My Hot Boss, I Love You

My Hot Boss, I Love You
Martin Dan Charlotte (2)



Alice memandangi Granny-nya yang malah terlihat muram sekarang.


'Bukankah Granny mengajakku kesini agar aku menjadi senang? kenapa sekarang Granny yang murung? ataukah perasaan kesal itu keluar dari tubuhku dan menempel di tubuh Granny?'


Alice mengajukan banyak pertanyaan pada dirinya sendiri. Gadis itu tidak berani bertanya karena Charlotte sepertinya habis menangis, jadi Alice sedikit takut untuk bertanya.


"Granny, sebaiknya kita pulang. Kau juga sudah kenyang"


Alice tersenyum lembut kemudian menggenggam jemari Charlotte.


Charlotte sedikit terkejut karena sebenarnya dia sedang melamun.


Melihat Charlotte yang seperti kebingungan, Alice berkata.


"Ayo pulang, Granny"


"Oh! Yes, sweetie, I'm sorry, Kamu menunggu Granny sejak tadi?"


Charlotte bertanya dengan tidak enak hati, Alice mengangguk pelan.


Charlotte pun menggandeng tangan Alice kemudian pergi dari cafe itu.


#


#


"Bagaimana? sudah ada informasi?"


Tanya David kepada Leon yang saat ini tengah sibuk membacakan agenda.


"Belum Tuan, Tapi orang-orang kita sudah saya perintahkan mencari ke semua wilayah, termasuk pelabuhan dan bandara. Karena jika Martin tidak ada lagi di Shenzhen, itu berarti dia telah pergi keluar dari daerah itu".


Jelas Leon dengan terperinci.


"Baiklah. Semoga Kita bisa segera menemukannya"


David menghela nafas kemudian melanjutkan,


"Baiklah, Hari ini tolong atur waktu untuk melakukan kunjungan di Gudang Robinson, Aku ingin melihat bagaimana kelengkapan bahan dan komponen yang kita butuhkan untuk produksi ini"


"Baik Tuan" Leon pun segera menghubungi pihak terkait untuk menjalankan perintah bosnya itu.


"Mmm, Leon tolong cari tahu kapan acara pertunangan mereka dilakukan, maksudku Lilyndam Robinson"


"Baik Tuan, Saya akan tugaskan orang kepercayaan saya untuk menggali informasi tentang pertunangan itu"


"Bagus, Ayo kita pergi, Aku harus menjemput Alice di Apartemen Mommy Charlotte"


Leon hanya mengangguk dan kemudian mempersilahkan David untuk berjalan terlebih dahulu.


Sementara disisi lain...


Charlotte tengah menyiapkan sarapan untuk cucunya, Alice. Semalam gadis itu menginap di hotelnya. selama di Macau ini, Alice tinggal bersama David dan Leon. Hanya sesekali Dia akan menginap jika David ada pekerjaan hingga tengah malam atau bahkan tidak pulang.


"Alice, cuci wajahmu dan ganti baju, sarapan sudah siap"


Ucap Charlotte lembut saat Melia Alice baru saja terbangun dari tidurnya.


"Hmn, baik Granny"


Jawab gadis itu dengan patuh. Alice kemudian berjalan ke arah kamar mandi untuk membasuh wajah dan gosok gigi, kemudian berlalu ke kamarnya untuk berganti baju.


"Hari ini kamu ingin jalan-jalan kemana, sweetie. Granny akan mengantarmu"


"Tidak Granny, Aku sedang tidak bernafsu pergi kemanapun"


"Kenapa?"


"Apalagi, Aku masih memikirkan tentang Mommy"


"Hmm, baiklah kalau begitu, Kamu bisa menonton film atau apapun yang kamu sukai"


"O-kay Granny"


Ditengah-tengah sarapan mereka, tiba-tiba bel pintu apartemen berbunyi. Charlotte dan Alice saling pandang. Charlotte pun tersenyum ke arah Alice dan berkata,


"Tidak apa, biar Granny yang buka. barang kali staff Hotel ini"


Charlotte pun meninggalkan Alice dan berjalan ke Arah pintu untuk membukanya,


Klek, pintu pun terbuka


Charlotte terbengong tak percaya melihat siapa yang datang, hingga wanita itu hanya terdiam seperti patung.


"Emmm .. Aku belum sarapan"


"Oh, yah, masuklah, kebetulan Aku dan Alici juga baru sarapan"


"Terima kasih"


Charlotte tersenyum lega. Martin datang? apakah Dia sudah memikirkannya dan bersedia kembali?


Martin pun mengikuti Charlotte yang sudah terlebih dulu masuk, tampak Alice menoleh ke arah mereka.


"Sweetie, Ini Grandpa Martin, Paman Daddy David"


Alice memiringkan kepalanya dengan lucu dengan dahi berkerut, membuat Martin sontak tersenyum. cucunya sangat cantik. begitulah kira-kira pujian yang muncul di hatinya.


"Granpa? Kenapa Alice tidak pernah bertemu dengannya?"


"Emmm, Grandpa hilang selama bertahun-tahun, jadi.. Kita baru bisa melihatnya sakarang"


Alice manggut-manggut, kemudian tersenyum cerah dan berkata.


"Selamat datang Grandpa, perkenalkan namaku Alicia Davidson, senang bertemu denganmu" Alice mengulurkan tangannya, gadis remaja itu sama sekali tidak jijik ataupun takut melihat wajah Martin yang setengah rusak.


"Thanks, Sweetie"


"Sama-sama. Kita adalah keluarga. Tentu saja Aku harus menyambut Grandpa dengan baik"


"Baiklah, selesaikan sarapanmu" Ucap Martin dengan lembut.


