
"Hai, Honey"
"Jangan memanggilku seperti itu Tuan Davidson, apa Anda tidak malu menyebut pasangan orang lain dengan sebutan itu?"
Lily dan David baru saja memulai perdebatan mereka, sementara tubuh mereka tetap bergerak mengikuti alunan musik dansa itu.
"Kenapa harus malu? Kamu masih istriku, Honey"
"Cih, jangan berperilaku menjijikan seperti itu Tuan, Apa Anda ingin menjilat ludah Anda? mengakui seorang wanita rendahan sebagai istri?"
Mata Lily memerah. Dia tidak lagi berpura-pura tak mengenal David. Karena pada kenyataannya Dia memang masih hidup dan David mengetahuinya sekarang.
"Aku... Minta maaf"
David sungguh menyesal pria itu menundukkan kepalanya, sungguh kata-kata Lily terlalu tepat untuk dibantah.
Lily hendak berpindah putaran namun David segera mencekalnya.
"Aku tahu kesalahanku sangat besar Honey, tapi Aku juga hancur. Aku sungguh..."
"Benarkah? Waw... Aku merasa sangat terharu Tuan, Anda sangat cocok untuk bermain sinetron"
"Honey, Please dengarkan Aku. Aku sudah berubah dan Aku akan selalu mempercayaimu mulai sekarang, please come back to me. Aku yakin Kamu masih mencintaiku juga kan?"
"Cinta itu sudah mati, hangus bersama api yang membakarku"
"Lily, I'm So sorry. Aku sungguh memohon maaf dan menyesal"
Lily menatap David dengan mata terluka. Bulir bening mengalir deras deru sudut matanya.
"Terlambat. Maaf-mu tidak akan membuat Anakku hidup kembali, Tuan Davidson yang terhormat"
Lily menghempaskan tangan David dan berlari meninggalkan ruang dansa. Membuat orang-orang yang ada disana bertanya-tanya apa yang terjadi. Tak terkecuali Aston. Pria itu segera mengejar Lily yang pergi begitu saja meninggalkan pesta itu.
Deg! Jantung David seolah berhenti berdetak. Bayinya? meninggal? Pria itu memegangi dadanya yang terasa sesak. Tubuhnya limbung dan hampir terjatuh tapi Leon dari kejauhan segera berlari meraih tubuh David.
"Tuan"
"Anakku, Baby peanuts-ku" David terisak dalam. Pria itu seperti menangis seperti anak kecil yang kehilangan mainan kesayangannya. Diam-diam Leon melirik kepergian Lily. Ya Tuhan, ini akan sulit. pasangan ini masing-masing memiliki luka yang dalam.
"Sebaiknya kita kembali Tuan"
Tanpa menjawab David menuruti Leon, Pria itu tampak pasrah saat Leon memapahnya keluar dari pesta itu.
"Bagaimana dengan kencan kita Tuan" wanita sekseeh yang dilempar Leon kepada David kini menghalangi jalan mereka.
"Menyingkirlah cabe kering! Kau merusak lensa mataku!"
Bentak Leon seraya menatap bengis perempuan yang tidak tahu situasi itu, sang perempuan pun segera menyingkir karena takut dengan tatapan tajam Leon.
#
"Lira, apa Kamu baik-baik saja?"
Aston bertanya dengan cemas.
"Ya, El, jangan khawatir"
"Bagaimana Aku tidak khawatir, Kamu tiba-tiba berlari meninggalkan pesta dan sekarang menangis seperti ini. Apa yang sebenarnya yang terjadi antara Kamu dan Tuan Davidson?"
"Tidak El, sungguh, tidak apa-apa"
Ciiiitttttt... Aston menghentikan mobilnya secara tiba-tiba, membuat Lily tentu saja terkejut.
"Ada apa El?" Tanya Lily dengan takut.
"Apa aku terlalu asing bagimu Lira?"
"Apa maksudmu?"
"Yah, Kau sangat tertutup dan tidak kamu terbuka padaku"
"Tidak El, bukan begitu maksudku, Aku hanya tidak ingin...membebanimu dengan masalahku"
"Bukankah Kamu sudah menerima lamaranku? tidakkah itu berarti masalahmu adalah masalahku juga?"
"El..."
Lily menatap Aston dengan sedih. Pria itu kemudian menggenggam tangan Lily, meyakinkannya bahwa Ia sama sekali tak keberatan jika Lily membagi masalah dengannya. Bukankah cepat atau lambat mereka juga akan hidup bersama? jadi kenapa masih ada yang ditutupi?
"David .... adalah suamiku"
Jedarrr! bak disambar petir di siang bolong, Aston ternganga menatap Lily dengan tatapan tak percaya. Davidson? Suami?
