
Seorang Pria berkacamata hitam dengan senyum yang terus merekah di bibirnya tampak sangat bahagia menikmati perjalanannya saat ini.
Menumpangi mobil mewah Porsche 911 turbo dengan kecepatan yang fantastis tentu membuat pria tua yang sayangnya masih tampan itu semakin berbinar-binar.
Yah, bagaimanapun dia adalah adik dari salah satu konglomerat di Amerika Serikat, dan keponakannya masuk dalam 20 besar Crazy Rich Asians dengan kekayaan jutaan Dolar yang mungkin tak akan habis hingga 7 turunan.
Senyuman pria itu semakin mengembang kala membayangkan bahwa semua kekayaan itu akan jatuh ke tangannya, baik itu harta kakaknya yang sudah terkubur di tanah ataupun keponakannya, David. Dua-duanya. Yah! Martin akan menguasai dua-duanya.
Karena sebentar lagi dia akan menyingkirkan David secepatnya dengan mudah seperti dia juga menyingkirkan kakak satu-satunya, Arthur Crambhell.
Martinez Guardiola Crambhell, sudah menginjakkan kaki di Negeri Beton, Hongkong.
Apalagi, kalau bukan untuk membantu kakak iparnya sekaligus wanitanya, Charlotte Crambhell yang sangat tergila-gila padanya itu.
"Hei Kau, Siapa namamu?"
Tanya Martin kepada sopir yang menjemputnya.
"Franky tuan" Jawab Sopir itu singkat.
"Kau sudah tahu arah tujuan kita kan? Nyonya Charlotte sudah memberitahumu bukan?"
"Ya, Tuan"
Jawab supir itu yang lagi-lagi sangat singkat.
"Apa kau menelan batu sampai kau kesulitan bicara? Hmn?"
Sungut Martin sebal karena sopir di depannya itu sangat tidak sopan. Apa sopir itu tidak tahu siapa yang ada di belakangnya kini? Menyebalkan!
"Maaf Tuan, saya hanya..."
"Aahh, sudahlah! Jangan banyak bicara. Mengemudi saja yang benar!"
Potong Martin cepat, Ia sama sekali tidak ingin mendengar sopir itu bicara lagi.
Pria itupun kembali menikmati pemandangan di luar jendela kaca mobil, melanjutkan perjalanannya.
#
David tengah duduk bersandar di sebuah kursi kayu dengan kaki saling bertumpu diatas meja kecil yang ada di sana.
Seringai mengerikan menghiasi wajah tampan yang saat ini sedang memainkan pelatuk pistol yang ada ditangannya.
"Martin, Martin, Martin... Ck! Entah apa yang ada di otakmu itu. Kau fikir aku ini idiot? Selama ini Aku membiarkanmu, tapi jangan harap Aku akan melepaskanmu kali ini"
"Tuan Dave, target sedang dalam perjalanan kemari"
Ucap Leon tenang..
"Hmn, siapkan dirimu Leon, hari ini akan menjadi hari yang panjang"
"Tentu Tuan, saya siap 1000%"
Kedua pria itu saling tatap kemudian saling melempar senyum penuh arti.
Sementara target yang dimaksud, yaitu Martin mulai mengernyit bingung di dalam mobil. Kenapa saat ini ia hanya melewati area perhutanan? Bukankah Hotel tempatnya singgah nanti ada di tengah kota?
"Hei Kau! Sebenarnya kita mau pergi kemana? Kau tahu jalan ke hotelnya tidak?"
Martin berkata dengan marah hingga wajahnya memerah.
"Sebentar lagi kita sampai Tuan"
Jawab sang supir dengan tenang.
"Awas saja jika Kamu membohongi ku"
Sang Sopir tak menjawab kali ini, Dia tegap melakukan mobilnya dengan kecepatan tinggi menuju tempat yang sudah diperintahkan oleh Tuannya, Leon.
Beberapa menit kemudian mobil berhenti di depan sebuah bangunan kuno, nampak tua dan rapuh. Martin keluar dari dalam mobil dengan amarah yang membumbung tinggi.
Tanpa pikir panjang, dia meraih senjata api yang ia simpan dengan rapi, dibalik kemejanya. Menodongkannya ke arah Sopir tersebut.
"Keluar Kau! Berani-beraninya Kau mempermainkan Aku, bajingan!"
Namun diluar dugaan, Sang sopir sama sekali tidak terlihat takut, Dia dengan tenang menuka pintu mobil dan keluar seraya mengangkat tangannya ke atas.
"Hehehehe, mau bermain denganku, brengsek? Kau tidak tahu siapa Aku? Hm? Sekarang katakan! Siapa yang menyuruhmu melakukan ini? Apa kau perampok??"
Sang sopir bukannya menjawab, Ia malah memberikan senyum remeh pada pria paruh baya dihadapannya.
"Jangan bermain-main, atau Aku akan memecahkan kepalamu yang kosong ini!
Hardik Martin penuh emosi dan mulai menarik pelan pelatuk pistolnya.
Tiba-tiba...
Tuk!!!
Martin merasakan sesuatu. Bukan.Bukan hanya satu melainkan dua benda menempel di kepalanya.
Dan...
Bukkkk, sesuatu yang keras menghantam tubuhnya dan semuanya..... Gelap.
"Angkat Dia dan bawa ke hadapan Boss besar!"
