My Hot Boss, I Love You

My Hot Boss, I Love You
Karam, Melebur Bersama Api Yang Membakar



"Semuanya sudah beres Nyonya, Aku sudah menyelesaikannya dengan sempurna. Aku yakin mobil ini akan langsung membawa Menantu Anda ke surga, haha. haha hahhahahaha"


suara seseorang dari seberang sana membuat Charlotte ikut tertawa kecil.


"Bagus. Aku akan menunggu kabar baiknya"


Charlotte mengakhiri panggilannya dengan senyum puas. Haaah hari ini adalah hari paling membahagiakan untuknya. Sekali dayung dua pulau terlampaui. Wanita kampung itu akan segera lenyap, begitu juga dengan David. Pria itu pasti akan hancur karena istrinya tewas mengenaskan.


Setelah itu, barulah Charlotte akan menghabisinya juga, seperti dia menghabisi suaminya, Arthur yang juga Ayah dari David.


##


Lily berjalan gontai menyusuri koridor Rumah sakit. semua ucapan menyakitkan dari David terus terngiang-ngiang di telinganya.


'Wanita rendahan yang bisa saja melemparkan tubuhnya pada laki-laki lain...'


'Bayi itu mungkin saja bukan milikku'


"Huhuhuhuuu" Lily menangis tersedu-sedu seraya memukul-mukul dadanya yang terasa sangat sesak, tapi rasa sesak itu tidak kunjung hilang, malah semakin bertambah.


"Nyonya...."


Suara yang familiar itu seketika membuat Lily kembali tersadar. Itu Max.


"Paman Max..." Ucap Lily dengan suara parau.


"Nyonya... baik-baik saja?"


Lily hanya mengangguk seraya memaksakan senyumnya.


"Mari Nyonya, sebaiknya kita kembali ke apartemen Tuan...."


"Tidak paman, mulai hari ini Aku tidak akan lagi menginjakkan kakiku disana, dan... Aku bukan lagi Nyonya Davidson paman"


Dua bulir bening kembali mengalir dari sudut matanya yang sudah membengkak, Namun dengan cepat Lily menghapusnya. Tidak, dia tidak boleh menangis lagi. Sudah cukup. Dia harus bangkit dan melanjutkan hidupnya, bersama bayi kecilnya yang kini menjadi satu-satunya semangat hidup, tentu saja juga ibu dan adiknya yang masih membutuhkan dirinya.


"Nyonya...." Sungguh, Max ikut bersedih atas apa yang terjadi pada Tuan dan Nyonya -nya. Kedua orang itu sama-sama baik, hanya saja pondasi hubungan mereka masih lemah sehingga mudah dirusak oleh orang lain.


"Terima kasih sudah menemaniku selama ini Paman, Aku pamit..'


Lily hendak pergi namun dengan cepat Max menghalangi jalannya.


"Nyonya, Apapun yang terjadi, Anda tetap majikan Saya. Saya akan mengantar Anda kemanapun Anda pergi"


"Tapi, Paman..."


"Saya mohon Nyonya, anggap saja ini salam perpisahan dari Saya" Max menata lembut perempuan nyang hampir seusia dengan putri bungsunya itu dengan tatapan haru dan sedih. Pria itu seolah bisa merasakan luka yang kini ditanggung oleh Lily.


Lily membalas ucapan Max hanya dengan anggukan cepat. Max benar, biarlah ini jadi perpisahan yang indah untuk mereka berdua sebagai dua orang teman untuk terakhir kalinya.


Max pun mempersilahkan Lily untuk berjalan terlebih dahulu.


Sementara Lily meraih ponselnya didalam clutch bag miliknya, kemudian menghubungi Fany.


Setelah mengirim chat pada sahabatnya itu. Lily pun masuk kedalam mobil, disusul kemudian oleh Max.


Sementara itu di sebuah cafe...


