
Lily masih setia memandangi foto USG kandungannya yang kini memasuki usia 17 Minggu.
jemarinya dengan lembut membelai gambaran putranya yang nampak sangat kecil disana.
Bahkan Lily saat ini sudah mulai merasakan ada pergerakan walaupun tak begitu kentara. rasanya ia tak sabar menunggu hari itu, hari dimana bayi kecilnya lahir kedunia ini.
Tanpa disadari Lily tersenyum sendiri, dan pemandangan itu tak luput dari perhatian David, Suaminya.
"Sepertinya sebentar lagi aku akan mendapat saingan berat" Ucap pria berjambang itu kemudian merebahkan kepalanya di pangkuan istrinya yang sedang bersandar di bahu ranjang.
"Dia anak kamu Biy, bukan saingan" Balas Lily seraya mengusap kepala Suaminya dengan sayang.
"Yah, tapi dia pasti akan mencuri perhatianmu seluruhnya, Honey"
"Bukan hanya aku Biy, percayalah nanti saat dia lahir bahkan Kamu bahkan Alice juga akan lebih perhatian padanya"
"Hmm.. tapi berjanjilah satu hal"
"Apa itu?"
"Jangan mengurangi jatah malamku"
"Huuh Dasar bule mesum" ucap Lily dalam bahasa Indonesia.
"Kamu ngomong apa?" Tanya David yang mengerti arti bahasa yang digunakan istrinya.
"Aku bilang kamu ganteng Biy" Jawab Lily berbohong kemudian terkikik geli.
"Really? tidak bohong?"
"Tidak, Biy... hehe. Oh ya, dimana Alice? bukankah tadi Kamu menemaninya bermain?"
"Alice sekarang bersama Mommy Charlotte, Honey" Jawab David yang dibalas dengan anggukan kepala oleh istrinya.
"Honey..." David mendudukkan tubuhnya, mensejajarkan wajahnya dengan istrinya, kemudian menatap lekat netra hazle itu dengan tatapan penuh arti.
"Ya?" tanya Lily yang sedikit bingung melihat perubahan wajah suaminy.
"Aku belum pernah mengatakan ini sebelumnya padamu, Honey. Aku memohon maaf atas kesalahan yang pernah Aku lakukan padamu, Aku sungguh...."
"Biy, semuanya sudah berlalu. dan lihat sekarang, Aku bahagia bisa memilikimu dan Alice dalam hidupku. kalian adalah rumah Ke-duaku setelah Ibu dan Diva adikku di Indonesia" Potong Lily yang sebenarnya sudah bosan mendengar ucapan maaf suaminya hampir setiap hari.
"Hmm... Ibu... Aku berhutang maaf banyak sekali padanya, karena pernah menyakiti putrinya"
"Ibu sudah memaafkanmu Biy, bahkan beliau meminta kamu berlibur ke Kampung kami kalau ada waktu nanti" Jelas Lily jujur.
"Really? kalau begitu saat baby peanuts lahir nanti kita akan ke Indonesia"
"Seriously?"
"Yes, Honey. Asal Kamu mau berjanji satu hal padaku"
"Janji Apa Biy?"
"Berjanjilah untuk selalu bersamaku, dalam suka ataupun duka" Ucap Janji seraya menautkan jari kelingkingnya.
"Janji" Lily membalas tautan itu dengan mata berkaca-kaca. kemudian memeluk Suaminya itu. Entah apa yang kini ada dalam benaknya, ada rasa gelisah yang tidak bisa Lily jelaskan. ada ketakutan kalau sesuatu akan terjadi pada mereka. Tapi, lagi-lagi Lily tidak mau berfikir negatif. Dia yakin Allah SWT akan selalu melindunginya dan keluarga kecilnya ini. Aamiin.
Malam telah larut,
Di sebuah kamar yang temaram,
Seorang wanita dengan piyama satin memainkan sebuah bolpoin, memutarnya kesana-kemari seolah hal itu sangatlah menarik dan menyenangkan.
Dengan gelas yang berisikan minuman fermentasi dari buah anggur yang ada di genggamannya, Wanita itu nampak sedang menerawang jauh.
Wajahnya yang tak lagi muda menampakkan kerutan-kerutan halus di sekitar kelopak mata, menandakan usianya yang mulai surut.
Namun tidak dengan kebencian dan dendamnya, tidak akan pernah surut. malah semakin tertanam dalam.
Setitik bulir bening mengalir dari sudut matanya.