Kedua bodyguard yang tinggi besar itu mengangguk, kemudian menyeret tubu Martin yang kini pingsan masuk ke sebuah ruangan.
"Selamat datang pamanku tersayang, huuuft Kau pasti terkejut. Ini adalah sambutan spesial dariku, yang tidak akan pernah kau lupakan... Seumur hidupmu!
Desis David dengan tatapan mengerikan,. seperti serigala buas yang siap melahap mangsanya.
#
Charlotte berdiri dengan gelisah di pintu utama Bandara. Sudah 2 jam dia disini tapi Martin, kekasihnya itu sama sekali tidak nampak batang hidungnya. Kemana sebenarnya laki-laki itu??
Berulang kali Charlotte mencoba menghubungi Pria pujaannya itu, tapi nihil. Tidak ada jawaban. Dan itu membuat dirinya semakin frustasi.
Jangan-jangan Dave melakukan sesuatu pada Pria itu. Membayangkannya saja membuat Charlotte ketakutan.
Kalau benar Dave melakukan sesuatu pada Martin dan pria itu buka mulut. Maka tamatlah juga riwayatnya.
"Aku harus mencari tahu"
Gumam Charlotte penuh tekad. Kemudian Ia beranjak pergi meninggalkan bandara karena yakin Martin sudah tidak ada di sana...
#
Martin Mendesah pelan, kepalanya terasa sangat berat dan badannya seakan remuk redam. Ia melihat ke arah samping, merasa aneh. Apa Aku di Rumah sakit? kenapa ada bau obat yang menyengat?
Saat hendak bangun Martin kembali mengerang keras. Merasakan sakit yang luar biasa di area benda pusakanya. Saat belum sepenuhnya menyadari Napa yang sedang terjadi, Terdengar suara langkah kaki berjalan mendekat.
"Dave???" pekik Martin tertahan melihat keponakanku dengan santai duduk di hadapannya, jangan lupakan senyum yang terkembang dari putra kakaknya itu. Bahkan Martin sampai bergidik ngeri.
"Halo Pamanku tersayang, Sepertinya kau sangat menikmati tidurmu"
"Dave... heheheh kau, kau apa yang kau lakukan nak?"
Martin seketika merubah riak wajahnya menjadi seramah mungkin.
"Menyambutmu, apalagi?"
"Dengan cara seperti ini? O come on! ini tidak lucu Dave"
"Apa menurut paman Aku sedang melawak?"
Gleukk... Martin menelan ludahnya dengan keras mendengar jawaban telak dari Dave yang terlihat serius. sangat serius. Tidak ada ekspresi bercanda sedikitpun di wajah tampannya..
"Ehem, Ayolah Dave jangan seperti ini kita bicarakan... Auuuch!!??" pekik Martin saat kembali hendak bangkit dan merasa bagian bawahnya sangat nyeri.
"Apa yang sudah kau lakukan padaku Emiliano?"
Martin menatap nyalang pria muda yang tak lain adalah keponakannya itu, dengan wajah merah padam karena sepertinya sesuatu telah terjadi pada benda pusakanya.
"Melumpuhkan apa yang seharusnya dilumpuhkan"
"Apa maksudmu!!!!" Teriak Martin frustasi.
"Itu adalah hukuman yang pantas untuk pria cabul sepertimu agar segera bertaubat"
Yah, David baru saja melakukan operasi untuk membuat kejantanan Martin lumpuh. Dengan bantuan Dokter kepercayaannya, David membuat pamannya menjadi... Impoten!
"Apa???? David!!! jangan main-main denganku seperti ini!"
"Ini belum seberapa dibandingkan yang sudah kau lakukan pada Ayahku. Martinez Crambhell, Kau fikir aku tidak tahu bahwa kau yang meracuninya"
Desis David dengan tatapan yang tak kalah tajam dari pamannya itu.
"Kau akan menyesali ini David. Sangat menyesal!!"
Hardik Martin dengan wajah merah padam.
"Justru Aku menyesali karena baru membalaskan dendam ayahku saat ini. Dan ini juga peringatan untukmu. Jauhi Ibuku!!"
Martin baru saja akan mengumpatnya habis-habisan tapi segera diurungkan. Karena sepertinya David sama sekali tidak mengetahui keterlibatan Charlotte dalam semua kejahatannya. Bahkan bisa dikatakan, Charlotte adalah dalang dibalik semua kekejamannya di masa lalu.
Jadilah kini Martin hanya menatap keponakannya itu dengan tatapan membunuh. Ingin sekali dia menghajar David saat itu juga tapi rasa sakit yang dirasakannya membuatnya bahkan tidak mampu untuk berdiri.
'Lihat saja kau bajingan kecil, Aku akan menghancurkanmu lebih dari yang Aku lakukan di masa lalu. Tunggulah saatnya kau akan menangis darah Emiliano Davidson!' Batin Martin berteriak murka.
"Nikmatilah hadiah dariku paman, katakan jika kau menginginkan lebih. Aku akan dengan senang hati mengabulkannya"
David tersenyum puas kemudian melangkah ke arah pintu dan menghilang meninggalkan Martin dengan matanya yang memerah.
"Aaaaarrggggggh Aku pasti akan membalasnya David!!!! aku akan menghabisimu!!!!
Martin meraung keras seperti singa yang terluka, kejantanannya, keperkasaannya kini lumpuh!!
Dan Ia berjanji David akan membayar rasa sakit yang dirasakannya ini. Secepatnya!!!