"Maafkan Saya tuan Lin Yi, tapi saya benar-benar membutuhkan bantuan Anda"


"Tidak masalah, Tuan Crawford. Selagi itu demi kebaikan Tuan Davidson Saya bersedia membantu"


James dan Leon saling bersitatap. Kedua pria yang biasanya selalu beradu mulut bahkan juga hampir saja baku hantam kini terlihat sangat serius.


"Aku gagal mencegah Tuan David melihat foto-foto rekayasa Nyonya Charlotte ini, Tapi aku berhasil mendapatkan soft file nya dari fotografer itu"


"Apa itu berarti David sudah melihatnya?"


"Hmn, benar"


"Dan dia mempercayainya?"


"Sepertinya begitu"


"Cih... benar-benar idiot. seorang pebisnis hebat sepertinya bisa langsung mempercayai foto-foto menggelikan seperti ini?


Ucap James seraya membanting foto-foto dirinya dan Lily dengan sedikit kasar di meja yang ada di hadapannya.


Leon kali ini tidak menjawab atau membantah kalimat ejekan James. Sedikit banyak Leon setuju dengan pendapat pria berkebangsaan Amerika Serikat itu. Bagaimana mungkin bosnya bisa sebodoh itu percaya pada 'foto' begitu saja tanpa menyelidikinya?


Cemburu buta memang bisa membuat orang menjadi bodoh dengan mudah.


"Lalu apa rencanamu, Leon"


Kali ini James tidak lagi berbicara formal pada lelaki muda di hadapannya itu. Yah, mereka partner bukan sekarang?


"Sementara ini Aku masih mengejar Martin. Tapi untuk foto-foto ini aku juga sudah melakukan sesuatu untuk ku berikan pada Nyonya Charlotte"


Ucap Leon kemudian tersenyum penuh makna. Membuat James sungguh penasaran dibuatnya.


"Kau Akan segera mengetahuinya James"


"Well, Aku akan menunggu dengan sabar"


Kedua pria itupun saling melempar senyum yang hanya bisa dimaknai oleh mereka berdua.


#


Lily menatap keluar jendela mobil dengan tatapan kosong. Hatinya seolah-olah ikut terbang bersama jiwanya yang melebur.


Bayangan kenangannya bersama David masih berputar jelas di memorinya.


Bagaimana mungkin bisa dengan cepat rumah tangganya hancur seperti ini?


Kenapa David bisa begitu saja percaya pada sebuah foto???


Lily kembali terisak, mengingat kembali sikap David beserta ucapannya beberapa saat yang lalu.


"Ya Tuhan..."


Max terlihat celingukan dengan panik.


"A-ada apa Paman?"


Max takut membuat Lily histeris jika mengetahui masalah yang sekarang terjadi.


"Paman... Ada apa???"


Lily seketika di serang perasaan cemas melihat wajah Max yang tiba-tiba menegang.


"Jangan khawatir Nyonya semuanya akan baik-baik saja"


Max kemudian terlihat menghubungi seseorang, tanpa mengalihkan kegiatannya menyetir mobil. Lily sedikit merasakan jika mobil ini melesat dengan sangat cepat.


Pria itu kemudian mematikan panggilannya, tiba-tiba


Bukkk!!!! Srakkkk!!!


Mobil Mercedez Benz C-Class itu menyerempet sesuuatu dengan keras.


"Aaargh! paman kurangi kecepatannya"


Seru Lily histeris tapi Max hanya diam membisu.


"Paman...!"


"Tidak bisa Nyonya.... Remnya blong!"


"A- apa?" Lily menganga tak percaya. Blong???


Nafas Lily tercekat di tenggorokan. Jiwanya seolah tercabut dari raganya. Pikirannya seketika menjadi kosong.


"Nyonya, berpeganglah!" Seru Max yang mulai kehilangan kendali. Mobil itu terus meliuk - liuk, menghindari kendaraan lain yang ada disana.