"Dominic putraku yang malang" Bibirnya bergumam pelan kemudian kemudian bibirnya melengkungkan senyum yang mengerikan, seperti seorang psikopat gila. Menatap sebuah gambar laki-laki tampan yang tengah tertawa bahagia.
"Mommy akan membuat tawamu kembali nak, Mommy berjanji. Akan menghancurkan dia yang menyebabkan kematianmu sampai benar-benar hancur hahahah" wanita itu tertawa dan sejurus kemudian menangis lagi.
Charlotte benar-benar sudah kehilangan kewarasannya. Namun tidak ada yang mengetahui alasan di balik kebencian wanita itu kepada David, kecuali penulis novel ini :v
Tak lama kemudian, Charlotte meraih ponsel pintarnya, mengetikkan beberapa nomor disana..
"Halo, Sayang"
"......"
"Aku sudah muak melihat bajingan kecil itu terlihat sangat bahagia, sementara putraku sudah terkubur di tanah. Jalankan rencana kita secepatnya. Aku akan memulainya dengan menghabisi istrinya ya g rendahan itu"
"....."
"Kita akan menguasai semuanya. semua ya g seharusnya menjadi milik Dominic" Desis Charlotte dengan mata merah. Persis seperti boneka Anabel versi tua.
setelah panggilan berakhir, Charlotte kembali menikmati wine nya dengan sesekali bersenandung, seolah hari-hari nya esok akan sangat membahagiakan.
Wanita itu lupa, bahwa manusia hanya bisa berencana, selanjutnya Tuhanlah yang menentukan.
Keesokan paginya, David sedikit terburu-buru berangkat ke Kantornya. Ada rapat penting yang mengharuskan dirinya hadir disana. Dan sialnya, karena semalam Ia kembali menggarap Istri cantiknya sampai hampir dini hari, jadilah sekarang Pria itu kesiangan.
"Honey... tolong pasangkan dasiku" Pinta David yang sedari tadi tak kunjung selesai memasangkan dasi.
"Iya" Lily dengan cepat menghampiri suaminya, kemudian tersenyum lucu melihat wajah panik suaminya itu.
"kenapa senyum-senyum?" Tanya David kemudian mencubit gemas pipi istrinya yang sedikit berisi sekarang.
"Makanya jangan ajak Aku lembur terus Biy, jadi kesiangan kan?" goda Lily dengan tersipu-sipu.
"Tapi enak kan?" Jawab David dengan tidak tahu malunya. membuatnya dihadiahi cubitan di pinggangnya.
"Auuh, kenapa Kamu sangat senang mencubit orang Honey" sungut David pura-pura sebal.
"Salah sendiri, tidak tahu malu" balas Lily seraya memonyongkan bibirnya.
"Tapi benar kan?" ucap David yang ingin terus menggoda istrinya.
"Udah sana berangkat. katanya udah kesiangan" Usir Lily sambil mendorong pelan tubuh kekar suaminya itu.
"Hahaha, baiklah-baiklah.. Aku berangkat, Honey!"
"Hmm, hati-hati"
"I love you"
"I love you more"
"Bye-bye!" Ucap David kemudian mengecup singkat bibir istrinya dan melenggang keluar dari kamar.
Melihat suaminya menghilang dari pandanganya, LiLy bergegas membereskan tempat tidur dan pakaian kotor ke dalam keranjang.
Hari ini Lily ada janji bertemu dengan Fany, sahabat seperjuangannya saat di penampungan dulu. Tentu saja setelah dengan susah payah mendapatkan izin dari suaminya.
Kebetulan juga hari ini Alice diantar Oleh Mommy Charlotte dan katanya akan pergi ke arena permainan di Central, jadi Lily punya waktu untuk ber Me-time.
Apalagi Dia dan Fany sudah lama sekali tidak bertemu. Pasti akan sangat menyenangkan bisa berbincang dengan gadis ceria itu. Lily juga suda menceritakan pada Fany tentang pernikahannya dengan David. Jadilah sahabatnya itu sangat antusias bertemu dengannya, bahkan sudah sedari pagi terus mengingatkan pertemuan mereka.
Lily tersenyum sendiri jika mengingat permintaan Fany yang ingi dicarikan bule juga. Padahal kalau Lily ceritakan awal mulanya dia bisa sampai menikah dengan David, Fany pasti akan langsung berubah pikiran.
Tak mau membuang waktu, setelah membereskan rumah, Lily bersiap-siap untuk pergi untuk menemui sahabatnya, Fany.