
#
"Terima kasih, sudah membantuku paman Max" Ucap Lily kepada Sopir yang ditugaskan David untuk mengantarkannya.
"Tidak perlu berterimakasih kasih Nyonya, Saya hanya menjalankan perintah Pak Leon"
Lily tersenyum lega, Yah. saat ini dia baru saja selesai dengan pertemuannya bersama James. Ada banyak informasi yang James sampaikan, dan bagi Lily itu sangat bermanfaat baginya, terutama agar bisa menghadapi Nyonya Charlotte dengan santai, meskipun Lily belum terlalu yakin akan mampu melakukannya. Bagaimanapun dia wanita biasa, rasa takut dan cemas pasti tidak luput dari pikirannya.
"Baiklah Paman, Ayo kita kembali, sebelum suamiku sampai di rumah lebih dulu"
"Baik Nyonya"
Sopir itu pun memulai menyalakan mesin mobil dan melajukan Mercedes Benz C-Class keluaran terbaru itu membelah jalanan yang lengang untuk kembali pulang ke Apartemen milik bosnya.
Lily baru saja memasuki Apartemen suaminya, saat tiba-tiba suara lembut nan berbisa menyambutnya dengan ramah tamah,
"Menantu? Kau baru kembali?"
"Ya, Mommy. kenapa?"
"Max bilang beberapa jam yang lalu Kamu sudah dalam perjalanan pulang Honey, Central Park dan Apartemen ini hanya berjarak 30 menit"
Charlotte tak sempat menjawab karena suara Bariton David terlebih dahulu menginterupsi Lily.
"B-biy? Kamu...."
"Yes, It's me... Honey"
David tersenyum lembut, namun matanya yang tajam tak bisa menutupi kekecewaannya atas kepulangan Lily yang terlambat.
Glekk
Lily menelan ludahnya kasar. Yah, dia memang tidak bisa berbohong. Tapi, ini juga bukan waktu yang tepat untuk jujur. Jadi, Lily memutuskan untuk tetap teguh pada kebohongannya. Ini demi kebaikan, batin Lily.
"Maaf, Biy, Aku terlambat. Aku... Aku memaksa Max untuk menyetujui permintaanku menghabiskan waktu di Pinggir Laut Central Park, Aku... Aku hanya senang dan merasa tenang saat melihat laut"
Lily menunduk, tapi bukan karena menyesal, melainkan takut menatap netra sebiru lautan milik suaminya, takut David bisa membaca dusta yang tersimpan didalam alibinya.
Sementara si pemilik hati wanita itu berusaha memaksakan senyumnya. Otak cerdasnya bisa menangkap jika istrinya sedang tidak jujur padanya, namun hati nya merasa tak tega melihat wanita yang sangat disayanginya kini menunduk sedih, terutama saat melihat bulatan menonjol di perut istrinya, David luluh.
Tidak, Dia sama sekali tidak setega itu meluapkan amarahnya kepada Lily, Ia terus meyakinkan diri bahwa mungkin Lily hanya butuh waktu, untuk akhirnya berkata jujur.
"Tidak apa-apa, Honey. Ayo bersihkan dirimu dan kita makan malam"
"Iya, Biy" maafkan Aku. batin Lily merasa bersalah. Lily sungguh dilema. Ia bisa merasakan sorot kekecewaan dari mata suaminya. Tapi lagi-lagi, Lily tidak bisa jika harus mengatakan kebenarannya sekarang, karena suaminya tak akan mempercayainya.
Diam-diam Lily melirik Ke arah Ibu mertuanya yang kini tersenyum mengejek. Nyonya Charlotte pasti mengatakan sesuatu pada Dave, batin Lily membeo
David menggenggam jemari istrinya, membimbingnya menuju ke kamar mereka.
"Lain kali, beritahu Aku jika kamu pulang terlambat Honey, jadi Aku tidak terlalu mengkhawatirkan Kamu"
"Iya, Biy.... Maaf" cicit Lily pelan seraya kembali menundukkan kepalanya.
David pun meraih tubuh istrinya kedalam pelukannya. Ia menghirup aroma yang selalu mampu menenangkan pikirannya. Namun senyum diwajah lelaki itu seketika menghilang. Wajahnya tampak mengeras.
David mengetatkan giginya hingga sedikit berbunyi saat mencium aroma lain dari tubuh istrinya. Aroma parfum yang David yakini adalah...... parfum laki-laki.
#
"Aku tunggu hasilnya, Jangan mengecewakanku!"
Kali ini Charlotte benar-benar puas. Alam semesta seakan mendukungnya. semua rencananya berjalan mulus. Termasuk menyiapkan kejutan untuk menantu yang yang gagah berani itu.
