
Dominic menatap sendu wanita yang telah memberinya seorang putri itu. Sarah, istrinya.
"Kau masih mencintainya? Apa selama ini pengorbananku sama sekali tidak berarti bagimu, Sarah?" Dominic berkata dengan matanya yang berkaca-kaca. Cinta membuatnya menjadi lelaki yang cengeng. Tapi ia tidak perduli asal Sarah bisa membalas perasaannya. Cintanya yang tulus.
"Kau sangat baik Dom, Akulah yang tidak tahu diri" Balas Sarah yang sungguh menyesali perasaannya yang bodoh. Dia mendapatkan suami yang baik dan mencinainya begitu besar. Namun egonya.yang tidak tahu malu masih saja menyimpan nama laki-laki lain dihatinya, laki-laki yang kini menjadi adik iparnya, David.
"Katakan padaku, Apa yang harus aku lakukan agar kau Melupakan Dave dan mencintaiku, Sarah, katakan. Aku pasti akan melakukannya" Pinta Dominic memelas. Ia meraih jemari lembut istrinya, menggenggamnya erat seolah ingin menyalurkan seluruh perasaannya agar bisa menyentuh hati Sarah walau sedikit saja.
"Tidak, Dom. Mulai hari ini Aku berjanji. Aku akan belajar mencintaimu seperti kamu mencintaiku, beri aku sedikit waktu lagi Dom" Ucap Sarah dengan tatapan yang menggambarkan kesungguhannya.
"Aku akan memberikan waktu selama apapun itu, seumur hidupku sekalipun, asal kau tetap bersamaku Sarah. Aku sangat mencintaimu" Dominic meraih tubuh istrinya kedalam dekapannya.
"Terima kasih, Dom" Balas sarah.
Begitulah awal Kehidupan baru Sarah dan Dominic, Mereka memutuskan untuk pindah ke Seattle, Washington DC. Meninggalkan mansion utama keluarganya di New York City, untuk menjalani rumah tangga yang damai. membuang kenangan masa lalu dan menjauhi polemik perebutan kekuasaan perusahaan Crambhell.
Namun keputusan suami-istri itu ternyata membuat murka seseorang yang tak lain adalah Charlotte Crambhell, Ibunda dari Dominic.
Mimpinya, harapannya agar putra sulungnya itu menjadi pemimpin dan pewaris Kerajaan bisnis Crambhell hancur karena keputusan bodoh putranya sendiri.
Cinta? cuih!! menjijikan. Apa Dominic pikir bisa hidup sejahtera hanya dengan cinta? Omong kosong.
Dominic tidak tahu, sudah banyak hal yang ibunya lakukan untuk membuatnya menjadi seorang pemimpin. Termasuk meracuni suaminya sendiri, Arthur Crambhell. Hingga laki-laki itu kini hanya terbaring lemah tanpa bisa melakukan apapun, seperti mayat hidup.
Tapi lihat sekarang, Putranya sendiri yang menghancurkan semua jerih payahnya.
"Aku harus menemui wanita itu dan membujuknya agar Dominic mau kembali ke New York" Desis Nyonya Charlotte dengan kilatan amarah di matanya.
Dengan segala usaha keras dan keahliannya dalam bersenam lidah, Nyonya Charlotte akhirnya mampu membuat Dominic dan Sarah setuju untuk kembali ke Mansion Utama. dan lagi Ayah mereka sakit keras, sedangkan David memilih membangun bisnisnya sendiri dan meninggalkan Amerika Serikat. Jadi, tidak ada pilihan lain bagi Dominic selain kembali ke New York.
Malam itu, Sarah baru saja kembali dari pertemuannya bersama Marry. Yah, Sarah merasa tidak perlu memendam sakit hati terlalu lama, Apa yang terjadi antara dirinya, Marry dan David adalah masa lalu. Sarah adalah wanita yang bijaksana, Dia berfikir, Dia dan David memang tidak ditakdirkan untuk bersama. Jadi, dia menerima ajakan Marry untuk bertemu dan saling memaafkan.
Saat dirinya melewati ruang tamu, Sara mendengar suara keributan di ruang kerja Ayah mertuanya, Arthur Crambhell. Sebenarnya, Sarah bukan tipe orang yang 'kepo' dengan urusan orang lain, tapi entah kenapa seperti diluar kendali, kakinya melangkah begitu saja ke arah ruang tersebut yang ternyata tidak tertutup rapat. sehingga menyisakan sedikit celah untuk mengintip.
