
"Honey... Aku berangkat"
David mengecup bibir Lily berkali-kali membuat Lily mengeluh sebal.
"Berangkatlah Biy... sudah siang, Nanti Kamu terlambat" Lily mendorong pelan tubuh Suami yang terus menempel seperti perangko.
"Tidak masalah, Aku adalah bosnya Honey, tidak akan ada yang berani memarahiku jika Aku terlambat datang"
Lagi-lagi David memiliki pembelaan diri yang membuat Lily menghela nafas panjang.
"Iya Aku tahu Sayang, tapi Kamu juga harus memberi contoh yang baik untuk karyawan-karyawan kamu"
Jawaban Lily membuat wajah David cemberut. Dia seperti tidak rela untuk meninggalkan istrinya.
Padahal setiap hari mereka bertemu. Apalagi setelah meninggalkan Hongkong Lily hanya fokus menjadi ibu rumah tangga dan menghabiskan waktunya di rumah seharian.
Yups, David memutuskan untuk memboyong Lily ke New York City, karena perusahaan Ayahnya harus benar-benar diperhatikan dengan serius. Sementara perusahaannya sendiri di Hong Kong dan wilayah Asia, David percayakan pada Leon.
Ibunda Lily beserta Adiknya Diva telah kembali ke Indonesia sehari setelah pernikahan, Itu karena Usaha Lily yang tidak bisa di tinggalkan terlalu lama. Diva sudah cukup pandai dalam mengelolanya. Jadi Lily sudah tidak perlu khawatir lagi. Toh, Dia membangun usaha itu juga untuk kesejahteraan Ibunya. Dia tetap bisa memantau usahanya via online.
Lily sudah memulai kegiatannya sebagai Ibu rumah Tangga di New York sejak 1 bulan yang lalu. Tidak terlalu sulit bagi Lily, karena Dia sudah pernah hidup di Inggris selama 5 tahun dengan kondisi masyarakat dan culture yang bisa dikatakan sama.
Yang membuatnya kerepotan justru suaminya yang menjadi sangat manja dan lebay seperti anak remaja. Terkadang Lily benar-benar dibuat geleng-geleng kepala melihat tingkah David.
Tidak hanya Lily, Alice pun terkadang sebal melihat Daddy-nya yang seperti bayi besar. Sangat tidak relevan dengan wajahnya yang dipenuhi dengan brewok.
Setelah mendengar ceramah dari istri tercintanya, dengan wajah muram David berangkat ke kantornya. Dulu pria itu sangat gila kerja, berangkat pagi pulang larut malam. Bahkan Alice dulu termasuk kurang kasih sayang karena David yang teramat sibuk.
Tapi lihatlah sekarang, Pria itu menjadi pemalas dan setiap hari selalu mencari alasan agar tidak perlu berangkat ke kantornya.
Jujur saja, Lily merasa sangat bahagia, meski hidup di negeri baru dengan segala keasingannya. Tapi kasih sayang dan cinta dari David serta Alice membuatnya tidak merasa kesepian.
Oh ya, David juga memperkerjakan seorang pelayan bernama Deborah. Wanita berkulit hitam yang sangat baik dan ceria. Usianya tak lagi muda, jadi Lily merasa seperti mempunyai Ibu lagi.
Ting!
Gawainya berbunyi. Marry?
"Halo Marry?"
"....."
"Bertemu? Kapan? Kau tahu Aku harus melapor dulu kepada Big Boss jika ingin keluar rumah"
".….."
"Apa? undangan?? Kau.... akan menikah?"
"...."
"Baiklah-baiklah, Aku usahakan agar Dave mengizinkanku. bolehkah Aku mengajak Deborah?"
"....."
"Baiklah, thanks Marry"
Lily menutup panggilan itu dengan wajah berseri. Marry akan menikah? Waww! itu adalah berita yang membahagiakan.
Tak mau membuang waktu, Lily kemudian menghubungi suaminya yang pasti masih di jalan.
Klik. Panggilannya terjawab dengan singkat.
"Apa Kau merindukanku?"
Suara sensual dari seberang David membuat Lily terkekeh geli.
"Hentikan Biy, Kamu membuatku geli"
"Aku suka membuatmu kegelian karena itu membuatku bersemangat dan.."
"Diam Biy, apa kamu tidak malu didengar supir??
"Aku akan memenggal kepala mereka jika berani bergosip tentang kita"
Lily memutar bola matanya jengah.
"Baiklah, Aku ingin meminta izinmu, Marry mengajakku bertemu"
"Kapan?"
"Siang ini, Dan tebak apa yang ingin dia berikan padaku??"
