehe"
Pria itu mengangguk dan hendak melaksanakan perintah Martin tapi tangannya yang hampir mengarahkan pistol ke kening Alice tiba-tiba berhenti.
"Lakukanlah, jika ingin isi kepalamu berhamburan keluar" Bisik seseorang yang tak lain adalah Leon!!
Pria itupun mendadak pucat pasi. Dia melihat ke sekelilingnya. Gila! anak buah David berjumlah tidak kurang dari 50 orang, sementara anak buah Martin hanya sisa separuhnya. Sudah jelas mereka kalah telak. Apalagi dilihat dari pakaian orang-orang David. jelas senjata mereka tak akan mampu melukai orang-orang itu. Mereka menggunakan jas anti peluru. Semuanya!
"Turunkan semua senjata kalian atau kami akan meledakkan kepala kalian semua. Cepat!!!"
Anak buah Martin pun dengan ragu menurunkan senjata api ditangan mereka.
"Kurang Ajar!" Martin mengumpat dengan penuh amarah.
"Cepat bereskan Dia"
David memberi kode pada anak buahnya untuk mencekal Martin. begitu juga anak buah Martin yang tersisa, semuanya sudah diamankan.
"Dadd!!!!"
Alice menghambur ke arah David, memeluknya.
"Sweetie!! Oh My... Syukurlah kamu baik-baik saja"
Alice dan David saling berpelukan, Syukurlah semua berjalan dengan lancar, Alice dan dirinya bisa selamat.
"Dad"
"Hmn?"
"Granny juga diikat oleh kakek jahat itu Dad"
"Granny?"
"Yah Dad"
David tersenyum masam, rupanya dua orang itu masih bekerja sama. batinnya.
"Selamatkan Granny Dad"
"Yah, tentu sweetie, orang-orang Daddy akan menolongnya"
"Thanks Daddy hiks hiks" Alice kembali terisak. perasaannya sangat lega telah terbebas dari pria jahat itu.
"Alice!!!!!"
Seru seseorang dengan nafas tersengal, dan berlari ke arah Alice!
"Mommy????"
"Lily?"
David terkejut melihat istrinya tiba-tiba ada di sana, darimana dia tahu? Pria itu kemudian melayangkan tatapan mematikan ke arah Leon.
Leon yang merasakan bahaya Siantar mengangkat dua jarinya membentuk "piss" tanda sumpah bahwa dia tidak memberitahu Lily.
"Alice, sayangku!!! apa kamu baik-baik saja sayang? hmn?
"Ya Mom, syukurlah Aku baik-baik saja"
"Alhamdulillah Ya Allah"
"Penjahat itu yang memberitahu Mommy, Dad"
Ucap Alice yang seakan tahu kebingungan Daddy-nya.
"Iya David, Orang itu memberitahuku bahwa Alice diculik olehnya"
Sambung Lily yang kemudian mendapat anggukan dari David.
"Sayang sekali Aku terlambat, padahal Aku berniat menjadi pahlawan hari ini"
"El..." Desis Lily memperingatkan.
"Ups, Sorry Sweetheart"
Ucap Aston dengan wajah pura-pura menyesal seraya melirik David yang memutar bola matanya jengah.
"Ayo, sebaiknya kita pergi dari sini secepatnya" Ajak David pada semuanya.
Martin yang merasa anak buah David tengah lengah kemudian memukul orang itu dan merampas pistolnya.
"Heeiiiii Davidson! Kau pikir bisa pergi begitu saja hah???"
Deg!
semua orang yang ada disana tiba-tiba menahan nafas. Melihat Martin hendak menarik pelatuk pistol nya ke arah David.
"Aku tidak akan membiarkanmu Lolos! Kau harus mati ditanganku brengsek!"
kreetttteeekkkk
Pelatuk itu ditarik dengan perlahan, wajah Martin yang menyebalkan kini menyeringai lebar. Sementara David tampak biasa saja, berbeda dengan orang-orang di sekitarnya yang terlihat sangat tegang, terutama Leon dan Lily, Alice jangan ditanya lagi, gadis itu terisak seraya memeluk pinggang Daddy-nya dengan sangat erat.
'Aku akan mati bersama Daddy, itu lebih baik daripada Aku tidak punya siapa-siapa lagi'
Batin Alice bertekad.
cetek, syuuuuung....
"Daviiiid"
Dorrrrrrr!!!
"Emmhhh"
"Granny!!!!!!"
"Char-charlotte?? ke-kenapa??
Martin menjatuhkan pistolnya. Tidak. Tidak. Dia telah menembak Charlotte. Tidak!
"Mom!!!!!"
David berlari ke arah wanita yang pernah menjadi ibu yang sangat dihormatinya itu. Tubuh Charlotte limbung ke belakang namun David dengan cepat mendekapnya, darah mengalir dari perutnya.
"M-mom??"
"Te-terima kasih Dave"
"Tidak! apa yang Mom lakukan"
"Ak-aku ingin me-mene-bushh dosaku padamu, nak"
"Tidak Mom, Aku yang bersalah padamu!!"
"Maaf... maafkan ibumu ini D-dave?"
Pluk, mata Charlotte mulai terpejam, tangannya jatuh terkulai.
"Mom, Mommy!!!
"Granny!!!
Bersambung