My Hot Boss, I Love You

My Hot Boss, I Love You
Ternyata Kau Lebih Murahan Darinya



Lily tidak bisa berdiam diri begitu saja saat rumah tangganya kini terancam.


"Aku harus menemui David, Yah Aku harus menjelaskan semuanya"


Lily yang masih terluka karena pecahan beling di kakinya tetap memaksakan diri untuk datang ke kantor David. Wanita yang tengah hamil 5 bulan itu pun berjalan dengan tertatih-tatih.


Tak apa kakinya yang sakit, asal dia bisa menyelamatkan rumah tangganya dari fitnah Nyonya Charlotte.


#


Max yang menjadi supir pribadi Lily memperhatikan Nyonya muda-nya itu dari kaca spion. Pria itu menatap prihatin saat pria berumur 60 an itu melihat Lily diam-diam menangis, wajahnya yang pucat dan lesu. Dia hamil tapi tubuhnya terlihat sangat kurus.


Max jadi teringat putrinya sendiri.


"Apapun masalahnya Nyonya, percayalah jika Anda di posisi yang benar, Anda pasti akan melewatinya dengan baik. Tuhan tidak akan bersama dengan kebenaran"


Tanpa sadar Max memberikan nasihat sebagai bentuk penghiburan untuk Lily. Lily pun menatap haru pria di hadapannya itu.


Lily kehilangan sosok ayah semenjak masih duduk di bangku Sekolah Dasar. Ibunya lah yang berjuang untuk membesarkan dan menyekolahkan Lily sampai tingkat Sekolah Menengah Atas. Biarpun Dimata masyarakat, lulusan SMA dianggap berpendidikan rendah, tapi Lily sangat bangga bisa menyelesaikannya.


Mendengar Nasihat dari laki-laki paruh baya didepannya itu, Lily langsung teringat dengan Almarhum ayahnya. kemudian dengan tulus berucap :


"Terima kasih paman Max, Aku akan mengingat Nasihat paman"


"Hem hem hem, jangan takut karena dimanapun kita berada, di zaman apapun, Kebenaran akan selalu menang" Pria itu tertawa lirih membuat Lily pun ikut tersenyum.


"Nahh... Kita sudah sampai Nyonya"


Lily menatap dengan cemas gedung yang menjulang tinggi di hadapannya kini. Jantungnya tiba-tiba berdetak dengan cepat.


Tapi, lagi-lagi Lily menguatkan hati dan meyakinkan dirinya bahwa David pasti akan mendengarkannya. Bukankah mereka saling mencintai?


Harusnya rasa saling percaya itu selalu ada kan?


Lily kembali menarik nafas dalam-dalam kemudian menghembuskannya pelan.


"Aku masuk ke dalam dulu paman, doakan Aku"


"Tentu Nyonya" Max tersenyum lembut menyalurkan energi positif kepada Lily.


Lily pun melangkahkan kakinya meski masih tertatih dengan sisa keyakinannya, masuk kedalam kantor suaminya.


#


"Heh, Aku benar-benar tertipu. Kau bahkan lebih murahan darinya, Marry si penghianat itu. setidaknya dia tidak melempar tubuhnya pada laki-laki lain!"


Desis David dengan tatapan penuh kebencian, melihat potret James dan Lily yang terlihat berpelukan mesra.


Wajahnya yang dingin bertambah suram. Pria itu merasa sangat bodoh. Bagaimana mungkin dia bisa tertipu oleh wajah polos Lily yang terlihat lugu itu.


Nyatanya, Lily adalah komplotan Marry. Yang lebih membuatnya marah adalah wanita itu kelihatan akrab dengan James. David tahu betapa brengseknya laki-laki bernama James itu.


setiap hari berganti perempuan. bukan tidak mungkin jika mereka juga tidur bersama bukan??


David mengepalkan tangannya erat. Tidak. tidak mungkin Lily seperti itu. Dia ingat betul bahwa dialah yang pertama kali mengambil keperawanan gadis itu... Tapi foto ini....


"Aaaaarrggggggh!??"