"Yah, Aston Robinson, Emiliano Davidson adalah suamiku. Kami belum pernah bercerai karena Aku menghilang dari hidupnya 5 tahun lalu"
"Apa itu artinya dia juga yang menyebabkan kamu mengalami kecelakaan itu?"
"Bukan, Tapi ibu tirinya, Charlotte Crambhell"
"What....?" tanya Aston yang semakin tidak mengerti dengan kerumitan hubungan Lily dan David.
"Baiklah, maafkan Aku Lira"
"Tidak El, Akulah yang harus meminta maaf karena mengacaukan pesta dansa itu"
"Tenang saja, jangan dipikirkan, Mereka tidak akan menghentikan pestanya hanya kejadian seperti tadi, percayalah"
"Hmmm, syukurlah kalau begitu"
Aston pun mengemudikan sendiri Limosin hitam miliknya, Melaju dengan cepat membelai jalanan malam yang tampak lengang.
#
"Berhentilah Tuan,. Saya mohon!!!"
Habis sudah kesabaran Leon membujuk David agar berhenti minum dan mengajaknya pulang.
David memaksa untuk mengemudikan mobilnya sendiri seperti orang gila. Jadi terpaksa Leon mengikuti pria itu dalam mobil yang sama.
dan disinilah mereka berada. Di sebuah Bar yang sering dikunjungi David jika sedang ada urusan bisnis di Macau ini.
Pria itu kembali berkutat dengan minuman keras itu sampai bergelas-gelas bahkan bisa berbotol-botol. setelahnya David setidaknya akan jatuh pingsan dan teronggok begitu saja di sofa ruang VVIP bar itu.
Disaat itulah Leon sebagai pejantan tangguh sekuat tenaga membopong bosnya agar kembali ke apartemen dalam keadaan hidup.
Cinta benar-benar merepotkan. Membuat pelakunya menjadi bodoh dan sinting. Kalau sudah begini Leon hanya bisa berdoa, semoga kisah cintanya akan berjalan lancar jaya tanpa gangguan dan penderitaan seperti yang dialami David. Sekarang semua netizen yang mengatainya jomblo akut sudah tahu alasan kenapa dia takut menjalin hubungan dengan wanita. karena wanita itu sangat sulit dimengerti. Sedangkan Leon bukanlah Pria pengertian. Cukuplah dia menjadi saksi kepahitan cinta bosnya ini.
"Bayiku, Putraku...ghek! Baby peanuts ghek,!!" David meracau sepanjang jalan disertai dengan senggukannya.
Leon hanya mendesah pelan dan tetap berusaha fokus dalam mengemudikan mobilnya.
#
Brukk... Leon menjatuhkan tubuh David di ranjang kamarnya seperti biasa.
"Arrrrgggh Akhirnya! Malam ini segeralah berakhir. Aku sangat lelah" Keluh Leon kemudian ikut menjatuhkan tubuhnya ke sofa.
Tring tring tring
Tiba-tiba gawainya berbunyi. Leon pun meraba-raba saku celananya untuk meraih benda pipih itu.
"Alice?" gumam Leon yang kemudian menilik arloji nya. Pukul 02.00 dinihari. Apa gadis itu belum tidur?
Begitulah kira-kira pertanyaan yang berkecamuk dalam pikirannya.
"Nona, Anda..."
"Paman, dimana Ayahku?" Potong Alice cepat sebelum Leon menyelesaikan pertanyaannya.
"Dia sedang tidur, Nona"
"Baiklah, Apa Daddy baik-baik saja?"
"Eemmm sebenarnya..."
"Tidak baik, Aku mengerti"
Lagi-lagi Alice memotong ucapan Leon, membuat pria itu diam-diam berdecak sebal. Persis Tuan Davidson, batin Leon mengeluh.
"Jangan khawatir paman, Aku akan segera membuatnya merasa lebih baik"
Ucap Alice dengan riang yang seketika membuat Leon mengernyit bingung.
"Nona, apa maksudmu?"
Leon sudah sangat lelah dan malas berbasa-basi.
"Besok Aku akan menyusul Daddy"
"Apa? maksud Anda..."
"Yups , Aku akan ke Macau"
"Tapi bukankah Ada Nyonya Charlotte disana?"
"Granny akan ikut, apa salahnya?"
Sungut Alicisy sebal. Kenapa memangnya kalau Granny nya ikut?
"Tapi... Tuan tidak..."
"Ah sudahlah Paman Leon, tidak perlu di jelaskan. Pokoknya besok aku datang. Okay?"
"Iya Nona tapi...."
Tut tut t tut panggilan telah diakhiri sepihak. Membuat Leon seketika menggeram kesal. Gadis itu benar-benar.... menjengkelkan seperti Tuan Davidson.
Ah sudahlah, terserah saja. Leon terlalu lelah berfikir hingga dalam sekejap Iapun ikut terlelap menyusul bosnya yang sudah lebih dulu menjemput mimpi...
Bersambung