My Hot Boss, I Love You

My Hot Boss, I Love You
Pengumuman Pertunangan Yang Mendadak



Pagi itu pusat produksi Robinson Corporation sedang sangat sibuk memulai produksi perdana mobil sport yang di gadang-gadang akan mampu mengguncang dunia Automotif. Bagaimana tidak?


Mobil ini adalah rancangan dari seorang desainer ternama yang sudah melanglang buana di dunia manufaktur kendaraan, namun menawarkan harga yang jauh lebih murah dibandingkan dengan Supercar lain sekelas Ferrari, Lamborghini, Porsche dll


Ditambah produksi mobil ini di sokong oleh 2 pengusaha muda yang namanya sedang naik daun di dunia bisnis, Aston Elnathan Robinson dan juga Emiliano Davidson Crambhell. Jadi bisa dipastikan bahwa peluncuran produk ini akan sangat di tunggu-tunggu pecinta Supercar di seluruh penjuru dunia.


Pagi ini, Aston Robinson di dampingi oleh Lily selaku Manager dan juga Elena, adik sepupu sekaligus sekretaris Aston terlihat berjalan menuju gedung produksi Pabrik yang luas dan dan canggih didampingi oleh beberapa staff pabrik yang sepertinya memperlihatkan tiap-tiap ruang yang ada disana. Aston terlihat tampan dan keren dengan setelan jas berwarna hitam lengkap dengan dasi berwarna senada.



Babang Aston Robinson 🤩


Lily sampai berdecak kagum melihat ruangan itu, benar-benar seperti di film-film Hollywood yang pernah Ia tonton.


"Ehem, Lira kira-kira Tuan Davidson itu akan datang tidak yah? Seharusnya Dia datang kan, karena ini adalah hari pertama produksi akan dimulai"


Bisik Elena dengan penuh semangat.


Lily hanya tersenyum masam mendengar pertanyaan Elena. Sangat terlihat jika Elena tertarik pada David. Dan entah kenapa Lily sedikit merasa kesal.


"Oh My.... !" Belum sempat Lily menetralkan rasa kesalnya, terdengar suara pekikan tertahan dari sepupu Aston itu.


Elena menatap dengan mata berbinar-binar ke arah sesuatu, Lily pun mengikuti arah mata Elena memandang,


Ternyata wanita berusia 33 tahun itu sedang menatap ke arah Rombongan David dan juga Leon.


Lily terpaku melihat Pria itu tampak sangat gagah dan berwibawa saat berjalan ke arah mereka.


Pria itu sangat cocok dengan setelan jas abu-abu tanpa dasi. Tampak dingin dan hot dalam waktu bersamaan.


Elena sampai histeris saat melihat David berjalan mendekat ke arah mereka berdua.


"For God Sake, He is so fucking Hot!" bisik gadis itu menjerit tertahan, membuat Lily semakin sebal melihat tingkah ganjennya.



Daddy Davidson 😍


Set ...


Lily sedikit terkejut saat David melewatinya begitu saja setelah menyalami kepala produksi yang menyambutnya.


"Lira"


Lily berjengkit kaget mendengar suara panggilan itu.


"Y-ya?"


"Kenapa terkejut? Apa yang sedang kamu lamunkan?"


"Ti-tidak... hanya... emmm, aku hanya sedang mengagumi ruang produksi ini sangat bagus seperti di film-film"


"Hahahaha, benarkah? jangan khawatir, Aku akan mengajakmu berkeliling setelah Kita selesai meeting, Hmn?"


"Y-ya, tentu"


Lily masih tergagap karena fikirannya mendadak tidak fokus. Bayangan David mengacuhkannya masih menari-nari di dalam pikirannya.


'Harusnya Aku tidak boleh begini kan?' batin Lily bertanya apa dirinya sendiri.


Lily mengikuti langkah David menuju ke ruang meeting yang letaknya tidak jauh dari pusat produksi. Ruang rapat itu hanya beberapa puluh meter persegi, tidak terlalu luas dan juga tidak sempit. Cukup untuk meeting sekitar 50 orang.


Sementara Elena sudah lebih dulu masuk ke ruang meeting dengan riang gembira.


Saat memasuki ruangan Lily kembali melirik ke arah David, namun lagi-lagi pria itu seolah sangat sibuk dan tidak mengindahkan kehadiran rombongannya.


Sampai Leon maju terlebih dahulu untuk menyalami, Aston juga Elena dan dirinya, barulah David menyusul menyalaminya, dan... Pria itu benar-benar seperti bersalaman dengan orang asing.


'Apa David sedang balas dendam?'


Batin Lily bertanya-tanya lagi, namun sejurus kemudian, ucapan selamat tinggal dari pria itu terngiang di telinganya.


'Jadi, memang sudah berakhir yah? baguslah, dengan begitu kami berdua tidak akan ada lagi yang tersakiti' ucap Lily dalam hati.


Perubahan sikap David juga dirasakan oleh Aston, pria itu sedikit mengernyitkan dahinya melihat betapa David hari ini sangat acuh dan tidak menatap Lily dengan tatapan mendamba seperti biasanya. Apa yang terjadi?


"Baiklah, Kita bisa mulai rapatnya Tuan Robinson?"


Tanya Leon yang melihat Aston sedari tadi tampak linglung.


Meeting tentang produksi produk hari itu pun dimulai, David dan Aston serta lainnya tengah fokus memperhatikan layar presentasi yang kini sedang di jelaskan oleh Manager produksi.


Terkecuali Lily, wanita itu sibuk dengan pikirannya sendiri, sekaligus kesal pada dirinya sendiri. Hanya karena perubahan sikap David, Lily jadi kesal seperti ini?


