
"Sebaiknya Kita duduk, orang-orang sedang memperhatikan kita sekarang"
Elena mencoba menenangkan suasana tegang diantara mereka berempat, lagipula ada anak kecil diantara mereka, keributan seperti ini tidak baik untuk kesehatan mentalnya.
"Tidak, Aku akan menjelaskannya sendiri pada Lira, Ele. Aku sungguh kecewa padamu karena bertindak seperti ini tanpa sepengetahuanku"
"Aston, Aku hanya..."
"Cukup! Biarkan aku dan Lira pergi, atau hubungan persaudaraan kita berakhir sampai disini"
"El... apa yang Kamu katakan?"
Kali ini Lily yang berbicara, Dia sama sekali tidak setuju dengan tindakan Aston, Walaupun Lily juga terkejut, tapi masalah ini tentu bisa dibicarakan baik-baik tidak perlu sampai memutuskan tali persaudaraan segala.
Sementara Rosie sendiri hanya tertunduk seraya merengkuh tubuh mungil gadis kecil yang sepertinya berusia 5 atau 6 tahun itu. Lily bisa melihat jika Rosie juga tertekan dengan suasana saat ini.
"Aku mohon Lira, Aku akan menceritakan semuanya, tapi hanya antara Aku dan Kamu, please!"
Aston berbicara dengan mata yang memerah, membuat Lily merasa tidak tega. Masalah ini pasti sangat berat untuk Aston. Lily pun kemudian menoleh ke arah elena dan memberikan kode lewat tatapan matanya agar membiarkan dirinya dan Aston pergi.
Elena menghela nafas berat, namun sejurus kemudian wanita itupun mengangguk setuju.
Lily dan Aston pergi dari Cafe itu, meninggalkan Rosie dan Elena serta gadis kecil itu menatap sendu ke arah mereka berdua.
#
#
"Jadi.. apa yang sebenarnya terjadi El?"
Lily akhirnya memulai pembicaraan setelah bermenit-menit mereka dilanda keheningan.
Melihat Aston hanya diam seraya menatap kearah pemandangan laut yang indah disana, Lily pun kembali membujuk,
"El... Apapun yang akan kamu katakan, Aku pasti akan mendengarkannya dengan baik, katakanlah, siapa tahu aku bisa memberikan pendapatku"
"Tidak... Kamu pasti akan semakin menjauh"
Aston menunduk, menyesali keadaan rumit ini.
"Kamu sudah berjanji akan menceritakannya padaku El, kenapa sekarang Kamu ingkar?"
"Karena Kau takut, Kamu pasti akan pergi dariku"
"Jadi semua itu benar? anak itu adalah putrimu?"
"Aku... belum memastikannya"
"Lalu kenapa tidak kamu lakukan? bukankah lebih cepat lebih baik?
Lily tersenyum lembut kemudian menghampiri Aston yang kini berdiri dengan tatapan kosong.
"Apa yang sebenarnya Kamu khawatirkan El?"
Lily bertanya dengan mata berkaca-kaca, Aston sepertinya bukan tipe pria yang akan lari dari tanggungjawab. Apa karena dirinya Aston tidak mau mengakui anak itu?
"Kamu"
"El... Aku..."
"Aku tahu Lira, Kamu tidak memiliki perasaan padaku, tapi Aku masih berusaha, dan Rosie malah kembali dengan menyebabkan kekacauan ini"
"El, Kamu tahu bahkan sebelum ada masalah ini Aku belum bisa menerimamu, jangan salahkan Rosie, mungkin memang kita tidak ditakdirkan bersama, apalagi sekarang ada anak itu yang jelas lebih membutuhkanmu"
"Aku bahkan tidak tahu pasti anak itu benar-benar anakku atau bukan, Rosie menghilang 7 tahun lamanya tanpa kabar apapun seperti di telan bumi, sekarang tiba-tiba dia datang seenaknya dengan membawa anak, sangat tidak masuk akal"
"Jalan keluarnya hanya satu, jika Kamu tidak yakin maka lakukanlah test DNA. El, maaf bukannya Aku membela Rosie, tapi Aku yakin Dia tidak berbohong, lagipula anak itu.... mirip sekali denganmu"
Lily mengatupkan bibirnya, ada perasaan aneh dihatinya saat mengatakan ini. Baru saja Ia ingin memutuskan untuk menerima Aston, Tapi kenyataannya sekarang ada Rosie dan putrinya. Sepertinya Aston dan dirinya memang tidaklah berjodoh.
