
Jenazah Max dan terduga Lily telah di evakuasi. Leon meraih gawainya kemudian mengetikkan sesuatu disana.
"[Rahasiakan ini, Jenazah wanita itu adalah sewaanku]"
Mata James hampir saja merosot jatuh membaca pesan singkat dari pria imut di sampingnya.
[Apa kau gila? Kau menyewa mayat?]
[Aku harus melakukannya. Agar Lily benar-benar seolah tewas]
[ Kenapa?]
[Aku bersumpah jika kecelakaan ini adalah sabotase]
James pun menatap Leon yang kemudian dibalas dengan anggukan singkat pria itu. James pun menghela nafas lega. Berarti ada kemungkinan besar Lily berhasil selamat, walaupun entah dimana wanita itu kini berada.
Kemudian pria itu menghampiri Fany yang sejak tadi tidak berhenti menangis. Batinnya bertanya-tanya, apakah perlu Ia mengatakannya pada Fany atau tetap merahasiakannya?
#
#
David dan Charlotte yang tengah menunggu Alice siuman tercuri atensinya mendengar pintu ruang rawat Alice di ketok dari luar.
Davidpun memberi isyarat pada Charlotte agar tetap duduk, Dia kemudian beranjak dari tempat duduk dan menghampiri pintu ruang rawat tersebut.
Ceklek
'Polisi?'
David sedikit mengernyitkan dahinya. Apakah ibunya yang memanggil polisi untuk menyelidiki kasus tabrak lari Alice?
"Selamat malam Tuan Emiliano Davidson, Kami dari pihak kepolisian, bisa meminta waktu luang anda sebentar?"
Charlotte pun ikut bangkit dan menghampiri David saat melihat siapa yang datang.
"Tentu"
Davidpun berjalan keluar ruangan disusul oleh Charlotte yang kemudian menutup pintu agar Alice tidak terganggu.
"Ada apa Pak?" Charlotte yang lebih dulu bertanya.
"Baik, sebelumnya kami memohon maaf karena mengganggu waktu Anda, Kami hanya ingin mengkonfirmasi, apakah kendaraan pribadi berupa Mercedez Benz C-Class dengan plat XXX yang di kendarai oleh Maxime Wang adalah milik Anda?"
"I-Iya benar. That is mine. What's happening?"
"Kami mohon maaf dan turut berdukacita Tuan, Mobil tersebut jatuh ke jurang dan meledak, Dua orang di temukan meninggal, Maxime Wang (sopir) dan satu orang yang diidentifikasi sebagai seorang wanita diduga adalah istri Anda, Lily Rahmawati"
David terperangah tak percaya. Kakinya mendadak terasa tak bertulang.
"Tidak.... itu... Tidak mungkin" Ucap lelaki itu seraya melangkah mundur.
"Oh My.... itu menantu saya Pak. Oh My Godness. Bagaimana ini bisa terjadi... Ya Tuhan"
Charlotte berteriak histeris seolah-olah Ia begitu terpukul padahal dalam hatinya bersorak-sorai bergembira ria.
"Sekali lagi kami turut berdukacita Tuan dan Nyonya, Kami mohon kesediaannya untuk mendampingi proses autopsi di Rumah Sakit pemerintah xxxx, kebetulan ada kerabat Anda yang sudah berada disana"
Tanpa menjawab, David segera berlari pergi ke rumah sakit yang disebutkan oleh anggota kepolisian tersebut.
"Dave!!!"
Dave terus berlari seperti orang yang kesetanan. Matanya memanas, jantungnya berpacu sangat cepat seolah akan melompat dari tempatnya.
"Tidak. Lily. Jangan pergi seperti ini. Aku mohon!!! maafkan Aku"
Pria itu berlari menuju mobilnya, dan segera melajukannya secepat kilat meninggalkan rumah sakit itu.
#
#
"Honey!!!" Dave berteriak saat telah menginjakkan kakinya di depan ruang jenazah.
Leon, Fany dan James yang masih berada disana sontak menoleh.
"Tuan" Leon segera menghampiri atasannya yang terlihat sangat kacau itu. Tidak, Leon sama sekali tidak ingin menghakimi bosnya itu. David sama-sama korban. Kesalahannya hanya satu, yaitu tidak mempercayai Lily dan mudah di bodohi oleh kelicikan Charlotte.
"Apa yang terjadi??"
"Tuan... tenanglah"
"Nyonya...."
Belum sempat Leon menjawab, tiba- tiba bayangan mengejutkan melewatinya.
"Bajingan!!!! semua ini gara-gara Anda dan keluarga anda yang jahat itu! mati saja Anda!! harusnya Anda yang mati! bukan Lily! Anda bajingan!"
