My Hot Boss, I Love You

My Hot Boss, I Love You
Harapan Yang Tipis



Lily yang sedang terlelap disamping David tiba-tiba terkejut merasakan pergerakan di ranjang pasien itu, seketika Lily membuka matanya yang belum sepenuhnya sadar dari alam tidurnya.


Ya Tuhan!!


David mengalami Kejang. tubuh pria itu tegang dan bergetar hebat.


Lily panik hingga tubuhnya mendadak kaku.


Wanita itu ikut gemetaran namun tak lama kemudian kesadarannya segera kembali dan dengan cepat Lily menekan tombol emergency call yang ada di sudut atas ranjang pasien.


Lily berteriak memanggil petugas kesehatan seperti orang kesetanan. Alice yang juga tertidur pun tersentak dan terbangun mendengar teriakan Mommy-nya.


"Mom ada apa??"


Alice bertanya dengan cemas melihat wajah Lily yang panik.


Belum juga terjawab pertanyaannya, tiba-tiba pintu ruangan itu terbuka dan muncullah beberapa Perawat dan Dokter memeriksa keadaan David yang masih sedikit bergetar.


Lily yang shock seketika lemas dan hampir terjatuh, namun dengan cepat Alice memeluk tubuh Mommy-nya yang semakin kurus itu, dan membimbingnya untuk duduk di sofa.


Lily dan Alice terus melihat ke arah dokter yang terlihat sangat serius memeriksa David bahkan beberapa kali Pria berjas putih khas 'Dokter' itu menggeleng pelan. Membuat Lily menahan nafas.


"Ada apa Mom?? Apa yang terjadi pada Daddy?"


Alice ikut menangis melihat wajah Lily yang terus dibasahi air mata. Lily lagi-lagi tak menjawab, Dia hanya memeluk putri sambungnya itu dengan erat, seolah meminta kekuatan pada Alice agar dia bisa terus kuat dengan harapan bahwa David akan sembuh dan kembali pada mereka.


"Nyonya, bisa kita bicara diluar?"


Dokter menatap Lily dengan tatapan sendu dan seperti penuh penyesalan.


Lily mengangguk cepat. Dia tidak mau berfikir macam-macam. Hatinya terus merapalkan do'a bahwa David akan baik-baik saja. Dia yakin itu, Allah akan mendengarkan do'a dan harapannya.


Jika Manusia punya harapan, maka Allah punya kehendak, begitu yang ada dipikiran Lily.


"Sayang, Kamu tunggu disini ya, Mommy akan berbicara dengan pak dokter terlebih dahulu"


Alice mengangguk paham kemudian membiarkan Lily berjalan mengikuti Dokter yang sudah terlebih dulu keluar dari ruangan itu.


Sesampainya di luar ruangan, Lily sedikit gugup dan tegang melihat Dokter sepertinya akan mengatakan sesuatu yang tidak baik.


Disaat yang bersamaan, Marry dan James datang dan melihat Lily sedang bersama dengan Dokter spesialis yang menangani kesehatan David selama di rawat di rumah sakit ini.


"Lily"


panggil James dan Lily serempak.


"Marry, James" Marry mempercepat langkahnya kemudian tiba-tiba Lily menghambur kepelukan wanita itu.


"Hei... Ada apa?"


"David...."


Ucap Lily dengan suara yang tercekat karena menangis.


"Tenanglah, katakan apa yang terjadi?"


"Barusan, David mengalami Kejang Marry.. huuuuuhuuu" Lily lepas kendali hingga tangisannya semakin keras dan tersedu-sedu, bahkan nafasnya sampai tersengal-sengal.


"Maaf Nyonya, sebaiknya kita bicara di ruangan Saya, mari..."


Marry pun mengangguk kemudian memberi kode pada James agar tetap di ruangan ini untuk menemani Alicia. Biarlah Dia dan Lily saja.yang mendengar penjelasan Dokter.


James pun mengangguk menyetujui.


Marry dan Lily pun mengikuti Dokter yang bernama Cheng Yu Fei itu ke ruang kerjanya.


"Silahkan Duduk"


Dokter Cheng mempersilahkan kedua wanita itu untuk duduk melalui isyarat tangannya.


"Terima kasih"


"Begini Nyonya, dengan sangat menyesal saya mengatakan bahwa kondisi tuan Emiliano semakin menurun"


Marry seketika melebarkan kedua matanya karena terkejut, sementara Lily semakin terisak dan tertunduk dalam.