Prang!!!! David menyingkirkan dengan kasar semua benda yang ada di meja kerjanya hingga berserakan di lantai... Nafasnya memburu akibat emosi yang menggebu-gebu.


Tok-tok


"Siapa!!!" Seru David dengan keras.


"Saya Leon, Tuan"


"Masuk!"


Leon yang baru saja masuk mengernyit dahinya, melihat betapa kacaunya ruang kerja bosnya itu, semua berkas berserakan, sepintas Ia juga melihat foto-foto itu teronggok dilantai. Leon pun memejamkan matanya, menyesali keterlambatannya.


Ia tahu jika David sedang marah, baru saja Lily meminta tolong padanya untuk bertemu dengan David.


Leon yang sudah mengerti apa yang terjadi bahkan sebelum Lily menceritakannya. Melihat gelagat bosnya yang sedari pagi meluapkan semua amarahnya kepada bawahannya tanpa terkecuali , sudah membuat Leon paham bahwa ada masalah yang terjadi pada bosnya. Setelah tahu alasannya dari Lucy, Leon sungguh kesal.


Pemuda itu sebenarnya tengah berusaha agar bosnya tidak sampai melihat foto-foto yang sudah di ambil oleh suruhan Charlotte.


Sayangnya pemuda itu kalah cepat. Orang-orangnya terlambat 'menghabisi' laki-laki yang menjadi fotografer bayaran itu karena fotonya sudah terlanjur ada di tangan Charlotte.


Tapi, bukan Leon namanya jika menyerah begitu saja. Leon yakin jika David akan bersedia mendengarkan istrinya, karena David sangat mencintai Lily, itu yang Dia lihat dari segala perubahan sikap David.


"Tuan, Nyonya Lily ada diluar, ingin menemui Anda"


"Heh, Dia berani datang padaku?"


Leon menghela nafas pelan. Ini pertama kalinya dia akan mencampuri urusan pribadi Tuannya itu. Taoi saat ini Leon merasa jika Dia juga harus membantu Lily, bagaimanapun wanita itu sebenarnya adalah korban. Leon pun memberanikan diri untuk berucap.


"Maaf Tuan, saya tahu tidak seharusnya saya mengatakan ini. Tapi... menurut Saya, lebih baik menemui Nyonya langsung. Masalah ini tidak akan selesai jika Anda maupun Nyonya saling menghindari"


Sungguh, ini pertama kalinya Leon berbicara begitu panjang. Tapi tidak ada waktu untuk terkagum-kagum ria. Suasananya sedang tidak kondusif.


David sebenarnya sudah sangat muak akibat terpengaruh foto itu. Tapi akal sehatnya masih bisa berfikir sedikit jernih. Apa yang dikatakan Leon ada benarnya.


Leon hanya mengangguk paham kemudian pamit undur diri untuk mempersilahkan Lily masuk ke dalam ruangan David.


'Semoga Tuan tidak menyakiti Nyonya Lily' batin Leon berdoa untuk istri bosnya. sungguh kasian wanita itu harus terlibat dengan ular berbisa seperti Charlotte.


Krietttt...


Lily dengan sangat pelan memasuki ruangan laki-laki yang berstatus sebagai suaminya itu. Jantungnya sedari tadi jedag-jedug karena takut.


Bukan takut karena merasa salah, tapi takut jika David tak akan mempercayainya.


Wanita itu sedikit terkejut melihat ruangan yang berantakan dengan kertas-kertas yang berserakan di mana-mana, Lily mengedarkan pandangannya dengan sedih menatap lembaran-lembaran itu.


Ekspresi nya seketika berubah semakin pucat kala melihat gambar serupa dengan yang Charlotte tunjukan padanya.


'Ya Allah, David sudah melihat foto itu' Batin Lily bermonolog.


Lily refleks mendongakkan kepalanya, untuk mencari keberadaan suaminya itu. David tengah berdiri di depan jendela kaca yang tak tertutup tirai, membelakanginya.


"Biy..."


Panggil Lily dengan lembut.


"Jangan panggil Aku dengan sebutan menjijikan itu"


Deg. Detak di jantung Lily seolah berhenti tiba-tiba. Wanita itu menatap nanar punggung suaminya.


