My Hot Boss, I Love You

My Hot Boss, I Love You
Terima Kasih Telah Menjadi Ibuku



David menatap wajah damai Charlotte yang terbaring didalam peti mati yang sudah dihiasi bunga-bunga.


Meskipun David sudah menjadi mualaf, tapi Ia merasa sudah menjadi kewajibannya mengurus jenazah ibunya karena dialah satu-satunya keluarga Charlotte.


Jenazah Charlotte akan melalui proses kremasi yang akan dilakukan di daerah Yautong, Hongkong. Tepatnya di lereng bukit Devil's Peak Hongkong, untuk kemudian abunya akan di makamkan di New York City, Amerika Serikat karena Charlotte adalah warga negara Amerika.


"Terima kasih Mom, Karena telah menjadi Ibuku selama ini"


David kembali menitikkan dua bulir bening dari kelopaknya.


"Tuan...."


Leon yang berada di belakang David ikut merasakan perih. Kini, David hanya memiliki dirinya dan juga Alice sebagai keluarga. Meskipun hubungan David dan Charlotte merenggang selama 5 tahun ini, Tapi sesungguhnya David tak pernah membenci wanita itu. David hanya kecewa karena Charlotte begitu slau dengan harta sampai bisa melukai istri dan anaknya saat itu.


"Kenapa nasibku sangat buruk Leon, dimasa lalu Aku gagal menjaga anakku, sekarang Ibuku mengorbankan nyawanya untuk menyelamatkan Aku, Kenapa? kenapa Aku sangat tidak berguna?"


"Tuan, Jangan bica seperti itu, ini semua sudah menjadi takdir Tuhan"


David memejamkan matanya, kepahitan memenuhi jiwanya. Hingga dirinya takut jika Ia kembali akan melukai seseorang jika tetap hidup. Dia merasa membawa sial untuk orang-orang di sekitarnya.


Ayahnya meninggal karenanya juga, Dominic dan Sarah juga meninggal karena melindunginya.


'Kenapa? kenapa Aku membawa sial untuk orang-orang disekitarku?'


Batin David menghakimi dirinya sendiri.


"David!"


Suara familiar itu mengejutkan David.


"Marry??"


Marry tersenyum, dibelakangnya muncul pria tengil dengan sejuta tingkah menyebalkannya, James Crawford.


"Aku mendengar dari Leon kalau Bibi.... Aku turut berdukacita Dave"


"Aku juga turut bersedih Tuan Davidson, Aku yakin Nyonya Crambhell sudah bahagia disisi Tuhan"


"Thanks"


Jawab David singkat, Ia memaksa diri untuk tersenyum meskipun dapat terlihat jelas bagi siapapun yang melihatnya bahwa Pria itu tengah terpukul batinnya.


Marry pun menghampiri peti jenazah Charlotte dan melihat wajah wanita cantik itu untuk terakhir kalinya. Yah, Bagaimanapun semua yang terjadi di masa lalu adalah takdir. Saling memaafkan dan berdamai adalah pilihan yang terbaik agar hati menjadi tenang dan bahagia.


Disaat yang bersamaan, Lily muncul bersama dengan Aston disampingnya.


"Tuan Davidson, Saya turut berdukacita atas meninggalnya ibu Anda" Ucap Aston seraya merangkul tubuh David. Davidpun membalasnya dengan hangat.


"Turut berdukacita David, Nyonya sudah bahagia disana, Insyallah"


"Thank you, Lily"


David dan Lily saling menatap, Namun David lebih dulu memutuskan pandangan mereka.


'Aku harus menjauhinya, atau Lily juga akan celaka karena Aku yang selalu membawa sial'


David kembali menundukkan kepalanya. Lily menjadi sedih karena merasa David sekarang menjauhinya. Tapi biarlah, toh mereka memang akan berpisah kan?


#


#


Setelah jenazah Charlotte di kremasi, Abunya ditempatkan di sebuah guci yang sangat cantik. Guci itu kemudian dibawa oleh David untuk Ia bawa ke Amerika Serikat, minggu depan.


Yah, David memutuskan untuk meninggalkan semua urusan perusahaan sementara dan kembali ke Negara untuk membenahi diri dan menenangkan pikirannya.


"Leon, Aku dan Alice akan ke Amerika untuk menangani perusahaan Crambhell milik Ayahku, Wafatnya Mommy tentu akan membuat stabilitas Perusahaan terganggu"


"Baik Tuan. Tidak perlu khawatir dengan proyek disini, Saya dan Tuan Aston akan bekerja sama dengan baik"


"Hmn, Terima kasih Leon. Kau selalu bisa diandalkan"


"Sama-sama Tuan"


"Hubungi Aku jika ada apa-apa"


"Baik, ngomong-ngomong kapan Tuan akan kembali? Saya dengar tanggal 15 Nyonya dan Aston akan bertunangan, apakah Tuan tidak akan hadir?"


"Tidak, Aku rasa, Aku sudah rela melepaskannya untuk bahagia bersama dengan Aston, Aku tidak mampu membahagiakannya Leon"


David menjawab dengan tersenyum, tapi Leon sungguh mengetahui jika tuannya itu sangat terluka. Betapa bodohnya Dia mengatakan tentang pertunangan itu.


Maksud hatinya adalah agar David tidak terlalu lama di AS, ternyata dugaannya salah, kematian Charlotte benar-benar merubah David menjadi lebih... tenang?