"Kau mau kopi atau teh untuk minum?"


"Kopi saja"


Martin terus memperhatikan gadis remaja Yanga da di hadapannya, Alice sangat mirip dengan Dominic, hanya sebagian kecil dari bagian Sarah yang menempel di wajah cantik Alice.


"Ada apa? kenapa kamu melamun?"


Mendengar pertanyaan Martin, Alice kemudian menoleh ke arah dapur untuk melihat apakah Charlotte masih sibuk disana atau tidak.


"Aku sedang banyak pikiran Grandpa"


Jawaban Alice sontak mengundak gelak tawa Martin. Banyak pikiran katanya?


"Hahaha, baiklah memangnya apanyang dipikirkan otak kecilmu ini anak manis?"


"Apa Grandpa bisa dipercaya jika Aku menceritakannya?"


"Tentu saja. Aku orang yang sangat bisa diandalkan"


"Emm baiklah"


Alice pun menceritakan ide gilanya itu kepada Martin beserta alasannya, yaitu Mommy-nya.


"Mommy? maksudmu istri Daddy-mu?"


Tanya Martin memastikan jika pendengarannya tidak salah dan orang yang dimaksud oleh Alice adalah wanita yang pernah Ia dan Charlotte celakai dulu.


"Yes. Mommy menghilang bertahun-tahun dan sekarang di kembali. Tapi... Mommy akan menikah dengan paman kaya itu"


"Paman kaya?"


"Yah, paman kaya, kalau tidak salah namanya.... Aston, yah benar Aston Robinson"


Marveulos! Martin merasa ada aliran air pegunungan mengenai tubuhnya. Kesejukan dan kebahagiaan itu menghampirinya tak terkira.


Laki-laki itu tersenyum lebar, sungguh kebetulan! Dia datang kesini untuk membalas dendam, dan Tuhan mendukungnya melalui Alice. Hebat!


Jadi, Istri David akan bertunangan dengan Presdir Robinson?


Martin kemudian teringat pertemuannya dengan Lily kemarin di Gudang. Pria itu kemudian mengingat-ingat. Pantas saja dia seperti mengenali wanita itu. Martin pernah melihatnya di foto yang Charlotte berikan.


Pria itu kemudian memutuskan akan mulai. mencari tahu tentang wanita itu hari ini. Kemudian menjalankan aksinya sesuai ide dari cucunya, Alice.


"Jangan khawatir, Grandpa akan mendukungmu"


"Benarkah?"


"Yah, Grandpa akan mendukungmu dan juga membantumu melancarkan idemu itu"


"Yes!!!" Alice bersorak gembira dengan tangannya yang mengepal keatas.


"Ada apa? apa yang membuatmu sangat senang?"


"Emmm.. emmm.... tidak ada, hanya... Grandpa bilang akan mengajakku jalan-jalan ke Venetian Macao dan naik perahu"


Jawab Alice berbohong.


"Benarkah? ide bagus. Kita bisa pergi bersama"


"Baik!!!" Seru Alice bersemangat yang seketika membuat Charlotte dan Martin tersenyum.


"Ini kopinya, ayo kita sarapan"


"Terima kasih"


Merekapun sarapan dengan tenang, Charlotte tak bisa menyembunyikan wajahnya yang berseri-seri. Kebahagiaan jelas terpancar dari ekspresinya yang selalu tersenyum.


'Syukurlah, semoga ini awal yang baik, semoga Martin benar-benar mau berubah dan bisa berdamai dengan masa lalunya, juga David, semoga pria itu bersedia memaafkan Martin dan dirinya atas semua kesalahan mereka'


#


#


Pabrik Robinson, Macau.


Lily masih bertugas mengawasi dan juga membuat laporan gudang pabrik.


Wanita itu mencatat satu persatu tumpukan box-box besar yang ada disana, sesekali wanita itu bertanya pada karyawan gudang jika tidak paham tentang isi box itu.


Tiba-tiba, Salah satu tumpukan box yang menjulang tinggi itu di balakang Lily bergoyang seperti akan jatuh.


"Lily!!! Awas!!!" seseorang yang tak lain Adalah David berlari secepat kilat ke arah Lily, sementara wanita itu hanya melongo bingung karena tidak mengerti apa yang terjadi.


Gubrakkkk!!!


Box-box itu pun roboh dan hampir saja menimpa Lily jika saja Wanita itu tak segera didorong darisana.


"Aww"


Lily terpekik saat tubuhnya tiba-tiba terbanting dilantai dengan seseorang yang ada diatasnya.


Wanita itu shock melihat Box yang berisi banyak alumunium dan juga besi.


"Eemmmh" David sedikit meringis merasakan kakinya yang sakit dan nyeri.


"David, David Kamu baik-baik saja?"


"Tuan. Tuan baik-baik saja?" Leon dengan panik menghampiri bosnya, melihat wajah bosnya yang memerah dan menahan sakit bisa dipastikan bahwa dia sedang tidak baik-baik saja.


"Cepat! panggil ambulance!!" Seru Leon yang sontak membuat karyawan di sana berlari meminta bantuan"


"David..."


"Aku baik-baik saja jangan khawatir"


Lily tentu saja tidak percaya wanita itu kemudian melihat ke arah kaki David dan ada darah disana!


"Darah! kakimu berdarah! Leon ayo cepat, cepat bawa dia ke rumah sakit"


Leon pun ikut panik. Kemudian dia dan Lily berusaha memapah David yang sedikit mengerang kesakitan berlalu dari sana untuk dibawa ke rumah sakit.


Lily diam-diam melihat David yang terus meringis kesakitan, hatinya merasa sakit juga. David mengorbankan dirinya sendiri untuk menyelamatkannya??.


Bersambung