"Dengarkan saya Nyonya"


Max berbicara dengan nafas tersengal-sengal. bagaimanapun kondisi seperti ini tetap memberikan rasa takut di benaknya.


Sementara Lily yang teramat shock hanya bisa terdiam, wajahnya sangat pucat seperti lembar HVS. dan berkeringat dingin.


"Mobil ini akan terus melaju. Tuan Leon sedang kemari menyusul kita"


Pria itu menjeda kalimatnya.


"Saya akan mencari jalan rerumputan. saat itu melompatlah keluar!"


Seru Max dengan Nafas memburu. Keringat dingin membasahi seluruh wajah nya yang sedikit keriput.


"Tidak Paman, Aku tidak akan meninggalkan paman sendiri"


"Jangan pikirkan tentang Saya Nyonya!"


"Tidak paman, Saya akan tetap disini sampai mobil ini berhenti"


Kekeuh Lily tak mau mendengarkan seruan Max.


"Mobil ini tidak akan berhenti Nyonya!! Jadi dengarkan Saya. Melompatlah Keluar saat saya memberi Interupsi"


Lily tahu jika mobil ini tidak akan berhenti, bahkan bisa jadi akan terjun bebas ke jurang. Tapi Lily sama sekali tidak tega menyelamatkan dirinya sendiri sementara Max mungkin.. tak akan selamat.


"Tidak. Saya akan tetap disini Paman. Kalaupun harus mati, kita akan mati bersama paman!"


"Jangan keras kepala Nak, Saya mohon!"


Max menyebut kata 'nak' seperti seorang ayah yang sedang menasihati putrinya.


"Paman...." Lily semakin terisak. Kenapa dia harus mengalami hal seperti ini??


"Nak, dengarkan. anggaplah sekarang ayahmu yang sedang berbicara. Kau harus tetap hidup. jangan pikirkan tentang Aku. Aku sudah tua. Anak-anakku sudah memiliki kehidupan yang baik. Aku mati sekarang atau nanti tidak akan ada bedanya"


Pria itu tersenyum, kemudian melanjutkan


"Masa depanmu masih panjang dan masih ada tanggung jawab yang harus kamu selesaikan nak!"


"Tidak paman. Aku tidak akan meninggalkanmu sendiri. bukankah paman anggap Aku ini seperti putrimu? maka... tidak ada satupun seorang putri yang membiarkan ayahnya terluka. Aku akan tetap disini walaupun artinya, kita mati bersama paman.


"Nak...."


Laki-laki itu menangis. Namun sejurus kemudian....


"Paman Awaaaas!!!!"


"My Godness!!!"


Lily memejamkan matanya erat... bayangan kenangannya bersama David, tawa mereka kebahagiaan mereka..


"Saya ingin melindungimu"


"Berjanjilah untuk selalu bersamaku"


"Aku yang akan menjadi pelindungmu"


Dan kata-kata indah lainnya yang menjadi kebahagiaan luar biasa bagi Lily...


Lily melingkarkan tangannya di perutnya seakan memeluk bayi kecil yang mungkin akan mati bersamanya...


'David.....' Batin Lily memanggil nama itu dengan tetesan kepedihan yang mengalir dari matanya yang terpejam, menyambut kematian yang mungkin akan segera... mendatanginya.


Brakkkkkk!!!!


.


.


.


Wuuuuusssssshhhhhh!!!!!


Mobil itu menabrak pembatas jalan dan meluncur bebas ke udara...


Gubrak!


.


.


Gubrak!


.


.


. Brakkkkkk!!


Mercedes Benz C-Class itu terus berguling dengan cepat di jurang yang curam seperti mainan anak-anak. Hingga ke dasar jurang, mobil itu hening tanpa suara dan...


Duarrrrrrrrrr!!!!!!


Mobil yang ditumpangi Lily dan Max itu.... meledak dan terbakar.


Mobil itu hangus, melebur bersama api yang membakar....



Bersambung