
* Cerita ini tidak mengandung unsur-unsur pelakor sama episode terakhir karena saya mengedepankan perubahan pada protagonis wanita yang tadinya lemah bisa menjadi kuat, begitu juga dengan protagonis pira yang tadinya mudah terpengaruh oleh hasutan akan menjadi pribadi yang bisa mencari kebenaran berdasarkan kemampuannya sendiri dalam mencari bukti.
David dan Leon sampai di ruangan Alice saat hari hampir siang.
David mendekati putri kecilnya yang sepertinya masih terlelap.
"Alice baru saja siuman Dave, tapi mungkin karena lelah dia tertidur kembali"
"It's Okay Mom, Yang terpenting, Dia sudah baik-baik saja"
"Mmm, Bagaimana dengan Lily Nak?
Charlotte memasang wajah sedih dan putus asa, bulor bening mengalir dari sudut matanya.
Pemandangan itu membuat Leon ingin... buang air.
"Masih di selidiki"
Jawab David singkat. Mengingat kembali tentang kecelakaan Lily membuat semangat hidupnya jugabikut hilang.
"Kau harus tetap kuat Dave, demi Alicia"
"Hmn, Iya Mom"
Dave mengelus-elus puncak kepala Alicia dengan lembut. Pikirannya bertanya-tanya, apa yang harus Ia katakan jika Alice menanyakan keberadaan Lily?
Lagi-lagi Pria itu memejamkan matanya dan memijat pelan pangkal hidungnya.
"Dave, Mommy akan pulang sebentar untuk mengambil beberapa pakaian ganti untuk kita, Alice sepertinya tidak akan segera pulang. Mommy juga ingin membersihkan diri, okay?
"Silahkan Mom"
"Baiklah, Mommy pergi dulu.
Leon, kalau tidak keberatan tolong belikan sesuatu untk Dave makan, sejak kemarin dia tidak makan apapun" Ucap Charlotte beramah tamah.
"Tentu, Nyonya"
Balas Leon dengan terpaksa tersenyum ramah.
Kreb. Pintu tertutup.
Charlotte pun sudah berlalu meninggalkan ruangan Alice.
Leon melihat David yang masih terpaku menatap Alicia, Dia pun mencuri kesempatan untuk keluar ruangan sebentar menelpon seseorang.
"Eddie. Nyonya Charlotte baru saja keluar dari rumah sakit tempatku berada. Ikuti Dia. Jika sesuai dugaanku, maka rubah tua itu pasti akan menuai Martin"
"......"
"Bagus. Kau tahu apa yang harus kau lakukan agar tidak ketahuan"
"....."
"Xie-xie. Jangan mengecewakanku"
Leon pun menutup Teleponnya dan masuk kembali ke dalam
Sementara itu..
Charlotte melenggang dengan riang menuju mobilnya kesayangannya BMW 850i Convertible berwarna merah menyala.
Wanita tampak tak bisa menyembunyikan kebahagiaannya, salah satu musuhnya tewas dan sekarang Ia akan bertemu dengan kekasih hatinya, Martin untuk merayakan keberhasilan mereka.
Tanpa wanita itu sadari, 2 orang pemuda tampan sudah bersiap diri untuk mengikuti kemanapun wanita itu pergi.
Selama perjalanan Charlotte terus bersenandung ria mengikuti suara musik yang berputar di audio mobilnya.
setelah 30 menit perjalanan, Charlotte telah sampai di sebuah Apartemen yang terbilang cukup mewah, hanya saja kawasan itu sepertinya cukup tertutup, terlihat dari bangunan apartemen itu hanya sendiri di wilayah itu, sementara bangunan-bangunan lain terletak cukup jauh dari sana.
Orang-orang Leon memang cerdas karena tak langsung memasuki kawasan Apartemen itu. mereka menunggu sampai Charlotte melajukan kendaraannya masuk ke dalam parkiran gedung itu.
