My Hot Boss, I Love You

My Hot Boss, I Love You
Penyesalan Leon



"Brengsek!!!" Leon memaki anak buahnya dengan nafas memburu saat tiba di lokasi kecelakaan Max dan Lily.


"Sepertinya Aku terlalu lembut pada kalian. Bagaimana mungkin kalian bisa kecolongan seperti ini Bangs*t!!"


Semua Anak buah Leon hanya menunduk tanpa ada satupun yang berani menjawab.


"Turun ke lokasi sebelum polisi datang. Cari apapun yang bisa kita jadikan bukti, termasuk jasad Max ataupun Nyonya Davidson!"


Leon menyebutkan nama keduanya dengan suara bergetar. Tidak ada yang tahu betapa besar penyesalannya karena terlambat bertindak.


Tanpa buang waktu semua anak buah Leon yang jumlahnya tidak kurang dari 50 orang itu langsung turun ke dasar jurang untuk mencari petunjuk apapun itu, termasuk keberadaan Max dan Lily.


Bukankah tidak ada salahnya, jika Leon masih berharap mereka berdua selamat?


Tak lama kemudian Suara sirine mobil kepolisian datang tapi mereka ternyata lebih takut dengan Leon dan orang-orangnya, Jadi tanpa menunggu lama , pihak kepolisian itu segera meninggalkan tempat kejadian seolah tidak terjadi apapun.


"Jangan berhenti melakukan pencarian, Aku sudah membereskan pihak kepolisian agar selama kita bertindak mereka tidak boleh ikut campur"


"Baik Tuan"


"Cepat bergerak sebelum hari gelap!"


Leon pun ikut turun tangan dalam proses pencarian itu.


Apapun, apapun akan ia lakukan asal bisa menebus keterlambatannya.


#


#


Alice baru saja selesai melakukan operasi. dan syukurlah semuanya berjalan dengan lancar. Tapi, perasaan David sedari tadi bahkan tidak merasa bahagia sedikitpun. Ada kegelisahan besar yang mengganggu pikirannya.


Ia terus memikirkan istrinya, Lily. Semua kata-kata Lily terngiang di telinganya.


"Aku harus mencari tahu sendiri tentang foto-foto itu"


Batin David bermonolog. Pria itu melihat Ibunya datang dengan sebuah bungkusan yang sepertinya adalah makanan dan minuman.


"Dave, makanlah terlebih dulu. Kamu belum makan apapun sejak datang ke rumah sakit nak"


Ucap Charlotte dengan lembut.


"Terima kasih Mom, Bolehkah Aku ke kamar kecil sebentar? Aku ingin membasuh wajahku agar sedikit lebih segar "


"Tentu, Nak... cepatlah kembali"


"Hmn" David tersenyum kemudian berlalu meninggalkan Charlotte di ruang tunggu.


"Halo, Aku akan mengirimkan sebuah foto, selidiki dimana tempatnya. Jika sudah ketemu segera kabari Aku"


"......"


"Hmn, Aku tunggu hasilnya, secepatnya"


Davidpun mencoba menghubungi Max, namun Nomor ponselnya tidak bisa di hubungi. Hingga beberapa kali panggilan, masih tetap tidak ada jawaban. Davidpun memutuskan untuk kembali ke ruang perawatan Alice.


#


"Tuan, mobil itu sudah hangus tak bersisa, tapi...."


"Tapi apa?"


"Sepertinya hanya ada satu jasad yang ikut terbakar Tuan, dan kami bisa pastikan bahwa itu adalah, Max"


Leon memejamkan matanya yang terasa memanas. Max, orang kepercayaannya yang sudah bersamanya bahkan sejak masih remaja.


"Max..." Tangan Leon terkepal erat. Lagi-lagi dia kehilangan orang yang berarti dalam hidupnya setelah kepergian Ayahnya.


"Aku pasti tidak akan melepaskanmu Martin"


Rahang pria 28 tahun itu mengeras menimbulkan ekspresi iblis yang menakutkan, kemudian berseru,


"Cari Nyonya Davidson. Jika Dia tidak ada di sini kemungkinan besar dia terlempar sebelum mobil ini meledak. Cepat bergerak"


"Baik, Tuan" Seru orang-orang itu serentak.


Kemudian semua anak buahnya segera berlari dan saling berpencar untuk menyisir wilayah itu, berharap bisa menemukan Lily disana.


"Halo, James"


"......"


"Mobil Lily masuk ke jurang. Aku butuh bantuanmu"


"....."


"Yah, Tolong cepatlah. Aku akan membagikan lokasinya padamu. Dan tolong.... Jangan sampai ada yang mengikutimu"


"....."


"Hmn, Terima kasih"


Leon lekas meletakkan ponselnya kembali kedalam saku. Kemudian ikut menyusuri wilayah jatuhnya mobil itu bersama anak buahnya.


Sementara itu James yang kaget setengah mati mendengar kabar dari Leon secepat kilat meluncur ke lokasi yang sudah di share oleh Asisten David itu.