Lily bertanya dengan antusias.
"Apa?" David membalas dengan malas. Hubungannya dengan Marry memang sudah membaik. Tapi rumus kecewa selalu berlaku. Memaafkan bukan berarti melupakan. Jadi, David masih sedikit menjaga jarak dari sahabat wanitanya dimasa lalu itu.
"Undangan. Marry akan menikah"
"Whatt??? dengan siapa?"
"Tidak, Katakan pada Marry tunggu jam makan siang. Aku akan menjemputmu"
"Oh My.... Kenapa Kau selalu seperti itu"
Lily sangat sebal dengan sikap otoriter David yang tidak juga berkurang.
"Hehe, Kau tahu Aku akan selalu mencari kesempatan untuk bisa berduaan denganmu"
"Hemm, jangan begitu Biy, bekerjalah dengan benar, bagaimana jika perusahaanmu bangkrut karena kamu selalu meremehkan pekerjaanmu?"
"Tak masalah, kita akan pergi ke Indonesia dan berjualan ayam goreng disana, Hahahaha"
Lily hanya menghembuskan nafas lelah. Dan akhirnya menyetujui permintaan David untuk pergi menemui Marry bersama.
****
David dan Lily hampir muntah darah melihat siapa calon suami Marry.
"Leon????"
"Tuan, Nyonya"
Leon membungkuk hormat, sementara David dan Lily masih syock dengan apa yang mereka lihat.
"Honey, Tolong panggil ambulance, sepertinya Aku terkena serangan jantung"
Lily segera menoleh dan tertawa terbahak-bahak melihat ekspresi suaminya. begitu juga dengan Marry. Sementara Leon, Yah seperti yang diketahui para reader, Dia adalah manusia kaku seperti kanebo kering. Kalimat dan senyumnya sangat mahal seperti saham Tesla.
"Bagaimana bisa?" Pertanyaan otomatis itu keluar dari bibir Lily
"Apanya yang bagaimana bisa?"
"Kalian berdua... maksudku, Aku sama sekali tidak pernah melihat kalian dekat apalagi berkencan"
"Hahaha, Kau akan tertawa jika mendengar cerita kami berdua"
Marry benar-benar tidak bisa berhenti tertawa jika mengingat Dia dan Leon di pertemukan melalui situs kencan buta. Marry pun menceritakan kejadian itu secara detail pada Lily.
"Apa??? Jadi kalian mendaftar situs perjodohan online dan bertemu? kenapa, kenapa sangat kebetulan?"
"Yah, Kami sama-sama menggunakan nama palsu jadi Kami tidak mengetahui satu sama lain"
"Oh ya Tuhan, Jodoh memang sangat misterius, Iya kan Biy"
Lily bertanya pada David yang masih memelototi Leon. Sementara Leon hanya menunduk kikuk.
"Kapan Kalian akan menikah?"
Akhirnya David yang sedari tadi berwajah muram seperti peti jenazah membuka suara.
"Ini undangannya"
Marry menyodorkan undangan itu dengan wajah berseri-seri.
"Aku kira Kau berkencan dengan James"
"James hanya sahabatku Dave, Lagipula Dia sekarang menyusul Fany ke Indonesia"
"Whatt??" Lily membola tak percaya. Tapi kemudian Dia tersenyum bahagia. Akhirnya sahabatnya juga bertemu dengan cinta sejatinya, Insya Allah.
"Sebenarnya Kau anggap aku ini apa?"
David menatap Leon dengan tatapan mematikan. Lily dan Marry juga ikut terdiam.
Leon hanya membisu. Mungkin Dia juga sedikit merasa bersalah karena menutupi hubungannya dengan Marry selama ini.
"Actually, Dave... Ini bukan salahnya, Kami memang harus segera menikah karena..."
"Tidak ada alasan apapun. Dia bilang aku seperti kakaknya, tapi Aku adalah orang terakhir yang mengetahui tentang kalian? menggelikan?"
Ucap Dave bersungut-sungut. Tapi Lily bisa melihat Jika David sebenarnya sangat terharu, Akhirnya Asisten tercintanya menikah juga.
"Dengarkan Aku dulu Dave. Kami juga memutuskan untuk menikah secara mendadak karena..."
"Karena apa?"
David kembali bertanya.
"Aku hamil"
What the hell... Kali ini bukan hanya David yang ingin pingsan. Lily bahkan menjatuhkan gelas di tangannya. Mereka berdua mendapatkan Shock terapi yang luar biasa.
Leon gercep juga ya bund 🤣🤣
Jangan lupa intip karya terbaru aku only on Noveltoon judulnya Moon Light ❤️