"Kejang yang dialami Tuan Emiliano merupakan efek dari komplikasi koma yang dialaminya, saya mendiagnosis bahwa beliau kemungkinan mengalami Deep Vein Thrombosis karena terlalu lama berbaring sehingga menyebabkan penggumpalan darah pada Vena besar yang akhirnya menyumbat paru-paru. Itu sebabnya Tuan Emiliano mengalami Kejang karena kesulitan bernafas"


Wajah Marry tampak pucat, secara naluriah dia merangkul Lily yang terus-menerus menangis.


dengan bibir bergetar Marry memberanikan diri untuk bertanya,


"Lalu apa yang harus dilakukan supaya David bisa selamat Dok?"


Dokter Cheng Tampak menghela nafas berat, Pria yang sebagian rambutnya sudah memutih itu kemudian berkata dengan pelan,


"Saya mohon maaf, Kerusakan pada jaringan vena Tuan Emiliano sudah termasuk parah, Saya sudah memberikan obat trombolitik untuk memecah penggumpalan darah dengan cepat, tapi..."


"Tapi apa Dok?"


Kali ini Lily yang bertanya, Dia tidak ingin mendengar kemungkinan yang lebih buruk lagi, tapi mau tidak mau dia harus siap.


"Saat ini kondisi kesadaran Tuan Emiliano berada di titik terendah, mengingat beliau sudah mengalami koma lebih dari 3 bulan maka dengan berat hati Saya mengatakan, kemungkinan beliau untuk kembali sadar sangat kecil"


"Tidak, Dokter, Saya mohon jangan berkata seperti itu, David pasti akan sembuh, Saya yakin dia akan kembali sadar Dok"


Dokter melihat Lily yang menangis perih dengan tatapan penuh penyesalan. Dia adalah seorang Dokter, keselamatan pasien tentu menjadi tanggung jawab yang besar saat Dia berusaha untuk mengobatinya. Tidak ada satupun dokter di dunia ini ingin melihat pasiennya berakhir dengan kehilangan hidupnya.


"Saya sangat menyesal Nyonya, tapi saya harus mengatakannya dengan jujur, Jika.... dalam waktu 24 jam respon tuan David terhadap pengobatan semakin menurun maka, dengan sangat menyesal saya sarankan untuk melepaskan semua alat bantu pada tubuhnya, dalam artian Anda juga harus merelakan beliau..."


"Tidak....!"


Lily berdiri dengan marah,


"Tidak akan ada yang dilepas dan tidak ada yang perlu di relakan! Davidku akan sembuh, Dia pasti akan sadar kembali Dokter"


Lily kemudian melangkah pergi meninggalkan Dokter yang menunduk dalam dan Marry yang kini juga menangis. David adalah sahabatnya, mereka sudah bersama-sama semenjak duduk di bangku menengah pertama, setelah semua kejadian yang mereka alami, kini persahabatan mereka telah kembali harmonis.


Tapi kenapa lagi-lagi Tuhan memberi cobaan yang berat pada David?


Jika Martin tewas itu sungguh adalah balasan yang setimpal dengan semua kejahatannya. Tapi David? Pria itu sangat baik bahkan bertanggung jawab terhadap seorang anak yatim-piatu yang hanyalah keponakannya.


Jika Dia pria yang egois dan jahat tentu saja Dia tidak akan mengurus dan menyayangi Alicia dengan sangat besar.


Marry kemudian pamit kepada dokter Cheng dan mengejar Lily.


Wanita itu tengah menangis seraya menumpukan tubuhnya pada dinding rumah sakit. Meski dari jauh Marry bisa melihat tubuh wanita itu yang bergetar hebat. Dia pasti terluka lebih dari siapapun. 5 tahun lalu dia kehilangan David karena ulah Charlotte. Sekarang Dia juga hampir kehilangan David karena Martin.


Marry tidak bisa membayangkan jika itu adalah Dia, Marry pasti tidak akan sanggup menerima semua cobaan itu.


"Lily...."


Marry menyentuh punggung ringkih itu kemudian dengan lembut membalikkan tubuhnya menghadap ke dirinya.


"David akan baik-baik saja, Dia akan segera sadar, percayalah"


Lily semakin menangis, Marry dengan cepat menarik Tubuh Lily ke dalam pelukannya.


Lily merasa apa yang dikatakan oleh Marry seperti harapan palsu, pada kenyataannya dokter itu menyerah bukan?


'Tidak... Ya Rabb, tolong beri kesempatan David untuk kembali sadar'


lagi dan lagi Lily berdoa dalam hati, mengucapkan doa yang sama seperti yang Ia panjatkan disetiap sholat malamnya.


Lily tahu bahwa kematian itu pasti akan menghampiri setiap manusia yang bernyawa, tapi sungguh Dia belum mampu untuk kehilangan David.


Lily merasakan pandangannya mulai berkabut, bayangan David terbaring dengan lemah terus berputar di pikirannya, sampai tiba-tiba dunianya menggelap.


"Lily!!!" Marry terpekik merasakan tubuh Lily yang tiba-tiba merosot kebawah. Lily pingsan!


Bersambung