Davidpun berbalik menghadap ke arah Lily. Mereka saling berhadapan, Lily menatap manik tajam dihadapannya. Tidak ada lagi sorot kehangatan penuh cinta, kerinduan yang biasa ia lihat.


Hanya sorot dingin yang menusuk hingga ke tulangnya.


David berjalan mendekati wanita yang sesungguhnya masih menjadi penguasa di hatinya. Namun rasa sakit atas penghianatan Lily seolah menutupi kenyataan itu. Yang terbersit dalam benaknya hanyalah ke-benci-an.


"Luar biasa. prok prok prok" David bertepuk tangan entah untuk apa. diiringi senyum penuh ejekan.


"Biy... Aku... bisa jelaskan..."


"Sssst.... Tidak ada yang ingin Aku dengar dari mulut busukmu. Kau sungguh pandai menyimpan kedokmu Nona"


"Tidak Biy, itu semua bohong... Aku tidak menghianatimu, Aku bersumpah"


"Oh ya?? Lalu bagaimana bisa kau mengenal musuhku. Oh Tidak. Kau bahkan sangat mesra dengannya"


"Biy, percayalah. Aku.. Aku dan James tidak ada hubungan apapun. Dia hanya..."


"Hahahaha, Kau bahkan menyebutkan namanya dengan sangat manis. Aku bersumpah kau adalah wanita yang luar biasa"


"Biy... Tolong dengarkan Aku. Foto itu bohong, Mommy Charlotte yang membuatnya. Aku bersumpah dia adalah orang jahat dan licik. Dia ingin menyakitimu Biy"


"Diam!!!! Tutup mulutmu brengsek!!"


Lily terdiam seketika. Ketakutan merayap ke seluruh tubuhnya. Melihat mata suaminya yang seolah ingin mengulitinya hidup-hidup.


"Berani-beraninya Kau mengatakan hal buruk tentang Ibuku"


"Aku tidak berbohong Biy, James dan Marry memiliki buktinya, Mommy Charlotte adalah ular berbisa. dia tidak sebaik yang kau.."


"Wahhh hebat sekali. Kau bahkan mengenal Marry? Kalian komplotan yang sangat profesional. Aku sangat kagum"


"Tidak Biy, Yah Aku memang mengel mereka, tapi mereka adalah orang baik. Mereka ingin menyelamatkanmu dari wanita Jahat seperti Mommy Charlotte Biy, Aku..."


"Lily!!!!!"


Dave sudah mengangkat tangannya untuk menampar wajah Lily, namun tangan itu masih menggantung di udara. David mengetatkan giginya hingga bergemelatuk.


Lily pun terdiam tanpa kata hingga kakinya gemetar karena takut.


"Bersyukurlah karena Aku tidak pernah memukul wanita, Kalau tidak aku pasti sudah..."


Ting Ting Ting


Ponsel David berdering. Laki-laki itu pun menurunkan tangannya yang hendak menampar Lily, kemudia menyambar ponsel di saku jasnya tanpa mengalihkan tatapan membunuhnya kepada Lily.


"Dave, Alice kecelakaan, cepatlah kemari!" Suara panik Charlotte terdengar dari seberang sana.


"Apa???" Wajah David seketika memucat. Tanpa ba- bi-bu Pria itu segera berlari keluar ruangan meninggal Lily yang terpaku disana, baru saja dia juga sedikit mendengar Suara Charlotte.


'Alice kecelakaan?'


Lily pun bergegas menyusul suaminya. Dia melupakan semua tindakan kasar David dan hanya memikirkan Alice sekarang.


Wanita yang tengah terluka kakinya itu berlari dengan pincang keluar gedung, tanpa memikirkan rasa sakitnya.


"Paman Max, tolong ikuti mobil David. Alice kecelakaan. Aku ingin menyusulnya"


Lily berkata dengan cemas dan panik.


Max pun mengangguk paham, meskipun Mobil David sudah berlalu sejak tadi, Max berharap masih bisa mengejarnya.


Mereka pun melaju dengan cepat menyusul David yang sudah sangat jauh meninggalkan tempat mereka berada saat ini.