
Alice baru saja sampai di Apartemen Granny-nya. Wajahnya murung dan tidak semangat. Apalagi yang membuat nya bermuram durja seperti itu jika bukan tentang pertunangan Mommy-nya, Lily.
Charlotte hanya menghela nafas panjang melihat tingkah cucu semata wayangnya itu. Charlotte bisa mengerti, karena Alice sangat menyayangi Lily, tapi Charlotte tidak berani berbuat banyak, selain merasa tak punya hak, Charlotte juga sadar bahwa David tak akan mengizinkan dirinya mencampuri urusan pribadi Anak sambungnya itu.
"Sudahlah sweetie, kenapa Kamu menghabiskan waktumu untuk bersedih seperti itu. Jika memang jodoh, Daddy dan Mommy-mu pasti akan dipersatukan lagi oleh Tuhan"
Ucapan dari Charlotte malah menambah kadar kemuraman di wajah Alice. Alice ingin Mommy-nya kembali pada David dan menjadi keluarga yang utuh seperti dulu.
Lagipula Alice sampai sekarang masih tidak mengerti bagaimana bisa Daddy dan Mommy-nya yang selalu harmonis tiba-tiba berpisah dengan misterius.
Saat itu Alice ingat, dia ada dirumah sakit, semenjak itu Dia tidak pernah lagi melihat Lily.
"Granny, sebenarnya kenapa Mommy dan Daddy bisa berpisah? Kenapa Mommy pergi? Apa Daddy berselingkuh?"
"Uhukkk uhukkk" Charlotte yang sedang menyesap teh bunga canola-nya tersedak karena kaget dengan pertanyaan itu. Wanita itu menjadi salah tingkah karena pada kenyataannya Dialah penyebab kekacauan rumah tangga Lily dan David.
Alice melihat Granny-nya dengan tatapan bingung. Tapi kemudian gadis remaja remaja itu kembali berfikir.
Charlotte yang ingin menghibur cucunya agar kembali ceria pun memiliki sebuah ide.
"Sweetie, bagaimana kalau kita makan malam diluar, siapa tahu perasaanmu akan lebih baik dan juga Kamu bisa mendapatkan ide untuk menyatukan Mommy dan Daddy-mu"
Alice mengerutkan bibirnya, seolah sedang berfikir keras, sejurus kemudian gadis remaja itu menganggukkan kepalanya dengan semangat.
"Granny benar, Ayo" Alice menjawab dengan antusias. Yah, bagaimanapun berfikir juga membutuhkan tenaga bukan?
"Baiklah, Granny akan bersiap dulu"
#
Lord Stow's Garden Cafe menjadi pilihan Charlotte untuk makan malam bersama cucu kesayangannya, Alice.
Lord Stow’s Garden Cafe ini sudah didirikan sejak tahun 1989 dan menjadi favorit turis lokal bahkan mancanegara. Menu Portuguese egg tart-nya tidak hanya digemari para turis tetapi juga ikon dari kota Macau. Di sana juga tersedia aneka snack dan yang terpenting, kafe tamannya pas banget buat dijadikan tempat bersantai dan berfoto, atau untuk mencari inspirasi seperti yang akan dilakukan oleh Alice 😌
Alice tampak sangat menikmati suasana cafe yang memang sangat nyaman dan menyenangkan itu. Charlotte kemudian beranjak dari mejanya menuju resepsionis untuk melihat-lihat menu. setelah memilih menu yang dirasa cocok, wanita itu kembali ke mejanya bersama Alice.
Sesekali Alice berceloteh ria sambil menunjukkan beberapa pemandangan kota Macau yang dapat dilihat dari tempat mereka duduk saat ini, Charlotte pun ikut menikmati sekaligus mengamati pemandangan yang indah itu.
Namun, tiba-tiba mata wanita itu terpaku melihat laki-laki yang sangat mirip dengan seseorang yang sangat Ia rindukan. Laki-laki yang berjalan dengan pincang itu tampak menghampiri sebuah kedai fast food di pinggir jalan. Dari samping, pria itu tampak benar-benar familiar. Charlotte yang penasaran kemudian bangkit dari duduknya dan berjalan secara tergesa menyusul laki-laki tersebut.
Alice yang melihat Granny-nya tiba-tiba hendak pergi pun mengernyit bingung.
"Granny mau kemana?"
Tanya Alice kemudian.
"Sweetie, kamu tunggu disini, jangan kemana-mana. Granny segera kembali" Charlotte berbicara sambil berlari keluar saat melihat laki-laki itu juga hendak pergi dari sana.
Charlotte mempercepat langkahnya hingga jaraknya dengan laki-laki itu hanya beberapa jengkal,
"Martin?!" Charlotte berseru dengan nafas tersengal membuat laki-laki yang tengah berjalan itu seketika berhenti.
"Martin?" Lagi, Charlotte menyebut nama itu seraya menghampiri pria yang ada di hadapannya.
Martin sedikit terkejut saat melihat wanita itu. Tiba-tiba rasa malu karena wajahnya yang cacat juga kakinya yg pincang membuat Martin menunduk dan hendak pergi dari sana menghindari Charlotte.
Namun secepat kilat Charlotte memeluk laki-laki itu dari belakang. Yah, Charlotte sungguh-sungguh mencintai pria dihadapannya itu, selama puluhan tahun mereka bersama meski dalam hubungan terlarang, saling membantu, mendukung dan tentu saja saling memuaskan dahaga masing-masing, Charlotte yang kesepian karena perlakuan dingin suaminya, Martin yang juga kesepian karena merasa di anak-tirikan oleh keluarganya, saling berbagi penderitaan masing-masing.