"Menantu..... Kau terlalu lemah jika harus melawanku. ckckck! sayang sekali Kau terlalu memaksakan diri hahahaha "
Tawa wanita yang masih nampak cantik diusianya yang tak lagi muda itu menggema di dalam kamarnya. Wanita itu kembali menyesap Wine-nya dengan wajah penuh suka cita.
Lagi-lagi wanita itu bersenandung riang, pembalasan dendamnya akan segera terlaksana. menantunya hancur, anak sialan itu (David) juga akan hancur! sekali dayung, dua tiga pulau terlampaui.
#
David menatap lekat wajah lelap Istrinya. Hatinya berdesir nyeri. Dia tahu benar bahwa aroma itu bukanlah aroma wanita. lagipula Lily tidak pernah memakai parfum.
"Kenapa Honey? Kenapa Kamu membohongiku?"
Mata laki-laki itu sudah berkaca-kaca. Namun Ia tak mau gegabah. David memutuskan untuk meminta bantuan Leon mengawasi istrinya mulai saat ini.
David yakin, jika Lily menyembunyikan sesuatu, Dia pasti akan melakukan hal yang sama dengan menemui orang yang sama.
Malam ini Pria bernetra biru itu sama sekali tidak bisa memejamkan matanya, pikirannya menerawang jauh, membayangkan jika Lily benar-benar berkhianat apa yang akan Ia lakukan?
Sungguh, Demi apapun, David sudah jatuh cinta pada Istrinya yang baginya sangat polos itu. Hatinya, Tubuhnya, sangat bergantung pada Lily.
Tanpa sadar, rahang pria itu mengeras. Sorot matanya dipenuhi rasa cemburu dan curiga. Jika memang Lily-nya menghianatinya, Maka David bersumpah Akan menghabisi siapapun lelaki ya g berani bermain api dengan istrinya dibelakangnya.
Pria itupun memutuskan turun dari ranjang, meninggalkan istrinya, menuju ruang kerjanya.
Pria itu mengambil sebotol cairan berwarna putih nan memabukkan yang sudah lama Ia tinggalkan semenjak menjadi Mualaf, yaitu Vodka.
"Kita bertemu lagi, kawan!" Pria itu menenggak minuman beralkohol tinggi itu dengan raut sedih, tanpa sadar matanya meneteskan bulir bening yang sudah lama tak pernah keluar dari kedua matanya.
"Honey! apa kau juga menghianatiku seperti Sarah yang menikahi Dominic?"
Bayangan masa lalu pahit yang berhasil Ia lupakan semenjak kehadiran Lily kini muncul kembali. Kesakitannya, kekecewaannya, kepedihannya merelakan wanita yang sangat di cintainya untuk kakaknya, apakah Lily juga melakukannya?
"Aku sangat mencintaimu, Honey.Kenapa Kamu membohongiku?"
David mulai kehilangan kesadarannya DNA mulai meracuni. Berteriak dan memakai entah pada siapa.
Pada akhirnya Malam itu, seorang Emiliano Davidson kembali terpuruk. Berkubang dalam minuman keras, seperti kebiasaannya dulu saat ingin melampiaskan kekecewaannya yang tidak tersampaikan.
#
Lily terbangun di tengah malam, wanita itu mengernyit bingung saat pelan-pelan ia membuka matanya, namu tak menemukan suaminya di sampingnya.
"Biy....?"
Lily mengedarkan pandangannya ke seluruh sudut kamar, begitu juga ke arah kamar mandi,.tapi sepertinya kosong.
Lily yang kebetulan merasa lapar itupun bergegas turun dari ranjangnya, meninggalkan kamar dan hendak menuju dapur. Barangkali, suaminya ada di sana ataupun di ruang televisi.
Kosong.
Lily celingukan mencari keberadaan suaminya, namun tak ada tanda-tanda bahwa David ada disana.
"Apa Daddy ada di ruang kerja?"
Lily pun bergegas menuju ke ruang kerja suaminya.
Krietttt, pelan-pelan wanita itu membuka pintu ruang yang kini dalam keadaan temaram itu.. Netranya menyusuri seluruh ruangan dengan hati-hati dan..
Tubuhnya menegang saat melihat suaminya terbaring di sofa sudut ruangan dengan penampilan yang.... berantakan!
"Biy, Ya Allah..... Kamu mabuk???" Lily berkata dengan sedih saat melihat suaminya seperti mengigau dengan botol di tangannya.
Bersambung...
Kira-kira beginilah si Daddy David lagi galau mikirin istrinya. hehehe agak ngga nyambung sih tapi ya wislah ya slur... nemunya yang begini 😂😂😂 (credit 📱 Das_jannik)