'Hei hati! Kamu jangan jadi penghianat yah. Kamu harus nurut sama Aku, kenapa kamu membuat keputusan sepihak dengan cara kesal seperti ini? menyebalkan'


Lily menggerutu dalam hati.


#


Meeting hari ini berjalan lebih cepat, mengingat pertemuan kali ini hanya membahas proses produksi beserta sistematikanya saja.


David dan Aston selaku ketua dari masing-masing perusahaan utama dalam produksi ini ditambah dengan para investor yang hadir tampak puas dengan kinerja keras para staff pabrik hingga awal proses produksi bisa berjalan sesuai estimasi yang di tetapkan.


Mereka semua saling bersalaman tak terkecuali David dan Lily, namun lagi-lagi David bersikap sangat acuh selayaknya partner bisnis biasa. Asing dan dingin.


"Semuanya, boleh saya minta perhatiannya sebentar, Saya ingin sedikit membagi berita bahagia pada kalian semua"


Aston secara tiba-tiba membuka suara, membuat orang-orang yang tengah bersiap untuk pergi sontak menghentikan aktivitasnya dan saling beradu pandang. seperti ada tulisan 'Berita bahagia apa?' yang muncul di wajah orang-orang itu.


David tampak tidak perduli. Pria itu malah meraih botol minuman yang ada di hadapannya dan mulai meminumnya.


"Terima kasih sebelumnya, Saya hanya ingin mengundang kalian semua, Seperti yang kalian ketahui, Saya sudah tua dan sudah seharusnya saya menikah. Tapi kalian tahu bahwa mencari pada hidup sangat tidak mudah. Tapi beberapa tahun terakhir Saya dipertemukan denga wanita yang selama ini saya idam-idamkan. Dan... Wanita itu sudah menerima lamaran saya. Baiklah singkat kata, Saya akan bertunangan dengannya minggu depan "


Buurrrrrrrr David menyemburkan minumannya hingga sukses membuat wajah Leon seperti habis cuci muka. Leon apes bener dah!


"Uhukkk uhukkk" David terbatuk-batuk karena tersedak minuman itu. Leon dengan berat hati menepuk-nepuk punggung bosnya itu, namun wajahnya tidak bisa menyembunyikan kedongkolannya karena disembur air.


Ruangan itu mendadak riuh dan ada juga smyang sampai bertepuk tangan. Wah wah, Presdir Robinson Corporation yang tampan akan segera mengakhiri masa lajangnya, ini merupakan berita besar!


Sementara Lily, wanita itu sampai ternganga dengan mata memba sempurna mendengar ucapan Aston. Dia sama sekali tidak di beritahu soal rencana pertunangan yang mendadak itu.


"Tuan Davidson, apa Anda baik-baik saja?" Tanya Aston dengan wajah pura-pura cemas padahal hatinya sangat puas.


David hanya mengangkat satu tangannya sebagai tanda bahwa dia baik-baik saja.


"Ehem, maaf Tuan Robinson, saya sedikit tersedak. silahkan lanjutkan".


David berkata dengan tenang dan ekspresi yang biasa-biasa saja. Hal itu membuat Aston sedikit terkejut sekaligus bingung. Karena dia berfikir David seharusnya kesal dan marah bukan? Ahhh niatnya untuk memanas-manasi David sepertinya gagal, laki-laki itu tidak bereaksi seperti ya g Ia harapkan. Ataukah David hanya pura-pura?


"Ehem, Baiklah. Pengumuman ini hanya untuk informasi. Tentu saja akan ada undangan resminya nanti. Terima kasih atas perhatiannya"


Aston tersenyum lebar kemudian menatap Lily, Lli balas tersenyum meskipun tampak sangat canggung.


#


#


Seorang pria yang terlihat sangat pemalas terduduk di kursi usang dengan botol minuman keras di tangannya, sementara tangannya yang lain memegang sebuah surat kabar, Pria itu memiliki wajah setengah rusak seperti ada luka bekas sayatan yang lebar dan panjang. Dia kemudian berjalan dengan tertatih menuju jendela yang terbuka. Oh... ternyata setelah dilihat secara seksama kakinya memang pendek sebelah.


Di terus memperhatikan surat kabar itu kemudian tersenyum culas.


"Tidak, tidak, tidak... Kau enak-enakan duduk di singgasana kekuasaan sementara Kau membuatku menderita seperti ini, Davidson!"


Pria itu meremas surat kabar yang di genggamnya dengan keras hingga tak berbentuk kemudian melemparkannya ke lantai.


"Aku akan menghancurkanmu sampai kau melebur menjadi abu. Aku bersumpah. Kau membuatku menjadi manusia dengan wajah mengerikan dan cacat! 5 tahun Kau membuatku seperti ini Bajingan!! Aku akan membalasmu! Aku akan membalasmu Davidson!!! " Ucap Martin dengan mata memerah kemudian tersenyum lebar hingga mirip seperti Jocker!


Martin kemudian mengambil gawainya menghubungi seseorang.


"Halo Sayangku, Kau bilang bahwa Kau bsia melakukan apapun untukku bukan? Aku membutuhkan bantuanmu"


"....."


"Aku butuh pekerjaan. Tapi... Aku hanya ingin bekerja di perusahaan Robinson. bisakah kau membantuku, sayang?"


"....."


"Bagus. Kau memang selalu bisa diandalkan"


Martin mengakhiri panggilannya. Tangannya terkepal erat kemudian berkata,


"Tunggulah Davidson, Kebahagiaanmu akan segera berakhir. Pembalasanku akan segera datang!"


Pria itu menyeringai lebar dan terlihat sangat mengerikan.


Bersambung...