My Hot Boss, I Love You

My Hot Boss, I Love You
[BONUS CHAPTER] Positif!



David dan Lily sudah hampir sampai di rumah Mereka. Pertemuan dengan pasangan menggemparkan itu masih menyisakan keterkejutan yang luar biasa untuk, apalagi tentang kehamilan Marry.


"Kamu masih shock Biy? Aku juga tapi jujur Aku ikut bahagia untuk mereka berdua"


Lily mencoba memulai pembicaraan setelah melihat David masih saja bermuram durja.


"Hmn" David hanya menjawab singkat dan fokus menyetir mobilnya.


"Kamu kenapa sih?"


"Tidak apa-apa, Honey. Aku hanya masih terkejut terutama soal Marry yang hamil"


"Kenapa? Kamu iri?"


Lily tersenyum. Sepertinya Dia mengerti arah pembicaraan Suaminya.


"Sedikit Honey, tapi Aku tahu Allah akan memberikan Kita kebahagiaan itu nanti"


David tersenyum tapi Lily masih melihat sorot kesedihan di sana.


"Iya, jadi tidak perlu iri Biy, Kita akan terus berusaha dan berdo'a semoga cepat di beri kepercayaan juga, Kita harus lebih giat maybe"


Lily berbicara dengan polosnya seraya tersenyum lebar. Namun sedetik kemudian senyum di wajah wanita itu menghilang, Upss Lily kelepasan.


Lily melirik ke arah David. Dan benar saja, Pria itu tengah menatap Lily dengan api yang berkobar-kobar.


'Astaghfirullah, Aku pasti habis malam ini' Batin Lily menyesal.


David tiba-tiba membelokkan mobilnya Membuat Lily menelan ludah dengan kasar.


"Biy... Kita mau kemana?"


"Membuat David junior, Honey!"


David berbicara dengan nada sensual membuat Lily seketika merinding. Dia menyukai kegiatan olahraga dengan suaminya tapi Lily tahu betul David mempunyai tenaga berkali-kali lipat lebih besar darinya, hingga tak jarang Lily sampai pingsan karena kelelahan meladeni keganasan suaminya itu.


David menghentikan mobilnya di bibir pantai yang terlihat sepi. Lily mengernyit bingung, wanita ayu berdarah Jawa itu tak ayal mengajukan pertanyaan kepada suami tercintanya dengan cepat,


"Kita kenapa kesini Biy?"


"Bukankah Aku sudah mengatakannya Honey? Kita akan membuat David junior"


"What?? Di sini? Aku tidak mau Biy... Bagaimana kalau tiba-tiba ada orang?"


"Tidak mungkin. Tempat ini selalu sepi"


"Jangan terlalu yakin Biy, Pokoknya Aku tidak mau.. Aku malu"


Lily terus menolak dengan rengekannya, tapi bukan David namanya jika tidak berhasil membuat istri mungilnya itu terdiam. Pria itu turun dari mobil dan membukakan pintu untuk istrinya. Lily tetap menolak tapi dengan cepat Pria bernetra biru itu melepaskan sabuk pengaman di tubuh Lily seraya melayangkan kecupan singkat di bibir manis istrinya itu.


Lily mau tidak mau turun mengikuti suaminya. Wanita itu terpekik kaget saat David tiba-tiba mengangkat tubuhnya ke atas Kap Mobil.


"Biyyy...."


David dengan cepat meluruhkan segitiga keramat yang melindungi area Favoritnya pada tubuh Lily, Dia memainkan kelihaian Indra pengecapnya dan memburu bagian Favoritnya itu, sementara tangan kokohnya memilin indah pucuk squishy milik istrinya bergantian hingga membuat si empunya mengalunkan suara-suara indah yang menggema di pantai yang tak berpenghuni itu.


Dan jadilah David meluapkan iri hatiny karena Leon yang sudah mendahuluinya. Dia mengajak Istrinya untuk membuat David junior di pinggir pantai.


Sungguh pengalaman yang tidak pernah Lily bayangkan sebelumnya.


David mengecup perut datar istrinya dan berkata.


"Cepatlah hadir.. Daddy tidak sabar ingin memilikimu"


*****


"Hueeek"


Lily terkejut saat mendengar suaminya kembali muntah pagi ini, Semalam setelah pulang dari pantai dan makan malam, David pun memuntahkan semua makanan yang sudah dikonsumsinya sampai habis.


Bahkan sampai malam pria itu terus memeluknya seperti bayi besar dan mengeluh tentang tubuhnya yang lemas dan pusing.


Jadilah Lily seperti ibu-ibu yang menidurkan anaknya, Lily mengelus-elus rambut suaminya seraya bernyanyi sampai pria itu benar-benar terlelap.


Padahal Lily sudah ingin memanggilkan Dokter pribadi keluarga David tapi pria itu menolak dengan alasan hanya butuh istirahat dan perhatian dari Lily.


Tapi pagi ini sepertinya Lily benar-benar harus memanggil Dokter Richard. David pasti kehilangan banyak cairan tubuh karena semalaman muntah-muntah.


Lily berlari menuju kamarnya dan menghampiri David yang masih berjongkok di Closet. Wanita itu memijat pelan tengkuk suaminya, berharap bisa meringankan mualnya.


"Biy... Sebaiknya Kamu tidak usah pergi ke kantor hari ini, Aku sudah menghubungi Dokter Richard. Dia sedang dalam perjalanan kesini"


David hanya mengangguk, Dia tidak menolak karena memang Dia merasa harus diperiksa. Tubuhnya sangat lemas dan tidak bertenaga.