"Apa itu berarti, kamu juga akan pergi dariku?"
"Maafkan Aku El, Aku rasa kita memang tidak berjodoh"
Lily menatap sendu Pria tampan dihadapannya itu, 5 tahun mereka bersama meskipun di hatinya tidak tumbuh perasaan cinta, tapi Lily sangat nyaman dan bahagia bersama Aston, Dia pria yang sangat melindungi dan menjaganya. Tapi begitulah kehidupan, terkadang tidak berjalan sesuai keinginan manusia itu sendiri.
Aston hanya menganggukkan kepalanya, Dia tahu Lily tidak akan bisa dipaksa. Pria itupun berkata,
"Tidak apa, Aku juga tidak ingin memaksamu Lira, Tapi bolehkah Aku memelukmu? for the last time"
Aston menatap Lily dengan haru. Batinnya berkecamuk dengan berbagai perasaan. Sedih, kecewa marah dan benci dengan keadaan ini bercampur menjadi satu.
Lily tahu mereka bukanlah Mahram, tapi kali ini Lily berfikir Aston mungkin sangat membutuhkannya.
'Kali ini aja Ya Rabb, Pria ini sedang tidak baik-baik saja' Batin Lily memohon ampunan.
Wanita itupun meraih tubuh kekar di hadapannya untuk di peluk. Aston pun membalasnya dengan hangat.
Tak apa Dia tidak mendapatkan Lira, menjadi sahabatnya saja sudah cukup untuk Aston.
Ternyata, adegan yang terlihat romantis itu terekam oleh tatapan tajam seseorang yang tak lain adalah... David.
Leon yang menyaksikan Bosnya membisu dengan tatapan kosong tidak berani berkomentar apapun. Biarlah dia ikut membisu, asalkan tidak kena semprot.
"Kita pergi dari sini"
Ucap David singkat kemudian berbalik meninggalkan tempat itu, menjauh dari Lily yang masih setia berpelukan dengan Aston.
#
#
Malam Harinya di Hotel.
Lily berdiri didepan jendela Hotel yang terbuka tirainya, menikmati indahnya pemandangan malam hari ini. Pikirannya kembali berputar pada kejadian pagi tadi.
Ting Ting
Gawainya tiba-tiba berdering, Lily pun berjalan menuju nakas yang ada di samping ranjang untuk meraih benda pipih miliknya itu.
'Elena?'
"Halo Ele"
"....."
"Apa Aku harus datang?"
"....."
"Ya, Baiklah, Aku segera kesana"
Lily sedikit mengerutkan keningnya, Ele memintanya datang ke sebuah Cafe didekat hotelnya, Rosie ingin berbicara dengannya.
Apakah ini tentang Aston? Lily merasa bahwa masalah ini seharusnya tidak melibatkan dirinya, Karena Elena sudah mengetahui bahwa Dirinya telah menolak Aston beberapa bulan lalu.
Tidak mau terus berspekulasi sendiri, Lioynpun segera bergegas menuju tempat yang sudah di kirimkan alamatnya oleh Elena.
Lebih cepat selesai lebih baik. Lusa Dia sudah harus mengurus kerjasama dengan Mannings, jadi dia harus fokus pada pekerjaannya itu.
Sesampainya Di Cafe, Lily melihat Rosie tengah duduk di sebuah bangku didekat jendela kaca yang terlihat jelas dari tempatnya berjalan saat ini, wanita itu tampak melempar senyum lembutnya seraya melambaikan tangan. Lily pun membalasnya dengan hangat.