Fany yang sepertinya kesurupan reog menyerang David dengan membabi buta. Walaupun sepertinya tindakannya itu seperti sia-sia. karena tubuh David yang 2x lebih tinggi darinya.
"Nona tenangkan diri Anda"
Leon mencoba mencegah tindakan Fany yang terus berusaha mencakar dan menendang, tapi entah dapat energi dari mana Fany benar-benar membuat Leon kualahan. Wanita itu seperti mendapat kekuatan extra.
Sementara David Hanya diam saja seperti patung pancoran. Pikirannya masih belum berfungsi dengan normal. Pria itu terlalu syock dan terpukul dengan kejadian yang menimpa istrinya.
"James! Help!"
Menyerah. Leon tidak bisa membuat Fany yang masih kesurupan reog tenang, wanita itu masih sangat aktif dan bersemangat menyerang bosnya.
James pun dengan sigap meraih Fany den mendekapnya dengan kuat. Pria itu kemudian menenangkan Fany dengan caranya.
"Diam!!! kau berteriak dan menyerang seperti ini tidak akan membuat Lily hidup kembali!!"
James mengguncang tubuh Fany dengan kuat. Agar gadis itu segera sadar.
Fany pun terdiam dan kembali terisak pedih.
"Huhuhuhuuu Lily-ku, Lily temanku yang malang, harusnya suaminya saja yang mati!"
Ucap Fany kemudian menjatuhkan tubuhnya di lantai. Lily adalah sahabat terbaiknya. Dia sudah sangat banyak berjasa dalam hidup Fany. Mereka berjanji saat pertama kali datang ke negeri ini akan berjuang sampai bisa sukses bersama. Sebelum Lily mengalami kejadian naas karena diperkaos oleh David dan akhirnya menikah dengan pria itu.
James mengerti kesedihan Fany. Dia pun meraih tubuh mungil itu berdiri dan menuntunnya pergi sementara dari depan ruang jenazah itu. Fany butuh ketenangan agar bisa kembali berpikir jernih.
Sementara itu, dua orang pria yang di tinggalkan oleh James dan Fany kini diterpa keheningan yang menyesakkan.
David dan Leon sama-sama dirundung rasa penyesalan. Tapi penyesalan David jauh lebih besar dari yang Leon rasakan.
Dia yang paling menyakiti Lily.
Dia yang menyebabkan wanita itu pergi...
"Honey... maaf.... maafkan Aku..."
David merasakan bulir bening gambaran kesedihannya mengalir membasahi wajahnya yang kini tampak pucat dan kacau. Sementara Leon hanya mampu memejamkan matanya. Pria itu ikut sedih melihat kehancuran bosnya. Dia tahu jika David sangat menyesal.
'Nyonya Charlotte, Anda akan membayar mahal atas semua ini. Aku bersumpah atas nama Max dan Ayahku. Kau akan hancur lebur sampai di hembusan nafas terakhirmu pun Kau akan sangat menderita!'
Leon Kemudian memapah David agar duduk di kursi bercat putih, kemudian pria muda itu pun meraih ponselnya.
[Temukan Martin dalam waktu 1x24 jam. jika Kau gagal maka kepalamu yang akan menggantikan Martin!]
Leon menatap tajam kedepan. Kemarahan dan dendamnya sudah mencapai puncak. Kali ini Ia tidak akan berbelas kasih. Martin lah yang membangunkan jiwa kebinatangannya yang selama ini Ia tutupi.
#
#
"Hati-hati sayang, Jangan sampai ada yang mengikutimu" Ucap Martin dari seberang sana.
"Yah, Kau tenang saja.Tapi aku baru bisa ke tempatmu besok pagi. Sekarang sudah malam"
"Yah.... Kau pasti akan mimpi indah hari ini, sayang"
"Hehehe, tentu saja. Hari yang sudah ku tunggu-tunggu akhirnya datang juga!"
"Kau memang luar biasa"
Puji Martin dari seberang sana.
"Aku belajar Darimu, sweetie. Baiklah Aku harus menemani cucu kita Alice. Kasihan dia yang harus Aku masukkan ke ruang operasi agar sandiwara kita ini tampak nyata"
"Hmn, baiklah. Selamat beristirahat. Cepatlah menemuiku. Aku sudah tidak sabar untuk memuaskanmu sayang"
"Ooh... Manis sekali. Baiklah, sampai jumpa besok"
"Sampai jumpa"
Charlotte pun tersenyum penuh kemenangan karena merasa hari ini adalah hari kemenangannya, padahal tidak lama lagi kehancurannya lah yang baru akan dimulai.
Bersambung