"Halo Bos, kami sudah berada di lokasi target"
"......"
"Baik Bos, sesuai perintah"
"....."
Pemuda tampan yang merupakan anak buah Leon itu tersenyum kepada partner yang ada di sampingnya.
"Malam ini akan sangat seru"
"Memangnya apa yang akan terjadi"
"Kau belum tahu kecerdasan Tuan Leon dalam menghabisi nyawa musuhnya"
"Benarkah?"
"Ya, sangat menakjubkan. Lawannya akan merasakan kematiannya detik demi detik"
"Itu sangat menakutkan"
"Bersembunyilah jika kau takut"
"Hahahaha, tentu saja tidak. Aku akan menontonnya dengan senang hati"
Mereka berdua pun terkekeh bersama membayangkan pesta 'darah' yang akan segera terjadi.
#
#
James baru saja menyelesaikan ritual mandinya, saat tiba-tiba Pria imut yang dingin seperti beruang kutub tiba-tiba menghubunginya.
"Datanglah ke tempat yang aku bagikan, Aku mengadakan pesta yang meriah"
Suara Leon terdengar begitu sumringah dari seberang sana.
Apa dia gila? disaat seperti ini malah mengadakan pesta? Tentu saja ucapan ini hanya keluar di benak James.
"Pesta apa? Aku bahkan masih belum mendapatkan kabar apapun tentang Marry. Aku tidak memiliki nafsu berpesta sedikitpun"
Sahut James kesal. Bisa-bisa pria itu tidak memiliki empati sama sekali.
"Aku jamin Kau akan senang jika bersedia datang. Marry akan kembali setelahnya"
"Tuan Lin Yi, Saya rasa Anda sedikit mabuk"
"Terserah padamu. Aku akan bagikan lokasinya. datang atau tidak, It's your choice"
Panggilan pun berakhir. Jam menghembuskan nafas kesal. Datang atau tidak? sungguh dia tidak berminat untuk berpesta. Tapi mendengar kalimat persuasif dari Leon membuat James sungguh penasaran.
#
#
Pukul 23.00 pm HK Time, Hing Wah Real Estate.
"Oooh Yeah.... Sweetie! Faster"
Wanita itu terengah-engah, tubuhnya menggelinjang hebat, merasakan aksi dibawah sana yang di lakukan oleh kekasihnya.
"Yeah Baby, do you like it? do you want it"
"Louder"
"Yesshhh... I want it. Fvck me harder"
"As your wish Baby "
Martin terus menggerakkan lebih cepat jemarinya sesuai permintaan wanitanya.
"Oh... Martin... I'm coming!!!! Ouuuch"
Charlotte merasakan pelepasannya untuk kesekian kalinya.
"Thanks, sweetie"
"You are welcome. Sebenarnya akan lebih luar biasa jika Aku bisa..."
"Don't worry. Kau akan segera sembuh, kita akan melakukan pengobatan terbaik untukmu"
"Yah, Kuharap begitu. Karena Kau tahu sendiri, Aku sangat tersiksa"
"Yah, Aku memahaminya"
Charlotte pun memagut bibir Martin dengan lembut yang kemudian berlalu semakin panas.
Ting tong
Suara bel pintu menghentikan paksa kegiatan tidak senonoh mereka itu.
"Siapa?"
"I don't Know, mungkin petugas Apartemen ini?"
"Tengah malam begini?"
"Jangan khawatir. Tidak ada yang mengenal kita disini. Biar Aku yang membukanya"
Meskipun ragu, namun akhirnya Charlotte mengizinkan Laki-laki pujaannya itu untuk membuka pintu.
Klik, pintu terbuka.
"Permisi Tuan"
"Ya, katakanlah.. Kau sangat mengganggu"
"Maaf Tuan, Saya dari staff dari bagian pelayanan pelanggan Apartemen ini"
"Hmn, Ada apa?"
Martin mengernyit bingung melihat pria muda berpakaian rapi di hadapannya itu membawa sebotol wine, lengkap dengan gelasnya.