"Tuan..."


"Ya...?"


Leon mengatupkan bibirnya, ekspresi serius terpancar dari wajah tampannya, kemudian Ia bertanya dengan ragu-ragu,


"Apa Tuan yakin akan melepaskan Nyonya Lily?"


"Aku sangat mencintainya Leon, lebih dari apapun di hidupku"


David menahan sesak yang menggerogoti jiwanya, membuatnya hancur perlahan.


"Tapi Aku sadar, bersamaku Dia mungkin tidak akan bahagia. Masih ada Martin dan kesialanku"


"Kesialan? apa maksudmu Tuan?"


"Leon, Kau tahu pasti, berapa banyak nyawa yang sudah melayang karena Aku. Ayahku, Dominic, dan Sarah juga... kemudian bayiku... sekarang... Mommy Charlotte"


"Tuan, apa yang Anda bicarakan? mereka meninggal karena memang takdir, itu semua kehendak Tuhan, bukan karena sial"


Leon mulai tersulut emosi. Oh ayolah, David adalah pebisnis yang seharusnya sangat logis. Kenapa bisa berpikiran dangkal seperti itu?


"Kau tidak akan mengerti Leon. Yah itu semua memang takdir, tapi Aku tidak bisa memungkiri ikan jika mereka semua tewas karena melindungiku? jadi apa bedanya dengan Aku yang membawa sial?"


"Tuan.."


Leon ingin membantahnya lagi, tapi kata-kata yang ingin diucapkannya mengambang di udara. Bagaimanapun akan menjadi percuma berbicara dengan orang yang tengah berputus asa, tidak akan ada gunanya. Jadi Leon memilih diam. Mungkin benar, David butuh ketenangan.


#


#


Hari yang ditentukan akhirnya tiba, David beserta Alice bertolak ke Amerika Serikat. Pria itu butuh waktu untuk memikirkan hidupnya kedepan dengan tenang, sesuai permintaan Lily, David sudah mengurus perceraian mereka dan mungkin dalam waktu dekat akan segera resmi.


Ini adalah keputusan terbaik menurut versi David. Dia tidak mau mencelakai siapapun lagi terutama orang yang sangat dia cintai.


Martin masih hidup dan entah ada dimana karena Leon belum berhasil menemukannya.


Segala kemungkinan bisa terjadi termasuk mencelakai keluarganya lagi dan David tidak ingin semua itu terjadi. Pergi menjauh adalah pilih terbaik.


#


#


"Lira, Bicaralah...."


"El, Aku... Aku tidak tahu darimana harus memulainya"


"Mulailah dari yang ada di pikiranmu saat ini"


"El, Aku... Tidak bisa meneruskan pertunangan kita, Maaf"


Lily tertunduk, Wanita itu menggigit bibirnya kuat-kuat. Dia tahu keputusannya mungkin akan menyakiti Aston, tapi sungguh Dia tidak bisa memaksakan hatinya untuk Pria itu.


Tapi, bukan berarti pula Lily akan kembali pada David, lagipula Pria itupun memilih melanjutkan perceraian dengannya dan kembali ke Amerika Serikat. Jadi Lily mungkin akan mengikuti jejaknya. Kembali ke Indonesia dan hidup damai disana biarpun hanya makan seadanya. Asal berkumpul dengan ibu dan adiknya, semuanya pasti akan terasa indah.


Lily sama sekali tidak memikirkan cinta dan lainnya, Dia hanya ingin menjalani hidupnya yang baru di kampung halaman. Membangun bisnis misalnya?


"Apa karena David?"


Lily sontak menatap manik abu-abu tua milik Aston, Wanita itu bisa melihat jelas pancaran kekecewaan disana.


"Tidak, kami sudah bercerai El, Aku hanya merasa akan tidak adil bagimu untuk hidup bersamaku sementara Aku tidak akan bisa membalas perasaanmu. Aku ingin kembali ke Indonesia dan memulai hidup baru disana"


Aston membuang wajah, Jika Pria itu marah, maka Lily sangat memakluminya.


"Aku akan tetap menjadi sahabatmu El, Aku akan membayar semu hutang-hutangku padamu. Tapi Aku mohon, maafkan Aku"


"Hehe... Aku sudah tahu ini pasti akan terjadi"


"El... "


"Pergilah... Aku mencintaimu bukan untuk memaksamu tetap bersamaku, Aku ingin kamu bahagia. Jika bahagiamu adalah dengan cara seperti ini, maka Aku akan menerimanya"


"El...."


Lily tidak mampu menahan air matanya, Wanita itu menghambur ke pelukan Aston, kemudian berkata,


"Maafkan Aku karena Kamu harus bertemu wanita jahat sepertiku"


"Sssst, Kamu adalah wanita terbaik yang pernah Aku temui. Tapi Aku memaafkanmu dengan satu syarat"


"Syarat? apa itu?"


"Izinkan Aku untuk berkunjung ke kampung halamanmu jika Aku rindu"


"Heuuummm tentu saja. Kau bisa datang kapanpun Kau mau"


"Baiklah .. Kapan kamu akan pergi?"


"Besok..."


Ucap Lily seraya tersenyum kemudian kembali memeluk Aston.


Selamat Tinggal Macau. Indonesia I'm coming!!!!


Bersambung