Biarlah, jika dimata orang lain Martin jahat, tapi dimatanya pria itu adalah pahlawan baginya. Dan Charlotte yakin, Martin pasti akan berubah jika tahu saat ini perusahaan Crambhell ada di tangannya meskipun atas nama Alicia.
Artinya sama saja kan, Alice adalah cucu mereka berdua. Jadi apa yang mereka miliki pun akan diberikan pada satu-satunya darah daging mereka bukan?
Ucap Pria itu dingin. Charlotte tidak peduli, wanita itu semakin mengeratkan pelukannya dan berkata,
"Tidak, Aku tidak akan melepaskannya"
Martin dengan paksa melepaskan pelukan Charlotte dan berbalik menghadap ke arah wanita itu.
"Kenapa? Apa yang terjadi, Kamu menghilang begitu saja. Kau mencarimu ke mana-mana"
Ucap Charlotte dengan bulir bening yang kini membasahi wajahnya.
"Benarkah? tapi yang kulihat kau sangat menikmati kehidupanmu tanpa Aku"
"Tidak, Martin! sungguh Kau berusaha mencarimu tapi kau menghilang dengan misterius aku benar-benar tidak bisa menemukanmu, Kembalilah bersamaku, Aku mohon... Kita mulai semuanya dari awal"
Charlotte menggenggam tangan Martin dengan erat, matanya memancarkan harapan yang besar, harapan jika Pria di hadapannya itu bersedia bersamanya memulai kehidupan yang baru.
"Tidak. Aku bukan lagi Martin yang dulu. Aku sudah menderita seperti ini dan Kau menyuruhku memulai hidup yang baru dari awal? kehidupan yang seperti apa? Lihat keadaanku sekarang! Lihat!!! Aku CACAT!!!"
Martin sengaja menekankan kalimat 'cacat' agar Charlotte bisa melihat dan menyadari penderitaannya. Padahal itu akibat kejahatannya sendiri.
"Tidak Martin, itu sama sekali tidak masalah bagiku, Aku akan selalu bersamamu bagaimanapun keadaanmu, percayalah semua akan baik-baik saja. Kau tahu, Arthur dan David ternyata sudah menyerahkan semua Aset Crambhell pada cucu kita, Alicia. Lihat, dia disana!"
Charlotte menunjuk ke arah Alice, berharap itu bisa membujuk hati Martin yang keras.
Namun pria itu tidak bereaksi. Charlotte semakin menangis. Martin melihat wajah wanita itu, Charlotte juga memiliki.luka goresan yang panjang d wajahnya, hanya sedikit tersamarkan dengan makeup yang digunakan wanita itu.
Martin kembali membuang pandangannya, Laki-laki itu kemudian menghempaskan tangan Charlotte yang tengah menggenggam lengannya. Pria itu segera berbalik pergi.
"Aku sangat mencintaimu, Aku sangat mencintaimu sampai rasanya Aku ingin mati, Martin. Aku bertahan sampai detik ini karena Alice, karena di tubuhnya juga mengalir darahmu. Aku sungguh mencintaimu, Kembalilah, Aku mohon!"
Charlotte menunduk dalam, merasa sesak melihat pria yang sangat dirindukannya itu menolaknya.
"Lupakan cintamu yang bodoh itu. Tujuanku sekarang adalah membalas semua orang yang sudah membuatku seperti ini. Dan kurasa Kau tidak lagi satu tujuan denganku"
"Tidak, Martin. Kamu akan menyesalinya jika hanya memelihara dendam. Semua akan indah jika Kamu mau berubah dan memulai hidup sebagai Martin yang baru, bersamaku dan Alicia"
"Sayangnya, Aku tidak tertarik"
Laki-laki itu pun melanjutkan langkahnya.
"The Ritz-Carlton Macau Kamar 301"
Martin menghentikan langkahnya, dan mengernyit heran.
"Datanglah kapanpun kau berubah pikiran, Aku selalu menunggumu"
Martin tak lagi memperdulikan kata-kata Charlotte, Pria itu terus melangkah menjauh dari wanita yang masih mengisi hatinya itu.
Yah, Martin akui, sampai detik ini perasaannya terhadap wanita itu tidak berubah. Sejak pertama kali mereka bertemu saat makan malam di mansion utama keluarganya, Martin sudah jatuh hati pada wanita itu, tapi ternyata makan malam itu adalah malam perjodohan Charlotte dan Arthur.
Martin patah hati, semua yang Ia inginkan dan impikan selalu di berikan kepada kakaknya, Arthur.
Tapi Martin tidak menyerah. Dia mengetahui jika Arthur tak mencintai Charlotte dan memiliki kekasih hati yang tak direstui keluarganya. Jadilah segala cara Ia lakukan untuk bisa merayu Charlotte. hingga Akhirnya mereka berdua benar-benar terlibat dalam hubungan terlarang sampai Charlotte mengandung Dominic.
Percaya atau tidak, Martin sangat bahagia saat mengetahui Charlotte mengandung anaknya. maka dari itu Ia melakukan segala cara agar bisa menjadikan Dominic pewaris tunggal bisnis Crambhell.
Tapi, saat ini tujuannya sudah berubah. Ia tak lagi mempunyai mimpi hidup indah bersama wanita yang dicintainya itu, terlebih Martin tak percaya diri jika bersanding dengan Charlotte dalam keadaan cacat seperti ini.
Tangan laki-laki itu terkepal erat saat mengingat siapa yang membuatnya menjadi cacat seperti ini. Tujuannya saat ini hanya satu. Menghancurkan Davidson dan membunuhnya dengan tangannya sendiri!!!
Bersambung