"Mohon maaf mengganggu, Hari ini adalah hari ulang Tahun pemilik Apartemen ini. Sudah menjadi tradisi kami untuk membagikan Wine limited edition secara gratis bagi seluruh penghuni Apartemen"
"Waw. Benarkah? Kenapa Aku sama sekali tidak mengetahui informasi apapun tentang itu?"
"Tentu saja Tuan, ulang tahun pimpinan kami terjadi setiap tahun, tidak ada yang terlalu istimewa pembagian wine ini hanyalah sebuah tradisi. tapi jika Anda tidak berkenan menerimanya tentu kami tidak memaksa"
Martin tadinya tidak tertarik, tapi saat melihat merk wine yang di bawa pelayan itu seketika matanya berbinar.
'Waw, wine ini sangat mahal, sayang juga kalau dilewatkan, apalagi diberikan secara percuma'
Batin Martin bermonolog.
"Bagaimana Tuan? "
Staff itu kembali mengulangi kata-katanya.
"Ya, Ya baiklah. Aku akan menerimanya"
Martin pun meraih botol itu kemudian meninggalkan staff itu begitu saja.
Blam. Pintu itu tertutup.
Staff tersebut tersenyum kemudian meninggalkan kamar itu.
"Apa yang Kau bawa?"
"Wine. Apartemen ini membagikan Wine secara gratis. pemilik bangunan ini ulang tahun, katanya, hehehe"
"Dan kau mempercayainya? bagaimana jika ini adalah jebakan?"
"O' come on sweetie, kenapa Kau selalu merasa ketakutan berlebihan seperti itu?"
"Tapi ini sangat mencurigakan Martin, Kita harus berjaga-jaga"
"Ayolah.... bukankah Kau sendiri yang mencari tempat ini dan memastikan keamanannya untuk Kita berdua?"
"Iyaa... Tapi...."
" Sudahlah, nikmati saja, anggap saja ini hadiah atas keberhasilan Kita menyingkirkan wanita bodoh sok jagoan itu"
"Hmn"
"Ayolah, kemarilah sayang. Di Amerika Kita juga sering mendapatkan 'minuman' gratis saat perayaan ulang tahun hotel ataupu. perusahaan relasi, dan kau baik-baik saja"
Charlotte pun akhirnya menyerah dan menuruti Martin.
Martin menuangkan minuman beralkohol itu kedalam dua gelas yang ia ambil dari dapur.
Satu gelas Ia berikan kepada Charlotte, dan satu untuk dirinya.
"Cheers, untuk kemenangan kita selanjutnya"
"Hmn, Cheers"
Mereka pun mulai menenggak minuman beraroma anggur itu.
"Waah, rasanya luar biasa. Benar-benar minuman mahal"
"Yah, kau benar sayang"
Merekapun tertawa cekikikan bersama. 5 menit berlalu kedua orang jahat itu mulai merasakan pening yang hebat.
"Apa kau merasa pusing?"
"Yaah, sedikit. apakah kita mabuk secepat ini? hahaha"
Tanpa menjawab perkataan Martin tiba-tiba tubuh Charlotte ambruk ke lantai.
"Sweetie? swee...tie?" belum menyelesaikan kalimatnya Martin pun ikut ambruk bersama Charlotte.
Brakkkk
Tiba-tiba pintu Apartemen terbuka.
Pemuda bertopeng menghampiri kedua pasangan yang sudah tergeletak di lantai itu.
Ia berjongkok kemudian meraih rambut si pria yang tak lain adalah Martin. Meremas kuat rambut itu kemudian mendongakkan kepalanya yang sudah tak sadarkan diri.
"Kau tak akan mati dengan mudah, kejahatanmu terlalu banyak jika mati begitu saja. Aku akan membuat kematianmu menjadi sangat mengesankan"
Pria muda itu tersenyum dengan sangat menakutkan.
bersambung