"Sudah lama menunggu?"
Lily mengulurkan tangannya untuk bersalaman, Setelahnya Ia menarik kursi untuknya duduk dengan nyaman.
"Tidak, Aku juga baru tiba, maaf Kau telah mengganggu waktumu, Nona..."
"Lily, Kamu bisa memanggilku Lily"
"Lily? Nama yang bagus... tapi sepertinya Aston memanggilmu dengan nama yang lain?"
"Oh, Ya Dia memanggilku Lira, anggap saja sama hehe"
"Baiklah, sebelumnya Aku minta maaf karena mungkin kedatanganku dan Angel putriku telah merusak hubungan kalian, Aku sungguh terpaksa, Angel sudah berusia 6 tahun dan terus menanyakan tentang Ayahnya, jadi.... Aku...."
"Jangan merasa bersalah Nona.."
"Rosie"
" Ya, Rosie, Maksudku Nona Rosie. Sebenarnya Aku dan Aston sudah lama berpisah, dalam artian Aku memutuskan untuk tidak melanjutkan hubungan kami sejak beberapa bulan yang lalu karena sesuatu hal. Jadi, kedatanganmu dan berakhirnya hubunganku dengan Aston sama sekali tidak ada hubungannya, lagipula Elena juga sudah mengetahui semuanya, apa Dia tidak mengatakannya padamu?"
"Tidak, Maksudku ya, Elena sudah menceritakan semuanya, tapi.. seperti yang Kamu tahu bahwa, Aston masih sangat menginginkan dirimu"
Rosie menatap Lily dengan mata berkaca-kaca, kemudian Dia melanjutkan,
"Aku tahu ini terkesan jahat, tapi... bisakah Kau melepaskannya untukku dan Angel?"
Rosie tiba-tiba menggenggam jemari lentik Lily, dua bulir bening mengalir dari netra birunya.
"Aku bisa melihat Aston sangat mencintaimu, tapi.. Aku juga tidak mau membuat Angel semakin menderita karena akan kehilangan Ayahnya, jadi... bisakah Aku memintamu benar-benar melepasnya?"
Rosie tertunduk sesungguhnya Ia malu melakukan ini, tapi demi putrinya Dia siap melakukan apapun.
"Sssst... Kamu tidak perlu memohon seperti itu padaku Rosie, Aku memang sudah melepaskannya. jadi, Kamu tidak perlu mengkhawatirkan apapun"
"Tapi... Aston masih menolakku"
"Itu wajar, Dia butuh waktu karena semua ini pasti terlalu tiba-tiba untuknya. Dekatkan Dia dengan Angel, percayalah tidak adak seorangpun Ayah didunia ini yang benar-benar menolak darah dagingnya sendiri, Dia hanya butuh waktu Rosie, Yang terpenting Kamu jangan berhenti mencoba"
Rosie menatap Lily dengan kagum. pantas saja Aston begitu mencintai wanita ini, Dia masih sangat muda tapi memiliki kebijaksanaan yang jauh melampaui dirinya. Sungguh Rosie merasa malu pada Lily.
"Aku tidak tahu bagaimana cara membalas kebaikanmu"
"Buatlah Aston bahagia, maka itu lebih dari cukup untuk membalas ku"
"Tentu, Aku... masih sangat mencintainya"
"Aku tahu, Aku bisa melihatnya dari matamu"
"Lily"
"Jangan berputus asa, Semua pasti akan baik-baik saja. Aston akan menerima Angel, begitu juga dengan dirimu"
Lily tersenyum hangat tanpa melepaskan genggaman tangan dari Rosie, kedua wanita itu saling menatap haru Satu sama lain.
Sampai akhirnya Lily pamit undur diri dan kembali ke Hotelnya.
Hatinya mungkin sedikit sedih, tapi kebahagiaan lebih banyak mendominasi. Aston pasti akan bahagia bersama putrinya sekaligus Rosie.
Lily sungguh-sungguh mendoakan mereka dengan tulus...
Bersambung