"Ayo, Aku bantu"


Lily membaringkan tubuh David yang hanya memakai kaos oblong dan boxer, kemudian menutupinya dengan selimut sampai ke bagian dada.


Lily hendak beranjak untuk mengambil kain kompres namun David segera menarik Lily hingga terduduk disampingnya dan memeluk pinggang istrinya itu dengan posesif.


"Jangan kemana-mana, temani Aku Honey"


Suara David sudah sangat serak. Lily jadi kasihan melihatnya.


"Ya Biy, Aku tidak akan kemana-mana, Aku akan menemanimu disini"


"Masuklah, Deb..."


Deborah pun masuk dan tersenyum ramah,


"Dokter Richard sudah datang Nyonya"


Lily tersenyum kemudian menjawab,


"Baiklah, langsung minta beliau untuk kesini Deb, terima kasih"


Deborah mengangguk dan berlalu dari hadapan kedua majikannya.


*****


"Kondisi Tuan Davidson semuanya normal nyonya, tekanan darah, Hb, serta suhu tubuhnya.


Tuan lemas karena kehilangan banyak cairan saja. Saya akan berikan obat anti mual dan juga vitamin"


Namun sebelum Dokter Richard berlalu Dia menatap Lily dengan senyum misterius dan kemudian bertanya,


"Nyonya Davidson, Boleh saya bertanya sesuatu?"


"Ya, Dokter, silahkan"


"Apa Nyonya tidak mengalami terlambat datang bulan?"


Lily sedikit terkejut dengan pertanyaan itu. Bulan ini Dia memang belum datang bulan, tapi Lily memang mengalami siklus datang bulan yang tidak teratur. Jadi, Lily masih belum terfikir jika itu adalah tanda-tanda.... kehamilan?


"Bulan ini saya memang terlambat datang bulan, tapi siklus menstruasi Saya memang tidak teratur Dokter, Jadi... Saya belum yakin jika..."


"Tidak ada salahnya mencoba, melihat kondisi Tuan David saya hanya berpraduga Jika beliau mengalami gejala yang pernah saya alami juga saat istri Saya hamil"


"Begitu ya... Baiklah nanti Saya akan coba melakukan test pack Dokter, terima kasih atas sarannya"


"Sama-sama, Kalau begitu Saya permisi Nyonya. Semoga ada kabar baik segera."


Ucap Dokter Richard dengan tulus membuat Lily tersenyum lebar.


"Terima kasih Dokter, Mari Saya antar"


Lily pun mengantar Dokter Richard sampai ke depan pintu. Dia kemudian kembali ke kamarnya. Ucapan Dokter Richard terus terngiang-ngiang di kepalanya.


Lily kemudian memutuskan untuk melakukan Test pack.


Lily meminta bantuan pada Deborah untuk membelikan alat itu di apotek dekat kawasan mansion mereka.


****


Lily baru saja menuruti ucapan Dokter Richard untuk melakukan test pack, tanpa sepengetahuan David tentunya. Karena Lily tidak ingin memberi harapan palsu pada suaminya yang memang sangat berharap Ia segera hamil.


Dengan berdebar-debar Lily menunggu hasilnya muncul. Dua garis atau satu garis. Lily menahan nafasnya saat perlahan alat itu menunjukkan hasilnya.



POSITIF!!


"Ya Allah... Ini beneran???" Lily hampir menangis karena bahagia. Dia sungguh tidak mempercayai apa yang kini dilihatnya. Dua garis. Positif??


"Honey.... Kamu sedang apa? Kenapa lama sekali??"


David mengetuk pintu dengan tidak sabar. Lily hampir 20 menit ada di toilet tanpa suara. membuat Pria itu khawatir.


"Honey..." David semakin cemas dan hendak mendobrak pintu tapi...


Ceklek


Lily keluar dari kamar mandi dengan wajah yang sudah basah dengan air mata, membuat David bertambah cemas.


"Ho-honey ada apa? Kenapa Kamu menangis?"


Lily malah semakin menangis mendengar pertanyaan itu. David jadi kebingungan sendiri.


"Ada apa Honey? jangan membuatku takut"


Melihat wajah panik David, seketika Lily menghambur ke dada bidang suaminya itu. Tak lama kemudian Dia melerai pelukannya. Tangannya lalu menyodorkan alat tes kehamilan itu pada David.


David menerima benda pipih itu dengan alis berkerut. Pria itu kemudian membalikkan benda yang kemudian Ia ketahui sebagai alat test kehamilan itu dan melihat ada dua garis merah disana. Pregnant!


Pria itu membuka mulutnya lebar-lebar, Sejurus kemudian matanya berkaca-kaca. Dia menoleh cepat ke arah istrinya dan juga test pack itu bergantian. Sama seperti Lily, David seolah tak percaya dengan apa yang dilihatnya.


"Are you... pregnant, Honey?? really??"


"Yes... Biy... I'm pregnant. It's our Baby!"


Lily kembali meneteskan Air mata bahagianya, wanita itu kemudian terpekik saat merasakan tiba-tiba tubuhnya melayang ke udara. David menggendongnya kemudian mereka berputar-putar seperti di film-film drama...


David kemudian menurunkan tubuh istrinya dengan lembut, Pria itu berjongkok dan mencium perut istrinya yang masih rata itu dengan khidmat.


"Thanks God.... Terima kasih sayang, terima kasih sudah kembali"


David menitikkan air matanya, begitu juga dengan Lily. Mereka sama-sama hanyut dalam rasa bahagia dan haru yang bercampur menjadi satu.