"Maafkan Aku Lily, seharusnya ini tidak akan terjadi jika saja.... Aaarrrgh!!"


Pria itu memukul kemudinya dengan keras, saat teringan terakhir kalinya bertemu dengan Lily dan Wanita itu meminta pertolongannya.


"Astaga Davidson, IQ mu benar-benar Jongkok. Kau bahkan tidak mempercayai istrimu sendiri. Kau gila dan tidak waras. Kau pasti akan menyesalinya, bedebah sialan!!!"


James tidak bisa berhenti memaki, pikirannya sudah tidak karuan. Mobil Lily jatuh ke jurang??? Astaga. Semoga wanita itu di beri keajaiban agar masih bisa diselamatkan. Batin James terus merapalkan do'a.


Saat sedang melewati sebuah Halte Busway, tidak sengaja James melihat gadis kecil yang seingatnya adalah teman Lily, siapa namanya? Ah dia Tidak begitu ingat.


Tiba-tiba....


Ciiiitttttt


"Hai Nona kecil"


Mendengar Suara seseorang, Fany yang tengah fokus menghubungi Lily yang sejak tadi tidak bisa dihubungi pun menoleh.


"Saya?"


"Masih ingat denganku?" James berkata dengan tersenyum ramah.


"Anda? yang waktu itu..."


"Yups, James. Teman Marry"


Mendengar Ucapan James, Fany hanya manggut-manggut. Kenapa nih bule nyamperin Aku? Fany bertanya-tanya dalam hati. Namun belum terjawab rasa penasarannya, James berkata,


"Ikutlah denganku Nona"


"Ikut dengan Anda? untuk apa?"


"Ini sangat penting, Jika kamu ingin tahu keadaan sahabatmu"


"Maksud Anda, Lily?"


"Yes"


Jawab James singkat, membuat Fany seketika diserang rasa panik.


"Apa... terjadi sesuatu padanya?"


"Kau akan tahu jika bersedia ikut denganku"


"Anda tidak sedang membohongiku kan?"


"Hei Nona, ini bukan waktu yang tepat untuk mencurigaiku, lagi pula tidak ada untungnya membohongimu, lebih baik Aku membohongi Ayahku, Aku akan dapat uang yang banyak"


Fany pun menatap pria bule dihadapannya dengan sebal.


"Jadi, ikut atau tidak?"


"Ya baiklah. Awas saja jika Anda berbohong"


"Yah, kau bisa meminta apapun jika Aku membohongimu. Cepatlah, kita tidak punya banyak waktu"


Fany pun segera menyusul langkah lebar James yang sudah mendahuluinya.


Merekapun segera melesat dengan Supercar Lamborghini Gallardo Superleggera.


#


#


"Ini dimana? kenapa kita ke hutan seperti ini Tuan?"


"Ikut saja. Jangan banyak bertanya"


"Tidak bisa. Saya tidak bisa ikut orang asing ke tempat seperti ini"


"Bisakah kau diam dan ikuti saja Aku??"


"Tidak. Aku tidak akan ikut jika Anda tidak menjelaskan kemana kita akan pergi"


James menarik nafas dalam-dalam. Menghadapi wanita memang sangat sulit. Serba salah dan mau menang sendiri.


"Oke fine. Mobil Lily masuk ke jurang dan kita akan ke lokasi dimana mereka jatuh? puas?Hmn?"


Hampir keluar bola mata gadis itu mendengar ucapan James. Fany hanya bisa menganga tak percaya. Tidak mungkin. Bule ini pasti berbohong. Lily masih menghubunginya beberapa waktu yang lalu.


"Tidak mungkin"


"Tidak percaya. Kalau begitu tetaplah disini. Aku mengajakmu karena kamu adalah sahabatnya"


"Tapi, Lily masih menghubungiku beberapa saat lalu "


"Well, apa sekarang dia bisa dihubungi?"


Fany pun diam membisu karena kenyataannya Lily tiba-tiba tidak bisa dihubungi.


"Ikutlah" James sedikit kasihan melihat wajah gadis 'mini' dihadapannya yang tiba-tiba memucat.


Fany pun menurutinya. Tiba-tiba perasaannya menjadi buruk.


Mudah-mudahan tidak terjadi apapun pada Lily, Ya Allah. Batin Fany berdoa untuk sahabatnya itu.


Sesampainya Di lokasi...


"Leon!"


James segera menghampiri Leon yang kini berdiri di bangkai mobil dengan wajah frustasi.


"What's Happen?"


"Mereka, Tidak selamat James"


"No, way! You're kidding, right?"


"I'm so sorry, but It's true. Mayatnya sudah ditemukan"


"Nggak mungkin, Lilyyy... Ya Allah... Lilyyy"


Suara histeris itu bukan dari James, melainkan Fany yang secara jelas mendengar ucapan dari Leon barusan.


Gadis itu menangis histeris. Tidak mungkin, Lily tidak mungkin sudah meninggal....


"Lilyyyy, Huhuhuhuuu"


Bersambung