Sedikit wajar, karena malam sudah menunjukkan pukul 11.30, sehingga suasana mansion sudah sepi, para maid sudah kembali ke paviliunnya masing-masing. hanya tersisa penjaga yang bertugas malam di pintu gerbang dan pintu utama Mansion.
Dan betapa terkejutnya Sarah, saat melihat siapa yang ada didalam ruangan itu. hingga secara spontan Sarah membekap mulutnya sendiri agar tidak bersuara.
"Mommy Charlotte dan.... Paman Martinez? Mereka sedang bercumbu panas.
Sarah merasa tulang kakinya menjadi agar-agar hingga rasanya ingin terjatuh, Jantungnya seakan merosot ke tanah. Bagaimana mungkin Mertuanya bisa berbuat curang dengan.... Adik iparnya sendiri?
"Mereka berselingkuh?" suara sarah tersangkut di tenggorokan. Rasa terkejut luar biasa membuatnya sesak nafas.
Setelah adegan panas itu kedua, kedua manusia yang urat malunya seperti sudah hangus itu saling berbincang.
Karena penasaran, Sarah tidak mau beranjak dari sana, apalagi saat ia mendengar nama David di sebut. Ia yakin akan mendengar sesuatu yang penting.
"Syukurlah anak haram itu tidak lagi mau mengurus perusahaan Ayahnya..jadi kita tidak punya lagi penghalang untuk menjadikan Dominic Pewaris tunggal bisnis Crambhell"
"Apa maksudmu?" Nyonya Charlotte masih tidak memahami maksud dari adik ipar sekaligus partner ranjangnya itu. Arthur sudah lumpuh, Dia bahkan tidak bisa bicara, bagaimana mungkin mampu mencampuri urusan perusahaan?
"Aku pernah mendengar pengacara Robert sedang mengurus hak pengalihan saham sebesar 60% atas nama bocah itu, tapi anehnya di Perusahaan sama sekali tidak ada desas-desus tentang hal itu. Jadi, bisa di pastikan Arthur sudah mengatur sedemikian rupa agar tidak di ketahui olehmu. Sayang, dia pebisnis yang yang cerdas, tidak sebodoh yang kau kira"
"Bajingan. Apa maksudmu Aku sudah kecolongan?" Tanya Nyonya Charlotte dengan tatapan nyalang.
"Aku sedang menyelidikinya, tapi kalau kita hanya bergantung pada penyelidikan ini, Kita akan membuang banyak waktu secara percuma" Ucap Martin tenang di sertai senyum liciknya.
"Lalu, apa rencanamu"
"Menyingkirkan satu-satunya penghalang itu"
"Kau ingin membunuhnya?" Tanya Charlotte memastikan.
"Dikatakan membunuh, kalau kita yang turun tangan langsung untuk menghabisinya, tapi kalau dia yang menjatuhkan diri ke jurang, bukankah itu namanya kecelakaan? Senyum Pria yang tak muda itu merekah seperti bunga bangkai.
"Kau benar-benar cerdas"
"Itu karenamu sayang" Lelaki itupun kembali menyambar bibir Charlotte dengan menggebu.
Prangggg!!!!
Suara benda jatuh mengejutkan dua manusia lucknut itu. Kemudian Martin segera berlari menuju pintu. Tapi, Tak ada seorangpun disana.
"Ada siapa? apa ada yang mendengar pembicaraan kita? tanya Charlotte dengan panik.
"Kita periksa CCTV" Ucap Martin dengan tatapan membunuhnya.
Mereka berdua pun segera bergegas menuju Ruang CCTV. Martin yakin ada orang yang mendengar percakapan keduanya. dan itu sangat membahayakan!
"Keluar!" ucap Martin kepada security yang bertugas menjaga ruang kamera pengawas itu"
Namun, Security yang merasa bahwa Martin bukanlah tuannya hanya diam tak bergerak sedikitpun.
"Apa kau tuli? Keluar! atau aku akan mengatakan pada Arthur bahwa kalian melawanku" Kini suara Charlotte yang menggelar seperti petir menyambar itu membuat Security seketika menyingkir dari sana.
"Tidak berguna" umpat Charlotte dengan kesal.
Martin dengan segera mencari rekaman kamera pengawas di bagian ruang tamu. memutar ulang dengan cepat dan....
"Sarah?" Laki-laki itu tersenyum remeh kemudian mengalihkan pandangannya ke arah Charlotte.
"Kau tahu apa yang harus kau lakukan, sayang" Bisik Charlotte penuh arti.
"Tentu, dengan senang hati" Jawab pria Licik itu dengan bahagia.